
Setelah melewati banyak liku-liku akhirnya hari ini Nuras dan Hendra menikah. Mereka mengadakan resepsi di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Pagi hari akad nikah di gelar di kediaman Nuras dan resepsi di
laksanakan pada malam harinya.
Acara resepsi termasuk cukup mewah, mengingat Ayah Nuras yang merupakan salah satu pejabat esenlon di salah satu kantor pemerintahan jadi tamu yang diundang juga banyak. Resepsi yang digelar dengan tema
internasional itu di dominasi dengan warna putih.
Seperti acara pernikahan pada umumnya, acara pernikahan Nuras dan Hendra juga merupakan ajang untuk reuni keluarga dan teman-teman. Khususnya Naya yang sudah 5 tahun tidak bertemu dengan teman-teman kampusnya.
Naya pergi bersama Bram, Ganis dan Radit. Pagi harinya mereka juga datang di acara akad nikah bersama-sama.
Naya mengenakan model kebaya modern berwarna coklat keemasan dengan rambut di tata setengah di jepit dengan hiasan rambut bermutiara, dan yang sebagian di biarkan terurai dengan bagian bawah dibuat kerinting gantung.
Sedangkan Bram memakai kemeja batik lengan panjang dengan warna dasar yang serupa dengan kebaya Naya. Mereka tidak janjian tetapi saat keluar kamar baru sadar pakaian yang mereka pakai terlihat seperti couple dresscode.
“Nayaaaa, Ganisssss Kangennnn “ Gita memeluk Naya dan Ganis.
Mereka bertiga berpelukan.
“Udah kayak teletubis, cuma kirang 1 aja nih soalnya yang 1 lagi di pelaminan.” Bram menghampiri mereka beserta Radit dan Andra.
“Baek-baek perut.” Naya melepas pelukannya.
“Tinggal berapa bulan lagi Git?”
“Tinggal menghitung hari Nis. Kalau lo dah berapa bulan?”
“ Ini masuk bulan ke 6.”
“Wah bentar lagi nujuh bulanan dong?”
“Wuah pembicaraan ibu hamil, gw nggak ngerti sendiri deh hiks hiks.” Naya memasang wajah sedih palsu.
“Cup.. cup ... cup...” kata Gina dan mereka kembali berpelukan.
“Kita bisa bikin juga kok Nay.”
Mendengar kalimat Bram semua tertegun, pelukan ke tiga teletubis itu juga langsung terlepas. Semua melihat ke arah Bram.
“Kalo ngomong jangan sembarangan Mas.”
“MAS?!” Gita dan Andra berseru berbarengan.
“Sejak kapan lo manggil Bram Mas Nay?” Gita menuntut penjelasan dan Andra mengangguk-anggukan kepalanya.
Bram menaruh tangannya ke pinggul Naya dan menariknya.
__ADS_1
“What is this? Maksudnya apa ini?” Gita semakin melotot dan menunjuk tangan Bram yg ada di pinggul Naya.
Naya berusaha untuk melepaskan tangan Bram tapi tangan Bram masih tidak bisa bergerak dari pinggul Naya.
“Kalian kan udah dewasa harusnya bisa mengartikan sendiri.” Jawab Bram santai.
“Nayyyy “ Gita melotot ke Naya meminta penjelasan.
“Bukan apa-apa kok, ini.. ini ..” Naya bingung harus menjawab apa.
“Bukan apa-apa maksudmu?!” Bram ikut melotot ke Naya.
“Ganissss sebenarnya..” Bram menoleh ke Ganis.
Belum sempat Bram meneruskan kalimatnya Naya sudah membungkam mulut Bram dengan tangannya.
“Kenapa Bram? Sebenarnya apa? ”
“Diy lepasin mulut Bram dong kasian itu dia mo ngomong.”
Bram melepas tangan Naya dari mulutnya. Dan terus menggenggam tangan Naya.
Naya memasang tampang memelas tapi matanya melotot.
Bram senyum-senyum sendiri melihat aksi Naya itu.
“Sebenarnya Naya masih belum ridho kalau lo sama Radit pulang besok. Iyakan sayang?
“Apa sayang? Naya lo harus jelasin ke gw sekarang juga. Apa yang terjadi diantara kalian berdua?” Gita kembali terkaget.
“Nanti aja lha gw jelasin, lagian ini rame ga kedengeran juga.”
“Nggak... Nggak... lo harus jelasin sekarang juga. Gw yakin kalau Nuras tau dia juga pasti bakal minta penjelasan ke lo.”
“Ya udah nunggu Nuras aja sekalian besok, biar ga 2x gw jelasinnya.”
“Nggak bisa, hal penting begini ga bisa di tunda-tunda.”
“Lo Pak, Bu ada di sini juga? ” seseorang menegur Bram dan Naya.
“Eh Pak ...” Bram merasa pernah lihat lelaki yang menegurnya tapi dia lupa namanya.
“Saya Deddy pak, security mall yang waktu itu.”
“Ah iya pak Deddy apa kabar?” Bram menyalami lelaki itu.
“Baik Pak. Bapak dan istri sudah baikan kan? Tidak bertengkar lagi dong heheheh?” security itu mengulurkan tangannya Naya untuk salaman.”
__ADS_1
“ISTRI?!” Gina, Ganis, Andra dan Radit berteriak bersamaan.
“Iya saya pernah memergoki mereka bertengkar di mall mba, mas.”
“Istri siapa?” Tiba-tiba sang pengantin sudah menimbrung dengan mereka.
“Itu si Naya katanya istrinya Bram.”
“APA?!” ini Nuras dan Hendra berteriak bersamaan.
Keributan mereka membuat tamu-tamu di sekitar memperhatikan mereka.
“NAYA, lo mesti jelasin ke kita sekarang juga. Ini maksudnya apa? “
“Ras, lo tuh lagi mantenan, bukan waktunya ngomongin ini.”
“Iya bener kata Naya. Weekend besok kita klarifikasi ya. Kita kumpul bareng.”
“Kelamaan. Besok kita kumpul.” kata Nuras semangat, disambut anggukan dan wajah antusias yang lainnya.
Hanya Ganis dan Radit yang sedikit lebih santai, karena mereka sudah tau tentang hubungan Naya dan Bram. Walaupun tadi sempat kaget saat dibilang Naya istri Bram.
“ Maaf pak Deddy ini kenalan mempelai Wanita atau pria pak?” Bram mencoba mengalihkan topik. Dia merasa kasihan meliha Naya di serang teman-temannya.
“Oh saya sepupunya Hendra.”
“Begitu ya, dunia sempitnya.”
“Iya dia sepupu gw. Untung ya dia dateng, kalau ga kita ga pernah tau nih kalau Naya ISTRI lo.” Hendra menekankan kata istri.
“Udah manten balik lagi ke pelaminan sana, itu udah bayak tamu yang mau salaman.”
Naya mendorong Nuras dan Hendra untuk pergi.
“Ingat besok kita kumpul.”
“Nanti berkabar aja ya.”
Nuras dan Hendra kembali ke pelaminan.
Hari itu mereka semua bergembira, tidak lupa dengan sesi foto dan saking narsisnya, sampai tukang fotonya geleng-geleng kepala karena mereka tidak mau berhenti berfoto.
__ADS_1