CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 26 - Efek Mulutmu Harimaumu


__ADS_3

Di dalam mobil menuju kantor Naya dan Bram hanya saling diam. Untuk memecah keheningan Naya mulai menyetel musik di player mobil, tiba-tiba Bram mematikan musik yang di setel Naya. Naya menoleh ke aran Bram lalu menekan tombol play musik lagi, dan selang beberapa detik Bram sudah mematikan lagi musik playernya.


Akhirnya Naya diam dan membatalkan niatnya mendengarkan music.


    “Ada yang hutang penjelasan ke aku kayaknya.” Bram melirik Naya.


Naya tersenyum menampakkan deretan giginya yg putih


    “Kamu ga perlu jelaskan sekarang. Nanti jam makan siang kita makan diluar. Kamu harus jelasin semua ke aku.”


    “Sekarang aja ga apa-apa kok.”


    “Ga, aku lagi nyetir nanti ga konsen.”


Naya langsung manyun. Justru tujuannya mumpung Bram lagi tidak konsen jadinya Naya mau ajak bicara. Kalau tidak konsen kan dia ga akan mikir atau minta yang aneh-aneh.


Sampai di kantor baru saja Bram dan Naya memasuki loby kantor sudah terdengar panggilan manja Vania.


    “Sayang..... kok kamu bareng lagi sama cewek cacat itu sih?” Vania mendekati Bram.


    “Jaga bicara kamu ya! Naya tidak cacat, jangan sembarangan kamu.”


    “Ya ampun begitu aja kamu marah. Iya deh ga cacat cuma PINCANG.” Vania menekankan kata pincang.


    “Mas aku duluan ya ke kantor.” Naya langsung melenggang pergi


    “Dasar perempuan kampung ga punya sopan santun” Vania kesel karena tidak di gubris oleh Naya.


    “Kamu yang ga punya sopan santun.” Bram melepas tangan Vania yang sejak tadi menggenggam tangannya, lalu meninggalkan Vania.


* * *


Saat jam makan siang, jam 12 pas Bram sudah berada di kantor Naya. Bram masuk ke kantor Naya tapi yang punya kantor masih belum sadar. Bram masuk langsung menuju ruangan Naya, dia membuka pintu ruangan Naya dan menjulurkan kepalanya.


    “Sayang ayo makan.”


Semua orang yang ada di ruangan depan menoleh kearah Bram, padahal saat itu kantor Naya lumayan ramai, ada beberapa tamu yang sedang mencari informasi dan bertransaksi. Sebagian tamu itu bahkan ada yang


karyawan dari kantor Bram.


    “Kamu gila ya!!” Naya reflek melempar bantal kursi yg ada di belakangnya.


Karena reflek yang bagus, Bram berhasil menangkap bantal itu sebelum mendarat ke wajahnya. Dan dia hanya tersenyum tanpa dosa.


    “Udah cepetan aku udah laper banget.”


    “Ini baru jam 12 kerjaan aku masih banyak, lagian ini lagi rame-ramenya tamu dateng. Udah kamu duluan aja deh.” antara kenyataan dan alasan sejalan.


Jujur Naya masih belum mau membahas hal tadi pagi dengan Bram, dia butuh waktu untuk berfikir apakah hal itu perlu dilakukan atau tidak. Dan kenyataan memang mendukung saat ini Naya memang masih banyak kerjaan dan di counter memang sedang banyak tamu.


    “Ya udah aku tunggu kamu aja.” Bram masuk dan duduk di depan meja Naya.


    “Udah kamu duluan aja, aku masih lama. Mungkin 1 jam an baru selesai.”


    “Nggak apa-apa.” Bram mengambil majalah traveling di meja Naya dan membacanya.


    “Terserah deh.” Naya menyerah, sepertinya memang dia sudah tidak bisa menghindar lagi. Nanya kembali sibuk dengan laptopnya.


1 jam lebih Bram menunggu Naya bekerja, di sela-sela mengerjakan kerjaannya Naya kadang ngedumel sendiri, marah-marah sendiri bahkan tersenyum sendiri.


