Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 52


__ADS_3

🌸Cinta 4 9 Cm🌸


Part 52


** Bersiap nostalgia **


Untuk sesaat, Leon mengamati ruangan khusus direktur utama hotel Triwarna, sebelum ia mendekat dan membuang semua benda yang terdapat di meja.


Praaank!


Papan nama yang terbuat dari kaca, jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai. Kemudian ia mendudukkan dirinya di atas meja dengan santai.


"Davin!"


"Ya, tuan?"


"Ganti semua furnitur di sini, mataku sakit melihatnya!"


"Baik, tuan."


Arif yang masih berada di belakang Davin terkejut, ia memang pernah mendengar boss besar Global konstruksi itu punya sifat dingin dan arogan, namun melihatnya sendiri membuatnya tidak percaya.


"Kau, kemarilah!" perintah Leon kepada Arif.


Arif mengangguk hormat, kemudian melangkah maju tepat di depan Leon.


"Bawakan padaku semua data pegawai disini, terutama bagian kichen."


"Baik tuan."


Arif membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan.


Sepeninggal Arif, Leon mondar-mandir di dalam ruangan dengan resah. Bertemu wanita sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, namun bertemu dengan gadisnya kembali setelah sekian lama benar-benar membuatnya gila. Gugup, deg-degkan dan cemas, mungkin itu yang kini ia rasakan.


"Kenapa dia begitu lama, Davin?!"


"Siapa tuan?"


"Arif, Davin. Arif!"


Davin mengerutkan kening, tidak mengerti. Pasalnya Arif baru saja keluar dari ruangan, bahkan belum ada tiga menit pria itu keluar.


Setelah sewindu, setidaknya itu yang Leon rasakan, Arif akhirnya muncul juga.


"Ini, tuan." ucap Arif sembari menyerahkan map berisi semua data kariyawan.


Dengan cepat, Leon mengambil map dari tangan Arif.


"Kau lama, arif!"


Arif diam, perasaan dia sudah berusaha secepat mungkin.


Leon mengamati satu-persatu data kariyawan, namun data yang ia maksud tidak ada. Ia menernyitkan dahi, tidak mungkin ia salah mengenali. Mungkinkah, Aila mengganti data pribadinya?


"Siapa gadis pendek yang bekerja di kitchen?" tanya Leon kepada Arif.


"Gadis pendek? saya tidak paham maksud tuan,"


"Gadis yang tingginya segini, ( Leon mengangkat tangan setinggi Aila) sedang membuat pastry," Leon menjelaskan.


Arif terlihat berpikir sejenak, mungkinkah yang bossnya maksud Aila? adik dari Nitta?


"Apakah maksud anda, Aila?"


"Good!" Leon menjentikkan jarinya, pertanda jawaban arif tepat.


Davin yang ikut mendengarkan, terlihat kaget. Entah apa yang dipikirkan pria itu, ia segera keluar dari ruangan. Leon hanya menatap kepergian Davin sesaat, sebelum mengalihkan pandangannya pada Arif kembali. Davin selalu tahu apa yang dia maksud tanpa banyak bertanya.


"Dimana data gadis itu, kenapa disini tidak ada?"


"Maaf tuan, gadis itu bukan kariyawan disini. Ia hanya bekerja untuk sehari, karena kami kekurangan orang." jawab Arif menjelaskan.


"Berapa umurnya?" tanya Leon.


Bagi Arif, pertanyaanya mungkin konyol, namun itu sangat penting bagi Leon.


Arif terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maaf tuan, saya kurang paham. Dia adik dari salah satu kariyawan disini."


"Panggilkan kakanya, cepat!"


"Baik, tuan."


Arif kemudian keluar dari ruangan untuk memanggil Nita.


Sepeninggal Arif, Leon terlihat semakin resah, pria itu berkali kali mengusap wajahnya dengan kasar sembari mondar-mandir tidak jelas.


Di Saat bersamaan, Davin muncul dari balik pintu.


"Bagaimana?" tanya Leon.


"Saya kira, gadis itu memang nona, tuan."


"Kau telat, davin!"


"Maaf, tuan."


Seorang wanita muncul bersama Arif, Leon yakin itu kakak jadi-jadian yang dimaksud Arif. Pasalnya, Aila tidak punya kakak.


Leon mengamati Nita untuk sesaat, di lihat dari penampilannya sepertinya Nita wanita baik-baik. Kenyataan itu membuatnya sedikit lega, setidaknya Aila hidup dengan orang yang benar selama tiga tahun ini.


