
Sebelum berangkatkan kantor Bram menjemput Naya di rumahnya, dan hal ini sudah menjadi rutinitas Bram setiap hari sekarang . Awalnya Naya menolak hal ini, karena dia tidak mau menjadi pusat perhatian. Dia
tau kalau siapa saja orang yang berada di sekitar Bram pasti menjadi pusat perhatian.
Bukan hanya antar jemput kantor, tetapi saat jam makan siang juga Bram mau mereka selalu bersama. Hal ini otomatis menimbulkan banyak rasa penasaran orang sekitar, dan yang pasti ada muncul gosip yang beraneka ragam.
Tapi itu semua tidak mengusik Bram, yang dia mau hanyalah dia ingin menyunjukan kepada semua orang bahwa saat ini Naya sepenuhnya milik dia. Bram sadar bahwa selama ini dia sebenarnya punya banyak saingan, yang mungkin Naya sendiri tidak sadar bahwa selama ini ada banyak pria yang menyukai dia.
Demi Naya, bahkan ada beberapa kebiasaan Bram yang dia ubah. Contoh kecilnya jam makan siang, biasanya jam 12 tepat Panji suda menyiapkan makan siang untuknya. Tapi sekarang Bram selalu mengikuti jam makan siang Naya. Naya selalu makan siang diatas jam 2 karena pada saat jam makan siang kantor Naya pasti selalu banyak pengunjung.
“Sayang ayo makan.” Bram tiba-tiba sudah masuk ke ruangan Naya.
“Sebentar ya aku lagi urus anak buahmu yang mau berangkat lusa ke London.”
“Kok baru dikerjain sekarang?” Bram manyun.
“Permintaannya baru masuk.” Naya membalas dengan senyum.
Bram langsung mengeluarkan ponselnya.
“Panji, bilang ke semua divisi mulai sekarang kalau ada permintaan tiket untuk perjalanan dinas dilarang di pesan saat jam makan siang saya.”
“Hah?” di ujung sana Panji mendadak melongo mendengar perintah Bos nya.
“Ngerti ga kamu?”
“Baik Pak.” dan telphone di tutup Bram.
Mendengar percakapan kilat Bram dengan asistennya itu Naya ikut melongo.
“Kamu ngapain?”
“Aku ga suka jam makan siang aku ke ganggu.”
“Astaga Mas, ga perlu segitunya juga kali.”
“Bodo, intinya aku ga suka. Udah cepetan di selesaikan kerjaannya.”
“Iya ini tinggal di reply emailnya aja kok.”
Naya kembali fokus pada laptopnya.
“Andra tadi telphone, Gita sudah lahiran.”
“Ohya? Seneng deh... cewek apa cowok?”
“Cowok. Weekend ini kita ke rumah mereka ya sekalian aku juga udah janjian sama Hendra dan Nuras.”
“Setuju.” Naya tersenyum yang lebar sehingga gigi putihnya nampak.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Naya dan Bram keluar untuk makan siang. Dan Bram tidak pernah lepas untuk menggandeng tangan Naya.
* * *
Rumah Gita dan Andra lumayan memakan waktu, mereka tinggal di cluster daerah Sentul, hampir ke arah Bogor. Area perumahannya masih hijau dan sejuk, jadi terasa nyaman. Ukuran rumahnya tidak terlalu besar, tapi halamannya lumayan luas dan bagian belakang rumah ada taman kecil dan kolam renang. Suasana yang nyaman untuk kumpul-kumpul.
Bram turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Naya. Dia lalu menggandeng tangan Naya dan masuk ke rumah Andra. Di dalam rumah sudah ada Andra, Gita, Hendra dan Nuras.
“Eh pengantin baru udah sampe duluan.” sapa Bram.
Mendengar sapaan Bram pembicaraan terhenti dan mereka serentak menoleh ke arah Bram dan Naya.
Pandangan mereka teralih pada tangan Bram dan Naya yang saling bertautan.
“Ah tangan.. iya tangan...” Nuras langsung berteriak dan membuat yang lainnya sadar.
