
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 74
** Membajak**
"Benar, boleh tuan?" tanya Aila antusias, saat Leon menyuruhnya untuk bermain di tepi kolam.
Leon mengangguk, kemudian kembali menyelam kedalam air.
Dengan senyum menggembang, gadis itu berjalan kemudian duduk di tepi kolam. Ia memasukkan kakinya kedalam air dan merasakan hangat menjalari setiap jari-jari kakinya hingga ke lutut.
Aila bertepuk tangan ketika melihat tubuh suaminya bergerak lincah dari ujung keujung. Tanpa sadar, ia menggerakkan kakinya hingga menepuk air kolam dan membuat dress putih yang ia kenakan basah sebagian, menerawang memperlihatkan lekukan pada paha dan betisnya.
"Enak bermain air?" tanya Leon yang tiba-tiba muncul dari dasar kolam, membuat aila terkesiap karenanya.
"Iya, tuan. ini sangat menyenangkan." jawab aila dengan binar bahagia.
"Mau turun?"
Aila menggeleng cepat, "Gak tuan, saya tidak bisa berenang, nanti tenggelam."
"Ku bantu menopang tubuhmu, sayang." Leon mengulurkan tangan kearah Aila. Sesaat gadis itu terlihat ragu untuk menyambut uluran tangan suaminya, namun akhirnya ia percaya jika dirinya akan baik-baik saja.
Leon memegang lengan Aila dan menurunkan gadis itu dalam kolam.
"Disini dangkal, yang disana lebih dalam," ucap leon sembari menunjuk sisi kolam yang lain.
Aila tidak menjawab, gadis itu dipenuhi perasaan was-was karena takut tenggelam, hingga tanpa sadar ia berpegang erat pada lengan suaminya.
"Tak apa, coba gerakkan kakimu," ucap Leon menenangkan ketakutan istrinya.
Meski ragu, Aila menurut untuk menggerakkan kakinya, hingga lama-lama senyum mengembang dari bibir mungilnya.
"Waw! saya seperti melayang, tuan." ucapnya takjub. Aila tidak menyangka ia bisa melayang diatas air tanpa harus takut tenggelam.
"Menyenangkan bukan?"
Aila mengangguk senang. ia terus menggerakkan kakinya seperti anak kecil yang baru saja belajar berenang.
"Sekarang aku lepas,"
"Jangan tuan, nanti tenggelam!" serta merta Aila langsung merapat dan mengeratkan pegangannya pada lengan kekar suaminya, namun Leon malah merendahkan badan, membuat Aila mau tidak mau mengikuti gerakan suaminya, hingga membuatnya tergagap karena masuk kedalam air. Kini tidak hanya bajunya yang basah namun rambutnya pun ikut basah.
Ia kemudian meraih pinggang istrinya dan mengangkatnya. Karena kaget, Aila langsung mengalungkan tangan pada leher suaminya.
"Takut, hem?"
"Takut, tuan." jawab Aila jujur.
Leon tertawa kecil, melihat wajah panik Aila. Ia mengulurkan tangan dan merapikan rambut istrinya yang menutupi wajah.
"Ku kira, kau tidak takut dengan apapun," ucap Leon dengan nada mengejek.
Aila diam, ia merasa telah salah mengambil keputusan untuk turun kedalam air.
"Saya benar-benar takut, tuan.." ucap Aila lirih.
Leon mengusap pipi istrinya dan menatap pada manik mata gadis itu..
"Tak apa, aku disini." ucapnya lembut, kemudian ia menunduk dan ******* bibir istrinya.
Aila terkesiap namun tidak kuasa menolak. Ia membiarkan bibirnya dilumat dan dikulum dengan lembut oleh suaminya.
"Katakan padaku, apa kau merindukan aku seminggu ini?" tanya Leon setelah melepas bibir merekah didepannya.
Aila menunduk, menatap dada kokoh didepannya.
"Ya." ucapnya pelan.
"Kenapa tidak menelepon?"
"Itu__"
"Apa?" ia yakin, Oma telah mempengaruhi istri polosnya itu, namun ia penasaran, entah apa alasannya kali ini.
"Oma bilang, harus ada jeda supaya__ cepat punya anak." jawab Aila terbata karena malu.
Leon terkekeh mendengar alasan Aila, ia lalu mencium pipi kemerahan istrinya singkat.
__ADS_1
"Oma bohong padamu, sayang. Jika ingin cepat punya anak, kita harus membuatnya setiap hari." ucap Leon dengan nada serius.
