Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 89


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 89


**Kecewa**


Pesta pernikahan yang meriah dan bahagia dalam keluarga besar Thomson telah usai. halaman dan taman depan kembali tertata seperti sedia kala. Bunga-bunga berdekorasi peach telah tiada. Begitupun dengan kedua pasang mempelai, mereka kini telah berbahagia menjalani bulan madu mereka keliling Eropa. Ya, itulah hadiah utama dari Leon untuk kedua sahabatnya.


Meskipun setelahnya, Erik dan Serkan yang harus menjadi sapi perah menggantikan Davin. Bagaimanapun pekerjaan di kantor sangat banyak dan menumpuk untuk segera diselesaikan.


Beberapa masalah kerjasama dan menumpuknya pekerjaan di kantor, membuat Leon sedikit mengabaikan masalahnya dengan Steven. Lagi pula pria itu memang tidak terlihat melakukan apapun. Kerjasama mereka masih berjalan dengan baik hingga kini.


"Bagaimana perkembangan kasus bocah itu?" tanya Lucas pada Leon saat mereka usai makan malam.


"Sejauh ini belum terlihat ada pergerakan," jawab Leon singkat. Ia tidak terlalu fokus dengan pembahasan tentang Steven kali ini. Pekerjaan dua perusahaannya membuatnya sangat sibuk. Ia bahkan harus makan sembari mengamati garfik saham pada layar Laptopnya.


"Meski brgitu, kau tidak seharusnya kehilangan fokus. Air yang tenang bisa jadi menghanyutkan," Lucas mengingatkan Leon untuk tetap berhati-hati terkait masalahnya dengan Steven.


"Aku tahu, lagi pula Serkan terus memantaunya," sahut Leon.


"Aku kira Serkan juga terlihat sibuk belakangan ini," Lucas tidak yakin jika Serk menaruh konsentrasi penuh dengan masalah Steven.


Leon tidak menampik ucapan Lucas, nyatanya harga minyak yang akhir-akhir ini menurun, membuat Serkan juga sibuk mengatasi nilai saham mereka yang anjlok. Meski sesekali ia tetap menyempatkan diri untuk memantau Steven saat dirinya ada waktu.


Bagaimanapun tidak adanya Davin di kantor membuat Leon kelimpungan menyelesaikan semua permasalahan perusahaannya seorang diri. Mekipun Erik bisa menjadi pengganti sementara, namun tidak banyak yang bisa diharapkan dari pria itu. Erik sendiri juga sibuk mengurusi perusahaan miliknya yang berada di Jepang.


"Bagaimana istriku belakangan ini?" Leon merasa terlalu sibuk hingga tidak terlau memperhatikan keadaan istrinya. Ia pergi pagi saat istrinya masih tertidur dan pulang saat istrinya juga sudah tertidur. Hanya sesekali mereka mengobrol, itupun saat Aila terbangun karena haus ataupun kekamar kecil. Semua pekerjaan kantor begitu menyita waktunya.


"Dia sudah lebih baik," Lucas melihat perkembangan kesehatan gadis itu semakin membaik. Aila sudah tidak lagi menggenakan kursi rodanya. Yah meskipun ia hanya diperbolehkan berjalan-jalan disekitar kastil saja.


Tapi, entahlah, Lucas merasa gadis itu terlalu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.


"Thank's karena kau, akau lebih tenang saat bekerja," keberadaan Lucas di kastil memang sangat membantu. setidaknya Leon tidak lagi merasa khawatir saat bekerja. Bagaimanapun kastil tetap harus dalam pengawasan.


Lucas tidak menjawab. Ada kekhawatiran lain yang sedang ia rasakan. "Aku pikir, Steven sedang menyusun rencana saat ini," Lucas menduga ada yang sedang direncanakan oleh Steven saat ini. Meskipun tidak terlihat pria itu melakukan pergerakan, namun Lucas yakin, pria itu hanya sedang menunggu kelengahan Leon untuk menyerang.


Leon melepas kaca matanya. Berlama-lama mengenakan benda itu terasa tidak nyaman pada pangkal hidungnya. Atau mungkin saja matanya memang sudah terlalu lelah karena seharian berkutat dengan layar laptop tersebut.


"Apapun yang dia rencanakan, aku siap melayaninya," sahut Leon yakin. Semua data berkaitan dengan kasus Jack Hamilton sudah ia kumpulkan lengkap dengan bukti-buktinya. Leon merasa siap melayani Steven melewati jalur apapun. Jalur kekerasan maupun jalur hukum.


"Jangan meremehkannya. Meskipun dia pendatang baru, tapi dia seorang pria yang ambisius. Ia bisa melakukan hal gila, lebih dari yang bisa kau bayangkan," Lucas beberapa kali berhadapan dengan pria ambisius seperti Steven. Bagi mereka tercapainya tujuan adalah sebuah impian terbesar. Mereka akan melakukan apapun untuk mencapai tujuan itu.


