
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 28
** Tanda **
Dengan kesal Leon berdiri dan mengangkat telepon di samping kiri atas bathub.
[Apa kau ingin cepat mati, hah?! ]
[Hei bule tengik! siapa yang kau suruh cepat mati hah?!]
Leon mengerutkan dahi,
Seperti suara Omanya, buru-buru ia melihat kearah layar. Memang nomor rumah Oma.
[ Maaf oma, aku kira Davin ]
[Sudahlah! dimana Lala?]
[Aila Oma]
[Ya, itu. Dimana dia?]
[Di kos lah, Oma ]
[Jangan bohong Leon! kau kira aku tidak tau, jika kau mengurungnya di dalam apartemenmu?]
[Ha ha ha, ayolah oma, untuk apa aku mengurungnya?]
[kau tergila gila padanya, Leon]
[ Omaaa! berhentilah cerewet, atau oma akan mati lebih cepat sebelum menimang cucu]
[Dasar bocah tengik! lihat saja, aku akan kesana untuk melihatnya sendiri]
[Terserah Oma, aku sedang banyak pekerjaan, bye oma!]
Tuuuuuut! tuuuuuut!
Leon segera memutus hubungan teleponnya.
"Aaaaaakh!" ia mengerang kesal. Baru saja akan merasakan nikmatnya surga dunia, tapi oma malah mengganggunya.
Leon bangkit kearah shower untuk membilas badanya. Pundaknya terasa perih, karena gigitan Aila tadi.
Untung saja Aila yang melakukannya, jika orang lain sudah dipastikan tidak akan hidup setelahnya.
Leon meraba pundaknya dengan senyum tersungging di bibirnya.
Gadis kecilnya ternyata ganas juga jika sedang bercinta.
Setelah dirasa cukup, ia segera melangkah kearah walk in closet untuk berganti baju.
Di dalamnya, ternyata masih ada Aila. Gadis itu sedang menyisir rambutnya dengan kikuk, malu dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Leon berjalan kearah koleksi kemejanya, mengambil salah satu darinya.
Ekor matanya melirik kearah Aila. Gadis itu telah selesai menyisir rambutnya.
"Kenapa diam saja! cepat pakaikan bajuku!" perintah Leon.
Aila menurut, ia berjalan kearah Leon dan membiarkan Leon mengangkat tubuhnya diatas salah satu rak kosong.
Aila mulai memakaikan baju dengan diam, tangannya masih terlihat gemetar.
Tiba-tiba saja, ada perasaan bersalah kepada oma karena tidak bisa menepati janjinya.
Ia telah melewati batas.
Ah, seharusnya mereka memang tidak tinggal bersama.
Leon menatap kepala yang tengah tertunduk di depannya, ia tau apa yang sedang dipikirkan gadisnya.
Wajar, jika Aila merasa bersalah karena ini yang pertama baginya.
Diraihnya kepala itu, kemudian diciumnya dengan sangat dalam.
Aila terkesiap kemudian mendongakkan kepala menatap mata Leon, untuk sesaat, mereka bertatapan dalam diam.
"Mau lagi, hem?" goda Leon.
Aila buru-buru menggelengkan kepala, kembali mengancingkan kemeja Leon.
Dua kancing lagi selesai, tapi tangan mungil Aila berhenti disana.
Gadis itu terlihat ragu akan mengucapkan sesuatu.
"Kakak.."
Leon diam, tidak menjawab.
"Sayang," Aila mengoreksi ucapannya.
"Hem!"
"Bolehkah, aku tinggal di kos saja?"
"Tidak!"
Aila diam, menghela napas, sebelum melanjutkan ucapannya.
"Boleh, tidur di kamar yang lain?"
Leon mengerutkan keningnya, mencoba menerka, kemana arah pembicaraan gadisnya.
"Tidak!"
"Tapi..."
"Kenapa harus tidur sendiri? kau tidak suka tidur denganku?"
Aila menggigit bibir bawahnya, bingung harus mengucapkan apa.
"Kita bukan suami istri," ucap Aila pelan, namun Leon masih dengan jelas mendengarnya.
Leon berdecak, sejak kapan tidur bersama harus menikah lebih dulu?
lelaki itu sepertinya lupa, jika ia tengah hidup di Indonesia.
"Kau ingin cepat menikah?"
Aila mengangguk, memangnya ia punya pilihan?
"kau yakin? umurmu baru genap 17"
"Apa tidak boleh?" tanya Aila polos.
Leon menyeringai.
"Itu bagus, sayang"
Aila mengerutkan kening, tidak mengerti.