"Oma bilang itu tidak baik," sahut Aila.
Lagi-lagi Leon terkekeh, "dia bohong sayang. Bagaimana jika kita bukatikan saja?"
"Apa?" tanya Aila polos.
"Membuat bayi," bisik Leon ditelinga Aila, membuat surai tengkuk Aila meremang karena geli.
Tangan Leon terulur meraba lembut kearah rambut, wajah lalu turun keleher Aila. Bisa dilihat, untuk sesaat istrinya itu menegang.
Dengan satu gerakan tangan, Leon mengangkat tubuh istrinya sedikit lebih tinggi. Mereka saling bertatapan dalam diam. Hingga Leon membenamkan wajahnya pada dada yang berbalut dress basah di depannya, menggecupnya dalam. Bisa dilihat istrinya itu mengerang. Erangan itu yang selalu ia rindukan dan selalu membuatnya tidak pernah merasa puas.
Tanpa banyak bicaralagi, Leon membawa dan menghimpit Aila pada tembok pembatas kolam. Mendekap dan mulai mencium wajah, leher lalu naik dan mel**at bibir mungil istrinya.
Gadis itu mendesah, saat suaminya membelai lidah dan mengisapnya kuat.
Desahan Aila membuat gairahnya berkobar. Leon kemudian menyingkap dress istrinya keatas, menelusupkan jemarinya untuk membelai pinggul, pinggang dan berakhir dengan mer**as puncak dada istrinya yang sudah menegang.
Rintihan dan erangan lolos berbaur dengan gemericik air kolam. Tak ingin berlama-lama, Leon melepas dres dengan bra istrinya sekalian dan membuangnya asal ketengah kolam.
"Tu__an, nanti yang melihat." ucap Aila khawatir.
Leon tidak memperdulikan ucapan istrinya. Matanya telah berkabut penuh gairah menatap tubuh polos yang tengah merapat erat di depannya. Merasakan tubuh halus dan hangat yang bersentuhan dengan dadanya membuat Leon gila.
Ia meraih pinggang Aila lebih merapat, "Aku sangat merindukanmu, sayang." ucapnya serak sembari mendekatkan tubuh polos didepannya kearah bukti gairahnya yang menegang.
Aila mengerang dan bergerak merasakan benda keras dan menusuk pada tubuhnya, membuat Leon menggila ingin segera membenamkan kelelakiannya dalam kehangatan tubuh Aila.
Tanpa peduli mereka sedang dimana, Leon melepas paksa celana dalam istrinya lalu membelainya lembut. Ia bisa merasakan istrinya telah basah. Puas dengan desahan Aila, ia kembali menyergap bibir istrinya dengan panas.
Saat gadis itu belum siap, dengan satu hujaman kuat Leon memasukkan kejantanan miliknya, membuat Aila memekik pelan, merasakan nyeri pada tubuh bagian bawahnya.
"Tu__An, ingat ini di ma__na?"
"Peduli setan, kau membuatku gila seminggu ini!" ucap Leon tidak peduli. Dengan posisi seperti anak kanguru dan tubuh menyatu ia membawa istrinya naik keatas.
"Sssh! Tu__an, ah.." desah Aila saat pria itu membawanya naik keatas. Ia merasakan sensasi aneh sekaligus nikmat seiring dengan langkah suaminya. Membuat gerakan naik turun yang membuat gairahnya meledak..
"Enak bukan?" bisik Leon.
Dengan santai Leon berjalan membawa Aila masuk kedalam kamar. Tepat saat itu Oma melihat keduanya dari kejauhan. Wanita tua itu berencana menemui Aila, namun tidak disangka ia malah mendapatkan pemandangan langka.
"Astaga! berbalik maria!" perintahnya pada maria yang berjalan di belakangnya. Dengan wajah merah dan senyum merekah perempuan itu berbalik .
"Mereka benar-benar tidak tahu tempat," sungut Oma, namun sedetik kemudian wanita tua itu terkikik.
"Berapa ronde menurutmu kali ini?" tanya Oma pada Maria.
Maria tidak menjawab, wanita itu hanya tersenyum.
"Ayo, cepat pergi dari sini. biarkan mereka bertempur!" Oma kembali terkikik lalu melanjutkan langkah menjauh sembari bersenandung kecil.
