
4 jam kemudian Naya dan Bram memasuki salah satu Rumah sakit di pusat kota Jogja. Mereka langsung menuju ruang ICU.
“Mas, Ayah.” Naya melihat Pras dan Ayah nya.
Pras dan Ayah melihat ke arah Naya yang berjalan setengah berlari kearah mereka, dibelakangnya dilihat Naya menggandeng tanga Bram.
“Kamu.. ngapain kamu disini?!” Pram mau menghampiri Bram, tapi langsung di cegahh oleh Ayah.
“Pram ini rumah sakit, dan sekarang bukan waktunya untuk membahas masalah ini. Kondisi Bunda lebih penting.”
Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang ICU.
“Keluarga Ibu Sukma”
Ayah, Pram dan Naya bergerak mendekat ke arah dokter. Bram dengan setia berdiri di sebalah Naya.
“Saya suami dan ini anak-anaknya dok.”
“Detak jantung pasien tadi sempat terhenti selama sekitar 2 menit.”
Kaget, sedih, cemas dan khawatir semua campur aduk jadi satu itu yang di rasakan Ayah dan anak itu.
“Lalu sekarang bagaimana Dok?” Pram berusaha menegarkan diri.
“Saat ini detaknya sudah kembali tetapi ini tidak akan bisa bertahan lama. Saya harus menyuntikan 1 jenis obat, tetapi obat ini merupakan obat keras. Jika saya memberikan obat ini tetapi jantung pasien tidak kuat
maka kemungkinan pasien tidak bisa di selamatkan, tetapi jika saya tidak memberikan obat tersebut pasien juga tidak akan bertahan lama. Jadi hal ini saya kembalikan kepada pihak keluarga, jika memang mau memberikan obat tersebut saya membutuhkan tanda tangan di surat persetujuan dari pihak keluarga.”
Mendengar penjelasan Dokter, tiba-tiba kepala Naya terasa berat dan dia langsung merasa lemas tidak bertenaga. Naya tiba-tiba hendak rubuh, untung saja Bram sigap dan menahan badan Naya.
“Sayang.. sayang.” Bram membawa Naya ke tempat duduk dan memeluk Naya.
Ayah dan Pram juga terlihat panik melihat Naya yang ambruk.
“Kasih kamu wakti sebentar untuk berunding Dok.”
“Baik, tapi jangan terlalu lama, karena kita berpacu dengan waktu.”
“Baik Dok.”
Setelah itu Dokter kembali masuk ke ruang ICU.
Ayah dan Pram menghampiri Naya dan Bram. Naya masih memejamkan matanya.
“Bagaimana Diya, Bram?”
“Sepertinya Naya terlalu shock Om, jadi vertigonya mungkin kumat. Nanti Bram coba cari kamar buat Naya bisa istirahat.”
“Hm, tolong ya Bram.”
__ADS_1
“Iya Om.”
“Aku ga mau.” Naya bersuara lemah dan pelan.
“Sayang, kamu udah sadar?”
“Aku ga mau Mas, aku mau di sini aja.”
“Tapi kondisi kamu juga ga bagus Diy.” Pram ikut bersuara.
Biar bagaimanapun Pram tetap menghawatirkan kondisi adiknya.
“Aku ga mau, Ahh” Naya merintih kesakitan. Walaupun sudah bisa bicara, tapi matanya masih terpejam. Terlihat Naya mengernyitkan dahinya karena menahan sakit.
“Om, Pram lebih baik biar Naya di sini saja, percuma kita paksa dia untuk di kamar dia pasti tidak akan mau. Bram takut malah akan memperburuk kondisi dia karena lebih banyak pikiran. Bram akan jaga Naya di
sini.”
“Ya sudah begitu juga tidak apa-apa.” Ayah memberikan persetujuannya.
Pram hanya melirik ke arah Bram dan Naya. Bram masih merangkul Naya dengan hati-hati, dia bahkan tidak berani banyak bergerak karena dia sadar kalau posisinya berubah maka kepala Naya akan bergeser. Walaupun terlihat tenang, tapi ada sedikit rasa khawatir yang terbias di wajah tampannya.
