
Weekend selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu untuk para pencari uang, begitu juga dengan Naya. Rencananya siang ini dia akan di jemput Bram lalu pergi ke rumah orang tua Bram.
Naya selalu bangun siang setiap weekend, tapi hari ini tidur dia terganggu saat bell rumahnya berbunyi. Sebenarnya waktu juga sudah tidak terlalu pagi, karena jam sudah menunjukan pukul 8.00 tapi karena Naya si
pecinta tidur maka kalau weekend jam 8 itu masih terlalu pagi untuk dia.
Naya berjalan ke arah pintu masih dengan muka bantal dan setelan tidurnya. Saat membuka pintu dia menemukan seorang pria dengan paras tampan, tinggi semampai dan wajah agak kurang bersahabat.
“Mas Pram?!” Naya langsung melek dan kesadarannya langsung full 100%
“Hm”
Pram langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengindahkan Naya yang masih terpaku di pintu.
“Lama banget sih, pasti masih molor.”
“Weekend mas.” Naya menutup pintu dan berjalan ke arah Pram.
“Ga pernah berubah. Anak perawan suka banget bangun siang. Gimana mau dapat pacar? Keburu di patok ayam rejekinya ntar.”
Pram duduk di sofa ruang keluarga, sambil meluruskan kakinya.
“Rejeki ama jodoh udah ada yang ngatur, ga bakal ketuker juga.”
Naya cuek berjalan ke dapur, membuatkan secangkir teh untuk kakaknya itu.
“Naik apa Mas? Kok pagi-pagi udah sampe sini aja?” Naya menaruh teh di meja depan Pram.
“Ga liat tuh mobil di depan?”
“Ye, mana aku ngeh. Orang mata aja belum melek tadi.” Naya cemberut.
“Kok tumben sih bawa mobil sendiri? Emang ga capek?”
“Capek, tapi di sini ga ada mobil ntar ribet mau kemana-kemana.”
“Emang lama di sininya?”
“Tergantung bisnis lancar apa ga.”
“Ow lagi ada bisnis?!”
“Iya lagi ada tender sama perusahaan di sini.”
“Syukur deh.” Naya keceplosan.
“Kok syukur?”
“Hah?! oh.” Naya sempat bingung menjawab
“Oh ya syukur kalau ada tender ken berarti ada rejeki.”
__ADS_1
“Hm, kirain ada apa.”
Untuk aja Mas Pram ga sadar. Gw kira tadi dia dateng karena udah denger kabar tentang hubungan gw ama Bram, bisa bencana kalau dia tau.
“Ya udah Mas ke kamar dulu ya, capek mau istirahat dulu.”
“Iya Mas, nanti kalau udah siang aku bangunin buat makan ya.”
“Hm.” Pram pergi masuk kamarnya.
Sepeninggal Pram, Naya langsung memegang handphone nya dan men chat Bram.
"Mas, acara hari ini cancel. Jangan datang ke rumah dan ketemu dulu untuk sementara waktu. Situasi siaga 1”
Melihat chat dari Naya, Bram langsung menelphone Naya tetapi di reject. Bram mulai khawatir, dan tidak lama masuk lagi chat dari Naya.
“Sorry lagi ga bisa angkat telphone. Siaga 1 “
“Kamu kenapa sih dari tadi siaga 1 terus? Emang ada apa?”
“Nanti kalau udah ada waktu aku ceritain.”
“Aku khawatir nih, tapi kamu ga apa-apa kan?”
“Aku aman, tapi sementara jangan kontak aku dulu ya. Besok di kantor aku ceritain.”
Bagaimana ga khawatir? Dia bilang aman tapi ga bisa di kontak. Bagaimana ceritanya coba. Bram terbingung-bingung sendiri.
Semalaman Naya susah tidur dan dia juga terbangun sangat pagi, jadi hari ini wajahnya terlihat sangat kurang segar dan ada lingkaran hitam di kedua matanya.
Naya masuk ke dalam kantor dengan wajah lesu, bahkan dia tidak menghiraukan sapaan dari anak buahnya. Dia sibuk dengan pikirannya sampai tidak sadar dengan sekitar.
Naya membuka pintu ruangannya dak terkaget ketika melihat ada orang di dalam.
“Astaga!”
“Hei, kok kaget sih?” Bram tersenyum manis duduk di kursi depan meja kerja Naya.
“Kok pagi-pagi udah di sini Mas?” Naya menaruh tas dan duduk di meja kerjanya.
“Kepo.” Bram melihat Naya dengan seksama.
“Kok muka kamu kelihatan capek sih? Kamu ga lagi sakit kan?”
“Nggak kok cuma kurang tidur aja.”
Bram mengerutkan keningnya.
“Kok bisa? kenapa? Insomnia?”
“Mikir “ Naya menyandarkan badannya ke kursi sambil memejamkan mata sejenak.
__ADS_1
Bram memandangnya dengan tidak suka. Apa yang dia pikirkan, kenapa terlihat berat. Beban apa yang dia tanggung.
Bram mecodongkan badannya dan melipat tangan diatas meja, lalu memandang Naya dengan serius.
“Ada apa?!” mendengar pertanyaan Bram, Naya membuka matanya yang terpejam.
“Kamu pagi-pagi kenapa sudah datang?”
“Aku bertanya kenapa kamu malah balik bertanya?” Bram tau kalau Naya berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Ya ampun tinggal jawab aja, kok dibikin ribet.” Naya terlihat kesal.
“Aku datang pagi karena kamu bilang mau cerita hari ini. Nanti siang aku ga bisa makan bareng karena ada meeting diluar.”
“Hm”
“Aku udah jawab pertayaan kamu, sekarang giliran kamu yg jawab pertanyaan aku. Dan jangan coba-coba tanya pertanyaan yang mana? Aku tau kamu cuma berusaha mengalihkan pertanyaan”
Dih kok dia bisa baca pikiran gw ya? Jangan-jangan dia cenayang.
Naya menarik nafas panjang.
“Kemarin pagi Mas Pram dateng.”
Bram terdiam mendengarnya. Dia mengerti kegelisahan Naya. Pram memang halangan terbesar hubungan mereka, tapi Bram tidak menyalahkan Pram untuk hal itu. Karena dia sadar kesalahan memang ada di tangannya. Jika Bunga mengalami hal yang sama dengan Naya dia juga pasti akan berbuat hal sama seperti yang Pram lakukan.
“Apa perlu aku bertemu dengannya dan menjelaskan segalanya?”
“JANGAN” Naya spontan berteriak.
“Dia tidak bisa di konfrontasi. Kalau kita langsung menghadap dia dan bilang kalau kita pacaran pasti akan ada keributan besar.”
“Lalu kamu sekarang mau bagaimana? Aku akan ikutin mau kamu, supaya kamu lebih tenang.”
“Aku juga belum tau Mas, semua ini mendadak. Aku belum sempat berfikir apa-apa.”
Naya tertunduk lesu.
Bram berdiri dan menghampiri Naya. Dia bediri di sebelah bangku tempat Naya duduk, lalu memeluk penggang Naya dan merebahkan kepalanya disana.
“Sementara ini kamu jangan ke rumah dulu aja ya, dan tolong bilang Mama kamu kalau sementara waktu aku belum bisa ke rumah kamu.”
“Ya udah kalau mau kamu seperti itu. Nanti aku bilang juga ke Mama dan Papa.”
Bram mengelus lembut rambut Naya.
Sebenarnya akan lebih baik kalau kita langsung temui Mas Pram, Nay. Tapi aku tidak mau membuatmu stress, jadi sementara kita ikutin aja apa mau kamu.
__ADS_1