CEO Itu Musuh Bebuyutanku

CEO Itu Musuh Bebuyutanku
Bab 8 - Kebimbangan Naya


__ADS_3

Ruangan itu terlihat sepi senyap padahal ada 5 kepala yang sedang duduk termenung di ruangan itu. Ruang keluarga rumah Nuras lebih terlihat seperti kuburan dari pada terlihat seperti ruangan keluarga.


    “Jadi apa yang bakal lo lakuin Nay?” akhirnya Hendra memecahkan keheningan.


Naya menghempas nafas panjang.


    “Jujur gw juga nggak tau musti gimana.”


    “Kok gitu?!” Hendra menatap Naya dengan wajah bingung.


    “Hen… kan lo tau kalo gw nggak begitu tertarik sama hal-hal begituan.”


    “Kayaknyaalasan lo nggak masuk akal deh Nay. Lagian lo tinggal ikut aja kenapa sih? Toh lo sebenernya juga hobi banget kemping kan ?!”


    “Tau ah, nanti deh gw pikir-pikir dulu. Nanti gue coba tanya sama Radit dulu.”


Setelah berkata seperti itu Naya pergi meninggalkan teman-temannya.


Sepeninggal Naya, ke 4 orang itu kembali terdiam.


    “Git, Ras…..sebenarnya kenapa sih Naya nggak pernah mau ikut buat kegiatan senat padahal dia sebenernya juga selalu aktif walaupun dia jadi orang di belakang layar.” Gita dan Nuras saling bertukar


pandang.


Gita menarik nafas panjang. “Sebenernya dia bukannya nggak mau ikut kegiatan senat. Kalian kan tau sendiri gimana aktifnya dia dalam setiap kegiatan senat.” Gita menoleh ke arah Nuras. Setelah melihat Nuras menganggukan kepalanya Gita meneruskan bicara.


    “Sebenarnya Naya itu nggak pernah mau ikut kegiatan senat karena dia nggak mau ribut sama Bram. Kalian kan tahu sendiri gimana sikap Bram ke Naya. Naya takut kalau dia ikut kegiatan senat maka dia bakalan sering


berinteraksi dengan Bram. Dengan kondisi Bram yang seperti itu Naya takut kalau hubungannya dengan Bram yang kurang baik itu akan jadi bertambah buruk.”


Hendra dan Andra terlihat berpikir, mereka berusaha mencerna dengan baik apa yang baru saja disampaikan Gita.


    “Sebenarnya Naya selama ini tahu kalau Bram itu nggak pernah suka sama Dia. Dan dia tahu itu dari dulu, bahkan mungkin dari pertama kali dia kenal sama Bram.” Nuras melanjutkan cerita Gita.


    “Hah?! Yang bener lo Ras?!” Hendra dan Andra memandang Nuras secara bersamaan.


Nuras menjawab pertanyaan itu hanya dengan sebuah anggukan kepala.


    “Tapi Say kenapa Naya cuma diem aja?”


    “Yang gw tahu Naya emang tipe orang yang nggak pernah suka keributan. Tapi untuk alasan pastinya cuma Naya yang tahu. Gw udah pernah tanya tapi nggak pernah mau jawab. Kalian kan kenal siapa Naya. Selain Radit dan Orang tuanya siapa sih yang pernah tahu masalah dan isi hatinya dia.”


Sementara ke 4 orang itu masih sibuk berpikir sendiri-sendiri, di salah satu sudut ruangan ada sepasang telinga yang juga ikut mendengarkan dengan seksama apa yang mereka bicarakan.


 


 


* * *


 


 


Naya masih saja bergulat dengan pikirannya. Tempat tidur yang tadinya rapi kini benar-benar terlihat berantakan. Bantal dan guling sudah tidak lagi berada di posisinya semula.


    “Kamu yakin Die mau ngelakuin hal itu?” suara Radit mulai mengembalikan pikiran Naya yang tadi sempat terbang ke berbagai tempat ke tempatnya semula.


    “Entah lah Dit. Tapi gw nggak ada pilihan lagi. Kalo gw nggak ikutin maunya Bram kasihan anak-anak MABA.”


    “Tapi Die….gw takut lo ga bisa sampai tepat waktu.”


    “Gw tau Dit, tapi apa gw punya pilihan yang lebih baik? Posisi gw sulit Dit, sulit banget.”


