
Malam itu Naya masuk ke kamar Pram. Dilihatnya sang kakak sedang asyik di depan laptopnya.
“Sibuk Mas?”
“Eh Diy, ga kok cuma lagi ngeberesin proposal kerjasama dengan kantor Bram. Kenapa Diy?”
“Aku pingin ngobrol-ngobrol aja.”
“Boleh,mo ngobrol apa?” Pram menutup laptopnya.
Kakak beradik itu duduk berhadapan.
“Mas aku penasaran sebenarnya apa yang membuat mas tiba-tiba setuju tentang hubungan aku sama Bram?”
“Kamu tuh aneh, dilarang ga mau. Sekarang di setujui kok malah bingung. Apa aku cancel aja persetujuannya nih?” ledek Pram
“Ya begitu juga kali Mas.” Naya manyun.
“Lucu banget sih adik Mas yang satu ini.” Pram mencubit pipi Naya.
“Sakit Mas.” Naya bertambah manyun.
“Udah sih jawab aja pertanyaan aku susah bener.”
“Ih orang nanya kok maksa.”
“Masssss”
“Iya.. Iya ... kamu mau tanya apa?”
“Kan tadi udah tanya.”
“Apa ya? Saya sudah lupa tuh.”
“Dasar aki-aki!”
“Eh ngeledek ya.. mau di jawab ga nih pertanyaannya?”
__ADS_1
“Mau lha, lagian dari tadi iseng terus. Bikin orang kesel aja.”
“Calon manten tuh ga boleh emosian. Ga baek.”
“Bodo amat ah. Ya udah kalau ga mkau cerita aku balik kamar aja.”
“Ih ngambek bolehnya.”
Naya langsung berdiri hendak meninggalkan Pram. Tangannya lalu di tahan Pram dan dia di dudukan kembali ke bangku.
“Kamu tau salah satu yang membuat mas menentang kalian adalah ke egoisan Mas.”
“Maksudnya?”
“Mas masih belum terima kalau adik kecil mas, yang selama ini Mas jaga harus Mas berikan kepada orang lain. Kamu juga pasti sadar sedekat apa hubungan kita.” Naya menganggukan kepala. Matanya sudah
terlihat memerah. Selama ini dia tidak pernah berfikir bahwa sebegitu sayangnya sang kakak sampai dia tidak rela menyerahkan Naya pada lelaki lain.
“Mas yang melihat semua perjuang kamu, Mas yang ikut merasakan apa yang kamu rasakan. Sakit kamu, derita kamu, tangis kamu semua mas lihat. Sekarang jika kamu di posisi Mas, apa kamu tega memberikan adik
“Tapi saat Mas melihat di RS kemarin, bagaimana Bram memperlakukan kamu, perhatian dia, tanggung jawab dia, Mas bisa melihat dia bisa memperlakukan kamu seperti Mas memperlakukan kamu. Ada rasa sayang di setiap hal yang dia lakukan untuk kamu. Dia juga setia menemani kamu, bahkan dia tau saat dimana kamu drop dan juga dia tau apa yang harus dia lakukan. Disitu Mas mulai melihat bahwa Bram sudah berubah, dan dia sudah menyadari kesalahannya.” Pram menyeka air mata Naya yang mulai meluncur ke pipinya.
“Hei kok nangis sih.” Pram tersenyum lembut.
“Dan kamu tau apa lagi yang hebat?”
“Apa?”
“Bram bisa membeda urusan kerjaan dan pribadi. Dia tetap mau bekerja sama dengan perusahaan Mas, padahal Mas sudah jelas-jelas menentang keras hubungan kalian.”
“Alah, itu mah akal-akalan dia aja biar Mas setuju ama dia. Nyogok dia Mas.”
“Hush kamu itu, calon suami sendiri kok di jelek-jelekin.”
“Lha bener Mas. Dia itu kalau udah ada mau nya apa aja dilakukin. Aku aja sampe puyeng ngadepin dia kalau dia udah mau sesuatu. Ampun deh pokoknya.”
“Bagus dong, itu namanya dia mau usaha.”
__ADS_1
“Tetep aja caranya nyebelin kadang-kadang.”
“biar nyebelin tapi sayang kan?!”
“Tau ah.”
“Kok tau ah sih?! Kalau ga sayang ga mungkin nerima lamarannya dong.”
“Udah deh Mas jangan ngeledek terus. Back to topic. Mas tau dari mana kalau dia beneran bisa bedain urusah kantor sama urusan pribadi?”
“Sebelum Mas tau tentang hubungan kalian, Bram sudah pernah info by lisan ke Mas kalau dia suka dengan proposal yang Mas ajuin, dan dia mau kerjasama. Tadinya Mas pikir setelah mas larang hubungan kalian, dia
akan cancel kerjasama kita karena persetujuan kerjasamanya kan baru lisan jadi belum hitam diatas putih. Perusahaan Bram masih bisa cancel karena tidak ada bukti tertulisnya.”
“Hm, bener juga sih.” Naya terdiam sejenak
“Ya, Diya sih seneng kalau memang Mas, Ayah dan Bunda memang sudah setuju semua. Karena menurut Diya yang namanya pernikahan itu bukan hanya antara 2 orang tetapi antara 2 keluarga. Makanya Diya ga akan berani menikah kalau kalian juga ga kasih restu.”
“Mas tau kok, sekesal apapu kamu sama Mas dan Ayah kamu pasti tetap akan nurut sama kita. Mas kenal banget adik kecil Mas ini.”
“Ma kasih ya Mas.” Naya memeluk Pram.
“Iya, yang penting kamu bahagia dan pasangan kamu memang benar-benar sayang sama kamu.” Pram membalas pelukan Naya.
“Ya sudah sana tidur, ini udah malem. Mas mau selesaikan kerjaan dulu dikit.”
“Iya Mas.”
Naya berdiri dan meninggalkan kamar Pram.
__ADS_1