* * *
Saat Naya membuka mata dia sudah di kamar rumah sakit. Melihat ruangan yang tidak dia kenal dan mengingat memory terakhir saat Bunda dalam kondisi kritis, Naya langsung bangkit dari tidurnya. Tetapi karena kondisi dia yang belum normal membuat kepalanya terasa sakit.
“Agh..” Naya langsung memegang kepalanya.
“Kamu udah sadar? Apa yang sakit?” Bram langsung duduk di pinggir tempat tidur.
Pram hanya berdiri melihat Naya dengan khawatir.
“Kepala aku Mas. Sakit banget.” Naya memejamkan matanya.
Bram memeluk Naya dan menaruh kepala Naya di dadanya.
“Posisi ini udah lebih baik?”
“Dikit.”
“Pram boleh tolong panggil suster? Gw ga bisa ubah posisi, kalau ga nanti kepala Naya sakit lagi.”
Pram tidak menjawab hanya berjalan keluar dan tidak lama kemudian dia masuk kembali di temani suster.
Setelah suster melakukan pemerikasaan, dia berusaha memindahkan Naya dari pelukan Bram ke tempat tidur, tetapi di cegah oleh Bram.
“Jangan di pindah sus.”
“Tapi bapak nanti capek kalau posisi seperti ini terus.”
__ADS_1
“Ga apa-apa. Kalau saya capek nanti saya ubah. Sekarang biar seperti ini dulu, kalau dirubah kasian nanti dia kesakitan.”
“Ya sudah kalau begitu, saya tinggal dahulu pak. Pada dasarnya kondisi pasien sudah lebih baik, sakit kepalanya ini karena dia kaget tiba-tiba jadi seharusnya tidak akan lama sakitnya. Dan ini ada resep
tolong di tebus di apotik nanti tolong dikasih ke ruang perawat ya pak.”
“Serahkan ke saya Sus, nanti saya yang urus.” Pram meminta resep yang diberikan suster.
Suster keluar dari ruangan diikuti oleh Pram.
* * *
Sekembalinya Pram dari menebus obat, dia keluar membeli makanan lalu berjalan kembali menuju kamar Naya. Saat mendekati kamar Naya, dia mendengar ada sedikit keramaian di kamar Naya. Pram langsung masuk dengan tergesa. Dilihatnya Naya berusaha turun dari ranjang dan Bram sedang menahannya.
“Aku harus lihat Bunda Mas.”
“Ga bisa” Bram terlihat tegas.
“Aku kan udah bilang kalau kondisi Bunda sudah stabil dan sudah tidak dalam bahaya.”
“Aku ga percaya kalau ga lihat sendiri, bisa aja kamu bohong.”
“Aku ga bohong, nanti kalau kondisi kamu udah baik aku pasti antar kamu untuk lihat Bunda. Tapi ga sekarang.” jawab Bram tidak mau dibantah.
“Aku mau lihat sekarang...” Naya tetap bersikeras dan mulai berdiri.
“Kalau kamu nekat keluar aku akan suruh suster untuk kunciin kamar kamu!.”
Tiba-tiba Naya memegang lengan Bram dan terdiam memaku.
“Kenapa? Sakit lagi?” Bram melembut lalu membantu Naya duduk kembali di kasur.
“Iya dikit”
“Kan kamu tuh dibilingin ngeyel sih.”
“Sekarang udah ga lagi kok, tadi cuma sekilas aja sakitnya.”
“Jangan ngeyel!” Bram menggenggan tangan Naya.
“Denger, aku tau kamu khawatir sama Bunda. Bukan hanya kamu, aku juga khawatir. Tapi kamu juga harus perhatiin kesehatan kamu. Aku yakin Bunda juga ga akan suka kalau tau kamu ga perduli sama diri kamu
sendiri. Aku pasti akan selalu pantau kondisi Bunda dan update ke kamu. Ga mungkin aku bohongin kamu, aku juga sayang sama Bunda.”
“Benar ya kamu akan selalu update ke aku?”
“Pasti.. aku pasti update kamu. Sekarang kamu istirahat ya.” Bram membenarkan posisi bantal dan membantu Naya merebahkan tubuhnya.
Pram hanya berdiri di depan pintu menyaksikan interaksi kedua orang itu, kemudian pergi meninggalkan kamar Naya menuju ke kamar Bunda.
__ADS_1