CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 13 - Tidak semua apa yang kita pikir benar


__ADS_3

Seperti biasa ruang senat terlihat sepi dan hanya diisi oleh 5 manusia, siapa lagi kalau bukan Andra, Hendra, Nuras, Gita dan Bram. Mereka masih sibuk membuat laporan pertanggungjawaban untuk acara sarasehan kemarin.


    “ Sayang si Naya kemana sih? Kok udah seminggu lebih ini gw ga pernah liat dia, dia udah keluar RS


dari seminggu lalu kan.”


Nuras menoleh ke arah pujaan hatinya. “ Gw juga ga tau. Ga ada kabar.”


    “Lho kalian nggak tau? Naya kan mau keluar.” Kalau ini Andra yang ngomong.


    “Hah?!” kalau ini trio Gita, Nuras dan Andra yang barengan tereak.


    “Serius?!” Gita berdiri dan menghampiri Andra.


    “Serius buanget sayang…. Gw denger dari sumber yang amat sangat terpercaya. Dia bilang beberapa


hari yang lalu abang nya Naya datang ke sini minta surat keterangan pindah kampus buat Naya. Dan yang belum gw tahu adalah apa alas an Naya pindah kampus.”


    “Naya ga pernah cerita apa-apa ke gue. Kalau ke elo Ras? Dia ada cerita ga?”


    “ Nggak juga tuh Git.”


    “Udah lah. Kalian rame amat. Kalau emang dia keluar dari kampus ini bagus dong. Itu artinya udah nggak ada lagi pembunuh di kampus kita.”


    “Bram. Apa maksud lo?” Gita sudah mulai Emosi.


    “Naya bukan pembunuh dan nggak mungkin Naya membunuh.”


    “Tapi nyatanya dia memang pembunuh.”


    “Bram lo jangan bikin gara-gara deh. Kita semua tau kalau lo nggak suka sama Naya, tapi nggak seharus nya lo nuduh orang sembarangan dong.”


    “Gw ngomong sebenarnya Ndra. Naya emang pembunuh. Dia udah ngebunuh adik gw. Karena dia adik gw meninggal.”


Semua orang di ruangan itu terdiam. Berusaha mencerna kata-kata Bram.


    “Tunggu sebentar Bram” Andra mulai bicara lagi. “Jadi adik lo kenal Naya?”


    “Iya”


    “Sorry tapi kita boleh tau nama nya nggak? Siapa tau kita juga kenal.”


    “Bimo. Namanya Ariyo Bimo Prihambudi.”


    “Maksud lo almarhum  Bimo pacarnya Naya?” Hendra berdiri dari kursinya. Berjalan menghapiri meja Bram


dan berdiri bersandar di tembok sebelah meja Bram.


    “Iya”


    “Dan karena itu lo benci nya setengah ****** sama Naya?”


    “Iya”


    “Wah parah lo Bram. Parah banget lo Bram!” kali ini Andra yang berjalan menghampiri meja Bram


dan duduk di kursi yang ada di depan meja Bram.


    “Parah kenapa gw?” Tanya Bram dengan polos nya.


    “Bram. Gw sama Hendra itu kenal sama Bimo. Kenal banget malah, kami bersahabat Bram. Gw nggak


tau ternyata mas Icak yang selama ini selalu di banggain Bimo itu ternyata lo.”


    “Eh tunggu deh An, bukannya dulu si Bimo bilang kalau kakaknya kuliah di Ausi ya?”


    “Iya bener lo Hen.” Andra berfikir sejenak. “Eh tapi seinget gw Bram juga mahasiswa pindahan kan? Dan lo pindah di tahun yang sama dengan tahun kematiannya Bimo. Bener nggak?”


