
Para Mahasiswa baru sudah berkumpul di lapangan parkir. Mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke tempat sarasehan. Sebentar lagi acara pelepasan akan dilaksanakan, hanya tinggal menunggu ketua jurusan
memberikan sepatah dua patah kata sambutan dan mengucapkan kata pelepasan yang biasanya diikuti oleh wajah-wajah bahagia para senior, karena setelah kata pelepasan itu diluncurkan oleh ketua jurusan, itu
tandanya penyiksaan juga sudah dapat dimulai.
Naya berdiri memandang wajah-wajah baru yang mulai terliha pucat. Naya teringat masa-masa saat dia dulu masih jadi mahasiswa baru. Banyak kenangan yang terlintas di ingatan Naya kenangan yang lucu, yang menyenangkan dan juga kenangan yang menyedihkan, kenangan tentang Bimo. Naya menarik nafas panjang, yah tentang seorang Ariyo Bimo Prihambudi.
“Kenapa narik nafasnya panjang amat?”
“Bram?!”
Semejak kejadian itu Naya dan Bram tidak pernah lagi bertemu. Mungkin lebih tepatnya mereka saling menghindar.
“Ternyata lo nepatin janji juga!”
“Gw bukan tipe orang yang suka ingkar janji kok, jadi lo tenang aja.”
“Oh ya?! Gw pikir lo bakal mati kalau berpisah beberapa hari dari pangeran tercinta lo itu!” nada sinis mulai mewarnai suara Bram.
Naya menoleh ke arah Bram. Dia memandang Bram tanpa berkata apa-apa. Naya menarik nafas panjang lalu tersenyum kearah Bram. Senyum itu bukan senyum biasa, ada kegetiran di dalam senyum itu. Masih dalam diam Naya pergi meninggalkan Bram. Bram masih diam berdiri di tempat dia ditinggalkan Naya. Dia terus melihat Naya yang berjalan menjauh darinya dan berhenti di tempat teman-temannya berkumpul. Naya bicara, bercanda dan tertawa dengan teman-temannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dia tetap menjadi Naya yang dikenal teman-temannya, Naya yang periang dan Naya yang tidak pernah punya masalah.
*
Para panitia sarasehan memilih daerah Sukamantri sebagai lokasi sarasehan. Tempatnya memang jauh banget dari peradaban, alias jauh dari jalan raya. Jalan yang menuju ke tempat itu berkelok-kelok dan jarang ada angkot yang lewat tempat itu. Lokasi terdekatnya hanya beberapa warung-warung milik penduduk sekitar, itupun jaraknya sekitar 1 kilo meter dari lokasi. Tempatnya memang sangat bagus, posisinya berada
diantara 2 bukit. Posisi yang berada di lembah itu benar-benar membuat peserta merasa terisolisasi karena dikelilingi bukit. Jadi jika peserta ada yang berusaha kabur dari sarasehan berarti harus siap-siap nyasar.
Saat tiba di area sarasehan dan saat semua hak para peserta udah di cabut, maka penyiksaan yang sesungguhnya dimulai. Semua senior berlomba mencari kesalahan para peserta, jika sudah begitu otomatis segala macam hukuman mulai diobral besar-besaran.
Naya menikmati segala macam kegiatan yang disaksikannya. Berhubung Naya menjadi mentor maka kerjaannya juga terlalu banyak, karena tugas seorang mentor itu hanya sebagai pengajara, penasihat dan pembela bagi mahasiswa baru. Peran mentor benar-benar sangat dibutuhkan justru pada saat sebelum saraehan atau biasa disebut sebagai Prasarasehan, sedangkan saat sarasehan mentor hanyalah jadi penonton.
“Enak banget yah nggak usah kerja. Kalo gitu ngapain juga lo ada disini? Kayaknya nggak guna deh.” Bram sudah menghilangkan segala macam keasyikkan yang baru saja Naya nikmati. Dia menyusul duduk disebelah
Naya.
“Oh ya?” Naya menjawab tanpa menoleh kearah lawan bicaranya. “Bukannya elo yang nyuruh gw kesini? Eh bukan nyuruh deh, mungkin tepatnya memaksa gw secara halus.”
__ADS_1
“Apa lo bilang?!” akhir-akhir ini emosi Bram mudah banget terpancing jika dia dekat-dekat Naya. Contohnya saja sekarang. “Heh jangan GR ya!”
“Bram….” Tiba-tiba ada seorang gadis manis menghampiri Bram.
“Kenapa Nit?”
“Gw butuh orang buat ambil makanan di bawah nih. Sebentar lagi kan jam makan malam.”
“Emang anak buah lo pada kemana?”
“Ada sih tapi gw kurang orang. Kan makanannya banyak soalnnya kan tuh makanan bukan cuma buat MABA sama panitia doang. Itu buat semuanya termasuk alumni.”
“Oh ya udah lo ajak aja Naya.” Naya yang dari tadi nggak terlalu peduli sama obrolan Bram dan Nita tiba-tiba nengok karena namanya disebut.
