CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 31 - Girls day out


__ADS_3

Suasana sarapan pagi itu sangat kaku, tidak ada suara orang berbincang-bincang seperti biasanya. Semua orang hanya fokus dengan makanannya masing-masing. Setelah selesai sarapan Naya dan Ganis


masuk ke kamar.


Sekitar jam 9.30 Naya dan Ganis keluar kamar sudah dengan pakai rapi. Bram dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Bram langsung menoleh ke arah tangga, dilihatnya Naya dan Ganis yang sudah rapi dan tidak jauh di belakang mereka ada Radit yang mengikuti. Radit memakai tshirt dan celana sedengkul.


    “Mau kemana kalian kok sudah rapi?” selidik Bram.


    “Cari angin.” jawab Naya cuek.


    “Ya kemana?” Bram tidak suka dengan jawaban cuek Naya.


    “Ya kemana aja lha.”


    “Aku antar ya.”


    “Ga perlu, ini urusan cewek.” Naya langsung melenggang pergi diikuti Ganis.


Di depan rumah sudah ada taksi online yang menunggu mereka. Bram menatap Radit.


    “Kemana mereka?”


    “Gw pikir pergi sama lo.” jawab Radit bingung.


    “Wah ga bisa di diemin ini.” Bram mengambil kunci mobilnya. Lalu berjalan ke arah parkir mobilnya. Radit mengikuti Bram.


    “Lo ngapain ngikutin gw?”


    “Gw ikut. Lagian emang lo bisa handle mereka berdua? Mereka kalo udah bersekutu ga bisa dikalahkan sendirian lho.”


Bram berfikir sejenak.


    “Ya udah masuk deh, sementara kita damai dulu. Demi masa depan.”


Mereka berdua masuk ke mobil dan mengejar taksi yang dinaiki Naya dan Ganis lalu mengikutinya.


* * *


Girls POV


Nuras sampai duluan di tempat janjian, dia berdiri di depan toko buku yang sudah di sepakati. Tidak lama dia melihat seorang wanita yang berjalan dengan tongkat dengan seorang wanita yang perutnya terlihat


buncit. Nuras menghampiri mereka.


    “Ya ampun dua wanita hebat ini ya.... Assalamualaikum bu ibu” Nuras bercipika cipiki dengan Naya dan Ganis.


    “Nis... udah lama ga ketemu tau-tau itu perut melendung aja.” Nuras mengelus perut Ganis.


    “Gimana kaki lo Nay?”


    “Besok gw udah lepas gips kok, tenang ja.”


    “Ya udah ayo kita shoping and happy happy.” Nuras merangkul Naya dan Ganis lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Mereka memasuki dari satu toko ke toko yang lain. Mencoba baju dan sepatu, kadang di selingi deng foto selfi atau minta tolong petugas toko untuk mengambil foto mereka.


Setiap memasuki toko Nuras pasti keluar dengan tentengan, hari ini Nuras benar-benar menghilangkan stress dengan belanja.


Setelah beberapa waktu keliling mall, mereka akhirnya memutuskan masuk ke dalam salah satu restoran untuk makan siang. Sebenarnya agak telat untuk dibilang makan siang, karena waktu sudah menunjukan pukul 15.00.


Restoran tersebut memiliki 2 area, pertama yang di dalam ruangan dan yang dua di luar ruangan. Mereka memilih untuk duduk di luar ruangan supaya bisa melihat menghirup udara segar, walaupun udaranya tidak terlalu segar karena ada beberapa orang yang merokok di dekar bangku mereka. Yah resiko duduk di luar ruangan memang seperti itu, harus berbagi ruang dengan perokok.


Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, mereka mulai membuka sesi curhatnya.


    “Lo kenapa sama Hendra Ras? Bener dia selingkuh?”


    “Iya, kesel gw. Ga tau deh ini pernikahan musti gw lanjutin atau nggak.”


    “Emang lo udah ada buktinya?”


    “Belum sih, cuma belakangan ini dia selalu sibuk dan parahnya kemana-kemana dia selalu sama sekertarisnya yang kecentilan itu. Kemarin bahkan tuh sekertaris yang angkat telphone si Hendra.”


    “Jangan gegabah, undangan udah di sebar semua, acara lo tinggal seminggu lagi lho. Ini menyangkut masa depan lo. Cari tau dulu kebenarannya.”


    “Iya bener kata Diya, mending lo bicarakan dulu ke Hendra jangan berprasangka dulu. Lo harus dengerin dari sisi Hendranya.” Ganis ikut menasihati.


    “Tunggu, itu kan kalimat gw waktu gw nasihatin lo kemarin. Lagian belagu bener lo, lo juga kan lagi bermasalah sama Radit.”


    “Serius Ganis perang sama Radit? Wah hot news nih, couple of the year kita ribut hahahahaha” Nuras tertawa kencang.


    “Bahagia bener lo”


    “Iya lha, gw ada temennya. Itu baru namanya sahabat, susah senang bersama hahahaha” Nuras merangkul Ganis yang terlihat kesal


    “Masalah lo apa Nis?”