    “Bener. Gw emang sempet kuliah di Ausi. Tapi setelah Bimo nggak ada gw pindah ke sini dan gw sengaja


pindah ke kampus ini. Gw rela downgrade kuliah supaya bisa seangkatan sama Bimo jadi gw bisa ngerjain Naya karena saat itu masih dalam masa ospek dan kalau gw jadi senior Naya gw bisa bales dendam


atas kematian adek gw, gw bisa bikin hidup Naya kayak di neraka. Tapi ternyata pas gw masuk sini si Naya itu malah ga ada. Dia baru nongol 1 tahun kemudian. Tapi nggak apa- apa lha, paling nggak gw masih bisa bikin hidup dia susah walaupun Cuma sebentar.” Bram bercerita dengan santai, tetapi setiap kata-kata yang keluar dari mulut penuh dengan nada kebencian.


    “Hah lo emang sinting Bram.” Dengan suara tenang Nuras mengatakan itu dari bangku nya.


    “Enak aja lo bilang gw sinting. Yang sinting itu kalian semua, udah tau kalau Naya penyebab kematian Bimo, tapi kalian masih saja mau berteman sama dia. Sahabat macam apa kalian? Atau jangan-jangan kalian nggak tau masalahnya makanya kalian tetap mau berteman sama dia”


    “Lo salah Bram. Justru karena kita tau masalah sebenarnya makanya kita tetap mau berteman dengan


Naya.” Nuras tetap tenang di tempatnya.


    “Tau apa kalian? Bahkan saat pemakaman Bimo, Naya aja nggak datang. Tadi nya gue pikir gue bakal


maafin Naya kalau dia datang ke pemakaman. Tapi nyata nya apa? Dia nggak datang. Dia hanya mengutus seorang kurir untuk mengantarkan rangkaian bunga. Buat apa rangkaian bunga itu, gw bisa beli 100x


lipat rangkaian bunga seperti itu. Keluarga kami nggak butuh itu.”


Nada suara Bram sudah tidak santai lagi. Sudah meninggi dan penuh dengan emosi.


    “Kan udah gw bilang tadi kalo kami tahu semuanya, lo budeg apa bolot sih?” Nuras mulai terpancing emosi.

__ADS_1


    “Apa lo bilang?” Bram berdiri dari bangkunya.


Hendra menahan lengan Bram dan mendudukannya kembali ke bangkunya.


    “ Udahlah sayang, jangan bikin gara-gara deh. Semua lagi emosi di sini, jadi jangan ikut-ikutan deh. Certain aja semuanya biar mata Bram yang MEREM itu kebuka dan dia nggak salah paham lagi sama Naya.”


    “Apa maksudnya gw salah paham?!”


    “Udah lo dengerin aja. Nanti juga lo ngerti sendiri” Hendra mengangguk ke arah Nuras.


Semua hening sejenak, Bram mulai merasa gelisah. Ada apa sebenernya yang terjadi yang dia tidak tahu.


Apa memang benar kalau selama ini dia salah. Apa sebegitu baiknya Naya sampai semua teman membelanya bahkan keluarganya begitu membela dan menyayangi Naya. Kalau memang Naya seburuk yang dia pikirkan,


kenapa keluarganya masih saja membela Naya. Begitu banyak spekulasi yang keluar dalam pikiran Bram. Dan semua itu baru terfikirkan olehnya saat ini.


    “Bram. Lo pasti berfikir kalau Bimo meninggal karena dia kaget mengetahui adanya perselingkuhan


antara Naya dan Radit. Karena itulah lo menyalahkan Naya atas meninggalnya Bimo. Benar nggak apa yang gw bilang ini.”


Bram hanya menatap Nuras dan menganggukkan kepala.


    “Awalnya memang begitu Bram. Bimo salah paham dia berfikir sama seperti yang saat ini lo fikirkan,


bahwa Naya telah menghianatinya dengan selingkuh dengan Radit. Tapi masalah itu sudah selesai. Bimo sudah tau yang sebenarnya sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum Bimo meninggal dia sempat sadarkan diri beberapa saat. Dan gw rasa lo juga tahu kalau adik lo sudah sadar. Bener ga?” sekali lagi Bram hanya menganggukan kepalanya.


    “Semua orang sempat berfikir bahwa semuanya akan baik-baik saja, Bimo akan kembali lagi sehat seperti sediakala. Sejak pertama kali Bimo masuk rumah sakit Naya selalu menemainya, tidak ada waktu sedetikpun Naya beranjak dari samping Bimo, kecuali kalau dia ke toilet ya.” Nuras bergeser membenahi posisi duduknya agar lebih nyaman.