Radit terdiam. Dia masih menatap computer yang ada di depannya. Walau begitu Naya tahu kalau sebenarnya pikiran Radit tidak pada komputer di depannya itu. Naya dapat merasakan tarikan nafas Radit yang begitu


panjang. Tarikan nafas yang panjang itu cukup dapat membuat Naya mengerti apa yang Radit pikirkan dan rasakan saat itu. Karena pada dasarnya apa yang dipikirkan dan dirasakan Radit itu sama dengan apa

__ADS_1


yang dipikirkan dan di rasakan Naya.


    “Diy lolaper nggak?” tiba-tiba Radit menoleh kearah Naya.


    “Lumayan laper sih. Emangnya kenapa?” Naya menatap Radit dengan tatapan bingung.


    “Kita makan diluar yuk? Nyokap gw nggak masak nih. Cacing di perut gw dah pada minta makan nih. Lagian dari pada lo tetep disini, bisa-bisa kamar gw bukan Cuma keliahatan kayak kapal pecah doang tapi lama-lama


kamar gue pasti keliatah udah jadi kayak kena tsunami.”


    “Eh sialan lo ye! Dari tadi tuh kamar lo emang udah kayak kapal pecah, gw kan cuma memberikan beberapa sentuhan aja.”


    “Hallah…..laga lo udah kayak pengamat seniman aja tahu nggak? Daripada ngerusak kamar orang mendingan kita makan. Gw yang traktir deh”


    “Hah lo yang trakir?! Wah kalau gitu mah gw mau banget.”


    “Dasar lo cewek traktiran. Matanya selalu ijo kalau dengar kata traktiran.” Radit berjalan keluar kamarnya.


    “Tunggu……” Naya berlari mengejar Radit.


 


 


* * *


Hari ini mall Kelapa Gading agak terlihat lebih ramai dibanding hari-hari biasanya, mungkin karena malam minggu. Selesai makan di foodcourt Radit dan Naya memasuki sebuah toko perhiasan. Hari itu Radit memang


harus mengambil sesuatu dari toko itu. Saat mereka hendak keluar dari toko tersebut, Naya secara tidak sengaja menabrak seseorang sampai badanya terhuyun ke belakang. Untung Radit dapat dengan sigap


menangkapnya, mungkin jika tidak Naya sudah terjatuh.


“Maaf….”


Naya berkata sambil berusaha menyeimbangkan dirinya. Tetapi saat menatap orang tadi di tabraknya, Naya merasa kakinya menjadi lemas kembali. “Bram?!”


Naya menoleh ke arah asalnya suara itu. “Vania?!” Naya melihat sosok gadis manja itu sedang menggandeng mesra lengan Bram.


Bram tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Naya dan Radit dengan pandangan dingin. Kemudian tatapan terpaku pada benda yang dipegang Radit.


    “Itu Cincin?!” Tanya Bram tanpa basa basi.


    “Iya, memang kenapa?” Radit menjawab pertanyaan Bram dengan tenang. Walau begitu Naya dapat melihat Radit membalas tatapan Bram dengan sama dinginnya.


    “Hebat juga lo udah bisa beli cincin, dasar orang nggak tahu diri bisa-bisanya Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Mentang-mentang orangnya sudah tidak ada.”


    “Apa maksud lo hah?!” nada bicara Radit sudah mulai meninggi.


    “Lo pikir aja sendiri. Kalo emang lo orang yang tahu diri lo pasti ngerti apa yang gue maksud.” Kali ini Bram juga sudah mulai meninggikan suaranya.


    “Heh kalo ngomong tuh yang jelas. Kan nggak semua orang ngerti sama maksud lo!”


    “Emang nggak semua orang ngerti sama maksud gw, karea hanya orang-orang bermoral aja yang ngerti sama maksud gw.”


Kondisi sudah semakin memanas, orang-orang sekitar juga sudah merasa tertarik. Mereka sudah mulai menjadi pusat tontonan. Wajah pemilik toko perhiasan itupun sudah mulai terlihat pucat karena takut


kalau-kalau tokonya akan dijadikan tempat ajang baku hantam. Akhirnya untuk menghindari perang dunia, tanpa berkata apa-apa lagi Naya menarik Radit pergi meninggalkan tempat itu dan meninggalkan Bram dan


Vania.


* * *


Setelah pertemuan yang tidak mengenakkan itu Naya dan Radit akhirnya memutuskan untuk duduk-duduk di Lapiazza. Setiap malam minggu biasanya pengelola mall kelapa gading suka mengadakan acara live music di  Lapiazza. Malam itu rencana acara live musicnya akan diisi oleh salah satu artis ibukota.


“Diy…”


    “Kenapa Dit?”

__ADS_1


    “Lo yakin tetep mau ikut acara itu?”


