
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 54
**Belum siap bernostalgia**
Sembari menunggu sang singa mandi, Aila meraih gawai dari tas slempang kecilnya. Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Adimas dan juga Nita. Aila mendesah pelan, mereka pasti sedang mengkhawatirkan dirinya saat ini.
Untuk sesaat ia tercenung, merasakan betapa nasib mempermainkan dirinya. Sekian lama, ia lari untuk menyembuhkan luka, namun nyatanya semua masih tetap sama. Hanya raganya saja yang menghilang, tapi tidak dengan namanya, nama Leon tetap di hatinya, meski seberapa kuat ia berusaha menghapus dari ingatannya.
Haruskah ia kembali tertawa? bahkan mungkin ia akan menjadi duri dalam daging di dalam hubungan orang lain?
Leon sudah berbahagia dengan Alea, tapi kenapa masih menginginkan dirinya? bukankah itu serakah?
Setidaknya itulah yang ada di pikirannya Aila saat ini.
"Apa yang kau pikirkan?"
Suara Leon membuyarkan lamunannya, entah sejak kapan pria itu berada di belakangnya.
Aila menoleh. Ia kaget, meski mencoba tetap tenang. Matanya kembali termanjakan oleh keindahan tubuh Leon, perut rata kotak-kotak liat, dengan air sisa mandi yang masih menetes di badan, pria itu hanya menggenakan handuk di pinggang, menambah bias kegantengannya semakin terlihat.
Aila menelan ludah.
Tuhan, kuatkan hati hambamu yang lemah iman ini!
Buru-buru ia segera memalingkan muka, susah banget mata di ajak kompromi, heran!
Leon terkekeh, " Bilang saja kau terposona melihat tubuhku,"
"Ke pe de an!" Aila mendengus, meski sebenarnya memang iya.
"Pakaikan bajuku!" perintah Leon.
Aila kembali menoleh, menatap tajam kearah Leon.
"Gini ya tuan. Pertama, saya bukan pelayan anda. Kedua, saya bukan baby sitter anda dan yang ketiga, anda bukan bayi. Jadi pakai baju anda sendiri!" ucap Aila tegas.
untuk sesaat Leon melongo, sebelum sesungging senyum tercetak di bibirnya.
"Baiklah, aku tidak akan berpakaian, kalo begitu." jawab Leon santai, sembari mendudukkan dirinya tepat di depan Aila.
"Terserah!" ucap Aila acuh.
Sebisa mungkin ia mengalihkan pandangannya dari tubuh Leon, meski matanya terkadang sulit di kendalikan.
Leon mengangkat kaki dan memyilangkan tangan di dada, menatap lekat kearah gadisnya. Ingin sekali segera menerkam mangsanya itu, namun ia cukup tahu diri.
"Sudah makan?" tanya Leon.
"Sudah." jawab Aila singkat.
"Bohong!"
Aila mendesah.
"Apa pentingnya buat anda, apakah saya sudah makan atau belum?"
Leon menarik salah satu ujung bibirnya, gadisnya sepertinya ingin bermain-main dengannya.
"Jelas penting sayang, jika badanmu kurus, itu merugikan buatku."
Aila menautkan alis, tidak mengerti.
"Aku suka kau gemuk sayang, akan hangat untuk dipeluk." lanjut Leon dengan nada menggoda.
"Dasar mesum!" umpat Aila merengut kesal.
Leon malah terbahak karenanya.
Aila mulai resah, memalingkan wajah terus menerus membuatnya lehernya pegal dan tubuh Polos di depannya membuat pikirannya melayang layang tidak karuan.
"Tuan?"
"Hem!"
"Apa anda nyaman, tidak berpakaian?"
Ayolah, ruangan jadi terasa sangat panas karena sesuatu disana. Dada polos Leon maksudnya. Dua orang dewasa di dalam satu kamar, dengan yang lain tidak pakai baju, itu tidak lucu!
Leon menautkan alis, menatap penuh selidik.
"Nyaman, kenapa?"
"Maksud saya anda akan sakit nanti, udara disini sangat dingin" ucap Aila beralasan.
"Dingin? aku merasa panas disini."
"Oh," Aila manggut-manggut. Ia kehabisan alasan.
Leon menarik salah satu ujung bibirnya, meski pintar, Aila tetap saja polos untuk urusan ranjang. Ia mengerti jika Aila gerah melihat dirinya yang tidak pakai baju.
