
🌸 Cinta 49 Cm🌸
Part 64
**Setan kecil yang menakutkan**
Aila terlihat mengantar Nita menuju kamarnya. Tentu saja Davin membantu mendorong kursi roda yang sedang di pakai oleh Nita. Pria itu ngotot ingin mengantar dengan alasan, kaki Aila yang sedang sakit. Aila yang tahu kekawatiran Davin padanya, akhirnya mengizinkan. Davin tahu, Aila lebih penting dari apapun bagi bossnya dan otomatis akan menjadi prioritas utama baginya.
Dalam perjalanan menuju kamarnya, Nita tidak berhenti takjub mengamati desain interior di dalam kastil. Berkali-kali manik mata hitam legam itu terlihat membulat sempurna karena kagum.
Seumur-umur, wanita berwajah kalem itu belum pernah melihat bangunan yang begitu indah, selain dalam film-film animasi disney yang bertemakan kerajaan tentu saja.
Ia merasa seperti sedang bermimpi bisa berada di dalam istana seindah itu. Menurutnya Aila sungguh beruntung. Nita berpikir, gadis itu merupakan contoh nyata dari seorang cinderella dalam dunia nyata.
Dan hebatnya lagi, gadis itu tidak pernah bercerita, jika suaminya seorang millyader yang kaya raya.
Sejak kecil, Nita mengenal Aila sebagai seorang gadis yang rendah hati, dermawan dan tidak tegaan. Salah satu kebaikan yang pernah dilakukan gadis itu adalah, Aila memberikan setiap kesempatan dirinya untuk diadopsi kepada anak-anak yang lain. Termasuk dirinya. Aila kecil begitu manis dan pendiam. Gadis itu seperti mempunyai magnet untuk menggerakkan setiap hati untuk menyukai dan menyayanginya. Sehingga begitu banyak keluarga yang ingin mengadopsinya, namun gadis itu selalu menolak dan malah memberikan kesempatan itu kepada anak lain dengan berbagai alasan.
Jika sekarang ia melihat betapa semua pelayan sang boss menyambutnya dengan begitu haru, ia merasa tidak kaget. Sejak kecil, Aila memang bisa dengan mudah mengambil dan menempati hati banyak orang karena kebaikan hatinya.
Dan janji Tuhan kepada orang-orang yang mempunyai kebaikan hati adalah benar. Dia mengirim sang pangeran untuknya kedunia. Meski pangeran itu tidak sempurna, namun ia begitu menyayanginya. Setidaknya itu yang ia lihat dari cara Leon mencintai Aila.
"Hebat, kamu dek. Bisa tinggal di istana kaya gini." ucap Nita takjub.
"Apaan sih, mbak. Biasa saja," ucap Aila sembari tersenyum canggung.
"Ehem!" Davin sengaja berdehem untuk mengingatkan Nita.
Nita yang mengerti maksud Davin, terlihat salah tingkah.
Aila mengerutkan kening melihat kelakuan dua orang di sampingnya itu.
"Ada apa, kak?" tanya Aila kepada Davin.
"Tidak ada nona, hanya memastikan setiap orang menghormati anda." ucap Davin menyindir Nita.
"Apa maksud kakak, semua orang menyayangiku disini." tanya Aila tidak mengerti.
"Saya paham, nona." jawab Davin.
Aila mendesah, "Kakak terlalu khawatir, mbak Nita sudah seperti kakak bagiku. Memanggilku nona akan terasa aneh." ucap Aila yang mengerti maksud Davin.
"Itu sudah menjadi aturan bagi kami, nona. Mohon anda mengerti." jawab Davin sopan.
Aila kembali mendesah, berdebat dengan Davin tidak akan menemukan ujung pangkalnya. Meski ia tahu kenapa Davin melakukan itu sebagai bentuk kesetiannya, namun Aila berpikir Davin terlalu kaku.
"Baiklah, ini kamar mbak." ucap Aila menunjuk sebuah kamar. Ia kemudian masuk kedalam kamar tersebut, yang ternyata sudah ada Maria dan lisa disana. Mereka terlihat sedang menata kamar untuk Nita.
