CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 11- Kemarahan Radit


__ADS_3

Kehidupan kampus sudah mulai berjalan. Para mahasiswa sudah mulai memasuki semester baru. Acara ospek sudah selesai di setiap fakultas maupun di setiap jurusan. Para mahasiswa baru bisa bernafas lega karena dapat menikmati dunia kampus tanpa ada tekanan dari seniornya.


Selesai sarasehan 2 hari yang lalu, Bram cs kembali sibuk dengan kegiatan senat. Dan seperti biasa juga sekarang mereka lagi nongkrong di base camp mereka yang nggak lain dan nggak bukan adalah ruang senat.


    “Nuras, Gita….kok dari kemarin gw nggak ngeliat Naya sih? Biasanya kalian bertiga kan susah benget dipisahin.” Andra memecahkan keheningan ruangan itu.


Nuras menoleh ke arah Andra. “Nggak tahu tuh anak, dari kemarin gw telphone ke HP sama ke rumahnya nggak diangkat-angkat.”


    “Lho emangnya kalian nggak ketemu di kelas?” nah kalau yang ini suaranya Hendra.


    “Dari kemarin Naya nggak masuk.”


    “Dia kawin kali.” Semua penghuni ruangan itu melihat ke arah Bram.


    “Nggak mungkin lah Bram, kalau emang dia beneran nikah masa nggak bilang-bilang ke kita.” Kali ini Gita yang bersuara.


    “Emang dia beneran mau nikah?!” Bram terlihat kaget dan penasaran.


    “Ya enggak lah Bram…..pacar aja dia belum punya masa mau nikah?! Nikah sama siapa dia?! Sama kucing?” serentak semuanya ketawa mendengar omongannya Gita.


    “Lah tadi lo bilang seandainya dia mau nikah dia pasti info-info kita. Itu tandanya kan dia emang udah ada rencana ke arah sana. Lagian bukannya dia sama Radit?!”


    “Sotoi lo…gw becanda kali, lagian kan tadi lo duluan yang bikin gossip Naya mau kawin. Trus kalau Naya sama Radit sih nggak mungkin kejadian deh. Walaupun sayang juga sih. Padahal mereka cocok banget.”


Lagi asyik-asyik ngegosip tentang Naya, tiba-tiba pintu ruang senta dibuka dengan kasar sampai daun pintunya mengeluarkan suara kencang karena terbentur tembok.


    “Eh Radit, gw kira siapa. Ada perlu apa dit?”


tanpa mengidahkan sapaan Nuras, Radit terus berjalan menghampiri Bram. Tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya, Radit menghantam wajah Bram dengan sebuah tonjokan yang cukup keras. Bibir Bram


mengeluarkan darah segar. Semua orang di ruangan itu berteriak karena kaget. Orang-orang yang lewat depan ruang senat berhenti untuk memperhatikan kejadian itu. Diperlakukan seperti itu Bram merasa


emosi, dia membalas pukulan Radit dan tepat mengenai hidung Radit. Seperti juga Bram, kini darah mengalir keluar dari hidung Radit.


    “Hei kalian ini apa-apa sih?” Andra berusaha menarik Bram untuk menjauhi Radit. “Hen pegang si Radit!” Andra dan Hendra berusaha keras melerai perkelahian itu. “Kalian itu udah pada gila ya?!!”

__ADS_1


    “Dia yang gila.” Bram menunjuk Radit dengan dagunya, karena kedua tangannya ditahan Andra.


    “Dateng-dateng main tonjok. Emang gw ngapain?!” masih dengan emosi yang membara Bram berusaha membela diri.


    “Emang gw udah gila!! Tapi lo lebih nggak waras lagi.”


    “Apa maksud lo?!”


    “Kemarin waktu sarasehan apa yang udah lo lakuin ke Diya ?!”


    “Naya maksud lo?”


    “IYA…emang ada berapa Diya disini?!”


    “Eh sori ya…gw nggak kenal ama yang namanya Diya, yang gw kenal itu Naya.”


    “Itu orang yang sama B******K” emosi Radit semakin tersulut. Hendra mulai kewalahan menahan Radit.