"Aku rasa, dia tidak lagi mengincar istrimu, aku rasa dia mengincar dirimu," lanjutnya. Lucas merasa yakin akan hal itu. Pandangan Steven pada Aila adalah sebuah obsesi yang kuat. Pria itu tidak akan mungkin menyakiti Aila.


Leon tertawa, "Aku rasa itu lebih baik. Tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri," sahut Leon. Jika yang menjadi incaran Steven adalah dirinya, ia malah senang. setidaknya istrinya aman.


"Jangan terlalu percaya diri, seorang singa terkadang harus menyerah pada kawanan srigala," Lucas kembali memperingatkan Leon karena menyepelekan Steven.


Leon hanya terkekeh mendengar ucapan Lucas. pria itu mengemasi alat kerja dan laptopnya dari meja makan dan bersiap untuk beristirahat.


"Tidurlah, ini sudah larut malam," ucap Leon pada Lucas. Ia kemudian pergi meninggalkan ruang makan.


Lucas mendesah. Entah kenapa ia merasa jika Steven berbahaya. Dan Leon terlalu menyepelekannya.


****


Leon menuju kamarnya untuk beristirahat. Waktu memang sudah sangat larut, jarum jam menunjukkan hampir tengah malam. Saat ia pulang dari kantor tadi memang sudah pukul sepuluh. Istrinya pun sudah berlayar kedalam lautan mimpinya.


Leon masuk kedalam dengan hati-hati. Ia tidak ingin Aila terbangun karenanya.


Setelah berganti dengan pakaian yang lebih nyaman, ia naik kepembaringan. Baru saja akan menarik selimut, ia melihat Aila seperti merintih.

__ADS_1


Leon mendekat untuk memastikan apa yang terjadi. Posisi istrinya yang tetidur dengan posisi miring membelakangi dirinya, membuat Leon harus mendekat untuk melihat wajah Aila. Keningnya penuh dengan keringat, napasnya juga terdengar sangat berat.


Leon merasa heran. Cuaca sangat sejuk saat ini. Di luar kastil bahkan sedang hujan. Tapi kenapa Aila berkeringat?


Merasa ada yang tidak beres, Leon menarik selimut yang menutupi tubuh Aila, tapi tangan gadis itu segera menahannya.


Leon terkejut. Ternyata Aila tidak tidur.


"Tuan sudah pulang?" Aila bertanya dengan suara serak dan berat. Ia berbalik dan menghadap suaminya.


"Kau belum tidur?" Leon balik bertanya. Entah kenapa ada yang aneh dengan raut wajah istrinya.


"Aku hanya terbangun," Aila tersenyum lalu mengusap Lengan suaminya. Kebiasaan jika ia sedang menenangkan Leon.


Leon diam dan mengamati wajah istrinya lekat. ia tidak yakin, tapi sepertinya Aila tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kau yakin Baik-baik saja?" Leon kembali bertanya untuk memastikan.


Aila mengangguk, "Aku baik tuan," ia kembali mengusap lengan suaminya. "Tidurlah, anda pasti sangat lelah," Aila menata bantal disampinnya dan menyuruh Leon berbaring.


Leon menurut. Ia membaringkan dirinya. Matanya memang terasa berat karena kantuk. Tubuhnya juga sudah sangat kelelahan.


Setelah mencium kening istrinya, Leon memejamkan mata. Untuk sesaat ia masih bisa merasakan jemari Aila mengusap dadanya. Hanya saja tangan itu terasa begitu dingin. Leon menggemgam tangan Aila agar berhenti mengusapnya. Ia berpikir istri mungilnya itu kedinginan. Dipeluknya tubuh Aila erat dan bersiap untuk terlelap.


Setelah beberapa saat, Leon memang benar-benar tertidur. Aila merasa lega sekaligus kasihan pada suaminya. Leon sudah sangat kelelahan dengan tugas-tugasnya dikantor dan masih harus mengkhawatirkan dirinya. Leon bahkan sering lupa untuk menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri.


Aila merasa menjadi istri yang tidak berguna. Pekerjaannya hanya membuat orang lain khawatir.


Gadis itu beringsut dan mencium suaminya. Matanya berembun saat melakukan itu. "Maafkan aku, karena selalu menjadi beban bagimu," Aila berbisik serak.


Jika Tuhan tidak bosan untuk mendengar setiap doa yang dia ucapkan, maka malam inipun ia akan memanjatkan doa yang sama. Doa-doa seperti malam-malam sebelumnya. Aila hanya ingin suaminya bahagia.


Ia segera melepaskan diri dari belitan tangan dan kaki suaminya. Aila harus segera kekamar mandi jika tidak ingin ranjangnya basah oleh darah.


