
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 77
**Hanya ingin tidur**
Sudah tiga hari ini Aila sibuk membantu Nita mempersiapkan pernikahannya. Selama tiga hari pula, Leon pergi ke jepang dan shanghai untuk mengurus perusahaan. Empat hari menjelang pernikahan, membuat semua orang di kastil semakin sibuk.
Sebenarnya, Nita dan Davin tidak menginginkan pesta pernikahan yang mewah, hanya saja Oma bersikeras untuk membuat pesta semeriah mungkin untuk mereka. Oma bilang, pernikahan adalah sekali dalam seumur hidup,sehingga moment sakral tersebut haruslah dibuat dengan semeriah mungkin.
Tapi, entah kenapa hari ini Aila merasa malas untuk bangun, padahal waktu sudah menunjuk pukul delapan pagi. Mungkin Karena ia baru tidur menjelang fajar, sehingga rasa kantuk itu masih bergelayut, atau mungkin karena kelelahan dan kurang beristirahat? bisa jadi. Sejak tiga hari ini, ia memang tidak bisa tidur. Aila sendiri tidak tahu kenapa.
Pagi ini Ia harus mengantar Nita untuk Fitting baju pengantin, tapi badannya terasa lemas dan malas untuk melakukan apapun. Padahal, gadis itu selalu rajin bangun pagi untuk membantu Lisa dan Maria memasak, tapi tidak untuk hari ini.
Tok! Tok! Tok!
Terdenar pintu diketuk dari luar, Aila bisa menduga siapa yang mengetuk pintu kamarnya, jika bukan pak Liem mungkin saja Lisa. Mereka pasti akan menyuruhnya untuk turun dan sarapan.
"Masuk," teriak Aila masih dari bawah selimut.
Terdengar handle pintu di putar dan daun pintu terbuka.
"Nona sakit?" tebakan Aila benar, Lisa yang datang ke kamarnya. Ia segera membuka selimut dan duduk dengan rambut awut-awutan.
"Gak papa kak, hanya malas bangun aja," ujar Aila setelah Lisa duduk ditepi ranjangnya.
"Tapi nona tampak pucat lho,.." sahut Lisa sembari memperhatikan wajah Aila.
Aila meraih bantal, lalu menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. "Mungkin karena tiga hari ini aku gak bisa tidur kak, gak tau kenapa..." ucapnya terlihat lesu.
Lisa mengulum senyum simpul, "Mungkin karena ditinggal tuan muda?" tebaknya dengan nada menggoda.
Aila tidak menanggapi candaan Lisa, gadis itu hanya tersenyum masam. Tubuhnya terlalu lemas untuk bercanda.
"Sekarang nona harus turun untuk sarapan," pinta Lisa sembari menarik selimut Aila. Namun, gadis itu masih terlihat malas untuk bangun.
"kakak turunlah dulu, aku akan menyusul setelah mencuci muka," sahut Aila.
Lisa menatap kearah wajah kakak iparnya sejenak, "Benar lho, nanti nona tambah sakit kalo gak makan.."
Aila mengulum senyum sembari mengangguk. Setelah itu Lisa pergi meninggalkan kamarnya.
Setelah itu, ia segera bangkit menuju kamar mandi dan menggosok giginya dengan malas. Ucapan Lisa tadi kembali tergiang, benarkah ia tidak bisa tidur karena singanya tidak ada? entahlah.
Ia memang selalu tidur dibawah ketiak suaminya. Aila tidak tahu kenapa suka melakukan itu, baginya aroma tubuh suaminya begitu menenangkan dan membuatnya cepat tertidur.
Selesai menggosok gigi, ia mencuci muka, menyisir rambut ala kadarnya, lalu mengenakan bandana lucu kemudian melanglkah keluar kamar. Aila keluar tanpa mengganti baju tidurnya, entah kenapa, ia merasa sangat malas untuk berganti pakaian.
Menuju ruang makan, ia melihat Jimy yang baru saja keluar dari ruang kerja suaminya. Pria itu seperti baru saja mengambil dokumen dari dalam. Aila mengernyit heran. Pasalnya sejak menjadi bodyguard pribadinya Jimy tidak lagi bekerja di kantor, lalu untuk apa dokumen itu?
