
Naya sedang berkeliling mall menemani Nuras. Temannya yang satu ini memang paling hobi nge mall. Dia bisa seharian keliling mall cuma untuk cuci mata tanpa harus menghasilkan apa-apa. Setelah puas memasuki toko pertoko mereka makan siang di salah satu resto di mall.
“Lo tumben bisa nganterin gw ngemall. Biasanya kemana-mana sekarang diikutin Bram.”
“Iya mumpung dia lagi ada acara jadinya gw bebas.”
“Gw ga nyangka kalau dia sekaran bisa seposesif itu ke lo. Kalau inget dulu mah deket ga ribut aja udah bagus, boro-boro bisa lama-lama deketnya.”
“Gw juga heran hahahaha” sambil menyerusup minumannya.
“Ini kan weekend, biasanya ke acara apa aja kan lo musti ikut dia.”
“Dia baru dapet temen baru. Kayaknya klop banget sama dia, makanya dia ga mau gw ikut. Biar ga ganggu kali. Man to man katanya, gaya kan dia?”
“Paling bentar lagi juga dia nyariin lo, percaya dah sama gw.”
Baru saja Nuras selesai berkata seperti itu, handphone Naya berbunyi. Nama Bram muncul di layar handphonenya.
“Hallo.” jawab Naya
“Sayang kamu dimana? Masih sama Nuras?”
"Iya masih sama Nuras. Aku di xx Mall.”
“Ohya?! Kebetulan aku juga di situ. Ya udah kamu ke XX cafe ya.”
“Emang urusan man to man kamu udah selesai? Temen kamu udah balik?”
“Urusannya udah selesai, temen aku masih di sini nih. Sekalian nanti aku kenalin ke kamu.”
“Ya udah aku ke situ, tunggu ya.”
“Ok sayang, jangan pakai lama ya dan hati-hati”
“Udah jangan lebay deh, orang cuma turun lantai aja dah kayak mau perjalanan jauh.”
“Ya udah.” Bram tertawa lalu mengakhiri panggilannya.
Di tempat lain Bram masih asyik ngobrol dengan Nugie.
“Siapa? Calon lo?”
“Yup, dia lagi ada di sini. Nanti gw kenalin deh.”
__ADS_1
“Oh ya? Bagus dong jadi gw bisa liat orang yang sudah membuat lo jadi bucin hahahaha”
Mereka masih asyik melanjutkan pembicaraan sambil menunggu Naya dan Nuras.
* * *
Setelah menghabiskan makanannya Naya dan Nuras berjalan menuju cafe yang disebut Bram. Mereka berjalan dengan santai.
“Ras, kok gw males ya nyusul Bram.”
“Kenapa? Kok tumben?”
“Ga tau, perasaan gw ga enak aja.”
“Ah lo cuma jelous aja kali sama temen baru Bram karena belakangan ini kan waktu Bram ke sita buat lo.”
“Iya kali ya.”
sambil jalan sambil ngobrol, akhirnya mereka sampai di cafee yang dituju. Nuras melihat Bram duluan. Bram duduk menghadap pintu keluar, jadi Nuras langsung bisa melihat dia. Sedangkan teman Bram duduk di depan Bram, jadi membelakangin pintu masuk cafe.
“Brammmm” Nuras memanggil Bram dan masuk ke dalam cafe diikuti Naya di belakangnya.
Bram melambaikan tangan ke arah mereka.
“Diya?!”
“Mas Pram?!”
Disaat bersamaan Naya dan Nugie terkaget.
“Tunggu.. Bram?! Kamu bukannya Icak?!” Nugie alias Pram langsung menoleh ke arah Bram.
Bram mulai merasa ada yang salah. Pram perasaan pernah dengar nama itu, pikir Bram. Astaga kakaknya Naya. Damn pasti jadi masalah ini.
“Teman-teman gw kalau panggil emang Bram, tapi kalai di kantor semua panggil Icak.”
“Apa ini Bram yang sama?!” Pram menatap tajam ke arah Naya.
“Hm.. “ Naya sangat terlihat gugup dan takut, dia melirik ke arah Nuras dan Bram bergantian. “Hmm itu mas..”
“JAWAB.” Pram membentak Naya.
“Kamu tau kan Mas paling ga suka sama pembohong.”
__ADS_1
“Nugie kita duduk dulu ya? Semua kita omongin baik-baik.” Bram berusaha menetralisir kemarahan Pram. Tapi bukannya semakin mereda malah semakin bertambah parah.
“Dengar ya, gw ga ngomong sama lo.” wajah Pram sudah berubah jadi tidak bersahabat.
“Iya mas, kita duduk dulu yuk. Omongin ini baik-baik.” Nuras juga berusaha mencairkan suasana.
Pram tidak menjawab Nuras hanya menatap Nuras dengan pandangan tajam. Nuras tidak berani lagi bersuara.
“Jawab Diya! Mas bicara sama kamu.”
“I... Iya mas.” Naya tertunduk dan tergagap.
“Kita pulang sekarang juga ke Jogya.” Pram menarik pergelangan tangan Naya dan membawanya keluar.
Belum beranjak jauh langkah Pram dan Naya terhenti karena tangan Naya tertahan oleh Bram.
“Pram ayolah kita bicara dulu, jangan kayak begini. Kasihan Naya.”
“LEPAS. Ini urusan keluarga gw, lo ga perlu ikut campur.”
Pram melepas kasar tangan Bram yang menahan tangan Naya.
“Kita pulang ke Jogja sekarang juga.”
“Aku ga mau Mas.” Naya sudah mulai menangis.
“Pram ayo kita bicara.”
Pram tidak mendengarkan Bram. Dia memaksa Naya pergi.
“Aku ga mau pulang Mas..” Naya berusaha menahan dirinya agar tidak ikut Pram.
Pram tetapmenggeret Naya dengan paksa.
“Mas... aku ga mauuuu “ Tangis Naya semakin menjadi.
Tapi ada daya tenaga Naya pastilah kalah oleh tenaga Pram. Pram melangkah dengan kasar keluar cafe sambil menggeret Naya di belakangnya.
Hati Bram terasa sakit melihat Naya diperlakukan seperti itu walau oleh kakanya sendiri. Dan yang membuat Bram bertambah kesal adalah dia tidak bisa berbuat banya untuk menjaga Naya. Bram tidak bisa memaksa pram untuk melepaskan Naya, walaupun sebenarnya dia bisa melakukan itu. Dia takut kalau dia melakukan itu Pram akan semakin marah dan kondisi itu akan membuat Naya semakin sulit.
Hari ini menjadi hari yang berat untuk Bram dan Naya. Nuras yang menyaksikan itu juga merasa tidak berdaya. Dia kesal kepada Pram tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Pram karena mereka tidak bisa mengubah masa lalu.
__ADS_1