Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 21


__ADS_3

Terik panas sang surya terasa begitu membakar di permukaan kulit. Hawa panas gurun pasir membuat badan lebih banyak mengeluarkan keringat, menjadikan tubuh lebih cepat haus.


Syuting yang diperkirakan akan rampung dalam 4 sampai 5 hari, nyatanya mundur karena beberapa kendala. Menjadikan padang pasir sebagai lokasi syuting ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Selain karena cuacanya yang panas, mereka juga harus waspada dengan badai pasir yang bisa datang kapan saja.


Ini adalah hari ke - 7 Leon dan Clara melakukan syuting di lokasi tersebut. Produser memperkirakan hari ini syuting akan selesai, hanya tinggal beberapa adegan lagi yang harus diambil.


Clara sudah terlihat kelelahan, gadis itu beberapa kali terlihat mengeluh karena kepanasan. Ya, itu wajar. Cuaca Dubai yang mencapai 50°C saat musim bisa membuat siapa saja cepat kelelahan, padahal syuting baru saja dimulai. Jarum jam masih menunjukkan pukul 10.30 siang waktu setempat, Namun raut kelelahan sudah mulai terlihat jelas di wajah para kru.


Berbeda dengan Leon. Pria itu masih nampak biasa saja, walaupun terlihat beberapa kali ia menyeka keringat yang menganak di dahi dan lehernya. Entah apa yang menjadi rahasianya, ketahanan fisiknya sungguh luar biasa kuat.


Jika didalam proses syuting biasanya yang mengatur adalah seorang produser, maka jika Leon yang menjadi artisnya dialah yang malah akan mengatur produsernya. Mau bagaimana lagi? Leon adalah pria yang perfeksionis. Semua yang dikerjakanya harus terlihat sempurna. Cacat sedikit saja, maka pria itu akan meminta semuanya untuk mengulang.


Semua yang pernah terlibat bekerja sama dengan Leon sudah tau itu, dan sebenarnya mereka malas karena sikap Leon yang temprament. Namun Entah kenapa masih banyak perusahaan yang memakai jasanya untuk menjadi barand ambasador mereka.


Semua itu karena hasil kinerja Leon yang memang bagus dan sempurna.


" Ok, semua sudah selesai hari ini. " Teriak produser, dan disambut tepuk tangan gembira dari para kru. Akhirnya mereka bisa segera pulang beristirahat.


" Sebelum tayang, berikan padaku salinan videonya. Akan ku pastikan dulu itu layak atau tidak. " Ucap Leon kepada produser.


" Baiklah, sekarang anda bisa kembali ke hotel. " Ucap produser sepeeti ingin mengusir Leon. Jika pria itu masih didekatnya, ia khawatir pekerjaan ini tidak akan pernah selesai.


Kebanyakan artis tidak akan pusing dengan hSil kinerja mereka, yang terpenting mereka sudah melaksanakan tugasnya dan mendaoat bagianya, selesai.


Namun Leon berbeda, artis satu ini masih tetap cerewet jika hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan.


" Leon! " Panggil Clara.


Clara terlihat berlari mendekat kearah mobil Leon. Gadis itu berencana untuk menumpang kedalam mobil Leon, namun Leon sepertinya tidak mendengar panggilan Clara.


Dan Clara tidak kehilangan akal untuk bisa menumpang kedalam mobil Leon.


" Aaakh. " Pekik Clara, wanita itu terlihat sedang memegang pergelangan kakinya sembari meringis kesakitan. Ya, gadis itu sengaja memasukkan kakinya kedalam pasir yang sedikit berlubang.


" Ada apa mbak? " Beberapa kru terlihat mendekati Clara.


" Sepertinya kakiku terkilir. " Ucap Clara menahan sakit.


" Ini sedikit bengkak, anda harus segera kerumah sakit. " Ucap salah seorang asisten Clara.


" Bisakah, mbak Clara menumpang mobil anda mas Leon? soalnya supir kami belum juga menjemput. " Ucap Gina, gadis berkaca mata tebal, dengan rambut yang dikepang dua di belakang. Wanita itu salah satu asisten setia Clara.


Leon menghela napas, ragu. Pria itu paling tidak suka mobilnya dimasuki oleh wanita, walaupun sahabatnya sendiri.


Namun melihat keadaan Clara Leon merasa kasihan juga, lagi pula sepertinya ia sudah terlalu menuntut gadis itu untuk bekerja melebihi kemampuanya.


" Masuklah. " Perintah Leon.


Gina dan salah satu kru membantu Clara untuk masuk ke mobil Leon.


Leon kemudian menjalankan mobilnya fengan kecepatan sedang, setelah Clara masuk.