"Pastikan kastil dalam keadaan tenang, Davin! mereka sedang membuat penerus Thomson group." ucap Oma saat ia berpapasan dengan pria itu. Pria berwajah datar itu terlihat diam sesaat, mencerna maksud nyonya besarnya.
"Leon sedang membajak, Davin! membajak!" lanjut Oma memperjelas ucapannya, karena melihat Davin sepertinya tidak paham.
Davin tergagap sebelum akhirnya membungkuk dengan hormat. "saya mengerti, nyonya." jawab Davin kemudian.
"Cepat kembali dan jangan ganggu pertempuran mereka!" perintah Oma sembari berbisik. Davin mengangguk kemudian berbalik. ia memang baru saja akan menemui bossnya untuk menyampaikan sebuah laporan. Untung saja Nyonya besarnya memberi tahu kalo tidak bossnya pasti akan marah besar karena terganggu.
********
Davin kembali membawa dokumen miliknya kedalam ruang kerja yang berada di dalam kamarnya.
Saat sedang bersama istrinya, sang boss memang tidak ingin di ganggu, dan itu suatu keuntungan baginya. Setidaknya ia bisa mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebelum tugas yang lain datang menyapa.
Pria itu membaringkan tubuhnya terlentang di atas ranjang. Kejadian siang tadi bersama sang nona, sedikit banyak menguras tenaga dan pikirannya. Sekarang ada tanggung jawab besar dalam pundaknya selain tentang sang tuan tentu saja. Yaitu tentang Nita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Mengingat tentang wanita itu, entah kenapa ia tiba-tiba merindukannya. Itu mungkin terdengar gila, karena siang tadi ia sudah melihatnya, namun kenyatannya ia ingin setiap detik bersama. Ah, cinta memang membuat orang gila.
Tanpa sadar, pria itu bangkit dari pembaringan dan melangkahkan kaki menuju kamar kekasihnya. Jika lusa ia masih mengetuk pintu, sekarang pria itu langsung masuk begitu saja tanpa aba-aba.
Suasana kamar yang redup terasa sepi. Entah dimana sipemiliknya. dengan sedikit perasaan kecewa, Davin berbalik untuk keluar kamar, hingga sebuah suara memanggilnya dari arah kamar mandi. Pria itu segera berbalik dan mendapati kekasihnya baru saja selesai mandi. Mengenakan daster tipis dan rambut yang basah, membuat darahnya berdesir. melihat dada kekasihnya ia bahkan bisa menebak jika Nita tidak mengenakan bra.
Membuang pikiran liar di kepalanya, ia segera melangkah maju dan menyergap tubuh didepannya. Menarik pinggang gadis itu lebih merapat.
"A_ada apa?" tanya Nita gugup karena sikap lelakinya.
__ADS_1
Davin mengulurkan tangan membelai bibir merekah di depannya, "Tidak, hanya ingin kamu!" ucapnya lalu mel**at panas bibir Nita.
Meskipun terkejut, Nita membiarkan Davin melakukan apapun pada tubuhnya.
Belum ada semenit yang lalu, ia berpakaian, namun kini semuanya telah tanggal dan terserak di lantai. Davin memang bukan pria yang banyak bicara dalam hal apapun. Itulah kenapa Nita selalu was-was saat pria itu masuk kedalam kamarnya. Karena sudah di pastikan mereka akan berakhir d ranjang.
Dalam sekejap saja tubuh Nita sudah merasa gerah dan panas, padahal ia baru saja selesai mandi. Tanpa memberinya kesempatan untuk bicara, Davin sudah lebih dulu memonopoli tubuhnya. pria itu mer**as, membelai dan mel**at puncak dadanya.
Hingga ia tidak lagi mampu untuk menahan desahan dan erangan untuk tidak keluar dari bibirnya.
Davin mengangkat wajah, menjauh dari tubuh polos di depannya. Setiap kali melihat Nita ia selalu kehilangan kendali diri.
Tidak peduli dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Davin, Nita mendekat. Meraba dada yang masih berbalut jas dan kemeja lengkap di depannya. Tubuh polos dan halus bersentuhan dengan permukaan baju, membuat gadis itu menggelinjang. Melihat hal itu, Davin mengurungkan niat untuk menyadarkan diri.
Peduli apa dengan kendali diri, ia hanya ingin merasakan kehangatan tubuh wanita yang sekarang berada dalam pengawasannya itu.
Davin mengais tubuh Nita keatas ranjang dan mulai menindihnya dengan posesif. Entah siapa yang memulai, bisa jadi dirinya sendiri. Satu-persatu pakaian yang dikenakanya tanggal berserakan.