"Apa yang kau takutkan, hem?"
"Apa?" Aila tidak paham maksud Leon.
" Kenapa ingin tidur sendiri?"
Aila menggigit bibir bawahnya kembali, bingung bagaimana cara menyampaikannya.
"Aku...takut, kita akan membuat bayi sebelum menikah" ucap Aila malu-malu.
Leon terbahak, dan Aila tidak mengerti bagian mananya yang lucu.
"Memang kapan kita membuat bayi, sayang?"
"Tadi," lirih Aila, malu.
__ADS_1
"Itu bukan membuat bayi, sayang!" bohong Leon.
"Apa caranya membuat bayi berbeda dengan yang tadi?" tanya Aila polos.
"Ya, kau ingin mencobanya?"
Aila buru buru menggeleng, ia merasa Leon tengah membohonginya.
Leon terkekeh melihat sikap gadisnya.
"kakak.." ucap Aila sembari memainkan kancing kemeja.
"Apa lagi?"
"Hari ini, boleh aku keluar?"
"Tidak!"
"Aku hanya..."
Leon menahan tangan Aila dari memainkan kancing.
Aila diam, kemudian Leon melepas tangannya dan Aila kembali memainkan kancingnya.
kenapa sih? Aila gak peka jika tingkahnya memainkan kancing membuat Leon gemas?
"Hanya ingin membeli sesuatu, lalu pulang. Aku janji!" rengek Aila.
"Ingin beli apa? biar Davin yang belikan"
Aila buru buru menggeleng.
"Tidak, aku malu!"
Leon mengerutkan kening, tidak mengerti.
"Malu? memang apa yang ingin kau beli?"
Ragu ragu Aila menjawab.
"Yang biasa di pakai wanita,"
"Apa? pakaian dalam?"
Aila menggeleng.
Otak mesum, ingetnya daleman mulu.
"Tas?"
Lagi lagi Aila menggeleng.
"Apa sayang?!"
"Pembalut," ucap Aila malu.
"Perban? siapa yang sakit?"
"Bukan, itu.."
"Apa?" Leon mulai tidak sabar.
"Untuk menstruasi," pipi Aila merona ketika mengucapkannya.
"Kau mendapatkannya?"
"Belum, tapi sudah waktunya"
"Apa itu lama?"
Aila mengangguk.
"Berapa hari?" kejar Leon.
Aila merasa Leon sedang mewawancarainya.
"8 atau 9"
Leon berdecak kesal, ia harus mengundur tanggal pernikahannya lagi.
Ayolah, menikah saat Aila menstruasi hanya akan membuat malam pertamanya zonk, dan itu tidak lucu!
Sedang Aila hanya mengerutkan kening, tidak mengerti dengan maksud Leon. Memang apa hubungannya dengan Leon? kan dia yang menstruasi?
Leon melepas tangan Aila dari kancingnya begitu saja, lalu berjalan kearah koleksi jam tangannya.
"Boleh kan?" tanya Aila.
"Kita bicarakan nanti, aku turun kebawah sebentar."
"Tapi.."
"Diam! dan masaklah!" ucap Leon terlihat kesal.
Dan Aila bingung, kenapa tiba tiba Leon menjadi kesal?
Aila kemudian meloncat turun dari rak, seperti biasa dengan sabar ia memunguti handuk yang berserakan di lantai dan mengembalikan ketempat asalnya.
Ia harus segera memasak, jika tidak ingin Leon bertambah kesal.
*********
Leon menuruni anak tangga menuju lantai satu apartemennya, dari atas ia melihat anak buah Dragon tengah berkumpul dan duduk diatas sofa. Raut kesal terlihat diwajah mereka karena harus menunggu lama, sedang yang ditunggu malah asik bercumbu. Jika saja bukan Leon, mereka tidak akan sudi melayani.
"Ehem!"
Dragon dan anak buahnya segera menoleh kearah sumber suara, bos baru mereka akhirnya muncul juga.
Dragon dan anak buahnya segera berdiri dari duduknya. Memberi tempat sang bos untuk duduk.
Mata Leon menatap tajam satu persatu diantara mereka, seperti sedang memberi penilaian. Anak buah dragon terlihat menelan ludah dengan susah payah.
Hanya ditatap saja, mereka merasa seperti sedang dikuliti.
Keturunan Thomson memang beda!
Leon berdiri dari duduknya, berjalan kearah sebuah peti kayu besar dan mendudukkan dirinya disana.
"Letakkan semua senjata kalian!" Perintah Leon.
anak buah dragon terlihat saling bertatapan, tidak mengerti.
