Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
96


__ADS_3

Cinta 49 Cm


Part 96


**Ekstra part 2**


Setelah hasratnya sedikit mereda, Leon mengangkat tubuh istrinya keatas ranjang. Namun, saat Aila akan diturunkan, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Leon yang mengerti maksud istrinya, tidak banyak bertanya. Ia membaringkan diri dengan Aila yang masih menempel padanya. Saat ini, Leon merasa sangat kelelahan.


Perkataan Ernest, pria tua yang menolongnya lolos dari kematian, sepertinya memang benar. Luka tembak pada perut dan punggungnya memang belum sepenuhnya membaik. Ya, Ernest adalah seorang dokter bedah yang kebetulan lewat saat ia hampir menemui ajalnya di tengah jalanan sepi.


Hari itu, setelah dirinya bersusah payah keluar dari mansion Steven, ditengah jalanan yang sepi, ia bertemu dengan Ernest. Pria tua itulah yang telah menelamatkan dirinya hingga bisa lolos dari maut. Jika saat itu Ernest tidak lewat didepannya, ia mungkin sudah tiada sekarang.


Melihat suaminya sangat kelelahan, Aila menggeser tubuhnya kesamping. Ia mengamati suaminya yang terpejam. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, namun melihat Leon kelelaahan, Aila mengurungkan niatnya.


Aila meletakkan tangan dan meraba dada suaminya. Saat itulah ia melihat sebuah bekas luka, pada perut sebelah kanan bawah pria itu. Aila mengernyit, sebelum ia memberanikan diri untuk merabanya.


Merasakan sentuhan pada lukanya, Leon membuka mata. PrIa itu segera mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya.


"A__Apa itu?" tanya Aila. Gadis itu tidak pernah melihat luka tersebut sebelumnya.


Leon memiringkan tubuhnya menghadap Aila, sebelah tangannya menarik tubuh mungil istrinya kedalam pelukan.


"Tak apa, hanya luka kecil," ucapnya sembari mengecup puncak kepala istrinya.


Aila tidak percaya, namun ia memilih diam saat itu. Ia membenamkan wajahnya pada dada yang begitu dirindukannya. Ia selalu menyukai Aroma tubuh suaminya ketika pria itu berkeringat. Ucapan syukur tidak henti-hentinya ia ucapkan, karena Tuhan telah mengembalikan suaminya dalam keadaan utuh. Aila menelusupkan sebelah tangannya untuk membelai punggung kekar suaminya.


Kebiasaan yang selalu membuatnya senang. Entah hanya perasaannya atau memang benar, suaminya terlihat lebih kurus. apapun yang dilaluinya selama enam bulan ini, Aila yakin, itu bukanlah sesuatu hal yang baik.


Saat tengah asyik mengusap punggung suaminya, Aila merasakan ada sesuatu yang aneh disana, persis seperti yang ia rasakan sebelumnya diperut suaminya. Sontak Aila bangun dan sikapnya tentu saja membuat Leon terkejut.


Tanpa bertanya Aila melihat pada bagian belakang tubuh suaminya. Seketika ia menutup mulutnya dengan kedua tangan melihat beberapa bekas luka dibagian punggung suaminya. Air matanya mengalir saat itu juga.


"Hei, tenanglah..." Leon menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya, "Semua sudah berlalu.." lanjutnya menenangkan istrinya.


"Anda pasti sangat kesakitan," Aila tidak bisa membayangkan bagaimana Leon bisa melalui semua luka itu seorang diri. Mungkinkah karena hal itu, Suaminya menghilang selama enam bulan ini?


Leon mengusap kepala istrinya dan mencium keningnya lembut, "Tidak lagi, semua baik-baik saja sekarang,"


Aila semakin terisak, "Kenapa anda memilih untuk melaluinya seorang diri?" Aila tidak mengerti kenapa Leon tidak mau berbagi derita dengannya.