    “Kita kan tadi udah ngebahas masalah itu Dit.”


    “Iya sih Die, tapi perasaan gue ga enak Nay” Radit belum sempat menyelesaikan kalimatnya Naya sudah memotong.


    “Udah lah Dit, kita jangan ngomongin masalah itu lagi. Kita kan kesini buat have fun, jadi jangan merusak suasana deh.”


 Radit terdiam sejenak, dia memadang Naya dengan tatapan sayu.


“Diy lo tau kan kalo gw tuh khawatir banget. Gw nggak mau nanti terjadi apa-apa sama lo.”


Naya memegang tangan Radit “Iya Dit gw tahu. Tapi lo juga harus yakin kalo gw tuh bukan orang yang lemah. Selain itu gw tahu lo bakal selalu ada di deket gw, dan lo nggak bakal ngebiarin gue terluka. Gw tahu elo Dit, dan gw juga percaya sama lo.”


    “Thanks ya Die karena lo udah percaya banget sama gw.” Radit memeluk Naya dari samping.


Tanpa Naya dan Radit sadari ternyata ada seseorang yang merasa sangat terusik atas pemandangan itu.


Terkadang pribahasa yang mengatakan bahwa “dunia itu bagai selembar daun kelor” memang ada benarnya juga. Naya dan Radit sudah berusaha menghindari konflik eh sekarang malah konfliknya yang menghampiri.


“Wah-wah bener-bener great couple nih.”


Naya dan Radit sama-sama menoleh ke asal suara. “Bram?!” kata Naya dan Radit secara bersamaan.


“Hebat…hebat….” Kata Bram seraya bertepuk tangan.


    “Heh gw tahu kalau kalian tuh pasangan yang sok harmonis.” Katanya lagi dengan suara yang penuh dengan emosi dengan memberikan penekanan pada kata sok harmonis. “Tapi sadar diri dong!! Ini tuh tempat umum jadi jangan sok pamer kemesraan deh di sini.” Kalimat yang terakhir ini bukan hanya diucapkan dengan emosi tapi juga dengan nada membentak.


    “BRAM!” Radit berdiri dari duduknya. “Sebenarnya lo kenapa sih? Apa sih masalah lo?”


    “Elo tuh bener-bener idiot ya?! Kan tadi gw udah bilang lo pikir sendiri aja apa masalahnya.”


    “Bram!! Lo tuh bener-bener kelewatannya?!” Radit benar-benar terlihat sangat marah, wajahnya memerah, tangannya mulai mengepal.


    “Kenapa?! Lo marah ?! lo nggak terima?!” Bram juga sudah mulai mengepal tangannya.


    “Trus lo mau apa hah?! Lo mo pukul gw?! Hayo….siapa takut?!” dalam sekejap Radit menarik baju Bram dan tangannya yang mengepal sudah siap melayang, tapi tiba-tiba….


    “CUKUP!!” gerakan tangan Radit berhenti seketika saat mendengar teriakan Naya.


    “Radit lepasin Bram.”


    “Tapi Diy?! Kan lo denger sendiri apa yang tadi dia omongin. Dia udah keterlaluan banget Diy!”


    “Aku bilang lepasin!!!” Radit melepas cengkramannya. “Bram, gw nggak tau apa masalah lo, tapi gw rasa sekarang lo udah kelewatan banget. Dan yang musti lo tau sekarang adalah gw nggak peduli sama apa yang


mau lo lakuin, karena gw rasa yang bermasalah itu lo! Ya….elo!!”


Naya mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah Bram. Naya lalu menoleh ke arah Radit “Dan Radit, gue nggak suka lo main pukul orang seenaknya aja.” Radit baru mau mulai membela diri, tapi Naya langsung meneruskan bicaranya.


    “Gw nggak peduli siapapun yang salah. Tetap saja lo nggak boleh ringan tangan. Udah sekarang kita pulang aja.” Naya menarik tangan Radit dengan sekuat tenaga dan meninggalkan tempat itu.


    “Tunggu!!!” tiba-tiba Bram memanggil. Naya membalikkan badannya, menatap Bram dengan tenang.


    “Gimana jawaban lo tentang nasib anak-anak MABA?”


Naya menatap Bram dengan pandangan yang Bram sendiri tidak bisa mengartikannya. “Lo tenang aja, gw pasti ikut. Jadi mendingan sekarang lo mulai siap-siap terima orderan tanda tangan dari anak-anak MABA deh.” Naya lalu membalik badan lagi dan melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi ke belakang.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2