"Letakkan senjata!" perintah sang ketua.
Segera, anak buah Dragon menuruti perintah bos mereka.
Leon berdecak,
"Selain kotor, kalian juga tuli!" cibir Leon.
Dragon dan anak buahnya diam.
"Lakukan Davin!" perintah Leon kearah Davin.
"Baik, tuan"
Terlihat Davin melepas jasnya dan melipat kemejanya hingga siku, menampakkan lengan kekar penuh otot miliknya.
"Majulah, satu persatu!" perintah Davin kearah anak buah Dragon.
untuk sesaat mereka bingung, namun kode dari sang bos membuatnya mengerti.
Satu orang anak buah Dragon maju, bersiap melawan Davin.
Ya, tes yang harus mereka jalani adalah bisa membuat Davin babak belur.
Dragon tersenyum miring, bos baru mereka memang menarik. Bagaimana tidak? Leon menggunakan tangan kanannya, orang kepercayaanya sendiri sebagai kelinci percobaan dan anehnya sang bawahan begitu menurut seperti ruhnya berada di tangan Leon saja.
Bos baru mereka ternyata seorang psikopat berdarah dingin.
__ADS_1
Satu persatu anak buah Dragon maju melawan Davin, tapi tidak ada yang memuaskan dimata Leon.
Davin bisa mengalahkan sepuluh anak buah Dragon tanpa mengeluarkan banyak tenaga, pria itu bahkan hanya memar sedikit pada pipi sebelah kiri.
Tak! Tak!
Buuuk! Buuuk!
Suara pertarungan mereka terdengar gaduh.
Leon terlihat memijat pelipisnya pelan mengusir pening yang tiba tiba datang, Dragon tidak bisa memuaskanya tapi hanya mereka yang terbaik disini, jika dibandingan dengan anak buahnya yang sedang berada di Dubai, jelas mereka tidak ada apa apanya.
Ya, kebanyakan anak buah Leon memang dari Agen pembunuh bayaran yang cukup terkenal di timur tengah, mereka menyebutnya agen Blac rock. kelompok pembunuh bayaran yang sering disewa oleh negara yang sedang berkonflik.
Mereka cerdas, dingin dan kemampuannya tidak diragukan lagi. Salah satu dari mereka adalah Leon dan Davin. Siapa sangka jika Leon juga pernah menjadi salah satu dari mereka, ia lakukan itu hanya untuk mempersiapkan diri untuk hari ini, hari dimana ia akan muncul menjadi orang baru dan mengambil alih perusahaan milik seseorang yang telah membunuh ibunya.
"Kakak?!"
Leon tersadar, terdengar suara Aila memanggilnya dari lantai atas.
seketika Leon menyuruh Davin dan anak buah dragon diam.
"Apa terjadi sesuatu? kenapa begitu gaduh?" tanya Aila kuatir.
"Tidak papa, sayang! Davin sedang menyingkirkan kecoa!" teriak Leon.
Tidak lagi terdengar suara Aila, gadis itu sepertinya kembali untuk memasak.
Leon kemudian menatap Davin tajam.
"Kau terlalu berisik, Davin! lakukan tanpa suara!" perintah Leon.
"Baik, tuan"
Davin kembali melangkah untuk melanjutkan, namun Leon mengangkat tangannya.
"Cukup!"
"Hei, kau! angkat peti itu kemari!" perintah Leon pada Dragon dan anak buahnya.
tanpa banyak bicara, mereka bergerak cepat kearah peti kayu yang ditunjuk Leon dan membawanya kehadapan Leon.
"Buka!" perintah Leon.
Dengan cekatan, mereka membuka peti kayu tersebut. Seketika mata mereka terbelalak melihat isinya, didalamnya terdapat begitu banyak senjata api cangih dengan tingkat akurasi yang tinggi tentunya dengan harga yang fantastis. Salah satu diantaranya adalah jenis pistol Glock 45 GAP dan Desert Eagle mark XIX pistol, yang merupakan pistol terbaik dan termahal. Harga persatunya mencapai ratusan juta, dan Leon adalah pemegang saham tertinggi dalam perusahaan pembuatan senjata tersebut.
"Kau pernah pegang?" tanya Leon kearah dragon.
Dragon menggeleng.
"Belum, tuan" jawab Dragon. Ia sudah sering mendengar senjata canggih tersebut, tapi melihatnya secara langsung belum oernah, apa lagi memegangnya.
Leon menyeringai,
"Kau tau, berapa harga persatunya?"
Lagi lagi mereka menggeleng.