Leon tidak menjawab. Pria itu hanya menciumi kepala istrinya.


"Tidak tahukah, jika aku begitu mengkhawatirkanmu? aku...." Aila tergugu sembari mengusap dadanya yang terasa sakit. "Aku sangat takut anda tidak akan kembali..' Aila melepaskan diri dari pelukan suaminya. Wajah sendu itu menatap matanya dalam. "Aku sangat takut untuk melanjutkan hidup tanpamu. Kenapa..."


"Ssstttt!" Leon memotong ucapan istrinya, ia kembali memeluk istrinya erat.


"Kenapa kau tidak mau membagi lukamu.." Aila merasakan sakit pada ulu hatinya. Ia merasa menjadi istri yang buruk saat ini. Istri macam apa yang membiarkan suaminya melewati maut seorang diri.


Leon menarik napas panjang, "Karena inilah, aku tidak pulang, aku tidak suka melihatmu menangis," hal yang paling ingin Leon hindari adalah melihat Oma dan Aila menangis karena dirinya. Hanya melihat bekasnya saja, Aila sudah sesedih itu, bagaimana jika ia melihat keadaannya dulu? ia bahkan sampai tidak sadarkan diri selama tiga hari. Ia sendiri sudah tidak yakin akan hidup saat itu, namun wajah kedua wanita yang sangat dicintainya selalu muncul didepan matanya dan dalam mimpinya. Mungkin saja, semua itu karena doa kedua wanita tersebut untuk dirinya, hingga Tuhan memberinya kesempatan kedua untuk menjalani hidup.


Ia ingat, lebih dari dua bulan dirinya tidak bisa tidur dan hanya bisa berbaring dengan posisi miring saja. Jika Aila mengetahui betapa berat perjuangannya untuk hidup, istrinya itu pasti akan menangisinya setiap hari, dan ia tidak mau itu terjadi. Leon pikir, sudah banyak hal buruk yang terjadi pada hidup istrinya dan ia tidak mau melihat istrinya kembali menderita karenanya.


Mendengar ucapan suaminya, Aila semakin tergugu. Ia memeluk tubuh suaminya erat dan menciumi tubuh serta wajah pria itu. "Jangan lakukan itu lagi, jangan terluka lagi.." ucap Aila disela isaknya.


Leon tidak menjawab, ia meraih dagu istrinya dan mel**at lembut bibir istrinya.


Setelahnya, mereka tertidur dengan saling memeluk tubuh satu dengan yang lain. Seperti takut jika sesuatu kembali memisahkan mereka.


***


Pukul dua dini hari, Aila terbangun. Ia segera melihat kearah suaminya. Setelah memastikan pria itu masih tertidur disampingnya, Aila segera merasa lega. Ia kemudian duduk dan mengamati wajah didepannya. Leon terlihat berkeringat pada pelipisnya.Ia segera mengulurkan tangan dan mengusap keringat tersebut.


Dari awal tertidur, Aila merasakan tubuh suaminya sering terjengkit tiba-tiba, seperti seseorang yang sedang terkejut. Padahal Leon sedang tertidur. Aila merasa iba melihat hal itu, ia tahu jika suaminya telah melewati masa sulit enam bulan ini.


Setelah mencium kening dan membenarkan selimut suaminya, Aila beringsut turun dari ranjang, ia menangkupkan kedua tangan dan berdoa. Aila merasa harus berterimakasih kepada Tuhan karena telah mengembalikan suaminya. Setelah selesai, ia kembali keatas ranjang dan meringkuk disamping suaminya untuk melanjutkan tidur.


Sepanjang sisa malamnya, Aila tidur dengan sangat nyenyak. Itulah malam dimana ia bisa tidur dengan perasaan lega selama enam bulan ini.


Aila mengeliat, saat mentari pagi menerpa wajahnya melalui celah gorden. Ia mengucek matanya dan meregangkan tubuhnya. Saat ia menguap, Aila kembali teringat akan suaminya, dan ia terkejut karena suaminya tidak ada disampingnya.


