CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 55 - Puncaknya 1


__ADS_3

Saat Naya sadar, sudah ada Mama, Bunda dan Ayah. Kepalanya masih terasa berputar, tetapi rasa sakitnya sudah jauh berkurang.


    “Diya... kamu sudah sadar nak?” Bunda yang sedang duduk di samping tempat tidur yang lebih dahulu menyadarinya.


    “Bram?” Naya masih belum bisa bicara banyak.


    “Dia ke kantor dulu, nanti sorean dia baru kemari.” Mama Heni yang menjawab pertanyaan Naya. Naya membuka matanya.


    “Aku ga mau ketemu Bram.” semua orang di ruangan itu terkaget.


    “Kenapa kamu ga mau ketemu Bram?”


    “Tolong Bun, saat ini aku ga mau ketemu Bram dulu.” Naya kembali menutup matanya dan terlihat bertambah pucat.


    “Udah Bun, nanti kita bicarakan lagi. Diya baru sadar, kondisinya juga belum pulih. Sementara kita ikuti dulu mau dia.”


    “ Benar kata Mas Arif Mba. Biar Diya tenang dulu saja. Nanti biar saya yang bicara dengan Bram.” Mama Heni setuju dengan Ayah.


* * *


Sudah 2 hari Naya menghindari Bram. Ini cukup membuat Bram stress dan uring-uringan. Bagaimana tidak? 5 hari lagi mendekati hari pernikahan mereka, tapi samapai saat ini Naya masih tidak mau berjumpa dengannya, dan dia juga tidak tau ada masalah apa.


Panji memasuki ruangan Bram, lalu memberikan sebuah USB kepada Bram. Bram langsung memasang USB tersebut di laptopnya dan melihat isinya. Setelah beberapa menit dia memperhatikan laptopnya, dia berkata


kepada Panji.


    “Mulai hari ini sampai hari pernikahan, saya tidak akan masuk kantor. Kamu handle semuanya, jika perlu apa-apa hubungi saya di RS.”

__ADS_1


    “Baik Pak.”


Bram langsung berdiri meninggalkan kantor.


Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Semua harus selesai hari ini juga.


Sesampainya di RS, Bram langsung masuk ke ruang rawat Naya. Beberapa Suster yang menegurnya agar, tidak masuk tidak dia hiraukan. Pintu dibuka dengan kasar. Selain Naya, dilihatnya ada Mamanya dan Bunda di dalam ruangan itu.


    “Ngapain kamu?!” Naya menatap Bram dengan kesal.


    “Icak, kamu mau apa?”


    “Icak mau bicara sama Naya Ma. Mama sama Bunda bisa tolong biarkan kami berdua dulu?”


    “JANGAN. Kalau kamu mau ngomong, ngomong aja sekarang! Ga perlu Mama dan Bunda pergi.”


    “Ya sudah Bunda sama Mama kamu keluar dulu ya.”


    “Aku bilang ga usah Bun.”


    “Nay!! kamu kenapa sih keras kepala banget?!” Bram benar-benar sudah kehabisan kata-kata.


Bunda dan Mama Heni hendak beranjak menuju pintu, saat tiba-tiba Naya setengah berteriak.


    “Kita batalkan pernikahan kita!”


Perlu waktu beberapa saat untuk Bram mencerna apa yang Naya ucapkan. Bunda dan Mama Heni langsung membalikan badan dan berdiri mematung.

__ADS_1


    “Apa maksud kamu?” Bram langsung mencengkram bahu Naya.


    “Kamu ga budeg kan?” walau bahunya terasa sakit Naya menahannya.


    “Kamu jangan macem-macem ya! Ini ga lucu!” tanpa sadar cengkraman Bram semakin kencang.


    “Aku bukan pelawak jadi aku ga becanda” wajah Naya mengeras.


    “Kamu jangan ngajak ribut ya!” wajah Bram tidak kalah emosi.


    “Siapa takut!” wajah Naya sudah mulai memucat, wajahnya sudah mulai mengerutkan wajahnya karena menahan rasat sakit.


    “Sudah.. sudah.. semua bisa dibicarakan baik-baik. Icak lepaskan tangan kamu, lihat wajah Naya sudah mulai pucat. Ingat dia ini pasien.”


Mendengar omongan Mamanya, Bram baru teringat bahwa Naya sedang sakit. Dia merasa bersalah, tapi gengsinya menahan dia untuk meminta maaf.


    “Iya kamu juga Diy, jangan pakai emosi. Bicara itu jangan sembarangan. Bunda ga pernah ajarin kamu kayak begini. Semua itu harus di komunikasikan.” Bunda menatap Naya dengan tegas.


    “Sekarang Bunda sama Mama keluar dulu. Bunda mau, saat nanti kami masuk kalian sudah selesaikan masalah kalian.”


Bunda jarang sekali marah, jadi saat Bunda sudah bernada tegas, Naya tahu bahwa dia sudah tidak bisa membantahnya.


Pada dasarnya sifat Bunda tidak kalah keras dengannya, bedanya Bunda lebih berfikir terlebih masak dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Mungkin pengalaman hidup yang membuat Bunda lebih sabar dan lebih matang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2