Hening. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Leon terlihat masih fokus dengan kemudinya. Syuting di lokasi yang sama selama satu minggu membuatnya mulai hapal jalan di kota Dubai, sehingga ia tidak memerlukan lagi seorang sopir.


" Maaf ya gue udah ngrepotin. " Ucap Clara memulai percakapan.


" Gak papa, santai aja. " Ucap Leon singkat, tanpa menga


ihkan perhatianya pada jalanan.


" Loe, mau terus pulang setelah ini? "


" Gak, ada yang harus gue kerjain. "


Clara mangut mangut.


" Mau kerumah sakit? " Tanya Leon, pria itu melihat pergelangan kaki Clara ysng memang bengkak.


" Gak usah, nanti biar Gina yang panggil dokter ke hotel. " Dalam hati, gadis itu merasa senang. Leon ternyata menghawatirkan keadaanya.


Clara menarik salah satu ujung bibirnya. Ia bisa memanfaatkan sakit di kakinya untuk bisa membuat Leon lebih dekat denganya.


Selama seminggu ini, ia belum melakukan apapun untuk membuat dirinya lebih dekat dengan Leon. Syuting sialan ini benar benar menguras tenaga dan pikiranya.


" Entar loe datang kan? anak anak mau ngadain makan bersama buat ngerayaain kalo kita udah selesai dengan syuting ini. "


Leon mengangguk singkat. " Gue usahain. "


Tidak terasa mobil sudah sampai didepan hotel, tempat dimana mereka menginap.


Clara terlihat kezulitan untuk turun dari mobil.


" Sini gue bantu. " Ucap Leon sembari memapah gadis itu.


" Aaakh. "


" Kenapa? sakit? " Tanya Leon.


Clara mengangguk. " Gue sepertinya gak bisa jalan deh. " Ucap Clara.


Leon terlihat menghela napas perlahan.


" Gue gendong deh. " Ucap Leon sembari mengangkat tubuh Clara.


Clara menarik salah satu sudut bibirnya, kemudian gadis itu mengalungkan sebelah tanganya pada leher Leon. Ah, menghirup aroma tubuh Leon yang bercampur keringat sungguh membuat Clara ketagihan.


" Maaf, gue jadi nyusahin Elo. "


" Santai aja, loe juga lagi sakit kan. "


Leon menggendong Clara sampai didalam kamar gadis itu. Leon membaringkan gadis itu di diatas ranjang.


" Ok, gue ke kamar dulu. "


Clara mengangguk. " Makasih ya. " Ucap Clara.


Leon hanya mengangguk, kemudian berbalik dan berjalan keluar dari kamar Clara menuju kamarnya sendiri.


Leon melepas semua bajunya, pria itu ingin membwrsihkan diri. Badanya sudah terasa sangat lengket oleh keringat. Sungguh cuaca yang benar benar panas.


******


" Aaakh! " Teriak Clara dari kamar mandi.


Gina yang mendengar teriakan Clara segera menghampiri gadis itu.


" Ada apa mbak? " Tanya Gina.


" Kaki gue sakit banget Gin, gue gak bisa jalan deh. " Ucap Clara, wanita itu terlihat sedang bersandar pada bathub dengan hanya memakai sehelai handuk saja pada badanya.


" Mbak udah minum obat dari dokternya belum? tadi dokter bilang itu cuma terkilir aja kok, bentar lagi juga sembuh. "

__ADS_1


" Sembuh gimana? kaki gue bengkak gini. "


" Aw! " teriak Clara sembari memegang kakinya. Ya Clara memang sudah lebih baik sejak minum obat, gadis itu hanya pura pura kesakitan.


" Panggilin Leon. Gue gak bisa ke kamar. " Perintah Clara.


Gina diam, gadis itu terlihat ragu. Siapa yang tidak tau Leon? pria dingin dan angkuh itu.


" Tapi mbak..."


" Udah panggil aja, bilang aja gue terpleset di kamar mandi. " Perintah Clara.


Gina masih diam, gadis itu masih terlihat bingung.


" Cepat Gina! kaki gue sakit banget nih. " Bentak Clara.


Gina tergagap. " I_ya mbak. "


Gadis itu kemudian berlari kearah kamar Leon. Ragu ragu Gina mengetuk kamar Leon.


satu ketukan, dua ketukan bahkan hingga yang ketiga tidak ada sahutan dari sang penghuni kamar.


Krieek!


dengan tidak sengaja pintu kamar leon terbuka karena dorongan Gina, ternyata pintu kamar itu tidak terkunci. Dengan perasaan takut Gina masuk ke kamar Leon.


" Mas Leon. Mas....ada orang didalam? "


Tidak ada jawaban.


Gina semakin masuk kedalam, terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Sepertinya Leon sedang membersihkan diri, pantas saja tidak dengar ketika ia sedang memanggilnya.