"Berikan padaku, kak." ucap Aila meminta sprei yang sedang di pegang Lisa. Gadis itu sepertinya tengah mengganti sprei dengan yang baru.
"Jangan, nona. Biarkan kami yang melakukan." jawab Lisa merasa tidak enak.
"Haish, apaan sih. Kalau dikerjain bersama lebih cepat selesai kak," ucap Aila merebut sprei dari tangan Lisa.
Gadis itu hanya terlihat mendesah pasrah. Meskipun menyandang gelar sebagai nyonya Thomson, Aila tidak pernah memperlakukan semua pelayan di kastil seperti pembantu, namun lebih kepada teman dan sahabat.
Karena dikerjakan tiga orang, dalam sekejap semua pekerjaan sudah terselesaikan. Aila benar, sebuah pekerjaan yang di kerjakan bersama memang cepat selesai, apa lagi mereka mengerjakannya dengan saling bercanda ria.
"Kakak tidak akan keluar?" tanya Aila kearah Davin.
"Ah, ya_ nona." ucap Davin gugup. Bisa-bisanya ia tetap berdiri disana setelah pekerjaannya selesai, runtuk Davin pada dirinya sendiri.
Aila tersenyum simpul kearah Davin, "Tenang aja kak, mbak Nita sudah aman kok." ucap Aila dengan nada menggoda.
Mata Nita membulat sempurna, karena ucapan Aila, sebelum kedua pipi pemilik wajah kalem itu pun ikut merona.
Sedang Davin meski menampakkan raut datar seperti biasa, namun Aila tahu jika hatinya tidak baik-baik saja. Ada yang sedang terjadi disana.
"Saya mengerti, nona. Saya permisi dulu." ucap Davin sembari membungkuk hormat, kemudian melangkah meninggalkan kamar Nita.
Menyisakan tawa jahil pada bibir Aila.
Tidak butuh waktu lama, Nita sudah terlibat pembicaraan seru dengan Lisa. Nita memang gadis yang ceria dan supel, sehingga ia tidak kesulitan untuk memulai pembicaraan dengan orang baru. Sedang Lisa juga termasuk gadis pendengar yang baik.
Setelah beberapa saat mengobrol, Aila menyuruh Nita untuk istirahat. Gadis itu terlihat kelelahan. Selain karena sedang masa pemulihan, mereka juga baru saja melalui perjalanan panjang yang melelahkan.
"Kakak istirahatlah dulu, nanti aku kesini lagi." ucap Aila.
Nita mengangguk mengerti.
"Jika butuh apa-apa, kakak bisa pencet tombol sebelah kanan. Aku akan segera datang untuk membantu." pesan Lisa sembari menunjuk remot kecil dengan beberapa tombol.
Lagi-lagi Nita tersenyum sembari mengangguk. Ia begitu terharu dengan suasana baru di sekitarnya. Sudah lama sejak orang tuanya meninggal, ia merasa sangat kesepian. Namun setelah Aila datang, ia merasa kembali memiliki keluarga.
Aila dan Lisa segera meninggalkan kamar Nita, memberi kesempatan gadis itu untuk beristirahat.
Setelah dari kamar Nita, Aila segera menuju ke kamarnya sendiri. Jujur, ia sangat merindukan ruangan itu. Ruangan yang menyimpan banyak kenangan manis antara dirinya dengan sang suami, meskipun hanya singkat.
__ADS_1
Click!
Pelan, Aila membuka handle pintu kamarnya, kemudian ia melangkahkan kakinya masuk lebih kedalam.
Tidak ada satupun yang berubah, semua benda masih terletak ditempa yang sama, persis seperti terakhir kali ia pergi meninggalkan tempat itu. Lisa sempat bilang, setelah kepergiannya. Kastil kedua memang di tutup, dan hanya sesekali dibersihkan oleh pelayan.