Mereka menyatu dengan tubuh penuh keringat dan gairah.
Tepat bersamaan dengan hasrat yang kian memuncak, ia mendengar namanya di panggil- panggil dari luar. Ia mengenali suara tersebut sebagai salah satu bawahannya. Itu adalah suara Jimy. Ingin sekali ia mengabaikan panggilan tersebut, namun pria itu terus memanggil.
"Pergilah, aku akan menunggu," ucap Nita lembut.
Tidak ada jawaban, pria itu hanya menggeram kesal.
"Jangan kemanapun!" pesan Davin sembari mengenakan pakainanya.
Nita mengannguk sembari tersenyum. Davin terlihat sangat lucu dengan wajah kesal seperti itu. Kini ia tahu, Davin memiliki ekspresi lain selain wajah datar dan dingin tentu saja.
"Ada ap?" tanya Davin setelah pria itu keluar dari kamar Nita.
Melihat Davin keluar dari kamar Nita dan bukan dari kamarnya sendiri, membuat jimy terkejut. lelaki itu seperti menyadari sesuatu jika dirinya telah mengannggu.
"Maaf bos, tuan Serkan sudah sampai di bandara saat ini," lapor Jimy.
Davin berdecak, masalah penjemputan pun harus dirinya yang mengatasi. Mengganggu saja!
"Lalu?"
"Em..anu boss, saya tidak bisa menjemput. Nyoya besar ingin saya tetap di depan kamar nona." jawab Davin sembari menggaruk tengkuknya.
Melihat sikap Jimy, Davin tertawa kecil. Sepertinya pria itu mengalami hal yang lebih parah darinya. Jika ia gagal bercinta, Jimy malah harus mendengar desahan pertempuran sang boss, lebih merana siapa kiranya?
"OK, pergilah! nikmati pekerjaanmu. Biarkan aku yang menyuruh orang untuk menjemput serakan." ucap Davin akhirnya.
Mendengar ucapan mengejek dari Davin, Jimy hanya bisa tersenyum masam.
"Terimakasih boss dan maaf sudah menganggu." jawab Jimy tersenyum penuh arti, membuat Davin melotot kearah anak buahnya itu. Jimy tidak menanggapi , pria itu sudah lebih dulu berlari menjauh.
Setelah Jimy hilang dari pandangan, ia berbalik untuk menemui kekasihnya kembali.
"Sudah selesai?" tanya Nita.
"Ya," jawab Davin singkat, lalu mendekat kearah kekasihnya. Pria itu tidak melanjutkan cumbuannya, tapi malah berbaring brgitu saja. Entah kenapa ia sudah tidak lagi bergairah karena gangguan tadi.
Melihat Prianya tidak lagi ingin, Nita bangkit untuk meraih pakainya. Namun sorot mata pria itu menahannya.
"Biarkan," pinta Davin pelan. Meskipun malu, gadis itu menurut. Ia beringsut mendekat kearah prianya dan membenamkan diri disana.
"Dengarkan baik-baik," ucap Davin sembari menatap intens manik mata kekasihnya.
"Meskipun kita menikah, aku tidak bisa keluar dari sini. Aku sudah berjanji untuk tetap di samping tuan muda seumur hidupku." Davin menjelaskan tentang sumpahnya untuk melayani sang boss seumur hidupnya, meski apapun yang terjadi.
"Tak apa, aku mengerti. Diamanapun tidak masalah, asalkan denganmu." ucap Nita lembut.
Davin meraih kepala gadis itu dan menciumnya singkat. "Terimakasih, sudah mengerti." ucapnya sembari memeluk tubuh kekasihnya erat. Sepertinya ia tidak salah memilih Nita sebagai wanitanya.
"Aku juga ingin terus berada disamping Aila." sahut Nita mengutarakan keinginannya.
Davin mengangguk. Sepertinya mereka adalah dua orang yang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari keluarga thomson group untuk selamanya.
Bersambung...
Jujur gaes,,,
Tetap melancutkan cerita ini, bagiku berat banget.
Kenapa? karena cerita ini mengingatkanku dengan banyak kenangan. Yah, tentang kenangan apa itu, aku gak bisa cerita. Untuk itu, aku butuh keberanian dan mood ekstra untuk tetap menulisnya.
__ADS_1
Untuk kelen yang tetap sabar menunggu kelanjutannya, Terimakasih. Terimakasih banyak.