“Iya bener kita kan kemarin minta klarifikasi.” sambung Gita
“Bener ayo sekarang cerita, kalian ga boleh menghindar lagi.” Nuras dan Gita langsung menarik Naya hingga tangannya terlepas dari Bram.
“Tunggu....”
Naya berusaha melepas kedua tangan sahabatnya itu.
“Kita datang ke sini kan mau lihat baby, bukan untuk dengerin cerita kita. Iyakan Mas?” Bram menjawab Naya dengan anggukan.
Dia tau Naya meminta bantuannya dari kedua sahabatnya itu. Siapa yang ga tau kalau Gita dan Nuras mau sesuatu tau tentang sesuatu itu adalah mutlak, dan mereka akan mencecar mangsanya sampai mereka dapat
informasi yang dimau.
“Ntar lo kabur lagi, trus menghindar dengan seribu alasan. Lo kan paling jago kalo urusan kabur dan menghindar.”
“Setuju banget gw Ras kalo soalnya itu emang dia paling jago. Jago banget deh.”
“Mas kok kamu malah bantuin Nuras sih?”
“Lho aku hanya bicara fakta, bukan soal membatu siapa.”
“Kamu nyebelin”
“Lo pernah ngerasain juga Bram? Ditinggal kabur sama dia?” Nuras semakin penasaran. Semua mata tertuju ke Bram menanti jawaban.
__ADS_1
“Belakangan ini sering.” Jawab Bram acuh
“Wah.... seorang Bram di tinggalin” Andra yang sejak tadi diam mulai menggoda.
“Udah ah, sekarang kita liat baby nya, trus makan siang gw udah laper. Abis itu baru deh kita jawab semua pertanyaan kalian.” Naya terlihat kesal karena dia merasa terpojok.
Akhirnya mereka bercengkrama dengan baby Gatra, anak Gita dan Andra. Naya sangat suka dengan anak kecil, dari tadi bayi itu berada di gendongan Naya, dan sepertinya Gatra juga merasa sangat nyaman, dia tidak rewel ataupun terbangun padahal suara obrolan dan tawa mereka cukup ramai.
* * *
Naya menaruh Gatra di baby box nya, kemudian ikut berkumpul dengan yang lainnya di teras belakang rumah dekat kolam renang. Di sekitar kolam renang ditumbuhi pepohonan yang lumayan rindang, sehingga tidak terasa panas.
Saat Naya baru sampai Nuras dan Gita langsung menariknya duduk diantara mereka. Mereka duduk menggelar matras dibawah.
“Sekarang cerita, ga pake ngulur-ungulur waktu lagi.” Nuras sudah tidak sabar.
“Gw ga gulur waktu.”
“Udah cepetan ga pake basa-basi.” Gita ikut tidak sabar
“Tunggu bingung mulainya darui mana.”
Bram hanya tersenyum melihat Naya di serang dua sahabatnya itu.
“Seneng banget lo kayaknya.” ledek Hendra lirih.
“Lo liat aja, muka cewek gw udah panik”
“Beuh..cewek gw lho sekarang. Coba dulu boro-boro nyebut nama aja haram kayaknya.” Andra ikut meledek.
Sementara para lelaki itu sibuk saling meledek, di sisi para wanita sibuk mengintimidasi Naya.
Sial dia sibuk ketawa ketiwi gw sendirian di serang.
“Kenapa lo ga tanya aja ke Bram nya.” Naya berusaha melempar batu sembunyi tangan.
“Siapa yang mulai duluan?”
“Dia lha, masa gw. Lo tau sendiri gw takutnya setengah ****** ama dia, kayak macan begitu. Dia kalo liat gw kan bawaannya mo nerkam.”
“Bener juga ya.”
“Kok lo bisa tiba-tiba suka ke Naya, kan lo dulu setengah ****** bencinya ma dia. Gw inget banget gw dulu suka mau ribut mo lo kalo udah ngomongin soal Naya.”
“Iya makanya gw juga sebel banget sama lo, kalo ga inget lo ceweknya Hendra udah gw amuk kali.”
“Wah ngajak ribut nih orang.”