"Aaaah!" Leon pura-pura mengeliat, lalu merentangkan tanganya diatas sandaran sofa untuk lebih mengekspos tubuhnya. Benar saja, setiap otot dari lengan dan dadanya terlihat menyembul dengan seksi.
Aila yang tidak sengaja menatapnya, terlonjak kaget.
"Tuhan, Astaga!" Aila memalingkan wajah sembari mengurut dada. Bukankah semua wanita suka yang berotot?
Tapi cukup, Apakah Leon pikir, Aila tidak tahu jika Leon sedang menggodanya?
Aila berdiri, menatap kearah Leon dengan kesal.
"Berpakaian lah tuan, atau saya akan keluar!" Ancam Aila kesal.
"Apa lagi salahku?!"
"Jangan pikir saya tidak tahu, jika anda sedang berusaha menggoda, cara anda benar-benar murahan!"
"Menggoda? waw! kau sepertinya kau lupa sedang berbicara dengan siapa? aku Leon Thomson, aku kaya, tampan, pintar dan terkenal, kenapa harus menggodamu?" Sungut Leon, harga dirinya sedikit terusik sekarang.
Aila memutar bola matanya malas, sejak dulu hingga sekarang sifat narsis pria didepannya itu tidak berkurang.
"Tapi kau tidak tergoda bukan? atau..." Leon mengulum senyum sembari berdiri.
"Atau apa? saya tidak tertarik!" ucap Aila ketus.
Leon menyeringai sembari menatap Aila penuh arti, pria itu berjalan mendekat.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Te__tentu saja." ucap Aila gugup ketika Leon semakin mendekat.
"Bagaimana kalo kita buktikan, hem?" tangan kanannya mulai memegang belitan handuk di pinggang, siap untuk melepaskan.
"Tidaaak! jangan, jangan! " Aila menutup mukanya rapat-rapat dengan telapak tangan, membuat Leon terpingkal.
"Bantu aku berpakaian, sayang." bisik Leon tepat di telinga Aila.
"Ya, ya! ayo berpakaian!" ucap Aila menyerah.
Meski ia sering menulis adegan novel 21+, tapi jika harus melihat senjata kenikmatan itu secara langsung, Aila masih belum siap mental. Gila aja, bisa-bisa kebablasan kan? eh!
Leon terkekeh puas, apapun akan ia lakukan agar semua kembali seperti semula. Seperti saat mereka bahagia, meski harus merangkak sekalipun. Tiga tahun tanpa gadisnya, membuat hidupnya hambar luar biasa dan itu mimpi buruk yang tidak ingin ia ulangi.
Aila bergegas menuju koper di atas ranjang dan membukanya, seketika aroma khas parfum yang dulu sering ia hirup menguar kedalam indra penciumannya. Aila menarik napas dalam, betapa ia merindukan aroma parfum itu. Aila mengambil pakaian dari sana, dan ketika dirinya akan berbalik, Leon dengan cepat mengangkatnya ke atas nakas.
"Hei! apa yang anda lakukan, tuan?!" tanya Aila terkejut.
"Apa? aku hanya mengangkatmu. Kau pendek, bagaimana caramu memakaikan jika kau masih dibawah?"
"Anda salah mengerti, saya hanya mengambilkan baju, tapi..."
Belum juga selesai dengan ucapannya, Leon memotongnya dengan menempelkan ibu jari di bibir Aila.
"Ssst! lakukan sayang," ucap Leon lembut, kemudian ia mencondongkan tubuh, hingga wajah mereka tidak lagi berjarak. Aila gugup tidak bisa bergerak, ia pasrah. Tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah sang singa.
Aila kemudian memakaikan kaus pada Leon.
"Gitu dong, bantuin suami sendiri kok susah banget."
"Aku bukan istrimu, tuan."
"Mau ku tunjukkan buktinya?sepertinya kau hilang ingatan."
Aila menghela napas dalam, ia kemudian tertunduk. Gadis itu terdiam sesaat, sebelum terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya.
"Suamiku membuangku, tiga tahun yang lalu." ucap Aila terdengar sendu.
Leon diam seketika.
Bahu mungilnya terlihat terguncang, lelehan air mata luruh seketika membasahi pipinya. Kenangan buruk dan trauma masa lalu kembali menghampiri, sakitnya sungguh masih terasa. Ketakutan akan perasaan di buang kembali datang.
Leon menatap pilu kepala yang sedang tertunduk di depannya. Ingin sekali diraihnya dalam dekapan, namun ia merasa tidak pantas. Kesalahannya memang sulit termaafkan. Nyatanya memperbaiki hati yang yang yang terluka tidak semudah menyatukan kepingan kaca yang terserak.