“Kok Naya Bram?! Mendingan anak cowok aja, kan bawaannya berat lagian ini kan udah malem Bram. Naya nanti bantuin gw pas bagi-bagiin makanannya aja.”
“Anak-anak cowok lagi pada sibuk.” Jawab Bram ketus.
“Sibuk gimana sih? Udah jelas mereka cuma pada nongkrong sambil genjrang genjreng nggak jelas gitu.”
“Iya tapi sebentar lagi gw butuh mereka buat cari trek buat jurit malam. Udah lah Naya aja kenapa sih? Ribet amat.”
“Ya udah Nit nggap apa-apa kok. Lagian gw juga lagi nggak ada kerjaan kok.”
“Nggak perlu Nit. Biar Naya sendiri aja.”
“Lo gila ya Bram?! Itu kan berat banget. Gue aja sama anak-anak bawanya 1 bakul berdua.”
“Lho kalau berat kan dia bisa bagi 2 trus dia bisa balik lagi kan? Gitu aja kok repot sih.”
“Tapi Bram kan capek kalo Naya harus bolak balik gitu.”
“Hallah…dia udah biasa, diakan anak gunung masa begitu aja nggak sanggup?!”
“Udah lah Nit nggak apa-apa kok. Bener kata Bram, gw kan bisa 2 kali balik.”
Belum sempat Nita membantah, Naya sudah menarik Nita meninggalkan Bram.
*
Ternyata apa yang dibilang Nita itu bener banget, makanan yang diambil Naya tadi memang berat. Alhasil sekarang Naya mandi keringat padahal hawa di tempat itu dingin. Perut Naya jadi kerasa lapar, cacing di
__ADS_1
perutnya udah benar-benar teriak minta makan, udah mana makanan yang tadi diambil kelihatannya enak-enak semua. Bikin air liur mau keluar aja.
Naya berjalan gontai ke arah tendanya. Saat sampai di tenda dia hanya sendirian, teman-temannya belun ada yang kelihatan. Yah mereka pasti sibuk banget, secara mereka kan panitia inti, otomatis kerjaannya
pasti banyak banget. Merasa sepi sendirian, Naya pergi mencari teman-temannya. Lagian sebentar lagi kan jam makan malam jadi mereka pasti bisa kumpul bareng kurang lebih itu menurut pemikiran Naya.
Naya berjalan menyusuri area Sarasehan. Dia masih belum juga bisa menemukan teman-temannya. Tiba-tiba ada yang memanggilnya.
“Nay…..Naya…..” Naya melibat Bram melambaikan tangannya. Disitu ada Hendra dan Andra juga beberapa panitia yang lainnya, akhirnya Naya menghampiri mereka.
“Kenapa Bram?”
“Masalah konsumsi udah selesai?”
“Udah.” Ih tumben amat si Bram nanyanya baik-baik.
“Nay lo bisa tolongin kita nggak?”
“Nolong apa Bram?”
“Tolong gantiin Andra buat cari trek untuk jurit malam dong. Soalnya si Andra harus nganter salah seorang peserta yang lagi sakit ke rumah sakit. Trus si Hendra harus pimpin acara mentoring jadi nggak bisa.”
“Jangan Bram! Mendingan Naya yang pimpin acara mentoring trus yang gantiin Andra biar gw aja.”
“Oh jangan! Kan lo yang tau bahan mentoringnya, kalo lo oper ke Naya gw takut malah jadi berantakan soalnya Naya kan nggak nguasain bahannya.”
“Bahan mentoringnya gampang kok. Gw kasih tau kisi-kisinya Naya juga pasti bisa ngerti kok. Lagian yang dibahas juga kan bahan presentasi kelompoknya Naya, jadi pasti Naya bisa.”
“Nggak ah gw nggak mau ambil resiko, nanti kalo malah tambah berantakan kan malah berabe.”
“Gw rasa apa yang Hendra bilang bener deh Bram. Mendingan yang gantiin gw si Hendra aja. Kalo Naya kan kasihan, dia kan cewek. Cari trek nggak gampang lho, apalagi ini udah malem. Bahaya Bram.”
“Udahlah kalian kan tau kalau Naya itu anak gunung, jadi gw rasa kalau cuma cari trek sih bukan masalah buat Naya. Iya kan Nay?!”
“Menurut lo?!” Naya memandang Bram.
“Gw rasa sih nggak masalah buat lo.”
“Ya udah kalau emang menurut lo begitu.” Naya bersiap untuk pergi meninggalkan tempat itu.
“Ali, Randi, Pandu…..kita jalan sekarang kan?” ketiga orang yang dipanggil Naya menganggukan kepala secara bersamaan.
__ADS_1
Pada dasarnya mereka setuju dengan pendapat Hendra, tapi mereka juga tau kalau nggak mungkin Bram mau mengalah. Jadi ya mereka cuma jadi penonton aja dari tadi. Naya dan ke 3 temannya mulai pergi meninggalkan areal perkemahan.