"Kakak?" panggil Aila dari belakang.
Jimy terlihat berhenti lalu menoleh, "Ya nona, ada apa?" tanya Jimy.
"untuk apa itu? kakak mau kekantor?" Aila balik bertanya.
"Ah ini," Jimy mengangkat dokumen yang di pegangnya "Tuan muda menyuruh saya untuk mengambil ini, dan mengantarkannya ke kantor," ucap Jimy.
"Kekantor? apa dia sudah pulang?" tanya Aial lagi.
"Sudah.."
"Jadi dia sudah pulang dan langsung bekerja?" tanya Aila heran. Entah kenapa, ia merasa kesal saat mengucapkannya.
Jimy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Itu...saya tidak tahu nona," jawab Jimy bingung.
"Aku ikut kekantor dengan kakak," ucap Aila kesal. Saat ini ia merasa seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk. Ah! biar saja!
"Tapi nona.."
"Tapi apa?!" sahut Aila cepat.
"Tuan...tidak terlalu suka jika anda keluar dari kastil.."
"Aku gak peduli, pokoknya ikut, ya ikut!" jawab Aila keras kepala. Kenapa sih dengan dirinya hari ini?
Jimy kembali menggaruk tengkuknya gugup sekaligus bingung dengan tatapan memaksa nonanya.
"Please..." Aila memohon dengan tatapan mengiba.
Jimy menghela napas sebelum mengiyakan. Entah kenapa ia selalu tidak bisa menolak permintaan gadis kecil tuannya itu.
"Terimakasih," ucap Aila sembari tersenyum senang, kemudian berlalu mendahuluinya.
Melihat tingkah Aila, jimy hanya bisa mengelengkan kepala. Entah keributan apa yang akan nonanya perbuat di kantor nanti.
Melihat Aila melewati ruang makan begitu saja, Oma mengernyit heran.
Mau kemana gadis itu dengan baju tidur?
Wanita paruh baya itu segera bangkit dari kursinya lalu keluar dari ruang makan, tepat saat itu ia melihat Jimy yang
__ADS_1
sedang di belakang Aila.
"Mau kemana dia?" tanya Oma pada Jimy.
"Nona bersikeras untuk ikut kekantor, nyonya..." ucap Jimy menjelaskan.
Oma menarik salah satu sudut bibirnya paham, "Biarkan saja, dia hanya akan tidur disana," sahut Oma santai. Wanita tua itu kemudian kembali melangkah masuk kedalam ruang makan.
Jimy mengernyit, tidak mengerti. Namun, pria itu tidak berniat untuk bertanya. Ia kemudian kembali melangkah menyusul sang nona.
Sampai Di loby kastil, ia bertemu dengan Serkan yang tengah mengobrol dengan Niko. Melihat Niko, entah kenapa moodnya bertambah jelek. Karena lelaki itulah, rumah tangganya sempat hancur. Niko_lah yang membawa Alea pada suaminya. Ya, meskipun Aila tahu, jika Niko tidak ada sangkut pautnya, tapi tetap saja, lelaki itu menjadi salah satu penyebab.
"Mau kemana?" tanya Serkan ketika Aila melewatinya. Pria itu menatap Aneh pada penampilan Aila yang masih memakai gaun tidur.
"ke kantor," jawab Aila singkat. Entahlah, ia sedang malas berbasi-basi saat ini. Sepertinya memang sedang ada yang aneh dengan dirinya.
Serkan mengernyit heran sembari menatap Jimy, namun yang ditatap sepertinya juga tidak paham. Lelaki itu terlihat menggeleng.
"Suamimu tidak akan suka jika kau keluar," ucap Serkan mengingatkan.
"Biarin!" ucap Aila cuek sembari melanjutkan langkah.
Serkan diam tidak lagi bertanya, lelaki itu hanya mengamati punggung Aila menjauh. Sedang Niko terlihat kaget untuk sesaat. Ia pikir Aila sekarang jauh berbeda dengan yang dulu.
"Hei! kau tidak menyapaku?" teriak Niko sembari menyusul Aila. Pria itu terlihat membawa sebuah boneka beruang yang sangat besar.