Aila segera memanggil suaminya, karena tidak ada jawaban, ia pun segera berdir idan mencarinya diseluruh kamar. Namun, pria itu tidak ada dimanapun. Aila segera merasa panik saat itu juga. setelah memakai baju tidurnya, ia segera keluar kamar sembari memanggil suaminya, namun tetap tidak ada jawaban. Pria itu juga tidak ada dimanapun. Seperti kesetanan, Aila menyusuri lorong kastil sembari memanggil-manggil nama suaminya.


Lucas yang melihat hal itu dariruang makan, hanya melihatnya sekilas kemudian melanjutkan makan paginya. Sedang seluruh penghuni kastil tetiba keluar semua karena mendengar teriakan Aila.


NIta_lah orang pertama yang mendapati Aila, gadis itu terlihat sangat kacau. Dan ia hanya bisa menenangkannya. Aila terus menangis dan bercerita jika semalam suaminya sudah kembali. Namun tidak ada seorangpun dari penghuni kastil yang merespon ucapannya. semua orang mengira Aila mungkin bermimpi ataupun sedang berhalusinasi, karena terlalu merindukan suaminya.


Betapa keras usahanya untuk menyakinkan semua orang, tetap saja tidak ada yang merespon ucapannya. Aila merasa sangat frustrasi. Ia tidak mungkin bermimpi ataupun berhalusinasi, mereka bahkan sempat bercinta dan menghabiskan malam bersama. Tanda kismark diseluruh tubuhnya adalah bukti tentang itu. Ia tidak mungkin salah dan bercinta dengan orang lain.


Aila menangis histeris dan terduduk lesu diatas anak tangga antara lobi dan lantai dua. Semua orang yang berusaha menenangkan dirinya seakan tidak ia hiraukan.


Jauh didalam hati, mereka sangat prihatin dan kasihan melihat keadaan Aila. Sejak hari pertama kehilangan Leon, Aila terlihat tegar dan sabar, meskipun semua tahu dalam kesendirian, gadis itu sering menangis pilu. Mungkinkah ini adalah puncak dari derita yang dipendamnya?


Mendengar deru mobil sport mendekat, Aila segera berdiri. Saat itu juga ia menghentikan tangisnya dan dengan cepat melangkah turun dan berlari keluar dari kastil. Hatinya dan matanya tidak pernah salah. Ia melihat Leon turun dari mobil bersama seorang pria tua. Tentang siapa pria itu, Aila tidak terlalu peduli. Ia segera berlari kearah suaminya, sedang semua penghuni kastil terlihat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka sempat mengira jika Aila hanya berhalusinasi. Namun ternyata apa yang dikatakan gadis itu benar adanya.


Aila berlari dengan tersedu kearah suaminya. Gadis itu meloncat naik. Spontan, Leon menangkap tubuh istrinya meski terlihat bingung dengan sikap Aila. Istrinya itu memeluknya dengan sedu-sedan.


"Ada apa?" tanya Leon tidak mengerti.


"Aku kira..." Aila berbicara dengan susah payah disela isaknya.


"Aku kira akan kehilangan anda lagi.." Aila sempat berpikir jika Leon pergi meninggalkan dirinya lagi.


Leon mengusap punggung istrinya agar tenang. "Tenanglah, aku tidak pergi kemanapun," tadi pagi, ia memang sengaja tidak membangunkan istrinya ketika akan menjemput Ernest, Karena Aila tertidur dengan sangat pulas. Leon tidak tega jika harus membangunkannya.


"Harusnya anda membangunkanku.." Aila benar-benar merasa takut kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"Kau sedang tidur sayang," sahut Leon.


Jawaban Leon, nyatanya tidak mampu membuat Aila tenang. Istrinya itu terus menangis, meskipun Leon sudah berusaha menjelaskan jika dirinya tidak akan pergi.