“Ma kasih sayang “ Nuras memeluk Naya.
“Kok kamu gitu sih sayang.” Bram melotot.
“Kok lo ikut manggil dia sayang?”
“Lha dia cewek gw.”
“Beuh..cewek gw lho sekarang. Coba dulu boro-boro nyebut nama aja kita ga boleh.” Gita bersuara.
“Kalian laki bini bisa kompak ya ngomongnya.”
Gita terbingung, sedangkan Andra nyengir seperti kuda.
“Tadi si Andra ngomong begitu juga ke gw.”
“Itu namanya kita se hati.”
“Udah ah kapan ceritanya ini.”
“Ya udah lo mau tanya apa sekarang?” Bram mulai serius.
“Siapa yang mulai?”
“Gw yang mulai.”
“Kok bisa?”
“Kenapa ga bisa?”
“Ya kan kita semua tau sebenci itu dulu lo ke Naya, bahkan sorry to say dulu lo anggap Naya pembunuh adik lo.”
“Yes, I know I was wrong.” Naya melihat Bram dengan tatapan bersalah.
“And I'm sorry for that babe.” Bram mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Naya.
“Kalian tahu seberapa besar rasa bersalah gw ke Naya. Setelah gw tau semua kebenarannya gw mencari Naya. Betapa paniknya gw saat tau gw ga bisa nemuin Naya dimana-mana. Kalian bisa tanya Hendra seberapa kacaunya gw saat itu, karena Hendra yang bantu gw cari Naya kemana-mana.”
“Itu benar. Parah deh Bram dulu. Dah kayak orang stress, panikan, emosian, pokoknya ga terkendali deh. Ampe gw sendiri hampir nyerah buat nemenin dia.”
“Kok gw ikutan ya? Gw jadi ngerasa jadi temen yang jahat.” Andra merasa tidak terima.
“Gw sengaja ga minta tolong lo An, soalnya waktu itu nyokap lo masuk rumah sakit kan. Gw ga mau nambahain beban lo. Jadi gw cuma minta tolong Hendra. Sorry bro bukannya gw pilih kasih sama temen.”
__ADS_1
“Its OK Bram, gw ngerti kok sekarang.” Andra menepuk bahu Bram.
“Gw sempet putus asa waktu gw minta tolong bokap buat nyari Naya, tapi bokap bilang dia ga mau bantu gw.”
“Hah kok bisa bokap lo ga mau bantu?”
“Karena bokap ga mau gw nyakitin Naya lagi. Dia takut gw masih dendam ke Naya.”
“Ternyata bokap lo lebih sayang Naya dari pada lo hehehehe” Gita meledek puas.
“Bukan cuma bokap gw, semua keluarga gw lebih sayang Naya daripada gw.”
“Nasib lo jelek banget sih Bram hahahaa”
“Tapi dari situ gw semakin sadar, kenapa orang-orang sekitar bahkan keluarga gw sebegitu sayangnya ke Naya. Kalau memang dia yang menyebabkan kematian Bimo seharusnya mereka pasti benci juga ke Naya
seperti gw.”
Bram menghela nafas sejenak.
“Dan gw semakin yakin kalau gw salah saat bokap kasih gw surat dari Bimo.”
“Surat?!” Naya terhentak kaget.
“Iya surat yang dia tulis sebelum dia meninggal.”
“Dia tinggalin surat untuk kamu?” Naya mata mulai berkaca.
“Iya sayang. Dia cerita hal yang sebenarnya di surat itu. Dia bicara betapa baiknya kamu, betapa berartinya kamu untuk hidup dia.” Bram tersenyum sedih ke arah Naya.
