
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 91
**Lakukan demi aku**
Malam mulai merangkak naik. Gemintang di langit pun, kini sudah tidak lagi terlihat. Langit gelap sehita
Sepertinya Hujan akan akan kembali turun. Dan itu benar terjadi. Tidak berapa lama setelahnya, gerimis datang.
Aila mengeliat resah diatas ranjang. Sudah lebih dari dua jam ia mencoba memejam, namun matanya seperti enggan untuk tertutup.
Pikirannya tidak tenang. Pasalnya sejak pagi tadi, suaminya belum juga datang untuk menemuinya. Aila paham jika sekarang, mungkin saja suaminya masih marah ataupun kecewa. Hanya saja, ia juga membutuhkannya saat ini. Ia tidak bisa melalui semua ini seorang diri.
Mengabaikan pesan dari Alex, Aila turun dari ranjang. Ia memakai kursi rodanya dan berjalan keluar. Ia tahu, jika ia tidak akan mudah meninggalkan ruang perawatan begitu saja. Terbukti dengan dadanya beberapa bodyguard yang berjaga di depan ruangan, mereka tidak akan membiarkan Aila pergi.
Seorang bodyguard mendekatinya, "Maaf nona, anda tidak boleh meninggalkan ruang perawatan," ucapnya pada Aila.
"Aku hanya ingin ketempat suamiku.." jawab Aila. Anggap saja dirinya sekarang seperti anak kecil yang bandel, tapi biarlah. Melewati malam dengan meringkuk seorang diri di tengah pikirannya yang sedang kacau, itu sangat buruk.
"Tapi tuan baru saja datang dan berpesan pada kami nona, apapun yang terjadi, nona tidak boleh meninggalkan ruangan ini," ucap sang Bodyguard menjelaskan. Leon memang baru saja datang, namun entah kenapa pria itu tidak masuk kedalam dan melihat istrinya. Ia hanya berpesan jika aila tidak boleh meninggalkan ruangan apapun yang terjadi.
Aila terkejut mendengar ucapan sang bodyguard. Suaminya kemari dan tidak masuk? Apa Leon semarah itu? Meskipun begitu, bukankah itu sangat keterlaluan? Aila juga punya alasan sendiri kenapa melakukannya, dan kenapa ia tidak pernah menanyakan isi hatinya?
Aila merasa sangat sedih saat itu juga. Ia bukan anak kecil yang selalu harus menerima hukuman, ia juga punya perasaan yang ingin didengar. Tanpa menghiraukan apapun lagi, Aila memangis. Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu yang berharga. Tidak peduli betapa terkejutnya bodyguard yang sedang berjaga, dan kebingungan diwajah mereka, Aila tetap menangis. Peduli apa? ia hanya ingin mengeluarkan beban dihatinya sekarang.
Salah seorang bodyguard diantara mereka terlihat menghubungi sang boss. Siapa lagi jika bukan Lucas? Bagaimanapun mereka bingung untuk menghadapi nonanya yang sedang menangis itu.
Tidak berapa lama, Erik terlihat mendekat. "Ada apa? Lucas sedang berbicara dengan boss," ucap Erik pada salah seorang bodyguard yang terdepan.
Bodyguad tersebut terlihat mendekat dan berbisik pada Erik, sembari sesekali mengamati kearah ruang perawatan dimana Aila berada.
Erik mengerti. Pria itu kemudian menuju ruangan Aila. Saat ini semua orang memang sedang melakukan pemicaraan penting diruang kerja Leon. Itulah kenapa Aila tidak boleh meninggalkan ruangannya.
"Ada apa?" tanya Erik setelah berada di dekat Aila.
Aila tidak menjawab. Gadis itu masih tergugu ditempatnya.
Erik tidak lagi bertanya. Pria itu memilih duduk di sofa dan menunggu Aila lebih tenang. Yah, mengatasi Wanita itu lebih susah ketimbang mengatasi anak kecil. Jika anak kecil akan berhenti cukup diberi balon atau coklat, maka menghadapi para wanita sebenarnya lebih mudah dari itu, cukup dipeluk atau dicium, dijamin langsung diam, namun kesulitannya, Aila wanita milik bossnya, bisa digantung jika dia melakukannya.