Clik!


Lein terlihat keluar dari kamar mandi.


Gina diam membeku, gadis itu terpana melihat Leon hanya memakai handuk yang menutupi pinggangnya memperlihatkan tubuh pria itu yang berotot dan liat.


" Ngapain kamu disini? " Tanya Leon yang kaget karena Gina didalam kamarnya.


Gina tergagap, kemudian menunduk.


" A. ..nu mas, mbak Clara terpeleset di kamar mandi, dan gak bisa berdiri. "


Ucap Gina terbata karena takut.


" Ya panggil kru yang laen kan bisa."


" Udah mas, mereka pada gak ada. " Gina membuat alasan.


Lagi lagi Leon mengheka napasnya.


" Ya udah, gue tolongin deh." Ucap Leon kemudian keluar dari kamarnya.


Sedang Gina masih terlihat bingung, soalnya Leon keluar hanya menggunakan handuk saja.


Leon kemudian berjalan kearah kamar mandi di dalam kamar Clara.


" Clara loe gak papa? " Tanya Leon dari luar kamar mandi.


Clara tergagap. Berhasil juga idenya. Gadis itu kemudian melepas handuknya dan menaruhnya ditempat semula, jadilah ia telanjang bulat sekarang.


Clara menyeringai.


" Em...Iya, gue baik baik aja kok, cuma.."


" Cuma apa? " Teriak Leon.


" Gue gak bisa bergerak ..."


" Gue masuk ya? "


Leon kemudian masuk kedalam, pria terlihat kaget karena Clara tidak memakai sehelai benang pun, dan sedang terduduk di lantai.


Gina yang ikut masuk kedalam juga kaget melihat Clara yang terlihat polos tanpa busana itu. Bukankah tadi Clara memakai handuk?


Leon memang kaget, tapi wajahnya tetap datar seperti biasa. Dengan tenang Leon meraih handuk di gantungan dan menutupi tubuh Clara denganya. Pria itu kemudian menggendong Clara keluar dari kamar mandi dan mendudukanya di kursi.


" Udah panggil dokter? " Tanya Leon.


Clara diam, gadis itu malah terpana melihat tubuh Leon yang terpampang dengan indahnya. Ah, Leon benar benar terlihat seksi dengan hanya memakai handuk saja.


" Udah minum obat? " Lanjut Leon.


Clara tergagap, gadis itu kemudian mengangguk. " Udah, tapi belum ngerasa baikan deh. "


" Entar juga baikan. Ok gue kekamar dulu." Pamit Leon.


" Makasih ya. "


Leon mengangguk, kemudian keluar dari kamar Clara.


Sepeninggal Leon, Clara tersenyum senang. Gadis itu kemudian berdiri dan dengan sedikit pincang meraih kamera yang sudah ia pasang sebelumnya di atas nakas.


Gina yang melihat Clara bisa berjalan jelas kaget. Ah, gadis itu tau sekarang Ternyata majikanya itu tengah bersandiwara?


" Awas aja loe kalo bilang bilang gue bisa jalan. " Ancam Clara kepada Gina.


" I__iya mbak, saya gak akan bilang siapapun. " Ucap Gina gugup.


***********


Malam pun tiba. Para kru dan produser mengadakan pesta kecil kecilan untuk merayakan keberhasilan syuting mereka.


Beraneka macam makanan dan minuman tersaji dimeja. Semua kru terlihat bahagia sembari menyantap makanan yang jarang jarang bisa mereka makan itu.


Berbeda dengan para kru yang sedang senang merayakan keberhasilan, Leon terlihat resah menatap layar gawainya. Ini sudah seminggu, dan Aila sama sekali tidak mengirimkan pesan padanya.


Apa gadis itu benar benar senang karena jauh darinya? Benarkah Aila tidak memiliki rasa padanya? tapi kenapa gadis itu selalu diam menerima semua sentuhanya?


" Aakh! " Leon mengacak rambutnya kesal.


Clara yang mengetahui Leon duduk sendirian di pojok ruangan segera menghampiri.


" Kenapa gak gabung aja, malah mojok sendirian. " Sapa Clara.


Lein menoleh kearah Clara.


" Kaki Loe udah baikan? "


Clara mengangguk. " Lumayan, enakan habis minum obat. "

__ADS_1


" Kenapa sih? " Tanya Clara yang melihat Leon seoeryi sedang menatap gawainya dengan kesal.


" Gak ada. " Ucap Leon datar. Kelaki itu kemudian berdiri.


" Gue mau ambil wine bentar. " Ucap Leon sembari berlalu.


Clara mengangguk.


Drrrrrttt!. Drrrrrt!


Hp Leon bergetar diatas meja.