"Duduklah!" perintah Leon pada Nita.


Nita mengangguk, kemudian duduk di sofa tepat di depan Leon.


"Dan kau, keluarlah!" perintahnya pada Arif.


Setelah Arif pergi, Leon menatap tajam kearah Nita. Bukannya tidak tahu, Nita merasa seperti sedang diamati seekor singa yang sedang lapar. Gadis itu meremas ujung rok spannya karena cemas dan juga takut. Belum hilang kekagetannya karena mendengar kegaduhan yang dibuat sang boss, sekarang ia harus berhadapan sendiri secara langsung.

__ADS_1


"Siapa nama adikmu?" tanya Leon tanpa basa-basi.


"A__adik? maksud tuan?"


Leon menarik salah satu sudut bibirnya, sebelum melanjutkan pertanyaannya.


"Arif bilang kau yang membawa adikmu yang pendek itu untuk bekerja sehari, apa betul?"


Nita gugup, gadis itu terlihat menelan ludahnya kasar. Mungkinkah karena itu, ia di panggil? ia tahu Aila tidak masuk kualifikasi syarat seorang pegawai, tapi bukankah terlalu cepat untuk dipermasalahkan? lagi pula di mana sang boss melihat Aila? perasaan sedari tadi, Aila hanya berada di dalam kitchen.


"I_iya tuan, tapi tuan tidak usah khawatir, dia hanya akan bekerja sehari kok."


"Well, berapa umurnya?"


Nita mengerutkan kening, ia kira akan dimarahi. Tapi kenapa malah nanya-nanya umur Aila?


"Emm, sekitar duapuluh, tuan."


"Sekitar? bukankah dia adikmu? kenapa kau seperti tidak tahu?"


"Maksud saya duapuluh, tuan." ucap Nita mantap.


"Siapa namanya?"


Fix, ada yang aneh dengan boss barunya. Apa mungkin bossnya suka pada Aila? bukankah itu tidak mungkin? tapi kenapa menanyakan soal Aila dengan begitu detail?


"Aila, tuan."


Leon mengulum senyum, puas dengan jawaban dari Nita.


"Baiklah, kau boleh keluar."


"Baik, tuan."


Nita lega, akhirnya ia bisa keluar. Meski pertanyaan sang bos, terdengar aneh, namun ia tidak begitu memperdulikannya. Berada di depan Sang boss, membuatnya tidak bisa bernapas. Kesan pertama Nita saat bertemu Leon adalah pria itu Dingin, kejam selain juga tampan tentu saja.


Setelah Nita pergi, Leon duduk menyandarkan tubuhnya sembari memejamkan mata. Ia lega sekaligus bingung, bagaimana caranya untuk menyapa Aila?


Semua pasti tidak akan sama seperti dulu, karena ia pernah memberinya luka begitu dalam, tapi yakinlah jika dirinya jauh lebih terluka.


Seribu kali pun memikirkan caranya, Leon tetap tidak menemukan jalan keluar. Mungkinkah efek karena belum makan? mendadak otaknya tidak lagi jalan.


Akhirnya, ia memutuskan untuk makan dulu di resto bersama yang lain. Siapa tahu bisa modus sembari nyuri pandang, ye kan?


Astaga! kenapa gayanya jadi murahan?


*******


Saat akan memasuki resto, gawai Leon berbunyi. Dilihatnya sesaat pada layar, nama Alea tertera disana. Entah apa yang di pikirkannya, namun ia kembali memasukkan gawai kedalam sakunya. Saat itu tanpa sengaja, ia melihat dua orang gadis tengah asyik mengobrol berjalan kearahnya. Leon tiba-tiba membeku ditempatnya, hingga satu bodyguardnya tanpa sengaja membentur punggungnya karena Leon menghentikan langkah mendadak.


Salah satu gadis itu adalah Aila, namun sepertinya gadis itu tidak fokus pada jalan di depannya, hingga....


Praaaaank!


Beberapa loyang dan cetakan diatasnya yang sedang Aila pegang terjatuh begitu saja.


Tidak kalah terkejutnya, Aila membatu untuk sesaat, namun sedetik kemudian ia meraih semua loyang dan cetakan yang berserakan dilantai. Salah satunya, tepat di bawah kaki Leon.


Kenapa takdir lagi-lagi mengajaknya bercanda disaat yang tidak tepat? disaat ia belum bisa move one darinya? disaat lukanya masih mengangga? Meski ia tahu, sepuluh tahun kedepan pun, belum tentu ia sudah sukses menghapus Leon dari otaknya.