Gadis itu segera berganti pakaian dan mencucinya sendiri. Setelahnya, Aila kembali naik keatas ranjang dan meringkuk disana. kepalanya terasa pusing, sedang perutnya terasa nyeri.


Sebisa mungkin Aila memejamkan mata agar kembali tertidur. ia tidak ingin terlihat lemas pagi harinya.


******


Pukul 07.00, Leon sudah terlihat rapi. Pria itu juga sudah menyelesaikan sarapannya. Ia akan segera pergi kekantor. Seperti biasanya, ia kembali melihat istrinya sebelum berangkat. Leon sengaja tidak membangunkan Aila. ia tahu jika istrinya membutuhkan lebih bnyak waktu untuk beristirahat.


Bukannya tidak tahu, ia sering mendengar Aila terbangun dan menuju kamar kecil. Saat ia menanyakan hal itu, Aila hanya bilang itu wajar, wanita hamil sering buang air kecil. Meskipun terdengar aneh menurutnya, namun Leon mengerti.


Setelah mencium kening Aila, leon segera keluar dari kamar. Ya, mereka akan bertemu lagi nanti malam, itupun jika istrinya belum tertidur. Karena hari inipun, sepertinya ia akan pulang larut malam lagi.


Mendengar suara decit pintu tertutup, Aila segera membuka mata. Ia merasa lega jika suaminya sudah pergi.


Sebenarnya ia sudah bangun sejak tadi, hanya saja Aila memilih untuk pura-pura tidur, karena ia tidak mau terlihat lemas atau yang lainnya. Keadaannya hanya akan menambah pikiran untuk suaminya.


Aila segera bergegas pergi kekamar mandi. Ia merasa mual dan pusing luar biasa. Sejak tadi ia menahan semua itu dan menunggu suaminya pergi ke kantor. Bersamaan dengan itu, ia mengalami pendarahan lagi. Selalu seperti itu.


Aila terus-terusan muntah di wastafel. Hingga tenaganya seperti terkuras habis. Aila terduduk dan merosot kelantai. Ia benar-benar merasa sangat lemas sekarang.


Saat hendak meraih handuk, Aila terjengkit kaget. Ia melihat Suaminya sudah berdiri disebelah dinding pembatas kaca dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Seperti terkejut, marah, atau mungkin keduanya. Entahlah..


"Tu_an..." Aila lebih terlihat seperti seorang yang tertangkap basah menyembunyikan sebuah kebohongan. Alih-alih merasa mual dan pusing, dirinya malah terlihat gugup. Dan sikapnya itu justru membuat Leon semakin merasa curiga.


Pria itu tidak menjawab. Terlihat tangannya meraih handuk yang akan diambil oleh Aila dan memberikannya pada gadis itu. "Apa selalu seperti ini setiap pagi?" tanyanya terdengar sangat dingin.


"Tu__ an, i_tu...biasa terjadi.." Aila terlihat sangat gugup.

__ADS_1


"JAWAB!" ucap Leon setengah membentak. Ia tidak butuh alasan tapi sebuah jawaban.


Aila tersentak mendengar nada tinggi suaminya. Ia menunduk sembari menggenggam handuk ditanggannya dengan gemetar.


Ia sangat takut saat suaminya marah, namun ia juga tidak ingin Leon khawatir.


"Jadi kau selalu seperti ini?" kediaman Aila membuat Leon yakin jika memang ada hal yang sedang Aila sembunyikan.


Aila masih bungkam. Gadis itu takut sekaligus gugup, tidak tahu harus bagaimana.


Leon mengusap kasar wajahnya. Ia merasa sangat frustrasi. "Kau...aku pikir kita adalah suami istri.." Leon menjeda ucapannya. Ia benar-benar merasa kecewa dengan sikap Aila. "Aku kecewa padamu.."


Aila menggeleng lalu memeluk kaki suaminya. Ia menangis saat itu juga. "Maafkan aku, aku hanya tidak ingin kau khawatir..." Aila benar-benar tidak menyangka jika apa yang ia lakukan akan membuat suaminya marah dan kecewa. Padahal maksudnya, hanya tidak ingin membuat semua orang khawatir.


Leon menatap dingin pada Aila yang memeluk kakinya. "Khawatir? kau bahkan tidak paham maksud kata-kata itu," ia pikir Aila mengerti jika dirinya tidak bisa kehilangan.


"Maafkan aku.....maaf.." Aila hanya bisa meminta maaf dan menangis. Jika boleh jujur, inilah hal yang sebenarnya ingin ia hindari. Sikap Leon padanya, khawatirnya yang berlebih membuatnya tidak bisa bernapas karena sesak. Bagaimana jika suatu saat nanti takdir mengharuskan mereka berpisah? Mungkin bukan karena perceraian , tapi bagaimana jika dengan kematian?