Ia sendiri heran, jika hanya ingin dipeluk ataupun dicium kenapa harus menangis terlebih dulu? 'kan enak jika tinggal bilang? Ah, begitulah. Wanita memang merepotkan.
Sementara menunggu, Erik memilih memainkan ponselnya. Melanjutkan bermain game online tentu saja. Saat rapat, ia tidak bisa melakukan itu. Ada untungnya juga, Lucas menyuruhnya keluar menemui Aila. Setidaknya ia bisa sedikit bernapas dengan ponselnya.
"Antarkan aku ketempatnya," ucap Aila akhirnya. Sepertinya ia sudah merasa lega karena telah mengeluarkan beban dihatinya.
Erik meliririk kearah Aila sesaat, sebelum akhirnya menggeleng. Setelah itu ia kembali fokus pada ponselnya.
"Kakak!" Aila merasa kesal karena Erik tidak menanggapinya.
"Tidak sayang, suamimu tidak ada di kastil," jawab Erik berbohong. Bagaimanapun, Aila cukup keras kepala pada hal-hal tertentu.
Aila menatap Erik tidak percaya, pasalnya, Bodyguard yang menjaganya baru saja bilang, jika Leon baru saja datang. Lagi pula, malam-malam begini pergi kemana? ditengah hujan pula.
"kakak bohong, "
Erik mengerdikkan bahu, "Cari saja jika tidak percaya," ucapnya cuek.
Aila mendengus kesal. Jika ia bisa keluar, sudah sejak tadi ia mencarinya.
"Ok, tapi aku pinjam ponsel kakak," Pinta Aila.
Erik menautkan kedua alis, "Untuk apa? percuma, suamimu tidak akan menerima panggilanmu," Erik menebak apa yang mungkin dilakukan Aila.
"Siapa yang akan menghubunginya? aku bosan, ingin melihat film," jawab Aila memberi alasan.
"Kau 'kan bisa memakai ponselmu sendiri?" Erik merasa tidak rela ponselnya dipinjam. Ia sedang seru-serunya bermain game.
"Jika aku ada ponsel, aku tidak akan meminjam punya kakak," sahut Aila. Kenyatannya memang benar. Ponselnya berada dii dalam kamarnya.
__ADS_1
"Dimana ponselmu? biar kuambilkan," Erik lebih memilih mengambilkan ponsel Aila ketimbang memberikan ponselnya.
Aila mengerdikan bahu, "Aku tidak tahu, aku rasa dia hilang," jawab Aila berbohong. Ia tidak mahu jika Erik mengambilkan ponselnya, karena memang bukan itu rencananya.
"Apa maksudmu? aku rasa hilang?" Erik tidak mengerti maksud Aila. Ia mulai berpikir jika Aila hanya mencari alasan.
"Well, akau jarang memakainya, jadi aku lupa kapan terakhir kali memakainya dan menaruhnya dimana," jawab Aila jujur. Kenyataannya ia memang jarang mengunakan ponselnya.
Mendengar ucapan Aila, Erik tertawa. "Kau pikir akau akan percaya? di zaman ini, ponsel ibarat nyawa kedua bagi kita. Tidak mungkin seseorang melepaskannya dari tangan meski hanya sekejap."
Kenyatannya memang begitu bukan? ponsel sudah menjadi hal yang tidak terpisahkan saat ini. Manusia terus menggenggamnya dari bangun tidur hingga akan tidur kembali. Siapa yang bisa jauh dari benda itu saat ini?
"Itu mungkin kakak, tapi aku tidak. Terserah kakak percaya atau tidak, tapi aku memang jarang memakainya. Aku tidak mengerti kenapa kalian sangat menyukainya, tapi bagiku, benda itu tidak lebih mengasyikkan dari sebuah buku," Aila menyanggah ucapan Erik. Dan itu memang benar. Aila lebih menyukai berkebun dan membaca atau melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan, ketimbang bermain ponsel.
Erik kembali tertawa mendengar alasan Aila. "Kau tidak punya media sosial?" tanya Erik di sela tawanya.
"Punya, facebook," jawab Aila jujur.
"Hanya itu?" tanya erik lagi.
"Whatsap," tambah Aila.
"Selainnya?"
Aila menggeleng, "Hanya itu ku rasa," Aila memang tidak punya aplikasi apapun di ponselnya. Entahlah ia merasa tidak tertarik untuk memasangnya.