"Diam atau ku turunkan," ancam Leon yang mulai kehabisan akal.


Ancaman Leon ternyata membuahkan hasil, mainannya itu berhenti menangis seketika. Pipinya mengembung karena menahan isak, sedang wajah dan hidungnya memerah membuat mimik mukanya terlihat sangat lucu. Leon tersenyum tipis melihat hal itu.


"Gadis pintar!" ucap Leon sembari menghapus air mata istrinya.


Disamping mereka, Ernes melihat dengan tatapan heran kearah keduanya. Entah apa hubungan sepasang anak manusia itu. Untuk sebuah hubungan suami istri, mereka terlihat sangat aneh, sedang untuk kakak beradik apalagi, tapi jika ayah dan anak, itu jelas tidak mungkin lagi.


"Sekarang dengarkan aku," Leon melanjutkan ucapannya setelah Aila diam. "Tadi aku pergi untuk menjemput orang yang pernah menolongku," Leon berbalik agar Aila bisa melihat Ernest. "Namanya Ernest," lanjutnya memberitahu nama pria tua yang sedari tadi berdiri disampingnya.

__ADS_1


Mendengar penjelasan suaminya, Aila segera menghapus air matanya dan meronta meminta untuk diturunkan. Padahal, sebelumnya gadis itu rela berhenti menangis agar tidak diturunkan. Bagaimana juga, ia masih punya urat malu. Sebenarnya, Leon merasa enggan untuk menurunkan mainannya, tapi pria itu akhirnya menyerah juga.


"Ini istriku," ucap Leon memperkenalkan Aila pada Ernest.


"Hallo, senang bertemu dengan anda kakek," sapa Aila ramah. Gadis itu membungkuk dengan sopan. Entah bagaiman caranya, Aila bisa mengubah suasana hatinya dengan begitu cepat.


"Namamu pasti Aila, Benar?" tanya Ernest pada Aila.


Mendengar Ernest mengetahui namanya, Aila merasa takjub. Gadis polos itu bahkan membulatkan mata dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Waw! dia tahu namaku," soraknya gembira.


Sedang Leon malah merasa heran karena Ernest mengetahui nama istrinya. Ia menatap Ernest dengan penuh tanya. Seingatnya, ia tidak pernah memberitahu nama- nama keluarganya pada Ernest.


"Darimana kau tahu namanya?" tanya Leon heran.


"Kau menyebutnya ribuan kali ketika tidak sadarkan diri," jawab Ernest terdengar mengejek. Ya, Ernest sering mendengar nama Aila disebut saat Leon mengigau. Ia selalu penasaran akan siapa wanita tersebut, namun Leon yang seperti menutupi identitas dirinya, membuat ernest paham, jika Leon menginginkan privasi.


Mendengar ucapan Ernest, Aila tersenyum sembari melirik suaminya, sedang Leon membuang muka. dalam hati, pria itu mengutuk ucapan Ernest yang menjatuhkan harga dirinya. Bukankah seharusnya Ernest tidak memberitahu Aila?


"Oh, manisnya.." Aila mengusap lengan suaminya yang bersikap sok cuek.


"Harusnya kau tidak mengatakan itu, pak tua," Leon berbisik tajam pada Ernest. Namun pria itu tidak merasa terintimidasi.


"Selamat datang, di rumah kami kakek," Aila kembali menyapa Ernest. "Mari kita masuk," Aila menggandeng lengan Ernest. Meskipun masih cukup kuat berjalan sendiri, namun kebiasaan Aila memperlakukan orang tua selalu seperti itu.


Awalnya Ernest merasa aneh, namun karena Aila terus berceloteh dengan riang, pria itu akhirnya merasa nyaman dan membiarkan. Ernest pikir, Aila adalah gadis penyayang yang ramah.


Semakin mendekati kastil, Ernest terlihat takjub. Sekarang, Ia mengerti, kenapa sikap Leon sangat arogan. Pria itu memang benar-benar seorang milyoner yang kekayaannya mungkin jauh dari apa yang ia perkirakan.