Terkadang bahkan dia berteriak dengan Staff nya yang di depan.


    “Arini.... seat nya saya sudah ambilkan tuh. Sudah bisa Ok, kamu langsung tanya tamunya mau ga ya? Bilang harus mau, saya udah susah-susah ngerayu orang SQ biar dikasih OK seatnya.”


    “Ok bu.”  sahut Arini dari luar.


Melihat bebagai ekspresi Naya, Bram tersenyum sendiri.


Ternyata ini Naya yang asli, selama ini Bram tidak pernah perhatikan. Dulu Bram hanya melihat dari kaca matanya sendiri, sehingga dia tidak bisa melihat sisi asli Naya seperti apa. Ternyata Naya orang yang


ekspresif, dan orang-orang di sekitar yang berinteraksi dengannya juga terlihat santai dan nyaman.


* * *


Seorang Bramantyo Wicaksono, CEO sebuah perusahaan besar harus menunggu selama hampir 2 jam hanya untuk pergi makan siang. Panji sang asisten sampai harus memutar otak untuk mengatur ulang jadwal meeting-meeting Bram yang terpaksa di cancel.


Bram melajukan mobilnya ke mall dekat kantor, mereka makan siang sebuah restoran barat. Restoran itu sudah tidak terlalu ramai karena memang sudah jam 2 lewat jadi sudah lewat jam makan siang. Bram dan Naya mengambil tempat duduk dekat jendela dan agak pojok. Mereka sedang menunggu makanan yang dipesan dihidangkan.


    “Jadi?!” Bram menyandarkan badannya ke kursi dan melipat tangannya di dada.


    “Hm.. “ Naya bingung mau mulai dari mana, dia hanya memainkan sendok yang ada di mejanya.


    “Asal kamu tau, kita ga akan keluar dari restoran ini sampai kamu cerita semuanya.” Bram menatap Naya dengan mata elangnya itu.


Naya menarik nafas panjang.


    “Semalem Ganis cerita tentang alasan dia datang sini.ikir” Naya terdiam sejenak.

__ADS_1


    “Ada kekahwatiran yang dia rasakan. Dia berfirkir bahwa apa yang Bimo pikirkan benar.”


    “Bimo?!” Bram agak kaget mendengar nama almarhum adiknya di sebut.


    “Dia berfikir sama seperti Bimo bahwa apa antara aku dan Radit ada perasaan khusus.”


Wajah Bram menegang, dia mencodongkan badannya ke depan dan tangannya di taruh diatas meja.


    “Dia berfikir bahwa dia dan Bimo sudah menjadi penghalang antara aku dan Radit.”


    “Kenapa dia bisa berfikir seperti itu?" Nada suara Bram terdengar kaku.


    “Karena setelah aku pindah ke Jakarta, Radit menjadi lebih sensitif.”


Naya benar-benar takut melihat Bram, terlihat jelas Bram sedang menahan amarahnya.


Bram hanya diam. Naya semakin bingung, dia sudah biasa dimarahi atau di bentak oleh Bram ketika marah tapi kalau di diamkan baru kali ini Naya merasakannya. Dan menurut Naya ini lebih mengerikan.


    “Mas aku beneran ga ada apa ataupun perasaan apa-apa sama Radit, kami hanya teman masa kecil.” Naya tidak sadar memegang tangan Bram.


Bram tetap terdiam.


    “Bener Mas, aku juga udah jelasin ke Ganis bahwa aku ga ada apa-apa sama Radit. Ganis masih ragu sama penjelasan aku makanya tadi pagi bilang begitu.”


Naya masih menggenggam tangan Bram. Wajah Naya sudah mulai pucat karena takut. Kepalanya mulai terasa sakit.


Aduh ini vertigo jangan kumat dulu deh, waktunya ga tepat.


    “Mas, kamu mau kan bantu aku? Pura-pura jadi pacar aku ya. Tadi aku bingung waktu Ganis tanya nama, karena sebenarnya aku belum punya pengganti Bimo. Yang terlintas di kepala aku ya nama kamu. Maaf karena seenaknya saja menggeret kamu ke masalah aku.”