Aila tidak mengindahkan teriakan Niko, gadis itu terus melangkah menuju mobil yang terparkir di depan kastil.
"Gue tau lo marah Ai... tapi, lo gak pengen denger kabar tentang Meli?" lanjut Niko.
Ucapan Niko membuat Aila mengurungkan niat membuka pintu mobil.
Melihat tipuannya berhasil, Niko tersenyum samar. Nama Meli selalu bisa menjadi senjata ampuh untuk membujuk Aila.
"Ok, kita bicara di dalam saja." ucap Niko sembari membuka pintu mobil dan lansung masuk Begitu aja.
"Keluar! siapa yang ngajakin kakak buat naik?!"
tanya Aila dengan nada kesal.
"Masuk sayang, kita bicarakan di dalam..." sahut Niko merayu.
Aila menghentakkan kakinya dan memutar bola matanya kesal, ia lalu masuk kedalam mobil. Gadis itu duduk tepat disamping Niko. tidak lama setelah itu, Jimy pun masuk kedalam mobil. Aila bisa melihat Pria itu membawa banyak bodyguard bersamanya.
"Apa kita akan melakukan parade?" tanya Niko dengan nada mengejek.
Aila tidak menjawab ucapan Niko, ia lebih fokus pada Jimy yang sedang memasang sabuk pengaman.
"Ayolah kak, ini tidak lucu! aku hanya ingin ke kantor, dan itupun denganmu, apa perlu membawa pengawal sebanyak itu?!" Protes Aila.
Aila mendengus kesal, lalu menyandarkan punggungnya dengan kasar pada sandaran kursi mobil.
Melihat hal itu, Niko hanya terkekeh.
Sudah tiga tahun, namun cara Leon memperlakukan Aila masih saja tetap sama. Dan Aila sendiri meski sekarang sudah sedikit lebih berani, tetap saja masih terlihat seperti anak kecil saat marah. Dari dulu sikap gadis itu memang selalu membuat orang gemas.
Mobil sudah berjalan beberapa menit, namun Aila masih enggan membuka mulut. Gadis itu masih terlihat kesal dan lebih memilih membuang pandangannya keluar jendela mobil.
"Jangan ngambek lagi. Nih aku kasih hadiah," ucap Niko memulai pembicaraan lalu menyerahkan boneka beruangnya yang besar itu. Mungkin ukurannya hampir sebesar Aila.
Aila mencebik sembari membuang muka. "Aku bukan anak kecil!" ucapnya kesal.
"tapi kau memang masih kecil sayang....Tubuhmu, maksudku," sahut Niko sembari terkekeh.
Aila diam tdak menanggapi ucapan Niko. Ia merasa tidak ada satupun dari sahabat suaminya yang waras.
Karena tidak mendapat respon, Niko menarik bonekanya kembali. "Ya udah, kalo gak mau. Bisa ku berikan pada orang lain," ucapnya sembari melirik kearah Aila. Gadis itu menoleh kemudian menatap Niko dengan tajam lalu merebut kembali bonekanya.
Tawa Niko meledak seketika. Sungguh jika setiap hari ia bisa bersama dengna gadis itu, mungkin akan membuatnya awet muda.
Setidaknya, Niko merasa lega sekarang, karena Aila sudah memaafkan dirinya.
Selama tiga tahun ini, ia juga merasa bersalah pada sahabat mantan kekasihnya itu. Tentu saja karena secara tidak langgsung ia sudah tanpa sengaja membawa perpecahan pada pernikahannya.
Selanjutnya, Aila memilih diam dan memejamkan mata, pura-pura tidur untuk menghindari pembicaraan. Bukan tidak ingin mendengar kabar tentang Meli dan keluarganya, namun ia benar-benar sedang tidak mood untuk membicarakan apapun sekarang. Meski enggan untuk mengakui ucapan Lisa memang benar, kenyatannya sekarang, Ia memang hanya ingin menemui suaminya dan tidur didalam pelukannya.
Niko mengerti, Pria itupun tidak lagi mengganggu. Ia memilih mengobrol dengan Jimy. Ia tahu, jika aila sedang tidak ingin diajak bicara.