    “Sama  ma lo. Kalian berdua tuh masalahnya sama, krisis kepercayaan pada pasangan.” Naya yang menjawab.


    “Serius Radit selingkuh juga? Ama siapa?”


    “Kata Ganis ama gw.”


    “Hah?! Ga mungkin lha.”

__ADS_1


    “Tuh kan?! Nuras yang orang luar aja ga percaya. Emang otaknya Ganis aja udah somplak, ga bisa mikir bener.” Naya kesel.


    “Gw sih percaya lo ga gitu Diy, tapi gw ga percayanya sama Radit, bisa aja kan dia cinta bertepuk sebelah tangan.”


    “Nah bener tuh Nis, kalau itu sih bisa jadi.” Nuras malah mengompori.


    “Wah kompor mleduk nih bocah, bukannya ngademin malah manas-manasin.”


    “Kan intinya gw cari temen Nay.”


    “Udah pokoknya kalian berdua harus ngomong dulu ke pasangan masing-masing sebelum kalian mengambil keputusan. Inget ini untuk masa depan kalian.”


    “Lo “ Naya menunjuk Nuras. “Inget orang tua lo semua undangan udah di sebar mau taruh dimana muka mereka kalo lo cancel tuh pernikahan.”


    “Dan Lo “ Naya menunjuk Ganis. “ Inget perut lo udah melendung begitu, ga kasian ama anak lo?”


Sedang asyik-asyik membuka sesi konsultasi tiba-tiba 3 orang wanita menghampiri mereka.


    “Eh ketemu cewek cacat di sini. Kok mall elit begini ijinin orang cacat masuk ya?” Vania sudah berdiri di dekat meja mereka dengan 2 orang perempuan di belakangnya.


    “Hei jaga bicara mu Nona.” Nuras berdiri.


    “Kenapa anda yang sewot? Emang anda yang cacat?” Vania melihat Nuras dari ujung kepala hingga ujung kaki.


    “Heh dia bukan cacat ya! Jangan sembarang manggil orang.”


    “Jalan aja pakai tongkat, apa namanya kalau bukan cacat?”


    “Susah emang kalo ngomong sama orang yang modal baju ketat doang tapi otaknya kosong.” Ganis dengan santai mencibir, sambil menyuapkan es krim ke mulutnya.


Brak.... Vania menggebrak meja Ganis.


    “Apa maksud lo hah? Lo ngehina gw?”


    “Nah kan bener otaknya asat alias kosong.” Naya dan Nuras hanya tersenyum menahan tawa.


    “Sialan lo.” Vania mencoba untuk nampat Ganis. Tiba-tiba tangannya tahan oleh seseorang.


Seorang pria memegang tangan Vania yang hendak menampar Ganis. Dibelakangnya ada 2 orang pria lain yang sedang duduk di bangku yang tidak jauh dari mereka. Ketiga orang pria itu sejak tadi memang sudah


memperharikan mereka, sejak mereka baru masuk sampai Vania datang membuat keributan.


    “Mba ga lihat itu ibu hamil? Kok jadi permpuan kasar sekali?”


    “Jangan ikut campur kamu.”


    “Bukannya saya mau ikut campur, tapi suara mba ga enak banget di dengernya. Bikin polusi udara Mba, kuping saya sakit. Kalau mau teriak-teriak mendingan di rumah sakit jiwa aja mba.” Kata laki-laki itu.


    “Kurang aja sekali kamu.” Wajah Vania merah seperti kepiting rebus.


    “Mba mending dari pada malu nanti di geret security karena sudah membuat keonaran, mending sekarang Mbaknya pergi dengan damai.”


Vania tampak kesal dan meninggalkan tempat itu dengan jalan terburu sampai tidak sengaja menyandung kaki kursi dan hampir terjatuh.


Melihat hal itu Naya cs semakin kencang tertawanya.


Pria manis yang tadi sudah membantu Naya cs terlihat lenih muda dari Naya cs, walau begitu dia lumayan tampan dan terlihat dari keluarga yang cukup berada.


    “Kalian ga apa-apa kan?”


    “Nggak lha, dia macem-macem sih gw gebuk pake tongkat.” sahut Naya masih sambil sediti tertawa.


    “Dia belum tau keuntungannya orang cacat ya bawa senjata kemana-mana. Iay ga?”


    “Bener banget bu Boss.” Nuras menimpali.


    “Kalian bertiga bersahabat ya? Keliatannya dekat banget.”


    “Kami bersahabat?!” Naya menjawab dengan pertanyaan.


    “Ya nggak lha.” jawab Nuras dan Ganis kompak


    “Sial gw sahabatan sama mereka berdua” Timpal Naya.


Pria itu tersenyum melihat tingkah mereka. Dia tadi sekilas bisa mendengar pembicaraan mereka, tidak mungkin mereka tidak bersahabat. Bahkan mereka terlalu kompak untuk ngerjain perempuan berpakaian ketat tadi.


Hm persahabatan yang aneh, pikirnya.


    “Apa kita boleh kenalan?”


Naya, Nuras dan Ganis saling melihat.


    “Kamu ga salah minta kenala sama tante-tante begini?” senyum Naya sudah hilang.