"Astaga! hidupmu pasti sangat membosankan," komentar Erik. Ia tidak menyangka Aila wanita yang sangat kuno. Wanita seumurannya bukankah seharusnya menkmati hidup dengan kecanggihan teknologi saat ini? lagi pula, dengan kekayaan Leon yang selangit, seharusnya ia bisa menjadi selebgram atau beauty bloger untuk meraih banyak penggemar. Bukankah saat ini bayak orang pamer kekayaan di media sosial untuk mencari popularitas?
"Aku tidak merasa membosankan, aku bahagia.." Sergah Aila. Ia memang merasa sangat bahagia sekarang. Gadis itu tdak mengerti kenapa hidup seseorang bisa sangat membosankan hanya karena tidak punya media sosial? lagi pula, media sosial penuh dengan kebohongan terkadang dan tidak sesuai dengan realita atau kenyataan.
Erik menggelengkan kepalanya tidak percaya. Di zaman ini masih saja ada manusia kuno dan primitif seperti Aila. Ia akhirnya menyerahkan ponselnya , karena tidak tahan dengan rengekan gadis itu.
Aila menerima ponsel tersebut dengan gembira. Gadis itu terlihat mengutak-atik ponsel Erik dan sesekali melirik horor pada pria dihadapannya itu. Entah apa yang dilihat dari ponsel tersebut, tapi sepertinya bukan sesuatu hal yang bagus. Ponsel Erik penuh dengan koleksi wanita-wanita bugil. Tidak jauh dari isi otak pemiliknya, ponselnya pun penuh dengan hal-hal mesum. Tapi biarlah, Aila tidak tertarik untuk mencibir ataupun menceramahi sahabat suaminya tersebut.
Aila membawa ponsel tersebut mendekat kearah jendela perawatan. Sejujurnya ia tidak tertarik untuk melihat film saat ini, ia menginginkan ponsel tersebut untuk bisa membawanya keluar. Aila memegang ponsel Erik dan mengeluarkan tangannya dari jendela. Air hujan bahkan masuk karena kaca tersebut terbuka. Tapi Aila tidak peduli.
Melihat kelakuan Aila, sontak saja Erik berdiri. Pria itu segera mengutuk kebodohannya sendiri. Ia lupa jika Aila gadis kecil yang licik.
"Hei, kau!" Erik benar-benar menyesal sudah begitu bodohnya percaya pada Aila.
Aila mengulum senyum sembari memainkan ponsel yang sudah berada diambang jendela itu. "Emm, aku pikir uang kakak banyak, jadi mungkin saja ponsel seperti ini tidak terlalu berharga. Lagipula isinya hanya perempuan bugil saja," Cibir Aila. Ia sengaja melakukan itu untuk memancing reaksi Erik. jika itu Leon, pria itu pasti akan cuek dan merelakan ponselnya. Yah, mengingat suaminya juga sangat keras kepala. mungkin sebelas dua belas dengan dirinya.
"Kau tahu juga tentang hal itu, jadi berhentilah bermain-main dan kembalikan ponselku," Erik berkata seolah ponselnya tidak berharga sama sekali. Padahal sebaliknya. Meskipun ia bisa membeli ponsel seperti itu dengan mudah, namun ada data penting didalamnya, lagi pula nomor beberapa teman kencan wanitanya juga berada di sana. Ayolah, kehilangan kontak mereka adalah mimpi buruk.
"Ya sudah, beli lagi saja sana. Atau kakak bisa minta ganti pada suamiku," jawab Aila cuek. Ia kembali memainkan ponsel Erik dan bersiap melepaskannya.
"Good by po...."
"Ok! ok, aku antar kau sekarang!" Erik langsung memotong ucapan Aila yang akan menumbalkan ponselnya. Ia tahu, Aila tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Seketika itu juga, Aila tersenyum cerah.
Erik mendesah, "Dasar gadis kecil yang licik!" gumam Erik kesal.
Aila tidak peduli dengan ucapan Erik, yang terpenting ia bisa bertemu dengan suaminya.
"Kembalikan dulu, nanti aku antar," Pinta Erik.
Aila menggeleng, "Antar dulu baru ku kembalikan," tolak Aila. Ia tidak bodoh. Bisa saja kan, Erik menipunya?