     “Naya baru mau makan di hari Bimo sadarkan diri. Hari itu Radit sedang membujuk Naya untuk makan di kantin rumah sakit. Saat itulah Bimo sadar. Bram lo inget cewek yang dateng bareng Naya? Cewek yang membawa selang infuse Naya waktu Naya mencegah lo sama Radit berantem?”


    “Iya gw inget. Emang kenapa sama cewek itu? Apa hubungannya sama cerita lo?”


    “Ada banget hubungannya. Nama cewek itu Rengganis atau kita biasa panggil dia Ganis. Ganis itu


sahabat terdekat Naya. Bahkan lebih dekat dari kami ataupun Radit. Ganis tau semua hal tentang Naya bahkan hal-hal yang Radit tidak tahu Ganis pasti tahu. Ganis yang udah jelasin semua kesalah pahaman itu


ke Bimo.”


    “Halah bisa aja kan si Ganis itu disuruh Naya untuk bohong ke Bimo.”


    “Itu nggak mungkin karena Ganis adalah pacar Radit. Kalau Ganis bohong ke Bimo itu berarti dia


juga bohong ke dirinya sendiri.”


Rasanya seperti tersambar petir saat mengetahui semua kebenaran itu.


    “Lantas kenapa saat pemakaman Bimo Naya tidak datang?”


Kondisinya saat itu sudah seperti mayat hidup. Tidak ada reaksi, tidak ada ekspresi. Tatapan selalu kosong, diajak bicara tidak menyahut. Itulah sebabnya orangtua Naya membawa Naya pindah dari Jakarta dan memutuskan kontak dengan orang-orang disekitar Naya bahkan dengan Radit dan Ganis.”


    “Tapi setelah itu kan kita nggak tahu. Bisa aja setelah itu Naya pacaran sama Radit buktinya dia menghilang 2 tahun trus nongol dengan wajah ceria seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa.”


    “Itu nggak mungkin. Kalau mereka pacaran nggak mungkin Radit tunangan sama Ganis. Lo inget waktu sarasehan Naya ngotot banget untuk pulang ke Jakarta kan?” Bram menganggukan kepalanya.


     “ Itu karena sorenya Radit lamaran dengan Ganis, makanya Naya tetep ngotot padahal udah lo larang.”


Secara perlahan tapi pasti tabir yang selama ini tertutup terbuka secara perlahan. Semua pikira-pikaran negatif tentang Naya mulai terkikis secara perlahan, tergantikan dengan rasa bersalah yang mulai mencuil-cuil hati nurani Bram. Dia merasa bersalah kenapa selama ini tidak mau mendengarkan penjelasan orang-orang sekitarnya.


* * *


Bram terdiam, tertunduk dengan lunglai di dalam mobilnya. Penyesalan itu memang selalu datang


terlambat. Bram menjalankan mobilnya dengan pikiran kosong, suara-suara klakson dari kendaraan-kendaraan dibelakangnya tidak ada yang terdengar olehnya, suara-suara caci maki dari orang-orang


disekitarnya yang merasa kesal karena Bram terlalu lamban menjalankan kendaraannya.


Bram memasuki rumah besar dan megah. Dia turun dari mobil dan memasuki ruang tengah rumah itu.


Rumah dengan 2 lantai itu terlihat sepi. Pada bagian depan terdapat 1 set sofa berwana coklat dengan gaya victoria, lengkap dengan mejanya. Pada bagian dinding terpajang foto keluarga yang terlihat harmonis.


Orang tua dengan 2 orang putra dan 1 orang putri.


Melewati ruang tamu Bram memasuki ruang keluarga. Dilihat Papa dan Mamanya sedang duduk di depan TV


sambil berbincang-bincang. Melihat Bram masuk dengan wajah lesu mamanya bertanya.


    “ Abis dari mana Cak? Kok lesu amat?”


Bram duduk di dekat Mamanya.