Tidak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti tepat di depan loby kantor. Tanpa banyak bicara, Aila langsung membuka pintu mobilnya dan melangkah masuk menuju kantor suaminya sembari menyeret boneka beruang yang hampir sama dengan ukuran tubuhnya itu.
Security yang sedang berjaga di depan loby terlihat kaget, Melihat kedatangan belasan bodyguard dan sang nona secara tiba-tiba. Pria itu segera memberi kabar melalui radio kontaknya pada semua petugas keamanan di dalam kantor.
Seketika, staf bagian keamanan menjadi sangat sibuk mendadak, karenanya. Keamanan kantor mereka perketat, tidak lupa dengan mengecek seluruh CCTV untuk memantau sang nona sampai ditujuan dengan aman.
Niko yang melihat betapa sigapnya orang-orang Leon dalam mengamankan istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala. ok, tiga tahun kehilangan Aila mungkin membuatnya banyak belajar, tapi gak gitu juga kali. Lebay deh!
Jimy segera menyusul masuk mengikuti sang nona, begitu juga dengan Niko. Aila tidak menyapa siapapun sepanjang perjalanan menuju ruangan saminya. suasana hatinya benar-benar sedang buruk sekarang.
Keluar dari lift khusus presiden direktur, Aila langsung menuju ruangan suaminya yang tidak jauh dari sana. Namun, saat akan melewati meja sekertaris, ia melihat Erik sedang berbincang dengan salah satu pegawai wanita di depan ruangan suaminya.
Menyadari segerombol orang datang mendekat, Erik menoleh. Untuk sesaat pria itu terkejut melihat kedatangan Aila. Bukan karena datang tanpa kabar, namun lebih kepada penampilan gadis itu. Aila datang kekantor dengan pakaian tidur, tanpa alas kaki dan tunggu! gadis itu juga terlihat sedang menyeret boneka beruang besar ditangannya.
__ADS_1
Seketika pria itu tertawa. Tiga hari ini Leon benar-benar menyiksanya pulang pergi Shanghai-Jepang-Indonesia. Raganya penat luar biasa, tapi sepertinya ia akan terhibur dengan kegilaan Aila hari ini.
"Dimana suamiku?" tanya Aila pada Niko setelah mereka benar-benar dekat.
"Suamimu rapat, sayang. Ada apa?" tanya Erik.
"Dimana ruangannya?" Aila kembali bertanya.
Erik menunjuk sebuah ruangan yang cukup besar tak jauh dari tempatnya berdiri.
Tanpa banyak kata lagi, ia segera melangkah menuju tempat yang di tunjuk olek Erik. Di depan ruangan itu berdiri beberapa staf keamanan kantor. Hari itu Leon memang sedang mengadakan rapat penting tahunan perusahaan. oLeh karenanya, ia tidak mengizinkan siapaun menggangua ketika dirinya sedang rapat.
"Maaf nona, tuan sedang melakukan rapat penting. Silahkan tunggu sebentar lagi," ucap salah satu staf tersebut kepada Aila. Meskipun bahasanya sangat sopan, tetap saja membuat Aila bertambah kesal.
"Minggir!' Perintah Aila.
Pria itu terlihat bingung harus berbuat apa, hingga melihat Erik dan Jimy mendekat dan mengangguk, memberi isyarat agar membukakan pintu.
Namun, Aila lebih dulu mendorong pintu rapat dengan kasar hingga terbuka dengan sangat lebar. Sontak saja, semua orang dalam ruangan itu menoleh kearahnya. Tidak terkecuali dengan Leon, pria itu begitu terkejut melihat kedatangan istrinya yang tiba-tiba.
Peduli apa dengan tatapan orang-orang, Aila masuk kemudian mendekat kearah suaminya.
Beberapa saat, gadis itu hanya diam menatap suaminya yang tengah melihat kearahnya, hingga ia mendekat sembari menyentuh kemeja yang dipakai suaminya.
Leon diam mengamati istrinya, entah apa yang sedang diinginkannya sekarang, hingga menerobos masuk dan menganggu rapatnya. Ia tahu terkadang Aila memang gila, tapi kegilaan itu harus pada tempatnya bukan?