Lagi-lagi Erik hanya bisa mendesah pasrah dan menyerah. Ia berjalan keluar dan terlihat berbicara pada bodyguard yang bertugas. Tidak lama setelah itu, tangannya melambai kearah Aila. Menyuruh gadis itu untuk mendekat, pertanda jika ia bisa meninggalkan ruangan.
Tanpa membuang waktu lagi, Aila segera menjalankan kursi rodanya kearah Erik.
"Tanggung sendiri, jika Alex marah," ucap Erik memperingatkan Aila.
"Siap!" jawab Aila semangat. Entahlah, tidak ada yang lebih menyenangkan selain terbebas dari ruang perawatan yang sperti penjara tersebut.
Erik membawa Aila menuju ruang kerja Leon. Mungkin saja ia akan kena marah bossnya itu, namun itu lebih baik, ketimbang ia harus kehilangan ponselnya. lagi pula, rapat mereka pasti sudah selesai sekarang.
__ADS_1
Perkiraannya memang tidak salah. Ia melihat Lucas dan Serkan keluar dari ruang kerja Leon. Pertanda pembicaraan mereka sudah selesai. Erik segera merasa lega. Setidaknya ia tidak akan mendengar Leon mengomel.
"Kau ini, menjaga kucing kecil saja tidak bisa!" cibir Lucas pada Erik.
Erik mengangkat bahu, "Kucing kecil? dia lebih mirip setan kecil yang menakutkan," jawab Erik menanggapi cibiran Lucas. Ia rasa julukan Leon memang benar adanya.
Lucas melihat pada Aila. Gadis itu terlihat tersenyum dengan sangat manis padanya. Lucas Pikir, Aila sangat imut dan menggemaskan. Apa yang Erik takutkan?
"Astaga!" Erik malas melihat sikap Aila yang sok imut, padahal sangat menjenkelkan sebenarnya.
"Terimakasih kakak," ucap Aila pada Erik. Ia kemudian menyerahkan ponsel pria itu.
Erik segera menerimanya dengan senang. Sedang Serkan hanya menatap remeh padanya. Ia langsung paham, jika Erik kalah dengan ancaman Aila. Ponsel tersebut adalah buktinya.
"Apa?" ucap Erik pada Serkan. "Banyak data penting disini," Erik bergumam sendiri memperlihatkan kebodohannya.
Aila tidak memperdulikan ketiga pria konyol disampingnya. Ia memilih segera masuk kedalam ruangan suaminya. Didalam. Leon masih terlihat sibuk berbicara pada Jimy. Namun Aila tidak peduli, gadis itu tetap mendekat kearah suaminya dan Membuat kedua pria tersebut menoleh. Terlihat Leon terkejut melihat Aila berada disana. Sebelumnya Erik memang memberi tahunya, jika Aila ingin menemuinya, namun ia tidak mengizinkan. Leon memerintahkan Erik untuk tetap menahan istrinya di ruang perawatan. Ia berencana kesana setelah pembicaraan selesai. Namun sepertinya. Pria itu tidak berhasil menahannya. Dasar payah!
"Keluarlah, kita lanjutkan besok!" perintahnya pada Jimy.
Jimy mengangguk paham kemudian permisi keluar.
Leon tidak langsung menyapa Aila. Pria itu terlihat membereskan kertas-kertas dan dokumen yang berserakan diatas meja. Setelah semua terlihat rapi, Leon menggeser sofa dan meletakkan laptopnya pada meja didepan. Ia selalu bekerja dibawah saat ingin sedikit lebih santai.
Meskipun merasa diabaikan, Aila tetap menunggu dengan sabar dan diam.
Namun, hingga beberapa waktu berlalu, Leon tidak kunjung menyapanya. Aila mulai merasa kesal. Ia turun dari Kursi rodanya dan mendekat kearah suaminya. Aila menyelinap masuk diantara meja dan tubuh suaminya lalu meringkuk disana. Tidak ada larangan dari Leon, pria itu membiarkan istrinya meriingkuk didepannya.
"Kenapa kemari?" Leon membuka percakapan. Meskipun ia sedang mendiamkan istrinya, namun terkadang, ia hanya kesulitan untuk memulai pembicaraan.
"Aku tidak bisa tidur, tuan.." jawab Aila jujur.
Leon diam, tidak melanjutkan pembicaraan. Pria itu terlihat kembali fokus pada layar laptopnya.