    “Mas jangan marah ya?? mau kan bantu aku?” Naya menggenggam tanya Bram lebih erat. Sebenarnya itu adalah efek karena dia menahan sakit di kepalanya, tapi Bram berasumsi bahwa karena Naya merasa bersalah.


Pembicaraan mereka terhenti sejenak karena makanan pesanannya datang.


    “Mas...”


    “Kita makan dulu.” hanya itu reaksi yang dikeluarkan Bram


Naya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua terserah Bram. Naya pasrah, kalau Bram tidak mau membantunya dia berarti dia harus mencari alasan lain untuk Ganis.


Naya memesan spageti, tetapi dia hanya makan tidak sampai setengah porsi. Kepalanya semakin terasa sakit. Vertigo Naya memang sudah termasuk agak berat, dia kumat kalau dia mulai banyak pikiran atau tekanan,


makanya dia selalu bawa obat vertigo ditasnya. Sayangnya saat ini Naya tidak bawa tas, karena dia fikir hanya mau makan siang di sekitar kantor saja, jadi dia hanya bawa handphone dan dompet saja.


    “Udah selesai makannya?”


    “Udah.” Naya langsung berdiri.


    “Balik kantor, makannya kan udah selesai.”


    “Tadi bukannya aku bilang kalau kita ga akan keluar dari resto kalau masalah ini belum selesai?!”


Naya kembali duduk


    “Lha situ dari tadi diem aja, jadi ane pikir dah ga mau ngebahas lagi.” gerutu Naya lirih.


    “Aku bisa dengar ya.” Bram tiba-tiba meyentil kening Naya.


    “Ah sakitt.” Naya mengelus-elus keningnya.


    “Kamu bener ga ada apa-apa sama Radit?!” Bram menatap lurus ke arah mata Naya


    “Ya Allah Mas..... Dulu aku harus ngeyakinin Bimo, semalam aku harus ngeyakinin Ganis, sekarang kamu juga ikut-ikut an. Kalau begitu caranya aku nikah aja lha biar ga ada lagi orang yang tanya. Dijodohin-dijodohin deh.”


    “Percuma kamu nikah juga aku ga akan percaya, kecuali nikahnya sama aku baru aku percaya.”


    “Nggak lucu!!”


    “Ok back to topik. OK aku mau bantu kamu.”


Naya terkaget, dia sendiri sudah mulai pesimis kalau Bram mau bantu dia.


    “Serius Mas?”


    “Serius tapi ada syaratnya.”


    “Apa syaratnya?” Tanya Naya ragu, dia curiga karena Bram itu licik.


    “Syaratnya gampang kok.”


    “Apa?” mata Naya menyipit memperhatikan Bram


    “Aku ga mau pura-pura.”


    “Hah?! Maksudnya?”


    “Aku ga mau pura-pura jadi pacar kamu, aku maunya beneran. Bagaimana?”

__ADS_1


    “Gila, ga bener ini.. Ini ga bener, makanya aku udah curiga dari tadi.” Naya langsung berdiri hendak meninggalkan tempat itu.


Bram langsung berdiri dan menyingkirkan tongkat Naya, lalu kembali duduk di tempatnya.


    “Mas ini ga lucu tau.”


    “Aku ga  lagi ngelawak kok. Aku sih gampang kamu tinggal bilang OK semua masalah selesai. Kamu bisa pulang dan masalah Ganis juga terselesaikan.”


    “Mas masalahnya ga akan sesimple itu.” Naya kembali duduk karena kepalanya semakin terasa berputar.


    “Inget kamu tuh benci banget sama aku. Belum lagi Mas Pram.”


    “Pram?! Siapa itu?”


    “Kakakku.”


    “Kenapa kakak kamu? Apa hubungannya sama kita?”


    “Udah lha masalah Mas Pram bukan urusan kamu. Intinya ga bisa kita pacaran dengan cara seperti ini Mas.”