Aila mendekati ranjang dengan perasaan yang sulit diartikan, ia ingat bagaimana tempat itu menjadi saksi bisu malam pertamanya yang gagal. Di tempat itu juga, ia sering menangis menumpahkan segala kesedihan ketika suaminya tiba-tiba berpaling darinya dan meninggakannya di malam-malam sepi seorang diri.
Tidak terasa tangannya terulur menyentuh permukaan ranjang. Tempat yang begitu ia rindukan tapi juga tempat yang mengingatkannya pada luka masa lalu yang dalam.
Saat sedang terhanyut dengan kenangan, tiba-tiba Leon mendekapnya dari belakang. Cepat-cepat Aila menyeka butiran kristal yang sedari tadi sudah berdesakan di pelupuk mata.
"Aku mencarimu," ucap Leon sembari meletakkan dagunya di atas kepala Aila.
Aila diam, gadis itu hanya mengusap lengan suaminya pelan. Jauh di dalam hatinya, ngilu itu masih terasa.
Tahu apa yang sedang dipikirkan Aila, Leon membalikkan badan mungil itu. Menatap manik mata sendu tersebut untuk sesaat, lalu mengaisnya masuk kedalam pelukan.
"Aku tidak pernah berani memasuki kamar ini setelah kepergianmu. Kau tau kenapa?" Tanya Leon di sela pelukannya.
Aila mendongak menatap wajah suaminya.
"Karena aku terlalu takut untuk sekedar melihat jejakmu."
Mendengar ucapan suaminya, mata Aila kembali berembun.
"Anda sudah melukaiku dengan begitu dalam, tuan." ucapnya parau.
"Aku tau, dan kau menghukumku dengan begitu berat." timpal Leon sembari mengusap Air mata istrinya.
"Jangan meninggalkanku lagi," pinta Aila.
"Tidak akan."
Aila kemudian memeluk tubuh suaminya dengan erat, begitu pula dengan Leon, pria itu beberapa kali mengecup puncak kepala istrinya. Ia bertekad untuk tetap merengkuh tubuh mungil itu selama sisa hidupnya.
Di tengah keheningan dua orang yang sedang memeluk harapan, terdengar suara ketukan di pintu.
"Ya?"
"Mobil anda siap, tuan." ucap Davin.
"Tunggu sebentar!"
Aila mendongakkan kepalanya, "Anda mau pergi?"
Aila mendesah, "Apa lama?" tanya Aila.
Leon memiringkan kepalanya, "Em, mungkin. Kenapa?"
"Boleh ikut?"
"Tidak sayang."
Aila diam. Kecewa.
"Hanya sebentar, aku janji."
Leon kemudian meraih dagu Aila dan menciumnya singkat, sebelum melangkah keluar meninggalkan kamar.
Sepeninggal Leon, Aila mendesah resah. Entah kenapa ia sangat ingin ikut ke kantor dan merasa kesal karena Leon menolaknya.
Ia kemudian keluar dari kamar, menuju ruang tengah, berharap menemukan teman mengobrol. Namun, ruang tengah terasa sepi. Aila melanjutkan langkah kearah dapur dan ia merasa lega, karena menemukan Lisa disana. Gadis itu terlihat sedang menata sayuran yang akan di masak sore nanti, sebagai makan malam.
Aila duduk begitu saja dengan Lesu di depan dapur.
Melihat hal itu Lisa menautkan kedua alis heran.
"Nona kenapa?" tanya Lisa.
Aila tersenyum sembari menggeleng, " Dimana, bibi Maria?" ucapnya sembari celingukan mencari sosok Maria.
"Bibi Maria sedang bersiap, nona. Hari ini jadwal belanja sayuran." jawab Lisa menjelaskan.
Mendengar jawaban Lisa, entah kenapa Aila jadi punya ide. Gadis itu tiba-tiba tersenyum ceria. Ia kemudian pamit pada Lisa, untuk pergi ke kamar.
Lisa hanya mengangguk sembari menatap kepergian Aila dengan heran. Baru saja gadis itu terlihat cemberut, namun sedetik kemudian terlihat ceria. Lisa geleng-geleng kepala melihat tingkah nonanya.