    “Udah Bram jangan bikin orang tambah emosi lagi.” Kali ini Hendra yang berusaha menengahi.


    “Bisa-bisanya lo bilang nggak diapa-apain?! Kemarin lo buat Naya kerja rodi, dan yang lebih parah lagi lo nggak kasih dia waktu buat makan. Dia nggak makan sehari semalem. Lo tuh tega banget ya?!”


    “Lho itu mah masalahnya dia, dia kan udah gede kenapa dia nggak cari makan sendiri?” dengan senyum licik Bram memandang Radit. Emosi Bram sudah mulai berkurang, dia sudah mulai tenang.


    “Gimana dia bisa cari makan kalo lo nggak kasih dia waktu buat istirahat?!”


    “Yah itu sih deritanya dia.”


    “Apa lo bilang?!” Radit masih saja meronta karena badanya ditahan oleh Hendra. Dia berusaha mendekati Bram .


    “Gara-gara lo sekarang dia terbaring di rumah sakit. Dia punya penyakit mag dan Vertigo yang udah parah. Kalau dia telat makan dikit atau dia kecapean stress dia bisa sampai pingsan.”


Bram terpaku di tempatnya. Berita yang barusan di bilang Radit bener-benar membuat Bram kaget. Belum sempat pulih dari rasa kagetnya, tiba-tiba Radit sudah menghantam perutnya dengan pukulan. Hendra sudah tidak bisa menahan Radit, emosinya sudah tidak terkendali, tenaganya jadi bertambah kuat. Merasa terpojok akhirnya Bram membalas pukulan-pukulan Radit, dan hasilnya ruang senat jadi berantakan karena ulah mereka berdua. Tidak ada yang bisa melerai mereka, semua hanya menonton dan berteriak setiap ada yang terkena pukulan.


    “BERHENTI!!!” ditengah situasi yang gaduh itu terdengar teriakan yang cukup nyaring.

__ADS_1


Naya sudah berdiri di tengah kerumunan penonton. Dia masih menggunakan piyama rumah sakit, wajahnya tampak pucat pasi, pada pergelangan tangan masih terpasang selang infus. Di sebelah Naya berdiri seorang gadis berambut hitam sebahu yang sedang memegang infus yang tersambung ke tangan Naya. Perkelahian itu terhenti, Naya berjalan menghampiri kedua orang itu. Dia melihat memandang Bram dan Radit secara


bergantian.


    “Kalian berdua benar-benar keterlaluan.” Suara Naya terdengar lelah.


    “Bram, lo tuh ketua senat. Mana boleh ketua senat bertingkah laku kayak gini. Dan Radit, gw kan pernah bilang ke lo kalau apaun yang terjadi jangan gampang memukul orang meskipun orang itu salah. Kalian tuh


bener-bener kayak anak kecil tau nggak?!”


    “Tapi die..” “Nay…” Radit dan Bram berbarengan ingin membela diri.


    “Cukup gw nggak mau dengar apa-apa lagi. Buat gw lo berdua tuh sama-sama salah.” Naya merasa kepalanya mulai terasa pening. Hanya dalam hitungan detik badannya ambruk dan kesadarannya menghilang. Naya pingsan.


Situasi yang tadi sudah mulai tenang kembali menjadi gaduh. Semua orang memanggil-manggil nama Naya.


    “Mendingan kita bawa aja ke rumah sakit.” Gadis berambut sebahu itu berusaha


menetralisir suasana.


    “Tadi Diya kabur dari rumah sakit begitu tau Radit mau kesini.”


    “Sial.” Maki Radit. Radit langsung membopong Naya menuju mobilnya diikuti gadis itu.


Nuras, Gita, Andra dan Hendra yang dari tadi hanya jadi penonton itu mulai bergegas menyusul Radit. Ruang senat mulai sepi satu persatu orang yang tadi menonton mulain berajak dari situ. Hanya tinggal Bram yang


masih berdiri dengan luka lebam disekujur tubuhnya. Tapi yang pasti luka lebam yang ada di tubuhnya itu tidak seberapa sakitnya dibanding luka yang ada di hatinya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2