Aila dan Ernest terlihat saling mengobrol menuju kastil meninggalkan Leon yang kesal sendiri. Bagaiman bisa Aila mengubah perasaan dan emosinya hanya dalam hitungan detik? bahkan sekarang istri mungilnya itu malah melupakan dirinya.


********


Suasana loby kastil mendadak begitu heboh karena kedatangan Leon. Pria itu mendapat tatapan membunuh dari semua sahabatnya. Erik bahkan langsung melanyangkan tinjunya kearah perut Leon, dan sukses membuat pria itu mengaduh. Bagaimanapun, luka tembak pada perutnya belum sembuh sempurna.


"Hei! aku mendapat satu tembakan disini," Tunjuk Leon pada bagian perutnya, namun Erik tidak peduli.


"Tanya saja padanya jika tidak percaya," Leon menunjuk Ernest yang masih berbicara dengan Aila.


"Ya, dia hampir mati dengna empat tembakan," sahut Ernest.


Ucapan Ernest sontak membuat semua orang membulatkan mulutnya tidak percaya. Tidak percaya karena Leon selamat dari empat tembakan sekaligus.


"Apa itu benar?" tanya Alex pada Leon. Sahabatnya itu hanya


mengangguk dengan bangga.


"Ya, dia seorang dokter," Leon memberi tahu Alex jika Ernest juga seorang dokter. "Ya, meskipun sudah sedikit pikun, tapi dia hebat," lanjutnya yang langsung mendapat pukullan dari tongkat Ernest. "Selain pikun, dia juga galak!"


Semua orang tertawa mendengar ucapan Leon.


"Bocah kurang ajar, seharusnya kubiarkan saja kau mati," runtuk Ernest pada Leon.


Semua orang berpikir jika sikap Oma dan Ernest memiliki kemiripan.


Saat suasana sedang gaduh, Lucas dan Oma mucul. Dua orang itu tidak terlihat terkejut melihat kedatangan Leon.


"Oma sudah tahu jika suamiku kembali?" tanya Aila yang melihat wanita tua itu tidak terkejut sama sekali.


"Well, aku sudah tahu sejak dua bulan lalu jika Leon masih Hidup, " ucap Oma santai.


Semua orang terlihat terkejut dan menatap Oma.


"Oma tahu keberadaan suamiku dan tidak memberitahuku?" tanya Aila tidak percaya.


"Mau bagaimana lagi? dia memintaku merahasiakannya," jawab Oma melirik kearah Lucas. Sedang Lucas terlihat santai menerima pandangan menusuk semua orang.


"Jadi kau juga sudah tahu?" tanya Serkan pada Lucas.


'Ya begitulah, tapi dia melarangku memberitahu kalian,' jawab Lucas Cuek. Lucas memang menemukan Leon dua bulan yang lalu, namun keadaan pria itu masih belum begitu membaik, sehingga Leon melarang Lucas untuk memberitahu semua orang. Kecuali Oma, wanita tua itu sudah lebih dulu tahu gelagat Lucas sebelum bertanya, akhirnya dengan terpaksa Lucas memberitahunya.


"Astaga!" desis Erik. Akhirnya Lucas menjadu bulan-bulanan semua sahabatnya, tanpa terkecuali Davin. padahal pria itu biasanya tidak tertarik dengan hal apapun. Sedang Leon terlihat cuek dengan apa yang terjadi pada Lucas, padahal dialah penyebabnya.


Semua orang merasa lega pada akhirnya, hanya Aila yang sedari tadi menatap tajam pada suaminya. Leon pura-pura tidak tahu, namun ia paham jika istrinya marah. Ya, bisa-bisanya Lucas dan Oma tahu, sedang dirinya tidak.


Mereka akhirnya bercengkrama, melepas kerinduan diruang makan. Leon bukan orang yang banyak bicara, sehingga Ernest_lah yang lebih banyak menjawab pertanyaan semua orang.


