
Naya termenung di ruangannya. Semua orang dikantornya sudah pulang, hanya tersisa dia dan Arini. Arini terlihat sedang bersiap-siap untuk pulang. Saat dia ijin pulang kepada Naya, tidak ada respon dari Naya.
Dia hanya terdiam dan sibuk dengan pikirannya.
Naya sibuk dengan pikirannya sampai tidak sadar kalau warna langit sudah berubah menjadi kelam.
Kalau memang apa yang dikatakan Vania itu benar, dia merasa di khianati oleh Bram. Dia tidak bisa menikah dengan orang yang tidak tulus dengannya. Bagaimana dengan masa depan pernikahannya jika semuanya
dimulain dengan kebohongan dan keterpaksaan.
Naya tersadar dari lamunannya saat berdering, dilihatnya ada nama Bram muncul di layar handphone nya. Naya hanya menatap layar handphonenya. Setelah deringnya habis, telphone berdering kembali sampai beberapa kali. Dan Naya masih saja tidak menggubrisnya.
Naya mematikan laptopnya, mengambil tas, memegang handphonenya lalu berdiri dari duduknya. Dia bersiap meninggalkan ruangannya. Saat dia berdiri kepalanya kembali mendapat serangan yang dasyat, ruangan itu serasa berputar. Dia berpegang pada mejanya, tetapi semua semakin berputar dan akhirnya di memerosotkan badannya di samping meja sambil memegang kepalanya.
Sekali lagi handphone Naya berdering. Naya memencet tombol hijau layar handphonenya.
“Sakit.” hanya kata itu yang keluar dari mulut Naya dan semua sudah terasa gelap. Naya pun tidak sadarkan diri.
* * *
Sementara itu di lantai 36 Bram seperti kebekaran jenggot karena beberapa kali berusaha menelphone Naya tetapi tidak di angkat.
Ini terakhir kalinya gw coba telphone. Kalau ga diangkat juga liat aja gw bakal samperin dia.
Bram sekali lagi mencoba menelphone Naya, kali ini telphonenya diangkat. Bram merasa lega, akhirnya diangkat juga.
“Hallo sayang, kamu kenapa ga angkat telphone aku dari tadi?!” Bram menjawab dengan emosi.
__ADS_1
“Sakit.” hanya satu kata itu yang terucap dan suaranya terdengar lirih dan lemah.
“Sayang.. sayang... kamu kenapa?!” tidak ada jawaban dari seberang sana.
“Sayang kamu dimana?!” masih tidak ada jawaban.
Bram langsung mengambil jasnya dan meluncur dengan kecepatan tinggi menuju kantor Naya.
Sesampainya di lobby, dilihatnya kantor Naya sudah gelap, hanya ruangan Naya yang terlihat masih ada cahaya. Bram langsung masuk ke dalam, dan dilihatnya tidak ada siapa-siapa di dalam.
“Sayang kamu dimana?” hanya angin yang menjawab.
“Nay... Naya... kamu dimana?!”
Bram masuk ke ruangan Naya, tetapi tidak ada siapa-siapa disana.
Bram bingung kemana perginya tunangannya itu. Dia merasa was-was, kaya kata “sakit” yang terakhir di dengarnya. Hanya rasa khawatir dan takut yang menyelimuti hatinya. Tidak lama dia melihat sebuah tangan
disamping meja. Dia lalu masuk dan dilihatnya Naya tergeletak tak bergerak di lantai.
“Naya !!! “ Bram langsung menghampiri dan mendekap Naya. Dia menepuk-nepuk wajah Naya, tetapi tidak jua ada tanda-tanda kesadaran dari Naya. Bram langsung membopong Naya.
“Siapin mobil! “ dia memberi perintah kepada Panji yang sudah berdiri dibelakangnya. Dia sendiri tidak sadar kapan asistennya itu sampai di sana.
“Baik Pak.” Panji berlari menuju parkiran dan membawa mobil ke lobby.
* * *
__ADS_1
Bram sudah menelphone Abi saat diperjalanan tadi. Saat dia sampai di Rumah Sakit mereka sudah di tunggu oleh Abi dan beberapa suster.
Bram benar-benar merasa kalut, Naya memang sudah beberapa kali sakit kepala tetapi tidak sampai jatuh pingsan. Saat ini dokter sedang memeriksa kondisi Naya. Waktu menunggu terasa sangat lama. Setelah
menunggu beberapa waktu Abi keluar dari ruangan Naya.
“Gimana Bi?” Bram berdiri menghampiri Abi.
“Kita ngobrol di ruangan gw aja yuk. Lo tenang aja Naya udah bisa masuk ruang rawat inap kok, kondisinya sudah stabil. Nanti biar suster yang antar ke ruangan.”
Dua sahabat itu berjalan menuju ruangan Abi. Di dalam ruangan, mereka duduk berhadapan. Setelah Bram terlihat tenang, Abi mulai bicara.
“Kondisinya saat ini kurang begitu bagus. Kalian lagi ada masalah ya?”
“Kami baik-baik aja kok. “
“Atau dia sedang ada masalah tidak? Karena kalau tidak, sepertinya ga mungkin dia sampai pingsan Bram. Kalau dia sampai pingsan, itu artinya vertigonya sudah sangat sakit sampai dia sudah tidak bisa menahannya.”
“Sampai siang ini dia keruangan gw semua baik-baik aja.” Bram terdiam sejenak dan berfikir keras.
“Tunggu, tadi dia sempat tanya tentang surat dari Bimo. Ada ada sesuatu yang dia sembunyikan dari gw?”
“Mungkin aja Bram. Coba lo cari tau jangan sampai ada masalah yang membuat kondisi dia tidak juga membaik. Kalian seminggu lagi menikah lho, jangan sampai di hari H kondisi dia belum pulih. Soalnya kalau gw lihat kali ini lumayan serius.”
“Ok gw cari tahu nanti. Thanks ya Bi.”
“Your welcome, jangan lupa gaji gw lo naikin ya.”
__ADS_1
“Itu mah lain cerita Bro hahaha .” Bram beranjak meninggalkan ruangan Abi.