
Sinar Kentjana Mas group merupakan salah satu perusahaan terbesar di Asia, mereka bergerak di berbagai sektor seperti kelapa sawit, properti, perbankan, telekomunikasi dan lain-lain.
Naya dan Uchi sudah berdiri di gedung Sinar Kentjana. Mereka memiliki 3 tower gedung, tower tertinggi ada di tower 2 yaitu 36 lantai. Seluruh tower 2 digunakan sebagai kantor untuk karyawan Sinar Kentjana Mas group, sedangkan untuk tower 1 dan 3 sebagian disewakan ke tenant lain dan sebagian digunakan juga untuk kantor karyawan Sinar Kentjana Mas group. Gedung itu terletak di salah satu Jalan protokol.
Naya mengenakan setelan blazer berwarna coklat dengan dalaman kaos berwarna hijau tosca,bawahan menggunakan celana panjang bahan. Bagian tangan blazer digulung sampai 3/4 tangan, sepatu pantovel dengan heels setinggi 5cm. Rambut diikat kuncir menggunakan rambut itu sendiri dan poni dibiarkan jatuh menutupi keningnya. Sedangan kan Uchi menggunakan setelan blazer juga tetapi bedanya bawahannya menggunkana rok sepan selutut, dan lengan blazernya tidak di gulung. Rambut Uchi yang berbentuk bob sebahu dibiarkan tergerai. Mereka berdua berjalan memasuki gedung dan menghampiri resepsionis.
“Selamat pagi mbak “ Sapa Naya
“Selamat pagi bu, ada yang bisa saya bantu?”
“Kami mau bertemu dengan Ibu Dina, Manager General Affair mbak”
“Sudah buat janji bu?”
“Sudah mbak.”
“Baik bu, mohon isi data di buku ini dan mohon tinggalkan tanda pengenal seperti KTP atau SIM bu. Nanti kami tukar dengan access card agar ibu bisa masuk ke dalam.”
Naya dan Uchi memberikan KTP kepada petugas resepsionis tersebut.
“Ini access card nya bu, nanti jika sudah selesai access card tersebut bisa ditukar kembali dengan KTP ibu di sini. Dan untuk Ibu Dina ada di lantai 32, ibu bisa naik salah satu dari 3 lift yang disebelah kanan lift no 1,2 dan 3.” Mbak resepsionis itu menjelasnya dan diakhiri dengan senyum.
“Baik Mbak, terima kasih.”
Naya dan Uchi masuk ke dalam loby dan berjalan menuju tempat janjian.
* * *
Lantai 32, Naya dan Uchi keluar lift menengok ke kanan dan ke kiri. Di sebelah kanan ada sebuat pintu masuk dan langsung terdapat meja receiptionis. Seorang security berdiri di meja tersebut.
“Selamat pagi pak.” kali ini Uchi yang bertanya.
“Selamat pagi bu.”
“Pak kami mau bertemu dengan ibu Dina bagian GA.”
“Apa sudah ada janji bu?”
“Sudah pak.”
"Maaf dengan ibu siapa dan dari mana?"
"Dengan Uchi dan Naya dari Worldwide tour."
“Baik saya tanyakan dahulu ya bu.”
Security tersebut menghubungi Ibu Dina dengan intercom dan hanya menjawab “ Baik Bu.” lalu menoleh kembali ke arah Uchi dan Naya.
“Mari bu saya antar ke ruangan meetingnya, nanti Ibu Dina langsung menyusul ke sana.”
Naya dan Uchi berjalan masuk mengikuti security tersebut.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang kira2 muat untuk 15-20 orang. Ditengah ruangan terdapat 1 meja oval dengan bangku mengelilingi meja tersebut.
Di atas meja meja terdapat sebuah alat proyektor. Di bagian depan terdapat white boar dan dibagian atas ada layar proyektor yang di gulung.
Selang 5 menit kemudian seorang wanita sekitar 40 tahunan memasuk ruangan. Wajahnya ramah dan bersahabat.
“Selamat pagi, maaf menunggu. Saya Dina” wanita itu menyalami Naya dan Uchi satu persatu.
“Saya Naya bu.”
“Saya Uchi bu.”
“Silakan duduk bu Naya dan bu Uchi.”
“Terima kasih bu.”
“Kita tunggu Pak Wicaksono sebentar ya bu, Beliau owner kami, tadi saya diinfo mau melihat presentasinya secara langsung.”
Naya dan Icha saling menatap. Uchi memegang Hp nya dan mengirimkan chat ke Naya.