Sedang Aila terlihat lebih banyak diam. Ia merasa sangat kesal karena Leon tidak memberitahunya. Selesai makan, gadis itu langsung menuju kamar.


Leon yang melihat istrinya meninggalkan ruang makan begitu saja, hanya meliriknya.


****


Mengingat dirinya belum mandi, Aila segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sengaja berlama-lama disana karena masih kesal.


Setelah dirasa cukup, Ia segera menuju walk in closet. Melihat blues berwarna putih berbahan lembut yang belum pernah ia pakai, sejenak Aila jadi menemukan sebuah ide. Ia meraih blues tersebut kemudian memakainya.


Dipadukan dengan rok span biru dongker selutut yang melekat pas ditubuhnya. Aila terlihat segar. Gadis itu bahkan merias dirinya dan menggelung rambutnya keatas. Kismark di sekitar Lehernya terlihat, meski tidak begitu jelas, namun Aila tidak peduli. Menggenakan high heels yang senada dengan warna roknya, Aila siap memberontak.


Dengan langkah anggun, ia keluar dari kamar. Menuju ruang keluarga diamana semua orang sedang berkumpul.


Suasana menjadi hening seketika, melihat Aila datang dengan tampilan berbeda. tidak terkecuali Leon, pria itu mengusap membulatkan mata sebelum akhirnya mengusap kasar wajahnya. Ia mengerti, jika istrinya sedang memberontak sekarang.


"Astaga, kau cantik sayang," puji Erik.


"Terimakasih, aku siap bekerja sekarang," sahut Aila.


"Bekerja?" tanya Oma tidak mengerti. Ia pikir, Aila tidak pernah punya keinginan untuk bekerja.


"Ya, Mereka menyuruhku untuk membantu pekerjaan dikantor kemaren. Aku pikir tidak ada salahnya bekerja, lagi pula tidak ada yang bisa kulakukan dirumah," jawab Aila santai.


Leon melirik tajam kearah ketiga sahabatnya yang seperti pura-pura lupa.


"Kau tidak perlu bekerja sayang," ucap Leon angkat bicara.


"Tidak tuan, aku merasa senang melakukan ini kok," sahut Aila keras kepala.


"Jika Leon tidak mengizinkan bekerja dikantornya, bagaimana jika kau bekerja saja denganku, kau bisa jadi sekretarisku," tawar Erik yang langsung mendapat toyoran dari Lucas.


Leon berdehem, kemudian bangkit dari kursinya dengan santai ia mendekat kearah istrinya. "Benar kau ingin bekerja?" tanya Leon memastikan.

__ADS_1


Aila mengangguk yakin.


Leon mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ok, jika itu maumu. Sekarang ikut aku keruang kerja dan bawakan dokumen serta bacakan agendaku untuk hari ini."


Setelah berucap begitu, Leon keluar menuju ruang kerjanya diikuti Aila.


"Kalian mau taruhan siapa yang menang?" tanya Erik.


Tidak ada yang menjawab, meskipun sebenarnya didalam benak mereka masing-masing juga penasaran.


"Aku tidak peduli, yang aku ingin mereka cepat memberiku cucu," sahut Oma.


*****


Aila mengikuti suaminya masuk keruang kerja. Pria itu bersandar pada meja lalu menatap istrinya lekat. Meskipun gugup, Aila berusaha menetralkan perasaannya.


"Saya harus mulai dari mana tuan?" tanya Aila berusaha mengusir ketegangan.


"Kemarilah," perintah Leon sembari menggerakkan telunjuknya.


Aila menurut. Ia mendekat kearah suaminya.


Aila sengaja menjaga jarak untuk mengantisipasi sebuah serangan, namun apalah dirinya dibandingkan sang singa.


Benar saja, dengan geraman rendah, Leon menarik tubuh istrinya mendekat. Sekarang Aila terkurung diantara dua kaki suaminya.