Dengan cepat Aila menghapus air matanya dengan punggung tangan, mengulas senyum getir, menutupi hati yang terluka.
"Tidak hanya suamiku, orang tuaku pun membuangku. Sepertinya tidak ada yang menginginkanku di dunia ini." lanjutnya dengan suara serak.
Leon menggelengkan kepala. Tidak, ia tidak tahan mendengar kepiluan wanitanya. Lebih baik ia mendapatkan timah panas di dada ketimbang mendengar rintihan Aila. Ia mendekatkan kepala, hingga keningnya beradu dengan kepala Aila yang tertunduk.
"Maaf,"
Akhirnya, hanya kata itulah yang terucap dari bibirnya.
"Siapapun yang membuangmu, mereka sangat bodoh!" lanjutnya.
Aila diam dalam tangisnya. Tiga tahun ini, ia berusaha menguatkan diri, namun di depan Leon benteng pertahanan yang ia bangun runtuh seketika.
Leon meraih kepala Aila, kemudian diciumnya dengan sangat lama. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan lagi menyakiti hatinya.
"Pakai celana anda, tuan." ucap Aila sembari meloncat turun dan berjalan kearah sofa, meninggalkan Leon dengan perasaan yang sulit diartikan.
Layar pada hp Aila terlihat berkedip beberapa kali, menandakan sedang ada panggilan masuk. Nama Adimas tertera disana.
Aila segera menggeser layar dan menerima telepon Adimas.
[Ya, mas?]
[Kamu gak papa? dimana sekarang?]
[Aku gak papa kok, ini lagi...]
Dari belakang Leon langsung merebut Hp Aila.
Aila berusaha merebut gawainya kembali, namun ia kalah tinggi.
[Jangan ganggu istriku lagi! ngerti kamu?!]
Tuuut! tuuut!
telepon di ditutup.
"Apaan sih!" ucap Aila kesal.
Leon mengerdikkan bahu, sembari melangkah keluar kamar.
"Kembalikan!" perintah Aila.
"Gak!"
Aila merengut kesal, Leon selalu berbuat seenak jidatnya sendiri.
"Gak keluar? atau mau di kurung di dalam?!"
Aila segera melangkahkan kakinya keluar kamar, mengikuti Leon dari belakang.
"Kemana?" tanya Aila.
"Makan."
"Sudah malam, aku mau pulang."
"Rumahmu di sini, sayang."
"Saya serius, tuan. Jalanan disini sangat sepi jika malam..."
"Davin akan mengantarmu!" potong Leon cepat.
Aila mendesah pasrah.
Mereka akhirnya turun menuju resto hotel, Aila mengedarkan pandangannya. Ada beberapa tamu hotel yang sedang makan malam juga rupanya.
"Duduk!" perintah Leon.
Aila enggan, namun akhirnya duduk juga.
__ADS_1
"Makan dulu sebelum pulang." ucap Leon.
Aila diam tidak menanggapi. Mau maksa pulang sendiri, ia tidak bawa sepeda. Lagi pula, jalanan sangat sepi dan gelap. Kalau ada mbak kunti nangkring di pohon beringin gimana? hiii!
"Bekerjalah disini," pinta Leon.
"Maaf, tuan. Saya sudah punya pekerjaan sendiri." jawab Aila.
Leon menautkan alis, pekerjaan apa yang bisa di lakukan di tempat terpencil seperti ini?
"Pekerjaan apa?"
"Menulis tuan, saya menulis novel."
Leon tertawa, mendengar ucapan polos Aila.
"Berapa gajimu dari menulis novel? aku akan gaji 100 kali lebih banyak." tawar Leon.
Aila memutar bola matanya, malas. Leon sealu berpikir uang adalah segalanya.
"Maaf, tuan. Ini bukan soal uang, saya mencintai pekerjaan saya." Aila berusaha menjelaskan dengan sabar.
Jika Leon pikir bisa menariknya dengan uang, maka pria itu salah besar. Memang baru dua tahun terakhir mengenal dunia literasi, namun ia merasa nyaman untuk menekuni bidang tersebut.
"Bagaimana jika1000 kali gajimu? kau bisa membeli apapun yang kau mau." lanjut Leon.
Aila mulai kesal, menjelaskan apapun pada Leon tidak akan masuk dalam otak pria itu. Sia-sia saja.
