
Sudah tiga hari berturut-turut Bram memmindah kantornya ke ruanganan Naya. Dia sudah berusaha mencari Naya kemana-mana tapi tetap tidak bisa menemukannya, bahkan Uchi juga sudah tidak mengetahui kabar
keberadaannya. Jadi saat ini dia hanya bisa berharap adanya keajaiban, dia berharap Naya tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dan dia mau saat nanti Naya muncul dia tidak akan kehilangan kesempatan seperti sebelumnya, oleh sebab itu dia memutuskan memindah ruangan kerjanya ke ruangan Naya.
Sepertinya Tuhan memang sedang berbaik hati dengannya, hari itu dia melihat Naya memasuki lobi kantor. Bram menahan diri agar tidak mendekatinya, dia memutuskan untuk tetap menunggu Naya di ruangannya. Tanpa ada rasa curiga sedikutpun Naya memasuki ruangannya, dan betapa kagetnya Naya saat menemukan ruangannya yang sudah berantakan, mejanya menuh dengan dokumen-dokumen. Dia melihat sosok pria yang selama ini dia rindukan sedang duduk di kursinya dan menatapnya dengan tajam.
“Kamu ! “ Naya benar-benar merasa kaget.
“Apa yang kamu lakukan di sini?!”
“Harus nya aku yang bertanya bukan?!” Bram menjawab dengan dingin.
Ada rasa rindu yang membuncah di hati Bram, ingin dia langsung memeluk wanitanya itu. Sekuat tenaga dia menahan keinginannya itu, ada sedikit rasa marah karena di tinggalkan. Walaupun dia tahu bahwa
sebenarnya wanita di depannya itu juga merasa tidak berdaya di depan keluarganya.
“ Masuk!
“ Perintah Bram
“Atau kamu mau kabur lagi? Kebiasaan buruk!”
Naya akhirnya masuk ke dalam ruangannya, dia sadar cepat atau lambat dia memang harus menghadapinya. Naya memasang tirai di ruangannya agar tertutup dan tidak terlihat dari luar lalu duduk di depan Bram.
“Sayang, bagaiman kabar kamu?” Bram bertanya dengan lembut, tatapannya juga sudah berubah lembut.
“Baik.” Naya menjawab lirih
“Kamu ga kangen sama aku? “ Bram mengulurkan tangannya lalu menggenggam tangan Naya.
“Kamu tau betapa 2 minggu ini menjadi salah satu waktu terberat buat aku.
__ADS_1
Aku seperti kehilangan arah saat aku tidak bisa menemukan mu. Kenapa sih kamu selalu pintar untuk bersembunyi dan lari dari ku?”
Naya tidak bisa menjawab pertanyaan Bram, mulutnya terkunci. Berat rasanya, dia hanya mulai menitikkan air mata yang semula hanya setetes demi setes hingga berubah menjadi derai air mata.
Bram berdiri menghampiri Naya dan berjongkok di depannya.
“Katakan padaku apa yang kamu alami selama di sana? Apa yang Pram lakukan? Apa dia menyakitimu? “ Bram menggenggam erat kedua tangan Naya.
“Aku.. Aku.. “
“Ceritakan semua nya kepadaku. Jangan kamu tanggung semua sendiri. Aku tau ini terlalu berat untukmu.” Bram mengelus wajah Naya dan menghapus perlahan air mata Naya yang terus saja turun.
“Kamu tau sakitnya hati aku melihat mu saat ini. Aku merasa kalau aku gagal melindungimu. Aku selalu saja menyakitimu.”
Tangis Naya semakin menjadi, Bram langsung berdiri dan memeluknya. Dia membiarkan tangis Naya menjadi pecah.
Bram tidak bicara sampai tangis Naya mulai terhenti, dia hanya memeluknya dengan diam. Naya merasakan kedamaian di dalam pelukan itu. Ingin rasanya untuk tidak melepaskan pelukan itu untuk selamanya.
Setelah lebih baik Naya melepas pelukannya.
Naya hanya menganggukan kepala, dia lalu menceritakan semuanya. Dari mulai sampai dia di gerek paksa oleh Pram untuk pulang sampai akhirnya dia kembali lagi ke jakarta, dan juga alasannya kembali ke Jakarta dan sisa waktu yang punya sebelum harus kembali ke Jogja.
“Hubungan kita harus di akhiri Mas. Kita tidak bisa terus bertahan tanpa restu keluarga aku.”
“Kenapa kita harus berpisah?! Aku tidak akan pernah mau mengakhiri hubungan ini.”
“Tapi Mas...”
“Kita belum berjuang sayang. Jangan menyerah dulu. Aku tau Pram seperti apa, dia bukan orang yang tidak mempunyai hati. Cepat atau lambat keluargamu pasti akan luluh, aku akan terus berjuang untuk hubungan
kita. Jadi aku mohon sama kamu jangan pernah menyerah ya? “
Naya tersenyum dan menganggukan kepala.
__ADS_1
Bram langsung memelukanya dan mengecup lembut kening Naya.
“Jangan menyerah dan jangan pernah lagi lari dari aku ya? Aku mohon sama kamu.”
Sekali lagi Naya menganggukan kepalanya.
Sesaat kemudian hanphone Naya berbunyi. Muncul nama Pram di situ.
“Aduh, bagaimana ini Mas. Mas Pram pasti tau kalau aku ketemu kamu sekarang. Dia pasti akan suruh aku pulang sekarang juga.” Naya mulai terlihat pucat.
“Kamu tenang dulu, ga mungkin dia tau secepat itu kalau kamu ketemu sama aku. Sekarang kamu angkat dulu dan loud speaker telphonenya, kalau kelamaan nanti dia curiga.”
Naya menganggukan kepala lalu mengangkat telphonenya dalam mode loud speaker.
“Diy.. Diya pulang kamu sekarang juga.” terdengar suara Pram di sana, tetapi bukan terdengar marah tapi terdengar khawatir.
“Tapi urusan aku belum kelar Mas, 2 hari lagi mungkin baru selesai.” Naya berusaha mengntrol suaranya agar tetap terdengar tenang.
“Bunda kena serangan jantung dan masuk rumah sakit. Kamu cepat pulang sekarang juga.”
“APA!! ya udah aku pulang sekarang juga.” Naya menutup telphonenya.
“Aduh bagaimana ini?” Naya mulai panik dan terlihat bingung.
“Sayang.. sayang kamu tenang dulu ya.” Bram menenangkan Naya.
“ARINI, pesen tiket ke Jogja sekarang juga, cari waktu terdekat. Atas nama saya dan Naya.” Bram langsung menggandengan tangan Naya untuk keluar.
“Kamu cari dan langsung cetak tiketnya, kalau bisa yang bisnis class ya. Nanti tiket langsung kirim ke saya. Sekarang saya langsung jalan ke bandara.”
Tanpa mendengarkan jawaban dari Arini, Bram sudah membawa Naya pergi menuju airport.
__ADS_1