"Kita mulai dari sini," tunjuk Leon pada dada atas dan leher istrinya. Aila mengeliat untuk melepaskan diri, namun tentu saja tidak semudah itu.


"Apa kau tahu? baju putih tranparan yang kau pakai membuat pikiran lelaki melayang tak tentu arah?" Leon menunjuk blues yang dipakai istrinya. "Putihnya buah dadamu bahkan hampir terlihat," lanjutnya.


Aila segera melihat pada baju yang dkenakannya. "Benarkah? aku lihat sekretaris dan kariyawan wanita yang bekerja dikantor anda memakai pakaian seperti ini," sanggah Aila. Ia merasa Leon terlalu berlebihan. Pakaian yang dkenakannya masih sangat sopan.


Leon membuang senyumnya, "Jadi, kau juga ingin memamerkan tubuhmu seperti mereka?" tanya Leon dengan nada menyindir.


"Itu..." Aila tidak bisa kata-kata. Ketika akan kembali berucap, Leon sudah lebih dulu mendahuluinya.


"Kau hanya perlu bekerja di atas ranjang dan mendesah," potongnya. Kemudian dengan cepat ia meraih dagu istrinya dan menyambar bibirnya. Leon menyambar dan me**mat bibirnya lembut.


Aila melepas ciuman suaminya, ia masih merasa kesal untuk bercinta sekarang.


"Ingat tuan ini dimana," ucap Aila mengingatkan.


Leon Tidak peduli dengan ucapan istrinya, ia kembali meraih pinggang serta tenguk istrinya dan kembali menyergap bibir merah berpoles lipstik yang menggoda itu.


Aila kembali mengeliat namun, kedua tangan Leon dengan cepat membuka paksa blues yang dikenakan Aila. Bunyi kancing baju yang terlepas di lantai terdengar nyaring dan segera disusul oleh blues yang dipakainya. Kini Aila hanya tinggal memakai bra saja, tapi itupun tidak lama. Karena setelah itu, Leon sudah menguasai kedua buah dadanya. Pria itu mengusap, meremas dan menjilat pada puncaknya, membuat Aila tidak tahan untuk tidak membuka mulutnya dan mendesah.


"Jangan tuan, nanti ada yang melihat..."desah Aila.


"Biarkan saja, siapa suruh kau menggodaku," sahut Leon dengan suara serak. Ia kemudian sedikit membungkuk dan mengakat rok yang dikenakan istrinya keatas lalu secara tidak sabaran merobek celana dalam yang dipakai Aila.


Dirinya kini hanya mengenakan rok yang tersingkap sedang suaminya masih berpakaian lengkap.


Aila kembali mendesah, saat tangan kekar itu meraba kewanitaan miliknya dan mempermainkannya. Ia menggelinjang merasakan gelombang hasrat yang semakin naik.


Desahan dan jeritan kecil istrinya membuat Leon puas. Dengan lincah, satu tangannya bermain dikewanitaan istrinya, sedang mulutnya mengisap dan ******* puncak dada istrinya yang memang sudah menegang.


Merasakan gairahnya yang semakin naik. Leon mendorong istrnya ke tembok, mengangkat tubuh wanita itu dan meletakkan kedua kakinya dipinggul.


"Kau basah, sayang," Leon merasakan cairan disekitar perut bagian bawahnya saat tubuh istrinya menempel. Dengan bertelekan dinding mereka menyatu.


Deru napas beserta desahan terdengar nyaring diruangan yang sunyi. Mereka saling *******, membelai kehangatan dengan liar dan panas.


"Kau sempit dan hangat," racau Leon sembari terus memompa miliknya.


Aila merasakan ledakan hebat pada tubuhnya seiring hujaman suaminya yang lambat tapi kuat. Ia meremas rambut dan menancapkan kuku-kukunya di punggung Leon. Aila merasa dicabik-cabik oleh gairah.