Ingatannya melayang pada pembicaraannya dengan Nita baru saja. Gadis itu mengatakan jika boss besar memanggilnya hanya untuk menanyai tentang dirinya. Aila pikir boss Nita adalah orang yang sudah tua, jadi ia tidak begitu memperdulikannya. Siapa sangka, jika sang boss ternyata Lelaki yang selama tiga tahun ini begitu dirindukannya?


Aila memejamkan mata sesaat sebelum berdiri, mengumpulkan sisa-sisa kekuatan tubuhnya untuk tetap tegak.


"Ma__maaf kan saya, tuan." ucapnya terbata.


Akhirnya hanya kata itulah yang keluar dari mulutnya. Ya, ia tidak tahu apakah harus senang atau malah sedih? kenyataannya mungkin saja Leon sudah berbahagia dengan Alea sekarang. Menciptakan jarak diantara mereka adalah sesuatu yang tepat, sembari menyadarkan diri, jika posisinya tidak lebih sebatas antara tuan dan pelayan.


Leon tidak menjawab, namun jelas matanya menatap tajam kearah Aila. Setiap gerik gadis itu, tidak luput dari pengamatannya.


Tuan?


Apa dia sedang mengajaknya bercanda?


Tanpa menatapnya, Aila segera berbalik, ia ingin segera pergi dari sana. Jika memungkinkan ia akan lakukan teleportasi supaya lebih cepat, namun itu tidak mungkin bukan?


"Tunggu!" seru Leon saat Aila akan pergi begitu saja.


Aila berhenti, gadis itu memejamkan matanya sesaat sembari menggigit bibir bawahnya sebelum memutar tubuh.


"Ikut keruanganku!"


Suara baritonnya bahkan masih sama.


Tanpa bersuara, Aila mengikuti Leon dari belakang. Ia seharusnya tahu, jika semuanya tidak akan mungkin selesai dengan mudah begitu saja.


Sesaat ketika melewati Davin, pria itu menganggukkkan kepalanya hormat dan Aila hanya membalasnya dengan senyuman tipis.


Sesampainya di dalam ruangan, seperti biasa Leon duduk diatas meja, menyilangkan tangan di depan dada dan menatap Aila tajam. Aila terlihat lebih kurus, kulitnya juga terlihat lebih pucat. Aila memang punya kulit yang putih, namun gadis itu terlihat lebih pucat sekarang.


Apa dia tidak hidup dengan baik?


Aila diam, mencoba tetap tenang.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Leon dengan suara yang lebih rendah.


"Ba__baik tuan," jawab Aila gugup tanpa menatap lawan bicaranya.


Terdengar desahan napas dari mulut Leon.


"Kenapa memanggilku tuan?"


Aila menghela napas, kenapa begitu penting bagaima ia memanggilnya?


"Karena anda atasan saya tuan,"


Leon menyugar rambut, ia kesal dengan cara Aila memanggilnya.


Mungkinkah ini bentuk dari balas dendamnya?

__ADS_1


"Ada lagi tuan? jika tidak saya harus kembali ke dapur."


Aila ingin semua cepat selesai.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi? kau tidak akan bisa pergi tanpa izinku sekarang!"


Seberapa tidak memungkinkannya untuk mengulang masa lalu, Leon tidak akan menyerah untuk kembali pada masa itu, meski ia harus bertaruh dengan nyawanya sekalipun. Kali ini ia tidak akan melepaskan Aila, apapun caranya.


"Kenapa tuan? tolong jangan mempersulit posisi saya."


"Mempersulit? siapa? aku bossnya, siapa yang berani mempersulitmu?"


Aila mendesah, bukankah Leon sudah berbahagia sekarang? kenapa masih menahannya? dasar serakah!


"Anda sudah beristri tuan, tidak seharusnya menahan saya di sini."


"Aku memang sudah beristri, memang salah menahan istriku sendiri?"


Aila kembali memejamkasn mata, mendengar Leon masih menganggapnya istri mermbuat hatinya berdenyut nyeri. Istri yang mana? istri yang terbuang maksudnya?


"Maaf tuan, saya harus kembali. Pekerjaan saya banyak!"


Tanpa menunggu persetujuan dari Leon, Aila membungkuk hormat kemudian keluar begitu saja. Membuat Leon panik.


"Hei! siapa yang menyuruhmu keluar! "


Aila tidak peduli dengan teriakan Leon, gadis itu tetap melanjutkan langkah meninggalkan ruangan direktur utama.


Mendengar langkah Leon yang mengejarnya, Aila segera berlari sekuat tenaga. Membuat Davin dan yang lainnya menatap mereka dengan heran.


