CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 25 - Mulutmu Harimaumu


__ADS_3

Semalaman Ganis dan Naya hanya bisa tidur ayam, pikiran mereka seperti berkelana. Tidur tidak nyenyak. Pagi ini Naya harus tetap ke kantor karena dia baru satu hari masuk kantor, jadi tidak enak jika harus


ijin lagi.


Naya dan Ganis ikut berkumpul dengan keluarga Bram untuk sarapan.


“Nis hari ini maaf ya gw tinggal ke kantor dulu, soalnya gw ga enak baru masuk sehari kok udah ijin lagi.”


    “Iya ga apa-apa.”


    “Lo dirumah bisa ditemenin Bunga kok. Bunga mba titip Mba Ganis ya.”


    “Siap Mba, aku jagain Mba Ganisnya jangan sampai hilang hehehehe”


Bram merasa ada yang tidak beres dengan kedua sahabat itu. Sikap mereka berbeda, keceriaan yang semalem dia rasakan hari ini terasa hilang.


Sebelum berangkat seperti biasa Bram dan Naya salim kepada orang tua Bram. Setelah sarapan mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, Ganis dan Bunga juga ada di sana.


Ganis menghampiri Naya berdiri di sebelah Bram.


    “Diy, apa yang kamu bilang semalam benar kan?” wajah Ganis terlihat murung dan tertekan.


    “Benar Nis. Gw ga bohong kok.”


    “Kamu yakin kan?”


    “Astaga yakin 100%, lagian gw udah punya pengganti Bimo kok.”

__ADS_1


Mendengar perkataan Naya semua orang terkaget dan melihat terpaku ke arah Naya.


    “Hah siapa?! Kok lo ga pernah cerita ke gw?” Wajah Ganis langsung berubah ceria, dan Naya bisa melihat itu, seperti beban Ganis terlepas.


    “Ada lah orangnya.”


    “Siapa? Jangan-jangan lo bohong karena cuma mau bikin gw seneng aja.”


    “Nggak bener kok, lo juga kenal orangnya.”


    “Siapa? Kasih tau gw sekarang juga.”


Naya langsung panik, siapa coba? Dia juga ga tau.


    “Hayo siapa?!”


    “Iya mba Diya siapa orang nya? Kita semua penasaran lho.” Bunga sama semangatnya denga Ganis


    “Siapa Diy, kasih tau gw cepetan” Ganis terus memaksa Naya.


    “ Cepet siapa?!”


    “Bram.” Tiba-tiba nama itu keluar dari mulut Naya.


Semua orang kaget dan langsung melihat ke arah Bram. Bram yang tidak tahu apa-apa langsung tebengong. Wajahnya terlihat antara kaget dan senang jadi satu.


    “Iya kan mas?” Naya langsung menggelayut mesra di lengan Bram.

__ADS_1


Sementara Bram masih mengumpulkan nyawa dan mencerna kondisi saat itu.


    “Hm iya.” Kata Bram sambil menepuk-nepuk tangan Naya yang menggandeng lengannya.


    “Ya ampun Icak, Mama senang banget. Kita harus buat syukuran ini.” Heni langsung berdiri.


    “Inah ... Inah ayo kita belanja ke pasar, kita harus makan enak hari ini.”


Heni langsung pergi menhampiri Inah.


    “Tante tunggu dulu Tan.” Naya jadi panik, dia baru sadar apa yang dia perbuat pasti akan jadi bencana buat dia.


Tapi dia juga terpaksa harus berbuat itu untuk menghilangkan kekhawatiran Ganis.


“Sayang, percuma kamu panggil-panggil mama. Kamu udah ga bisa mundur lagi sekarang. Mendingan sekarang kita berangkat, kalau ga nanti kita telat. Aku ada meeting pagi ini.” Bram tersenyum licik.


    "Tapi Mas, Tante salah paham."


    "Udah nanti aja ngejelasinnya, kita udah telat. yuk " Bram menggandeng Naya masuk ke dalam mobil.


Naya menurut saja di gandeng Bram, karena di otaknya masih berfikir bagaimana menjelaskan white liar nya kepada Heni. Dia sadar kalaiu Heni berharap banyak untuk hubungannya dengan Bram.


Akhirnya kena juga dia, tanpa gw harus usaha susah-susah dia udah ngebuka jalan buat gw.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2