******
Leon melepas kaca matanya kemudian meletakkannya diatas meja. Pria itu terlihat memijat pelipisnya pelan, matanya terasa lelah karena harus memeriksa data yang baru saja ia terima dari investor yang akan menanam saham dalam perusahaannya.
Ya, mereka baru tanda tangan kesepakatan kontrak.
"Ini," Alea terlihat menyodorkan minuman dingin kearah Leon, membuat pria itu menoleh sesaat. Bukan pertama kalinya, Alea memberi perhatian kepadanya, namun saat ini ia benar-benar ingin gadis itu berhenti.
Ia tidak ingin membuat Aila salah paham, tapi ia bingung harus memulainya dari mana, mengingat sebelum-sebelumnya ia sudah pernah menyuruh Alea untuk pergi, tapi gadis itu seperti tidak peduli.
__ADS_1
"Aku baru saja minum, berikan saja pada Davin." ucap Leon sembari melanjutkan pekerjaannya.
Alea tersenyum, kemudian memberikan minumannya kepada Davin. Davin selalu menjadi pihak ketiga yang menerima limpahan makanan dan minuman bentuk perhatian Alea pada sang boss. Namun pria berwajah datar itu tidak pernah menolak dan juga tidak menerima. Ia membiarkan semua makanan dan minuman menumpuk di atas mejanya hingga petugas cleaning service membersihkannya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Alea.
Leon terlihat menarik napas panjang, merasa sudah waktunya ia bicara. Entah kenapa hubungannya dengan Alea menjadi seperti ini. Jika saja Alea mau mendengar dan melanjutkan hidupnya sendiri, mungkin mereka masih bisa menjadi sahabat ataupun teman. Tapi karena keras kepalanya itu, malah membuat Leon semakin jengah.
Leon tahu, Alea gadis yang baik. Karena itu, ia juga berharap Alea bisa hidup dengan bahagia bersama orang yang mencintainya.
"Aku di tunggu istriku makan malam di rumah, Alea." ucap Leon. Kali ini ia sengaja berbalik dan menatap lekat gadis itu.
"Istri?" tanya Alea tidak mengerti. Setahunya Istri Leon pergi meninggalkan rumah tiga tahun lalu.
"Ya, aku sudah menemukannya." lanjut Leon.
Alea terlihat terperanjat kaget mendengar ucapan Leon, namun gadis itu tetap berusaha terlihat tenang.
"Ah, kau sudah menemukannya ternyata. Selamat." ucap Alea seraya mengukir senyum, meski hatinya hancur. Ia tahu selama tiga tahun ini, Leon berusaha menemukan istrinya dan ia juga tahu selama itu juga Leon sangat menderita. Tapi apa salah dirinya? yang hanya ingin terus berada di samping orang yang dicintai?
Ia tidak meminta apapun, tetap bisa melihat Leon setiap hari baginya sudah lebih dari cukup. Kenapa Leon tidak paham, jika ia belum siap untuk pergi meninggalkan semua kenangan mereka?
"Ya, dan aku tidak ingin kehilangan dia untuk yang kedua kali." tandas Leon. Ia kemudian berdiri mengambil jas pada sandaran kursi lalu memakainya.
"Kita pulang, Davin." ucap Leon sembari keluar ruangan.
Davin mengangguk, kemudian mengikuti tuannya dari belakang, meninggalkan Alea yang tengah tercenung sendirian.
Dulu, dulu sekali. Bukankah mereka pernah menjadi 'kita' sebelum 'aku' dan 'kamu'? lalu kemana kata itu pergi?
Leon terlihat keluar dari lift khusus direktur utama dengan di ikuti Davin dan beberapa bodyguardnya. Namun baru saja melangkah beberapa saat menuju loby, netranya menangkap sosok yang tidak asing baginya. Tapi bagaimana mungkin? bukankah...