“Gw terus usaha, gw ga mau nyerah. Gw sewa orang untuk cari tahu dimana Naya, dan bagaimana kabarnya. Sampai akhirnya 3 tahun lalu gw dapat kabar kalau dia balik ke Jakarta. Gw tunggu waktu yang tepat, gw tau kalau gw sudah meninggalkan luka yang dalam buat dia jadi gw ga harus kasih dia ruang. Gw tunggu sampai dia merasa settle dan aman di Jakarta baru gw mulai menyusun rencana. Akhirnya kesempatan itu datang awal tahun ini. Perusahaan Naya menawarkan ingin agar perusahaan gw jadi klien mereka. Dan Tuhan memang membuka jalan buat gw, PIC yang menghandle untuk tender ini adalah Naya. Dengan adanya kesempatan ini gw bersumpah bawah gw ga akan pernah lagi melepas Naya. Makanya berbagai cara gw lakukan untuk membuat Naya tetap disamping gw.”
“Serius lo seniat itu Bram?” Nuras terkagum-kagum.
“Iya dan apa yang udah gw genggam ga bakal gw lepasin.”
“Trus kalian jadian siapa yang nembak duluan?”
“Naya”
“Serius?” Gita, Nuras, Andra dan Hendra serempak bertanya.
“Eh ga kayak yang kalian pikir ya. Gw bukan nembak tapi gw minta tolong.”
“Maksudnya?”
“Lo inget kan Ras waktu si Ganis berantem ma Radit kemarin.” Nuras menganggukan kepalanya.
“Dia itu cemburu. Dia pikir Radit naksir ma gw.”
“Ibu hamil emang suka konyol.”
“Nah gara-gara itu gw minta tolong Bram buat pura-pura jadi pacar gw. Catet ya PURA-PURA. Tapi dia maunya serius kalau ga dia ngancem gw bakal cerita ke Ganis. Ya udah akhirnya beneran deh.”
“Wah Bram, lo maennya paksaan.”
“Kan gw udah bilang tadi, apa yang udah ada di genggaman gw ga bakal gw lepas. Gw bakal pakai segala cara untuk pertahanin itu. Dan akhirnya usaha gw ga sia-siakan, dia berhasil jadi cewek gw walau awalnya
kepaksa sekarang kan udah ikhlas. Iya kan sayang.” Bram mengedipkan sebelah matanya ke Naya. Dan Naya memasang wajah aneh saat melihat itu. Melihat hal itu semua tertawa serentak, termasuk Bram.
“Tapi Bram, apa lo yakin kalau itu cinta? Bisa aja kan sebenarnya lo cuma merasa bersalah ke Naya.”
Mendengar pertanyaan Nuras itu Naya mengangguk-anggukan kepalanya. Selama ini dia juga berfikiran seperti itu, tapi dia takutnya menanyakannya ke Bram.
“Gw yakin itu bukan rasa bersalah, karena sebenarnya dari pertama kali ketemu Naya gw udah suka sama dia. Dia selalu ceria dan bisa membuat semua orang di sekitarnya merasa nyaman.”
“Wah kejutan baru lagi nih.”
“Setiap gw bersikap jahat ke Naya sebenarnya gw perang batin. Disatu sisi gw ngerasa dia orang yang salah tapi di sisi lain gw ga tega lihat dia sedih.”
“Dan Lo Nay? Mulai kapan lo suka sama Bram?”
“Gw? “
Naya terdiam. Bram sangat menunggu jawaban Naya, karena selama ini dia merasa bahwa Naya masih ragu dengan perasaannya.
“Waktu dia mulai jahat ke gw.”
“Apa?!” semua serentak lagi, termasuk Bram.
“Gw ngeliat dia walaupun mulutnya jahat tapi gw ngerasa kasian sama dia, dia kelihatan kesepian. Dia memang populer dan temannya memang banyak, tapi ga tau kenapa dia selalu menyendiri ditengah keramaian. Tapi karena gw sadar dia ga suka sama gw ya gw pergi jauh lha dari hidup dia.”
“Ini nih yang namanya pasangan menyiapnyiakan waktu.” Andra gemes.
“Iya, kita udah nikah mereka baru mulai pacaran.”
“Biar baru mulai juga sebentar lagi kita nyusul kalian. Iya kan sayang.”
“Yakin?!” masih ada keluarga aku yang harus kamu hadapin, lanjut Naya dalam hati.
“Mantaf... lanjut bro kita dukung usaha lo.”
__ADS_1
Mereka melanjutkan obrolan santai sampai sore hari.