    “Ya terserah kamu, aku sih gampang aku tinggal telphone Ganis dan bilang kalau kamu bohong.”


    “Masssss ini namanya pemaksaan.”


    “Aku ga paksa, kan kamu ada pilihan. Mau pacaran beneran sama aku dan masalah Ganis selesai atau kamu mau jujur sama Ganis. Kamu tinggal pilih.”


Naya menuduk dan memegang kepalanya. Kepalanya benar-benar berputar sekarang, dia tidak bisa lebih lama lagi menahannya, dia harus segera minum obatnya.


    “Ya OK, kita pacaran beneran. Sekarang kita bisa balik kantor? Kerjaan ku numpuk ini sudah hampir jam 4.”


Iyain aja dulu deh, yang penting bisa cepet balik. Ntar kalo masalah Ganis udah kelar tinggal minta putus. Batin Naya.


    “OK “


Bram mengelus sekilas rambut Naya dan berjalan ke kasir untuk membayar makanannya.


Naya mencoba berdiri lalu dia kembali terduduk. Dia tidak bisa melangkah karena semua terasa berputar, keringat mulai mengucur.


Bram melihat Naya tidak bergerak dari tempatnya. Dia kembali menghampiri Naya. Terlihat Naya memejamkan matanya, wajahnya pucat dan butiran keringat banyak keluar. Bram merasa ada yang tidak beres dengan Naya.


    “Nay.. Naya..” Naya membuka mata sejenak lalu dipejamkan lagi matanya.


    “Nay.. sayang kamu denger aku? Kamu kenapa?” Bram memegang tangan Naya.


Naya langsung meremas tangan Bram “ Sakit Mas” suaranya lirih.


Dari remasan tangan Naya, Bram bisa merasakan betapa besar rasa sakit yang Naya rasakan.


    “Apa yang sakit?”


    “Kepala aku.”


    “Kita ke RS ya sekarang.”


    “Nggak usah mas, balik ke kantor aja. Obat aku ada di kantor”


    “Ya udah kamu bisa pegang tongkat kamu kan? Kamu pegang ya.” Bram menaruh tongkat di tangan Naya dia langsung mengangkat Naya dan meninggalkan tempat itu. Sesampainya di lobby mall dia langsung naik taksi menuju kantor.


* * *


Panji sudah menunggu Bram di lobby. Bram turun dari taksi dengan menggendong Naya langsung menuju ruangannya, di belakang Panji mengikuti.


Ruangan Bram lumayan besar, selain meja kerja ada ruang tamu kecil yang terdapat sofa. Bram merebahkan Naya di sofa.


    “Nay kamu bisa denger aku kan?” Naya tidak menjawab tapi dia meremas tangan Bram.


    “Obatnya kamu taruh mana? ”


    “Tas” Naya menjawab lirih dengan mata masih terpejam.


    “Panji kamu ke ruangan Bu Naya ambil tasnya dan bawa ke sini langsung. Setelah itu tolong kirim orang untuk ambil mobil saya di mall XX saya parkir di B1 – D8, ini kunci dan kertas parkirnya.”


    “Baik Pak.” Panji langsung keluar ruangan.


Bram duduk di semping sofa. Tangannya terus menggenggam tangan Naya. Baru kali ini dia melihat Naya saya wajahnya tampak pucat. Dan Bram sangat tidak suka dengan pemandangan di depannya ini.


    “Sayang apa yang sakit? Aku panggi Abi ke sini ya”


    “Nggak usah Mas, abis minum obat biasanya mendingan kok.” suaranya masih lirih dan lemah.


Biasanya?! Jadi ini bukan pertama kalinya dia sakit begini.


Bram lalu teringat 5 tahun lalu saat dia tiba-tiab di hajar oleh Radit. Ini hanya sakit awalnya saja bagaimana 5 tahun lalu yang sampai Naya harus dirawat di RS. Mengingat itu hati Bram terasa miris, rasa penyesalan yang besar muncul kembali di hati Bram.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2