"Gak mau, ya gak mau tuan. Maksa amat!" ucap Aila sebal.
Leon mengerutkan kening sesaat, Aila banyak belajar kosa kata baru tiga tahun ini.
"Baiklah, jika kau menolak, maka puluhan kariyawan hotel dan resort ini akan kehilangan pekerjaan. Karena aku akan menutup resort ini." ucap Leon santai.
Mau bagaimana lagi? sejujurnya, ia hanya ingin setiap detik melihat wanitanya.
"Anda mengancam saya, tuan?"
"Aku tidak mengancam, sayang. Aku serius!"
"Terserah, aku tidak peduli!" Aila benar-benar marah sekarang, Leon tidak juga mengerti akan isi hatinya.
Aila berdiri, kemudian melangkah keluar. Mau ketemu mbak kunti kek, kolor ijo kek bahkan pucung sekalipun ia sudah gak peduli. Ia sedang kesal sekarang.
"Mereka akan kehilangan pekerjaan karenamu!" teriak Leon.
"Bodo!" ucap Aila tanpa berbalik.
Leon melongo, ia tidak menyangka jika Ancamannya tidak lagi mempan untuk Aila. Dulu, jika Aila diancam atas nana orang lain, gadis itu akan langsung menurut.
"Tuan?" tanya Davin.
"Antar dia Davin, dia membuatku gila sekarang!" ucap Leon kesal.
Davin mengangguk kemudian berlari mengejar Aila.
Sepanjang jalan, Aila terus mengumpat, menyumpahi Leon. Tiga tahun, tapi tidak membuat pria itu menjadi dewasa. Leon masih saja bermain-main dengan nasib orang lain untuk mengancamnya.
Aila berhenti untuk sesaat, karena melihat sorot lampu mobil mendekat kearahnya. Ia menoleh ke belakang.
Terlihat Davin keluar dari dalam mobil.
"Silahkan masuk nona, saya akan mengantar anda." ucap Davin sopan.
"Aku bisa pulang sendiri, kak Davin!" ucap Aila ketus. Entah apa kesalahan Davin hingga pria merana itu harus ikut menjadi sasaran kekesalannya.
"Anda serius, nona? saya dengar disini rawan begal." Davin berusaha menakuti Aila.
"Sok tau, kakak. Emang mereka mau begal apa ke aku?"
"Anda perempuan, nona. Anda bisa menebak sendiri apa yang akan mereka lakukan terhadap anda."
Aila diam, terlihat berpikit sesaat. Ucapan Davin memang benar, jujur saja ia ngeri berjalan sendiri, mana gelap lagi.
"Ok, baiklah jika kakak memaksa."
Aila buru-buru masuk kedalam. Tengkuknya tiba-tiba meremang. Jangan-jangan memang ada mbak kunti beneran? hiiii!
Davin terlihat mengulum senyum, melihat kelakuan nonanya.
"Bagaimana kabar oma, kak?" tanya Aila ketika mobil sudah melaju beberapa saat.
"Tanyakan langsung pada tuan, nona."
Aila mendengus, seharusnya ia sudah tahu, Davin hanya akan bicara apa yang di perintah oleh boss_nya.
"Anda tidak bertanya bagaimana kabar tuan, nona?"
"Apa kau akan menjawabnya?"
"Ya."
"Aneh!"
Davin kembali mengulum senyum.
"Dia tampak baik-baik saja, apa yang mesti di tanyakan." ucap Aila ketus.
"Bagaimana jika anda salah?"
Aila memalingkan muka, menatap jalanan gelap melalui kaca mobil.
"Kakak tangan kanan yang paling setia, semua yang kakak sampaikan pasti hanya hal yang baik tentangnya. Aku gak akan percaya." ucap Aila.
Davin diam, ia tahu nonanya butuh waktu untuk kembali menerima tuan mudanya.
Selanjutnya, mereka diam, hingga mobil berhenti di depan rumah Nita.
Tanpa banyak bicara, Aila segera bangkit untuk membuka pintu mobil, namun ucapan Davin menahannya.
"Tiga tahun ini, tuan hidup dengan sangat menderita, nona."
Aila diam.
"Tuan menghabiskan banyak uang untuk mencari anda, namun anda tidak juga ditemukan." lanjut Davin.
Aila masih diam, beberapa saat kemudian ia membuka pintu mobil dan keluar begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hingga mobil Davin hilang dari pandangan, Aila masih mematung sendirian di halaman depan.
__ADS_1
Bersambung..