“Kok presentasi begini aja sampe ownernya turun tangan?”
__ADS_1
“Gw juga heran” balas Naya
“Emang kemarin waktu janjian nggak di bilangin?”
“Kagak ada omongan sama sekali. Aduh kok perasaan gw ga enak ya.”
“Udah tenang, lo cuma gugup aja kali. CAYO.”
“Tidak apa-apa kan kita menunggu sebentar?” bu Dina mengulang perkataannya.
“Oh tidak apa-apa Bu. Sambil menunggu saya ijin pasang laptop saya ke proyektor ya bu?”
“Silahkan bu Naya.”
“Terima kasih bu.” Naya menghampiri proyektor dan mulai menyambungkan kabelnya ke laptop, dan mencoba setingannya.
Disaat bersamaan pintu ruang meeting terbuka, seorang pria memasuki ruangan. Wajah yang tampan, kulit yang putih bersih, wajah yang datar, gagah dan dia masih cukup muda.
Dia didampingi seorang pria yang juga tidak kalah tampannya tapi kulitnya lebih cokelat.
Naya yang tadinya sedang berkutat dengan laptop dan proyektor menolehkan kepala ke arah orang yang baru datang.
Naya terpaku melihat orang yang baru datang, wajahnya langsung memucat dan badannya menjadi kaku.
Kenapa dia ada di sini, bagaimana ini aku harus pergi kemana. Pikiran Naya terus berkata dia harus pergi dari tempat itu.
Pria itu berjalan kearah Naya diikuti asistennya dan bu Dina. Dan Naya masih mematung, kaki nya terasa berat tidak bisa di gerakan.
“Bu Naya, Bu Uchi kenalkan ini Pak Icak, owner kami.”
“Bramantyo Wicaksono.” Pria itu mengulurkan tangan ke arah Naya.
Naya tidak bergeming, akhirnya Uchi yang menggapai uluran tangan itu.
“Saya Lusiana pak, biasa dipanggil Uchi dan rekan saya Ini.. “ belum selesai Uchi bicara Bram menurunkan tangannya. Pandangannya tetap terarah ke Naya.
Uchi menyikut Naya dan membuat Naya tersadar dari keterkejutannya.
“Maaf saya lupa saya ada janji dengan corporate lain, untuk presentasinya akan diteruskan oleh ibu Uchi.” Naya berjalan hendak meninggalkan ruangan itu.
Mereka berdiri berhadapan, Bram mencodongkan badannya ke arah Naya dan berbisik.
“Jangan coba-coba untuk lari. Kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Dan ingat nasib perusahaan mu ada di tanganku.”
Bram melepaskan tangan Naya dan berjalan ke arah salah satu bangku dan duduk.
Semua orang hanya menyaksikan dan diam membisu.
“Silahkan dimulai presentasinya.” dengan suara dingin Bram memecahkan suasananya.
Semua yang hadir di ruangan itu ikut duduk kecuali Naya. Dia masih mematung berdiri di tempatnya.
“Baik akan saya mulai presentasinya.” melihat Naya yang hanya berdiri mematung akhirnya Uchi berdiri dan memulai presentasinya.
Prensetasi dimulai dengan profil perusahaan, saat mau mulai menjelaskan tentang program kerjasama 2 perusahaan Naya memotong Uchi.
“Selanjutnya akan saya teruskan.” Naya menoleh kearah Uchi dan menganggukan kepala memberi tanda bahwa dia sudah baik-baik saja.
Naya mulai bicara tentang produk perusahaan, benefit apa yang akan didapat jika mereka bekerjasama, metode invoicing dan lain-lain.
“Demikian presentasi dari kami.” Naya mengakhiri presentasinya.
“Ini sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan bersama. Di LG ada restoran lumayan enak.” Bram mengajak semua orang untuk makan siang bersama.
Semua sudah tersenyum berfikir lumayan dapat makan siang gratis.
“Terima kasih pak Bram untuk tawarannya, tapi maaf kami harus langsung kembali ke kantor.” Naya langsung membereskan barang-barang nya dan menarik Uchi agar berdiri.
“Bu Dina ini kartu nama saya, untuk bagaimana keputusannya nanti bu Dina bisa menghubungi saya atau bisa langsung menghubungi kantor pusat kami. Terima kasih semuanya.” Tanpa menunggu jawaban dari Dina, Naya langsung menarik Uchi untuk keluar dari tempat itu.