"Ada apa?" tanya Leon berusaha mengontrol emosinya. Ia paling tidak suka jika rapatnya di ganggu, namun melihat raut muka Aila yang nampak pucat dan kelelahan, Leon berpikir jika wanitanya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Apa aku mengganggu?" tanya Aila dengan wajah tidak berdosa.
'Menurutmu?" Leon balik bertanya.
"Tidak," jawab Aila tidak mau menyadari. meskipun sebenarnya ia juga merasa sedang mengganggu. Entahlah, dirinya benar-benar aneh hari ini.
Leon menatap Aila yang sedang memainkan kancing kemejanya itu, lalu menatap Erik dan jimy secara bergantian. Berharap ada sesuatu yang akan mereka jelaskan. Namun, kedua pria itu hanya menggeleng tidak mengerti.
"Kau mengganggu sayang..." ujar Leon kemudian.
Aila segera menghentikan tangannya, gadis itu menunduk.
"Tunggu diluar, ok?" pinta Leon selembut mungkin.
Aila diam dan tetap menunduk.
Bukannya tidak tahu, Leon hapal karakter istrinya, Aila pasti sedang menangis sekarang. Pria itu menghela napas sesaat, kemudian meraih dagu istrinya, benar saja matanya berkaca-kaca. Tanpa banyak bicara lagi, Leon mengangkat tubuh Aila dan membawanya keluar.
"Itu punyaku...." tunjuk Aila pada beruang besarnya.
Leon kembali menghela napas, sebelum akhirnya berbalik dan mengambil boneka beruang istrinya.
Semua orang didalam ruangan itu berusaha menahan untuk tidak tersenyum apalagi tertawa menyaksikan sikap bossnya. Bagaiman bisa atasan mereka yang terkenal dingin dan menakutkan bisa sesabar itu dengan istrinya.
Leon membawa Aila menuju ruangannya, namun ketika akan membuka pintu, Aila menolak untuk masuk.
"Disini saja, tuan.." pinta Aila sembari menunjuk kursi tunggu yang berada di depan ruangannya, disamping meja sekertarisnya.
Leon berhenti, "Disini?" tanyanya heran.
Aila mengangguk, "Disini saja..." ulangnya.
Leon menurunkan Aila sesuai dengan permintaanya. Gadis itu kemudian duduk pada salah satu kursi dekat tanaman hias.
"Tunggu disini dan jangan kemanapun, mengerti?" pesan Leon.
Aila tidak menjawab hanya mengangguk pelan.
Ia kemudian berbalik menuju ruang rapat. Setelah mendapat beberapa langkah Leon kembali menoleh dan melihat istrinya menunduk sembari memainkan bonekanya. Entah kenapa hatinya menjadi terenyuh, ia kembali berbalik mendekati istrinya. Menghirup napas dalam lalu mengambil posisi jongkok tepat di depannya.
"Kenapa, hem?" tanyanya kemudian.
Aila mentap dalam manik mata suaminya. Mata sebiru lautan yang selalu dirindukannya.
"Aku ingin tidur, tuan.." jawabnya dengan nada sendu.
Leon menautkan kedua alis, "Tidur?" tanyanya tidak mengerti.
Aila mengangguk, "Aku ngantuk...sangat ngantuk, tuan.."
Leon menatap lekat pada wajah istrinya, berharap menemukan maksud yang lain. Namun, ia tidak menemukannya selain kejujuran. Wajah mungil istrinya memang nampak pucat dan sayu.
Ia kembali berdiri dan mendesah, bingung menerka maksud mainannya. Ingin tidur tapi malah kekantor? Astaga!
"Setelah rapat selesai, kita pulang, Ok?" bujuknya kemudian.
Aila tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan tanpa melihat suaminya.
Leon mengecup kepala istrinya singkat lalu berbalik.
"Jaga nona kalian! aku tidak ingin mendengar ada kejadian apapun!" titahnya pada Jimy dan semua bodyguardnya, sebelum melangkah menuju ruang rapat.
Bersambung....
__ADS_1
Aku minta maaf gaes kalo upnya lama, soalnya aku lagi nulis untuk tiga judul sekaligus. Jadi sabar ya..
Salam sayang selalu and love u..