    “Nggak lihat ini yg satu tante cacat, yang satu tante hamil dan yang satu tante sakit jiwa.” Naya kembali meringis sambil melihat kedua temannya.


    “Kalau cari teman kan tidak memandang umur dan fisik.” sahut pria muda itu.


Tidak lama kedua temannya menghampiri meja Naya.


    “Kami boleh joint?” kata salah satunya.


    “TIDAK BOLEH.” tiba-tiba ada suara yang menjawab dari belakang.

__ADS_1


* * *


Guys POV


Bram menurunkan Radit di pintu masuk mall, dia menyuruh Radit untuk mengikuti Naya dan Ganis sementara dia memarkir mobilnya. Setelah memarkirkan mobil Bram menghubungi Radit untuk menyusul ke posisi dia


sekarang.


Radit dan Bram berjalan mengendap-endap mengikuti Naya dan Ganis. Mereka melihat kedua orang itu di depan toko buku sedang menemui seseorang. Karena terlalu fokus melihat Naya dan Ganis tanpa mereka sadari mereka menabrang orang yang sepertinya berjalan tidak fokus.


    “Maaf” Kata Bram dan Radit bersamaan.


    “Tidak apa-apa, saya juga salah jalannya meleng.” Kata orang yang di tabrak.


    “Hendra! “ kata Bram dan Radit bersamaan lagi.


    “Bram, Radit! Ngapain kalian di sini?”


    “Lha lo ngapain di sini?”


    “Gw lagi ngikutin Nuras.” Hendra menunjuk arah Nuras berdiri dengan dagunya.


    “Oh jadi yang di temuin Naya sama Ganis itu si Nuras!.”


    “Kalian berdua ngapain di sini?”


    “Ngikutin Diya sama Ganis.”


    “Hah? Tumben lo berdua akur.” Hendra melirik Radit


    “Kepaksa.” Bram dan Radit tidak sengaja menjawab bersamaan lagi


    “Jangan bilang lo lagi berantem sama bini lo?”


    “Emang, lo juga kan pasti lagi berantem ama Nuras?! Kalo ga berantem ga mungkin lo ngikutin diam-diam begitu.”


    “Hehehe emang iya. Lha trus lo ngapain Bram?”


    “Iseng aja.” Bram melengos pergi.


    “Kalian mau sampai kapan bengong di situ? Ga liat tuh cewek-cewek udah jalan?!” Bram menoleh ke arah Radit dan Hendra.


Ketiga pria itu mengikut kemanapun ketiga wanita itu pergi, keluar masuk toko sampai akhirnya berakhir di taman dekat restoran tempat Naya cs makan. Untungnya Naya cs makan di ruangan luar, jadi mereka tetap


bisa memantau dari kejauhan.


    “Apa yang mereka bicarakan? Kok kayaknya bahagia banget.”


    “Iya, dari kemarin gw aja ga pernah liat Ganis ketawa sampe kenceng begitu.”


    “Apalagi gw. Udah 2 hari Nuras ga mau angkat telphone gw.”


3 lelaki itu menggerutu berjamaah. Hingga dari kejauhan mereka melihat 3 orang wanita menghampiri meja Naya cs.


    “Lho itu bukannya Vania, Bram?” Radit menoleh ke arah Bram.


    “Iya itu Vania, ngapain dia?”


    “Siapa?!” Hendra yang ga kenal Vania bingung sendiri.


    “Tuh simpenannya Bram.” jawab Radit ketus.


    “Jangan sembarangan .”


Radit dan Bram mau mulai bersiteru, tiba-tiba Hendra berteriak. Untuk lokasi mereka mengintai agak jauh jadi suara Hendra tidak terdengar Naya cs.


    “Ngapain tuh cewek gw berdiri, kayaknya dia ngamuk tuh”


Bram dan Radit langsung melihat ke arah resto.


    “Eh kok Vania nge gebrak meja bini gw?! Mo ngapain dia?!” Radit mulai emosi.


    “Siapa cowok itu?!” Bram langsung berdiri.


    “Ini ga bisa di diemin.” Bram baru mau melangkah ditahan Radit.


    “Lo mau kemana?”


    “Samperin mereka lha. Mau kemana lagi emang?”


    “Kalo lo samperin kita ketahuan ngikutin dong?”


    “Bener tuh kata Radit Bram.”


    “Gw mending ketauan dari pada cewek gw di goda laki-laki lain. Lo sih enak bini lo hamil jadi udah ketahuan kalo udah ada lakinya. Nah Naya, stempel dijidatnya masih available tuh.” Bram langsung pergi.


    “Gw juga ikut, gw ga mau pernikahan gw gagal gara-gara ini.” Hendra menyusul Bram.


Radit tidak berkata apa-apa hanya mengikuti Bram dan Hendra. Selang beberapa meter mereka bisa mendengar percakapan Naya cs dengan laki-laki itu. Dan dilihatnya kedua teman laki-laki itu ikut menhampiri Naya cs.


    “Kami boleh joint?”


    “TIDAK BOLEH.” Bram diikuti Radit dan Hendra berjalan menghampiri meja Naya cs.

__ADS_1


__ADS_2