
Ruang senat terbuka dengan kasar. Bram berdiri dengan nafas sedikit terengah-engah. 4 pasang mata otomatis menolah ke arah Bram. Nuras, Gita, Andra dan Hendra hanya diam terpaku melihat Bram yang terlihat berantakan dan kacau.
“Dimana Naya?”
“Nggak tau “
“Gw seius, dimana Naya?”
“Gw juga Serius, kita nggak tau dimana Naya!” Nuras menatap tajam ke arah Bram.
“Gw mohon Ras, tolong kasih tau gue dimana Naya, Lo yang paling dekat dengan Naya, gw yakin lo pasti tau dimana dia?”
“Gw benaran nggak tau dimana Naya Bram. Seandainya gw tau juga gw nggak bakal kasih tau lo.” masih tampak kilat amarah pada mata Nuras.
“Sayang jangan begitu, kamu lihat dong Bram sudah kacau begitu.” Hendra menggenggam tangan Nuras untuk menenangkan.
“Bram kita semua benar tidak ada yang tau sekarang Naya ada dimana. Kita sudah coba kerumahnya yang ada hanya Bunda dan Ayahnya saja. Kita sudah coba tanya Bunda tapi tetap Bunda tidak mau kasih jawaban.
__ADS_1
Bunda hanya bilang kalau Naya pindah dengan kakaknya.”
“Gw rasa kejadiannya sama seperti 2 tahun lalu, keluarganya menyembunyikan Naya. Mereka menutupi semuanya tentang Naya. Gw harap keadaan Naya tidak seperti 2 tahun lalu.” Nuras mulai menitikan air mata.
“Apa yang terjadi 2 tahun lalu?”
“Karena meninggalnya Bimo, membuat Naya depresi berat. Dia harus rutin kosultasi dengan psikiater. Oleh sebab itu keluarganya menyembunyikan Naya agar dia tidak teringat dengan masa lalunya, semua orang-orang dari masa lalunya dilarang menemui dia agar dia bisa lebih fokus dengan pengobatannya. Mereka baru mengijinkan kita berhubungan lagi dengan Naya setelah kondisi Naya menjadi stabil. Dan itu memakan
waktu 1 tahun baru Naya bisa menjadi Naya yang sekarang.”
* * *
Seminggu sudah Bram berkeliling mencari informasi tentang keberadaan Naya, dan hasilnya tetap Nihil. Dia bahkan sudah berisaha menghampiri Radit dan Ganis, dan mereka bilang tidak tahu.
Bram yakin sebenarnya Radit dan Ganis pasti tahu keberadaan Naya, tapi mereka enggan memberitahu sehingga bilang tidak tahu.
Apapun yang terjadi, dimanapun kamu Naya, aku pasti akan menemukanmu. aku tidak akan menyerah begitu saja.
__ADS_1
Bram berjalan menghampiri Papa nya yang sedang duduk di ruang keluarga dengan Mamanya.
"Pa, Icak boleh minta tolong ga?"
"Kenapa cak? "
"Bantu Icak cari Naya. Papa pasti punya kenalan detektif atau siapa lha yang bisa mencari orang hilang akan?"
"Kenalan sih Papa ada Cak, tapi Papa rasa sudah cukup lha kamu ganggu kehidupann Diya. Masih kurang apa balas dendam kamu ?"
"Iya Cak, bener apa kata Papa kamu, lagian juga kamu balas dendam untuk hal yang bukan kesalahan Diya. Kasian Cak, Diya ga salah nak."
"Jadi Papa nggak mau bantu anak sendiri nih?"
"Iya Papa ga mau bantu, karena kamu yang salah."
"Ok kalau begitu Icak akan cari sendiri, Icak pasti bisa nemuin Naya. Icak ga peduli butuh waktu berapa lama untuk menemukan Naya, yang pasti Icak ga akan pernah berhenti nyari Naya sampai ketemu."
__ADS_1
Bram berdiri meninggalkan orang orang tuanya. Ada rasa kecewa yang dia rasakan karena orang tuanya tidak mau membantunya. Dengan kemampuan Papa harusnya dia dapat menemukannya dengan mudah.