Tidak puas dengan itu, Leon menurunkan tubuh istrinya, membalik tubuh wanita itu dan kembali memasukinya dari belakang. Posisi yang belum Pernah mereka coba sebelumnya. Dengan sedikit gerakan kasar, ia menarik pinggang istrinya, sedang satu tanganya menahan punggung Aila agar tetap membungkuk.


Aila menggigit bibirnya, merasakan posisi tersebut sedikit tidak nyaman. Meskipun tidak sakit namun dirinya tidak merasa tidak nyaman. Untung saja Leon segera berhenti dan kembali mengangkatnya keatas meja dan melanjutkan cumbuannya disana


Leon memposisikan dirinya ditengah dan memaksa membuka paha istrinya. Ia menciumi paha bagian dalam istrinya. menjilat bagian dalamnya, hingga ia bisa melihat wajah istrinya memerah karena gairah, dan itu membuatnya semakin terlihat seksi.


Dengan satu hujaman kuat, mereka kembali menyatu. Gerakan mereka membuat peralatan kantor berantakan dan terjatuh diamana-mana.


Bertelekan dengan kedua lengannya di meja, Aila merasakan lembut lidah Leon di puncak dadanya. Ia mengerang mendesah dan medamba. Sedang kewanitaannya terasa berkedut tiada henti.


Tak mampu menahan diri dengan hasratnya, Leon bergerak seolah-olah pusat kehidupannya ada didalam kewanitaan Aila.


Panas, liar dan penuh gairah. Keduanya bercinta seperti orang kesurupan.


Dalam satu erangan puas, Leon terkulai diatas tubuh istrinya.


Beberapa saat, setelah hasratnya mereda, ia bangkit dan membimbing bahu istrinya yang masih bergetar. Penampilan istrinya terlihat sangat kacau sekarang. Leon bisa membayangkan betapa liar dirinya tadi.


Matanya melihat kearah sekitar yang sudah seperti kapal pecah. Sedang blues dan pakaian dalam istrinya sudah berupa serpihan di lantai. Dengan napas yang masih tersengal dan wajah merah padam ia mendekatkan wajahnya kearah istrinya.


"Ini yang akan aku lakukan padamu setiap menitnya, jika kau masih memaksa untuk bekerja dikantor," Ucapan Leon terdengar seperti sebuah ancaman. "Masih ingin bekerja dikantor?" tanya Leon.


Dengan tubuh yang masih bergetar dan pandangan yang sayu, Aila menggeleng cepat. Ia bergidik ngeri membayangkan hal itu. Sekarang saja tubuhnya sudah terasa remuk redam. Bagaimana jika ia harus melayani suaminya setiap saat dikantor? Oh, astaga!


"Bagus, kau memang harus takut akan hal itu," Seringai Leon puas. Setelah Menaikan resetling celananya, ia menggendong tubuh polos istrinya keluar dan menuju kamar.


Leon menurunkan Aila di depan pintu walk in closet. "Gantilah, aku tunggu," perintah Leon.


Tanpa banyak bicara, Aila mengambil blues yang lain dan memakainya. Ia merapikan diri dengan tatapan suaminya yang masih bersandar di bingkai pintu.


"Kemarilah," perintah Leon setelah Aila selesai merapikan diri.


Aila menurut, ia mendekat. Leon segera menariknya masuk dalam pelukan. Merasakan tubuh istrinya bergetar, ia segera merasa bersalah, karena telah bermain dengan kasar tadi.


"Lain kali, jika ingin memberontak, ingatlah saat dia memasukimu dan membuatmu menjerit," sindir Leon.


Aila tidak menjawab, namun jelas ia merasa malu akan hal itu. Suaminya memang selalu membuatnya tidak berdaya.


****


Ini mungkin akan menjadi ekstra part yang terakhir ya gaess.


Maapin eike jika otak eike terlalu mesum, hahahah.

__ADS_1


__ADS_2