Leon berhenti ketika menyadari semua mata menatapnya, seringai kecil muncul di sudut bibirnya.


Larilah sejauh mungkin, tapi aku pasti akan menangkapmu!


Leon pikir cukup untuk sekarang, ia paham jika Aila masih kesal. Ia juga sudah menduga, tidak akan mudah untuk mendapatkan hatinya kembali. Namun, itu sudah lebih dari cukup, ketimbang ia tidak melihatnya sama sekali.


"Davin!"


"Ya, tuan?"


"Cari tau, dimana rumahnya, apa pekerjaannya dan semua tentangnya!"


"Baik, tuan."


Leon melanjutkan langkah menuju resto, entah kenapa ia sangat lapar sekarang. Mungkinkah karena hatinya sedang senang?


Sepanjang jalan Ia bersiul kecil, kemudian mengambil gelang kaki dari saku jas, kemudian mengulum senyum.


"Sebentar lagi, kau akan menemukan pemilikmu. Bersabarlah!"


ucapnya bicara sendiri.


*****


Aila tidak jadi melanjutkan pekerjaannya, gadis itu malah berlari keluar hotel menuju tempat dimana sepedanya terparkir. Ia ingin pulang untuk menjernihkan pikirannya.


Sepanjang jalan, ia terus kepikiran tentang pertemuannya yang kacau dengan Leon. Kenapa juga ia harus melarikan diri? bukankah hanya akan membuatnya terlihat belum bisa move on? Kini Aila mengutuk dirinya sendiri, Nyatanya waktu tiga tahun tidak membuatnya bertambah pintar ketika menghadapi Leon.


Dengan lemas, Aila masuk kedalam pekarangan rumah yang penuh dengan tanaman bunga mawar, ia kemudian duduk tercenung seorang diri disana. Semilir angin sore yang menerpa wajahnya seakan berbisik," Sudah siapkah untuk kembali bernostalgia?"


Aila mendesah, namun melihat Leon hidup dengan baik selama tiga tahun ini, membuatnya lega. Ah, ia jadi teringat akan Oma. Bagaimana kabar wanita tua itu sekarang?


Tiba-tiba saja ia merindukan semua orang yang di kenalnya tiga tahun yang lalu.


Saat sedang asyik melamun, seseorang datang mendekat kearahnya. seorang lelaki berseragam perwira lengkap, tengah tersenyum kearahnya.


"Mau ke pantai?!" tanyanya.


Aila terlihat berpikir sejenak, mungkin ia butuh hiburan untuk menenangkan pikirannya.


Akhirnya ia mengangguk sebagai tanda setuju.


"Ayok!" ucap Adimas sembari membuka pintu mobil patrolinya.


Aila berlari kecil kemudian masuk kedalam mobil.


Adimas hanya tersenyum melihat tingkah Aila. Entah kenapa, tingkah Aila selalu terlihat lucu dimatanya.


"Lemes banget kayaknya, kenapa?" tanya Adimas ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Gak kok,"


"Gak dapat ide?"


Aila tersenyum masam. Ia memang tidak pernah memceritakan kisah kelam masa lalunya pada siapapun. Bahkan kepada Nita sekalipun.


Sepanjang jalan Aila hanya diam sembari memejamkan matanya. Sesekali Adimas melirik kearahnya, betapa senangnya jika Aila menjadi istrinya. Ia akan selalu terhibur setiap saat ketika melihat semua tinggkah gadis itu.


"Bangun! udah sampi." ucap Adimas sembari turun lebih dulu.


Aila membuka mata, kemudian turun mengikuti Adimas.


"Waw! indah." ucapnya takjub.


Kemudian ia segera melepas sendal dan menentengnya sembari berlari kecil, menuju pantai.


Ini pertama kalinya Aila kepantai di waktu sore, sebelumnya ia hanya kepantai di pagi buta. Bukannya apa, ia sengaja agar tidak bertemu dengan banyak orang.


Adimas menggelengkan kepalanya.


"Hei! pelan- pelan." teriak Adimas sembari menyusul Aila.


Aila tidak peduli dengan teriakan Adimas, gadis itu terlalu senang sekarang.


Namun, kesenangannya hanya sesaat, karena ia melihat Leon tengah menatap tajam kearahnya dari pinggir pantai.


"Kenapa?" tanya Adimas karena Aila berhenti mendadak.


Aila tidak menjawab, matanya fokus menatap Leon. Hingga tangan Adimas yang mengusap kepalanya menyadarkan dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2