"Tidak, tuan"
"Cukuplah, untuk membeli satu kepala kalian!" ucap Leon menyeringai.
Dragon dan anak buahnya kembali menelan kasar ludahnya, ucapan Leon jelas ancaman bagi mereka.
"Buang senjata kalian dan pakailah ini! aku tak mau melihat orangku pakai senjata murahan!" ucap Leon tajam.
"Baik, tuan" ucap Dragon.
Leon bangkit dari duduknya.
"Lanjutkan, Davin! jika sudah selesai naiklah!" perintah Leon kearah Davin.
Davin mengangguk hormat, " Baik, tuan"
Leon kemudian beejalan kearah tangga, dan menaikinya, namun baru sampai dua anak tangga pria itu kembali menoleh.
"Berikan mereka pakaian, Davin! penampilan mereka membuat mataku sakit!" cibir Leon.
"Baik, tuan"
"Tunjukkan bagaimana cara kita bekerja! aku tidak terima kesalahan sedikitpun!"
"Baik, tuan"
Leon kembali menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Sepeninggal Leon, anak buah Dragon kembali riuh mengerubungi senjata canggih yang belum pernah mereka lihat.
"Cih! sekarang kalian baru tau bekerja dengan siapa?" ucap Davin kearah Dragon.
Dragon diam, tidak menjawab. Ia memang tidak pernah membayangkan akan bekerja dengan salah satu keturunan Thomson.
Davin melangkah kearah ruangan disamping garasi koleksi mobil sport milik Leon, mengambil sebuah bag yang berukuran cukup besar kemudian menyerahkannya pada Dragon.
"Pakai ini, saat bekerja!" Davin memberikan setumpuk kemeja putih lengkap dengan jas hitam yang khas dipakai oleh para bodyguard.
Anak buah Dragon kembali riuh, gembira mendapat baju gratis. Selama ini mereka memang tidak memperhatikan penampilan, memangnya untuk apa? toh pekerjaan mereka hanya pembunuh bayaran.
*********
Cuup!
Leon menyesap Leher Aila dari belakang, leher yang penuh keringat karena kepanasan saat memasak, tapi menjadi candu bagi Leon.
Aila terkesiap dan segera berbalik.
"Jangan lakukan itu," protes Aila sembari menutupi lehernya. Pipinya terlihat merona.
"Salah sendiri kenapa kau umbar!" jawab Leon santai sembari mendudukkan dirinya diatas kursi makan.
"Karena gerah, jika memasak" ucap Aila.
" Lehermu penuh tanda, kau ingin mengumbarnya pada siapa?"
"Ha?" Aila tidak mengerti.
"Mengacalah! kau akan tau" seringai Leon.
Aila segera berlari kearah kamar, kemudian menuju walk in closet dan berkaca disana. Benar saja, lehernya terdapat banyak tanda kemerahan.
Ah, ini pasti karena ulah Leon, Aila malu jika mengingat ketika mereka bercumbu di dalam bathub tadi.
Aila segera melepas kuncir rambutnya, merapikannya sedikit supaya menutupi lehernya yang penuh dengan kemerahan.
Bagaimana jika ia bertemu orang hari ini? Aila merasa sangat malu karenanya.
Ia berjalan kearah dapur dengan lesu sekaligus malu kepada Leon, tapi bagaimana bisa pria itu tidak malu sama sekali ketika bertemu dengannya?
Leon menarik sudut bibirnya ketika Aila datang.
"Bagaimana? kau suka tanda yang ku buat?" tanya Leon menggoda Aila.
Aila pura-pura tidak mendengar, gadis itu berjalan kearah rak piring dan mengambilnya. Sepiring nasi goreng, Aila sodorkan kearah Leon, namun pria itu tidak menerimanya, ia malah menarik pinggang Aila lebih dekat.
Aila gugup, tapi berusaha bersikap senormal mungkin.
Leon mulai memainkan rambut ikal Aila.
"Kenapa diam? tidak suka tandanya? ingin ku buatkan ditempat lain, hem?"
Aila buru-buru menggeleng.
"Ti_tidak! aku suka tandanya" jawab Aila gugup dan berakhir dengan pejaman mata, karena menyadari kebodohannya sendiri.
Leon terkekeh melihat sikap Aila. Entah kenapa sikap menggemaskan Aila merupakan hiburan baginya.
"Bagus! sekarang duduk dan makanlah!" perintah Leon.
Aila mengangguk dengan kikuk, kemudian duduk dan memakan nasi goreng buatanya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.......
Gengs, please vote yang banyak ya, biar semangat up tiap hari.😺😺😺