Bram terpaku dan terlihat geram melihat tingkah Naya. Jangan pikir kamu bisa lepas dariku. Lihat saja nanti aku pastikan wasiat dari Bimo akan aku jalankan.
* * *
__ADS_1
Naya berjalan dengan langkah yang lebar, dibelakangnya Uchi berusaha mengikuti langkah Naya sampai setengah berlari kecil. Mereka berjalan menuju tempat parkir, setelah yakin tidak ada yang mengikuti Naya
mulai memperlambat langkahnya.
Naya berhenti didepan mobilnya dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Uchi berjalan dengan terburu-buru dan nafasnya terlihat agak tersengal-sengal.
“Lama banget sih jalan lo.”
“Lo yang sarap, jalan kayak orang di kejar setan!” Uchi terlihat kesal.
“Ya udah masuk deh” terdengar Naya mematikan alarm mobilnya.
Mereka berdua masuk mobil, dan mobil mulai melaju meninggalkan area gedung Sinar Kentjana Mas.
Naya membelokkan mobilnya memasuki area parkir salah satu mall di daerah bundaran HI.
“Lha kita ngapain ke sini?” Uchi bingung
“Makan lha emang lo ga laper?
“Lha tadi katanya kita harus langsung balik kantor? Bagaimana sih bingung gw jadinya? Lo bukannya di WA emak suruh balik kantor tadi?”
“Nggak.”
“Trus tadi kenapa lo bilang begitu? Padahal kan kita bisa dapat makan gratisan kita.”
“Ogah gw, dari pada ntar abis makan gratis trus gw mati di racunin.”
“Maksud lo? Pak Icak mau ngeracunin kita?” Uchi masih dengan tampang bingungnya.
“Ya kali dia mo ngeracunin kita Nay, emang kita siapa? Orang penting dari mana?”
“Gw musuh bebuyutannya. Udah ah bawel lo nanya mulu. Mau ikut makan ga?”
Naya turun dari mobilnya meninggalkan Uchi yang masih saja kebingungan.
Uchi berlari mengejar Naya yg sudah mulai melangkah. Dari jauh Nanya mengunci mobilnya dengan remote.
Mereka memasuki area food court mall tersebut. Area food courdnya lumayan luas dan lengkap. Hampir semua jenis makanan ada di situ, dari yang tradisional sampai yang western. Dari berbagai negara juga ada.
Setelah berkeliling mencari tempat duduk akhirnya mereka menemukan ada bangku kosong. Karena saat itu bertepatan dengan jam makan siang dan letak mall yang berada di daerah perkantoran, jadi food courdnya lumayan penuh.
“Nay kita makan soto yuk?”
“Nggak ah. Gw ga makan soto.”
“Kenapa? Semua orang kan suka soto. Kalau begitu gw aja yang makan soto ya lo makan yg lain terserah, lo pilih aja sendiri.”
“Jangan, kalo lo tetep mau makan soto jangan makan di depan gw.”
“Hah?! Lo mah aneh.”
Naya terdiam sejenak. “Terserah tapi kalau lo makan soto jangan makan di depan gw. Sekarang gw mau makan nasi curry aja.” Naya berdiri lalu berjalan ke arah resto yang menjual makanan khas Jepang.
Setelah Naya kembali Uchi berdiri, saat hendak melangkah Naya berkata
“Jangan lupa kalo lo makan soto jauh-jauh dari gw.”
“Iyehhhhh bawel “ Uchi pergi berkeliling mencari makanan.
Uchi kembali membawa nampan berisi steamboat dan nasi berserta Ocha dingin.
“Nay btw tadi kok lo manggil Pak Icak pakai nama pak Bram?”
“Lha kan emang namaya Bramantyo.” jawab Naya cuek
“Trus tadi lo kenapa kok jadi kayak orang linglung gitu?”
“Masa? Nggak ah perasaan lo aja kali.”
“Bener, ada apa sih Nay? Gw tau ada yang lo sembunyiin dari gw. Cerita dong Nay.”
Sendok yang tadinya mau meluncur ke arah mulut Naya tiba-tiba terhenti dan kembali mendarat di piring Naya. Naya menatap Uchi.
__ADS_1
“Nanti gw ceritain Chi, belum saatnya. Kalau waktunya sudah pas gw pasti cerita ke lo. Udah sekang kita makan aja trus balik kantor. Emak pasti udah nungguin kita.”
Akhirnya mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Selesai makan mereka langsung ke kantor pusat untuk membuat laporan tetang presentasi tadi.