Aila mengerti. Ia juga kembali diam. Sesekali gadis itu mengeliat memperbaiki posisinya yang tidak nyaman. Bagaimanapun, tubuhnya terjepit antara suaminya dan meja. Membuat ruang geraknya terbatas.
Leon paham jika Aila tidak nyaman, "Berbaringlah diatas sofa," Perintahnya pada Aila. Namun bukannya patuh, Aila malah naik diatas kaki suaminya yang bersila dan membenamkan tubuhnya pada dada pria itu.
Lagi-lagi Leon membiarkan. Meskipun tubuh mungil Aila tidak menganggunya sama sekali, namun karena Aila terus-terusan bergerk, membuatnya sulit untuk fokus pada pekerjaannya.
Leon berhenti sejenak dan mengamati istrinya. Merasa ditatap, Aila langsung diam. Namun, ia tidak tahan untuk tidak meringis saat perutnya kembali terasa kencang.
"Kenapa? sakit?" tanya Leon.
Aila mengangguk, "Sakit tuan," jawab Aila jujur.
Leon menarik napas, "Tahu sakit, kenapa bertahan?"
Aila terdiam. Tangannya terlihat mengusap lembut pada perutnya. "Apa yang harus ku lakukan tuan? aku tidak tega jika harus membunuhnya," jawab Aila. Ucapannya terdengar sangat sendu. Meskipun terlambat, akhirnya ia mengatakan alasan yang sebenarnya.
Mendengar kata 'membunuh ' yang dilontarkan Aila, Leon terhenyak. Ia tidak tahu jika Aila berpikir sejauh itu. dirinya memang seorang lelaki bajingan, namun ia tidak rela jika istrinya juga dikatakan demikian. cukup saja dirinya yang menjadi orang bejat.
"Kau berlebihan, sayang. Dia bahkan belum berbentuk," Kandungan Aila memang baru memasuki minggu ketiga,
"Tapi dia hidup, tuan.." Aila mengusap air matanya yang tertumpah. Ada perasaan ngilu di didalam hatinya. Meskipun janin dalam kandungannya belum bergerak, namun ia tetap bisa merasakan jika ada kehidupan disana.
Leon kembali menghela napas dan memeluk istrinya. Ia tidak tahu kata apa yang tepat untuk menjelaskan, jika hidup Aila lebih penting dari apapun baginya. Meski ia harus menukarnya dengan darah dagingnya sendiri.
"Dengar," suara Leon seperti tercekat ditenggorokan. Tidak dipungkiri, jika itu juga tidak mudah baginya. Namun, membiarkan bayinya tetap hidup, otomatis nyawa Aila yang terancam. "Kesehatan dan keselamatanmu lebih penting dari apapun,"
Aila tidak menjawab. Meski begitu ia paham maksud suaminya. Aila hanya bisa menangis untuk saat ini. Ia tahu, jika suatu saat nanti, Tuhan mungkin akan memberikan mereka seorang bayi yang cantik, tapi biarlah, ia merasa menjadi ibu yang buruk untuk saat ini.
Leon meraih dagu istrinya, menatap mata sendu didepannya. Mata yang terlihat lebih sering basah saat bersamanya. "Demi aku, kau mau melakukannya?" tanya Leon.
Aila diam untuk sesaat. Menatap wajah tampan yang terlihat kelelahan didepannya. Bukanya tidak tahu, Aila juga paham jika suaminya mungkin saja lebih banyak merasakan luka dari pada dirinya. Hanya saja, Leon terlihat lebih pintar menyembunyikan semuanya sendiri.
"Tapi jangan pernah tinggalkan aku setelah itu..." pinta Aila.
Leon kembali merengkuh tubuh mungil didepannya dan mendekapnya. Ia mencium puncak kepala Aila dalam. "Tidak, tidak akan pernah lagi," Leon berjanji kali ini. Apapun yang terjadi, mereka akan tetap saling memiliki satu dengan yang lain. "Besok kita lakukan. Aku akan menemanimu hingga selesai,"
__ADS_1
Aila mengangguk. "Jangan pergi kemanapun," pinta Aila. Esok ia ingin suaminya tetap berada disampingnya. Bukan karena takut merasa sakit. Hanya takut jika dirinya merasa sangat buruk karena sudah menjadi seorang ibu yang egois.
Bersambung.... La