Pria itu sampai berhenti untuk meyakinkan penglihatannya, namun yang di lihatnya tetap saja sosok Aila. Istrinya.
"Kau lihat, Davin?" tanya Leon sembari menunjuk seorang gadis yang tengah duduk dengan santai di loby kantor dengan memegang permen lolypop besar di tangan. Aila masih memakai baju yang sama, ia bahkan pergi kekantornya hanya dengan menggenakan kaus kaki yang sudah terlihat kotor.
Davin terperanjat kaget.
"Bukankah dia.."
"Dia nonamu, Davin! kau lambat!" potong Leon cepat.
Leon kemudian berjalan kearah dimana Aila sedang duduk, namun ketika melewati meja resepsionis, seorang staf wanita memanggilnya.
"Maaf, tuan. Ada seorang gadis SMA yang sedang mencari anda." ucap Pegawai tersebut dengan sopan.
Mendengar kata 'gadis SMA' entah kenapa ia tertarik dengan ucapan pegawainya. Pria itu kemudian mendekat pada meja resepsoinis sembari menyandarkan tubuhnya.
"Siapa kau bilang?" tanyanya penasaran.
"I__itu tuan," pegawai itu menunjuk kursi dimana Aila duduk."Gadis aneh itu mengaku sebagai penggemar berat anda sebagai pemain basket, karena takut mengganggu anda maka saya tidak mengizinkannya untuk masuk." ucap pegawai wanita takut-takut. Pasalnya sang boss terkenal dingin dan jarang bicara.
Mendengar ucapan pegawainya, Leon menyeringai.
"Dia bilang seperti itu?" tanya Leon penasaran. Entah kenapa ia ingin tau apa yang sedang direncanakan oleh mainannya itu.
Melihat sang boss tertarik dengan laporannya, pegawai wanita tersebut dengan antusias mulai bercerita.
"Ya, tuan. Gadis itu ingin sekali meminta tanda tangan anda dan memohon untuk tidak diusir. Karena jika di usir ia mengancam untuk bunuh diri, jadi kami membiarkan dia menunggu di loby." ucap pegawai dengan menggebu. Ia pikir bossnya tidak sedingin yang diceritakan orang. Nyatanya sang boss menanggapi laporannya dengan ramah.
Leon tergelak mendengar ucapan sang pegawai, membuat ketiga wajah wanita di depannya saling bertatapan karena heran.
"Kau tau, siapa gadis aneh itu?"' tanya Leon.
Pegawai wanita itu diam, terlihat bingung. Mana dia tahu siapa cewek aneh itu.
"Dia istriku," ucapnya santai.
Seketika, wajah ketiga pegawai resepsionis di depannya langsung terlihat pias ketakutan, tapi Leon tidak menanggapi nya. Ia lebih tertarik pada gadis mungilnya itu.
"Davin?"
"Ya, tuan?"
"Kau yakin bodyguard di kastil semuanya lulusan black rock?"
Davin mengangguk, "Saya yakin tuan."
"Lalu bagaimana bisa, hanya mengurusi wanita semungil dirinya mereka tidak bisa?" tanya Leon.
"Maaf, tuan. Saya akan evaluasi kembali kinerja mereka."
Leon menarik napas panjang, melihat Aila sendirian tanpa seorang pun pengawal, sudah tentu gadis itu tengah melarikan diri.
"Dia setan kecil yang menakutkan, Davin!" ucap Leon sembari menunjuk kearah Aila. Gadis itu sepertinya belum menyadari jika Leon sudah di depan matanya, karena ia terlihat sibuk dengan sebuah buku ditangan kiri dan lolypop besar di tangan kanan.
Leon menggeleng sesaat mengamati wanitanya. Bagaimana bisa setan kecilnya itu terlihat begitu santai dengan penampilannya, bahkan orang-orang yang berlalu lalang di depannya tidak sekalipun mengalihkan perhatiannya. Sesekali gadis itu malah terlihat terkikik geli sembari mengayunkan kakinya hingga gelang kakinya berbunyi.
__ADS_1
Bersambung....