"Maaf..." Berkali-kali Aila meminta maaf. Namun, sepertinya Leon benar-benar sangat kecewa kali ini. Semua masalah kantor dan pekerjaan sudah membuatnya pusing, dan ia hanya ingin Aila bisa menjaga dirinya sendiri. Hanya hal sekecil itu kenapa tidak bisa?


Aila berhenti menangis, Ia juga melepas pegangan pada kaki suaminya. Bukan karena sengaja, namun gadis itu sepertinya kehilangan kesadaran. Karena setelah itu, tubuhnya tersungkur tepat dikaki suaminya. Aila pingsan saat itu juga.


Leon segera kaget menyadari Aila tidak sadarkan diri. Ia mengumpat kesal sekaligus panik. Langsung saja ia berjongkok dan mengangkat tubuh Aila, namun saat menulusupkan tangan pada bagian bawah tubuh gadis itu, tangannya terasa basah dan hangat.


Detik itu juga perasaannya langsung tidak enak. Bayangan saat Aila pendarahan kembali berputar dalam ingatan. Dan kenyataan itu, kini kembali terulang. Telapak tangan Leon penuh dengan darah, tidak hanya itu, darah juga mengalir pada kedua paha istrinya. Leon tidak bisa untuk tidak panik. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi Lucas.


Tanpa menunggu pria itu datang, Leon sudah lebih dulu membawa Aila keluar. Saking bingungnya ia bahkan tidak tahu harus membawanya kemana.


Lucas yang sedang menikamati sarapan pagi langsung berlari keluar diikuti semua orang. Saat itulah mereka bertemu di lorong kamar.


"Ada apa?" lucas terlihat sangat kaget melihat kondisi Aila yang penuh darah. Ia berpikir gadis itu mungkin saja tertembak.


"Nanti saja aku ceritakan. Sekarang akau harusmembawanya kemana?" Leon bingung harus membawa istrinya kemana. Keruang perawatan, juga percuma karena Alex dan Miranda sedang tidak ada. Kerumah sakit, ia merasa terlalu lama.


"Jemput saja Roger," Oma memberi saran. Roger adalah temannya yang berprofesi sebagai dokter, meskipun bukan dokter kandungan. Mereka memang sudah tua, namun bukan berarati mereka kehilangan kemapuannya.


Oma segera berlari kearah telepon dan menghubungi Roger. Wanita tua itu terlihat bercakap-cakap sebentar, sebelum mengatakan pada Lucas dimana alamatnya.


"Tenanglah, aku sudah menyuruhnya untuk membawa Niken istrinya," untung saja, Niken adalah seorang dokter kandungan.


Leon pasrah. Ia tidak menolak maupun membantah. Tanpa banyak bicara lagi, ia membawa istrinya menuju ruang perawatan. Sedang Lucas bergegas pergi menuju kediaman Roger.


Sesampainya di ruang perawatan, Leon membaringkan tubuh Aila di ranjang. Wajahnya terlihat sangat pucat. Tangannya terasa dingin. Gaun tidur putih yang dipakainya berubah warna semerah darah.


Dengan gemetar Leon kembali meraih tubuh didepannya dan mendekapnya erat. "Sadarlah, aku mohon..." Leon berbisik. Leon memang sangat marah dan kecewa, tapi ia tidak mau kehilangan Aila. Ia merasa menyesal karena telah melakukan hal itu.


Bersambung...


Buat kalian yang masih setia tetap baca dan komentar, aku ucapin ribuan terimakasih.


Apapun komentar kalian aku sangat menghargainya. Entah itu Kritik maupun saran.


Semua tetap menyenangkan bagiku. Jujur saja aku akui, beberapa part belakangan ini aku seperti kehilangan konsentrasi, namun mungkin itu bisa jadi kwalitas tulisan aku yang memang masih jauh dari kata bagus apalagi sempurna. Aku sangat minta maaf untuk itu.


Jika kalian merasa membaca novel ini tidak lagi menghibur dan hanya bikin stres, tinggalkan gaes, itu berarti kamu tidak lagi dapat faedah dari baca novel ini. Mungkin yang lain masih banyak yang akan menghibur kalian.


Aku tetap akan tamatin ini novel, hanya saja masih nunggu waktu dan feel yang tepat.


Terimakasih yang masih setia kirim pesan, dan memberi semangat.


Mungkin kalian tidak tahu gaes, aku merasa jadi penulis amatir yang paling bahagia di dunia. Meskipun tulisanku receh dan gak berbobot, tapi masih ada aja yang mendukungnya. hahaha

__ADS_1


Love u,,suatu saat nanti semoga Tuhan membalas kalian dengan indah.


Sekian gaes, pengumuman rasa curhat nie, moga hari kalian tetap bahagia.


__ADS_2