Clara merasa penasaran dan ingin tau siapa yang sedang menelepon Leon.


Gadis itu kemudian mengambil dan membuka gawai Leon,


Gadisku calling


Begitu tulisan dilayar. Clara menyeringai, tiba tiba saja ia punya rencana.


Clara mengangkat telepon tersebut.


" Ha_ halo kakak. " Suara diseberang sana tedengar gugup.


" Iya, ini siapa ya? "


Hening.


Sepertinya cewek kampungan itu kaget, karena suara wanita yag mengangkat telepon.


" Ah, iya sayaang aku kesana. "


Ucap Clara dibuat buat.


Tuuut! tuuuut!


Terdengar bunyi telepon terputus.


Clara menyeringai.


" Jika gue gak bisa buat Leon suka sama gue, maka gue bakal buat loe benci sama Leon. " Desis Clara.


Cepat cepat Clara menaruh Hp Leon karena pria itu terlihatbsudah kembali.


************


Rembulan terlihat mengintip dari balik awan. Cahaya peraknya menimpa wajah pias gadis yang sedang duduk meringkuk memeluk lututnya sendiri.


Siluet tubuhnya memahat sebuah lara.


Selaksa rindu yang teramat dalam, hancur dalam semalam.


Sakit....


Sudah satu minggu lebih, Leon tidak menghubungi Aila. Gadis itu merasa cemas. Aila ingin sekali menghubunginya Leon terlebih dahulu, namun gadis itu takut akan mengganggu pekerjaan Leon.


Namun karena rindu yang kian mencekik, gadis itu memberanikan diri untuk menghubungi Leon.


Tapi apa hasilnya? yang menjawab panggilanya malah seorang wanita.


Sebenarnya apa yang sedang dikerjakan oleh Leon disana?


Tes!


Buliran air mata jatuh di kecua sudut matanya, bersama dengan gemuruh rindu yang kian meragu.


Sejak mengenal kata cinta, airmata begitu mudah jatuh di kecua pelupuk matanya.


Kenapa mencintai terasa begitu menyakitkan?


" Ngapain malam - malam disini dek? "


Aila mendongakkan wajahnya kaget.


" Ya, ampun. Kamu nangis dek? " Tanya Niken, satu satunya penghuni kos yang akrab dengan Aila. Niken berasal dari kampung, gadis itu kekota untuk bekerja.


Aila buru buru menggeleng sembari menghapus air matanya.


" Gak kok mbak, pedas aja mata kena debu. " Kilah Aila.


" Pedas apa pedas? mbak perhatiin beberapa hari ini kamu murung gak semangat kaya biasanya ada apa sih?


Aila tersenyum sembari menggeleng pelan.


" Udah cerita aja, siapa tau bisa bantu. Ada masalah dengan sekolah kamu? atau kerjaan kamu? "


Lagi lagi Aila menggeleng. " Gak kok mbak, semuanya baik. "


" Terus kenapa kelihatan lesu gitu? "


Aila diam, gadis itu terlihat ragu untuk meminta pendapat apalagi tentang cowok. Aila malu.


" Em,,,mbak sama mas Agus LDR an kan udah lama kok bisa tetap langgeng sih? rahasianya apa? " Tanya Aila. Niken memang pernah beberapa kali bercerita tentang tunanganya. Agus.


Niken mengulum senyum. " Jadi masalah cowok toh? " Goda Niken terkekeh.


Aila tersenyum malu.


" Kuncinya cuma satu dek, saling percaya aja sih kalo aku. "


Aila diam, gadis itu terlihat masih mencerna ucapan Niken.


" Eh, kapan kamu punya cowok? kok gak pernah cerita? siapa dek? aku kenal gak? " Berondong Niken.


Aila tergagap, sekaligus bingung mau jawab yang mana dulu.


" Baru aja kok mbak. " Ucap Aila malu malu.


" Cie cieeee yang baru jadian." Goda Niken.


" Kasih lihat dong, ganteng gak? " Lanjut Niken.


Aila segera menyembunyikan Hpnya dibalik punggungnya.


" Apaan sih, cuma lihat diang juga. " Niken malah semakin penasaran, dan mencoba merebut Hp Aila.


" Kapan kapan aja, Aila kasih tau sama embak " Ucap Aila sembari buru buru masuk kamarnya.


" Pelit kamu dek. " Kekeh Niken. Ia tau betul jika Aila adalah gadis yang pemalu.


Sampai dikamarnya, Aila terdiam. Matanya menatap nanar kearah buku pelajaran sekolahnya.

__ADS_1


Aila menghela napas, membiarkan udara masuk kedalam paru parunya mengusir sesak. Entah kenapa ia sudah tidak lagi konsentrasi belajar sekarang.


__ADS_2