    “Ma... Kenapa sih kalian selalu saja membela Naya? Kenapa kalian tidak pernah menyalahkan Naya


atas apa yang terjadinya pada Bimo? Kenapa Ma? Pa?”


Orang tua Bram saling berpadangan. Setelah beberapa detik Surya, Papa Bram berdiri menuju kamarnya. Tidak sampai 5 menit dia sudah kembali lagi ke ruangan tamu. Tangannya memegang sebuah amplop.


Tanpa berkata apa-apa dia menyerahkan amplop itu kepada Bram.


    “ Apa ini Pa?” tanya Bram dengan heran.


    “ Kamu baca saja, nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya.” Bram hendak membuka amplop yang

__ADS_1


di segel itu.


     “ Lebih baik kamu buka di kamar, Bram. Biar kamu leluasa membacanya.”


Bram duduk di atas tempat tidurnya. Dipandangi amplop putih yang warnanya sudah tidak terlihat


bersih. Dibukanya dengan perlahan segel amplop tersebut. Didalamnya terdapat sepucuk surat dengan tulisan tangan seseorang yang sangat dia kenal.


 


Hi Mas Icak,


Sehat selalu kan? Alhamdulillah kalau memang begitu adanya.


Mas masih kenal tulisan ini kan? Aku yakin mas masih ingat hehehehe.


Jika mas membaca surat ini sekarang itu artinya aku sudah tidak ada disekitar kalian lagi


Mas...setelah kepergianku nanti, aku berharap mas bisa pulang ke Indonesia.


Aku mengembalikan tugas yang pernah mas kasih ke aku dulu waktu mas memutuskan untuk kuliah di


Ausi.


Kembalilah untuk menjaga Papa, Mama dan Bunga adik kita yg centil itu.


Mas ada satu orang lagi yang aku sangat khawatirkan.


Mas ingat tentang Diya? Cewek super cuek yang aku pernah ceritain ke mas Icak.


Teman-teman kampus biasanya memanggil dia Naya.


Pramudya Nayaka Utami itu nama lengkapnya mas.


Cantikkan namanya? Seperti orangnya.


Diya pacar Aku mas. Dia cahaya yang hadir dalam hidup aku.


Diya selalu bisa membuat hidup aku berarti, selalu ceria dan membuat aku melupakan penyakitku.


Diya selalu hadir dalam setiap moment terpenting dalah hidupku.


Tetapi mas, aku merahasiakan tentang penyakitku ini pada Diya.


Walaupun dia terlihat kuat tapi aku tau dia itu rapuh, karena itu aku merahasiakan penyakitku


ini padanya.


Setelah kepergianku nanti aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya.


Mungkin dia akan hancur.


Oleh sebab itu tolong bantu aku untuk menjaganya.


Jangan biarkan cahaya yang selama ini menyinariku itu pudar.


Jaga dia untuk tetap bercayaha, dampingi agar cahayanya tidak pudar.


Diya mempunyai sepasang sahabat. Namanya Radit dan Rengganis.


Mereka pasangan yang serasi yang selalu setia mendapingi Diya.


Karena kesetiaan mereka aku pernah salah paham pada mereka.


Aku berfikir Radit dan Diya mengkhianatiku. Tapi ternyata aku salah


Radit ternyata berencana untuk meminang Rengganis


Aku merasa bersalah karena itu mas.


Aku telah menyakiti dan membuat Diya banyak menangis.


Tolong bantu aku menjaganya agar tetap tersenyum.


with love


Bimo


 


 


Bram tertunduk dalam diam. Dia merasa bodoh, sedih, menyesal, bingung semua bercampur jadi satu. Dia


seperti baru saja tersadar dari tidurnya yang panjang. Mengingat semua hal yang sudah dia lakukan pada Naya. Semua tabir mulai terbuka satu persatu. Alasan kenapa teman-teman dan keluarganya kenapa begitu


melindungi Naya. Ternyata selama ini Naya bukan pembunuh, dia malah adalah korban. Bram mulai teringat apa yang sudah dia lakukan kepada Naya, semua hal-hal buruk yang sudah dia lakukan muncul satu persatu


dalam ingatannya, terasa seperti film horor yang menakutkan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2