
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 53
** Galak **
"Ada apa dek?" tanya Adimas sembari mengacak puncak kepala Aila pelan.
Sentuhan Adimas menyadarkan Aila dari keterkejutannya. Gadis itu kemudian menggeleng, " Gak papa mas,"
"Kenapa? kamu kayak kaget gitu?" tanya Adimas sembari mencondongkan tubuh lebih dekat.
"Kita pulang aja deh,"
Adimas mengerutkan kening semakin heran. Pasalnya, Ketika baru sampai tadi, Aila terlihat sangat senang, tapi kenapa sekarang tiba-tiba ngajak pulang?
Sedang tidak jauh dari sana, terlihat Leon sedang berbicara dengan Davin tanpa mengalihkan tatapan elangnya pada Aila.
"Siapa dia, Davin?"
"Polisi, tuan."
"Aku tahu dia polisi, Davin! maksudku apa hubungannya dengan istriku?!"
Davin menggaruk tengkuknya, bagaimana ia tahu dia siapa?
Saya hanya bodyguard tuan, bukan dukun!
"Saya tidak tahu, tuan."
"Arrgh! cari tau, Davin!"
"Baik, tuan."
"Tangannya itu, aku ingin memotongnya, Davin! beraninya dia menyentuh istriku!" ucap Leon geram. Ia kemudian melangkah menuju Tempat dimana Aila berdiri.
Mohon kendalikan diri anda, tuan.
Aila terlihat semakin gugup, ketika melihat Leon semakin mendekat.
Ayolah berpikir Aila! kenapa kau selalu mendadak jadi bodoh saat menghadapi si gila itu.
Leon berhenti tepat di depan Aila, Matanya menatap tajam kearahnya, namun Aila terlihat memalingkan muka.
"Ayo, kita pulang sayang," ucap Leon selembut mungkin.
"Tidak!"
"Hei," Leon berusaha meraih tangan Aila, namun gadis itu sudah lebih dulu bersembunyi di belakang Adimas.
Adimas tidak paham dengan apa yang sedang terjadi, namun instingnya sebagai polisi langsung bisa menebak. Karena pria bule di depannya itulah, sikap Aila tiba-tiba berubah. Menurut Adimas Leon adalah seorang ketua gengster, jika melihat dari banyak bodyguard yang ia bawa.
"Kamu kenal dia, dek?" tanya Adimas sembari menoleh kebelakang.
Aila menggeleng.
"Cukup bermainya, sayang. Kemarilah!" Leon masih berusaha merayu dengan lembut.
Aila diam, tidak menjawab. Entahlah kenapa ia melakukan itu.
Leon melangkah lebih dekat, namun tangan Adimas lebih dulu menahan dada Leon.
Leon berdecak.
Seketika salah satu bodyguardnya yang berbadan paling besar mendekat, terlihat akan memegang tangan Adimas, namun Leon mengangkat tangannya agar bodyguardnya tersebut tidak ikut campur.
Sama seperti bosnya, bodyguard Leon juga sama keras kepalanya. Ia hanya mundur selangkah, seakan tidak rela jika bossnya tergores sedikit saja.
"Minggir!" ucap Leon kepada Adimas, terlihat sang singa masih berusaha mengontrol emosinya.
"Maaf, dia tidak mau.Jika anda memaksa, saya bisa menuntut anda karena kekerasan terhadap perempuan." ucap Adimas.
Leon terbahak, sembari menepis kasar tangan Adimas yang menahan dadanya. Meski Adimas seorang polisi, namun badannya yang keturunan lokal jelas kalah tinggi besar dengan Leon yang keturunan luar.
Bersamaan dengan itu, belasan bodyguard Leon mendekat dengan menggunakan senjata lengkap.
Adimas tetap tenang, meski ia sendiri bingung, bagaimana menghadapi orang sebanyak itu.
"Ayolah, sayang. Kau tidak ingin, ini menjadi panjang bukan?" Leon berkedip kearah Aila dengan genit.
"Pergilah! aku yang akan menghadapi mereka," perintah Adimas kepada Aila.
Aila mendesah, Adimas tidak tau siapa yang sedang dia hadapi.
Aila keluar dari persembunyiaannya, ia menatap tajam kearah Leon. Terlihat jelas kekesalan di wajahnya.
Seketika Leon berjongkok sembari merentangkan tangannya, persis seperti seorang ayah yang sedang menyambut anaknya masuk kedalam pelukan.
Aila memutar bola matanya malas sekaligus kesal.
"Apa yang anda inginkan tuan?! saya bukan anak anda, saya juga bukan hewan peliharaan anda! Berhentilah bersikap konyol!" ucap Aila sinis, gadis itu bahkan terlihat berkacak pinggang.
Leon terkekeh melihat tingkah wanitanya, jika sedang marah, Aila terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Apapun yang keluar dari mulut mungilnya tidak akan membuatnya tersinggung.
"Tidak sayang, kau memang bukan keduanya, karena kau is...."
Aila segera berlari dan menutup mulut Leon. Maksud Aila supaya Leon tidak mengatakan jika mereka pernah menjadi suami istri sebelumnya, namun kelakuannya itu, malah membuat Leon dengan mudah menangkapnya. Pria itu langsung mengangkat tubuh Aila dengan satu tangannya.
"Gadis pintar!" ucap Leon menyeringai, kemudian mengecup kepala Aila singkat.
Sontak membuat Aila meronta hebat, gadis itu memukuli dada dan bahu Leon minta di lepaskan.
"Lepaskan aku!" Aila terus meronta.
Leon tertawa sembari membawanya pergi.
Melihat Aila dibawa pergi, Adimas Berusaha mengejar, namun sial, semua bodyguard Leon menghadangnya dengan senjata lengkap dan Apesnya lagi, ia meninggalkan pistolnya didalam mobil.
Pukulan Aila nyatanya tidak berpengaruh pada Leon, pria itu menanggapinya dengan kekehan.
Merasa sia- sia, Aila diam karena kelelahan.
__ADS_1
"Kenapa berhenti? capek?!"
Aila tidak menjawab.
"Aku tidak papa, sampeyan pulang saja mas!" teriak Aila pada Adimas.
"Mas?" tanya Leon.
Aila diam, mendengus kesal.
"Panggilanmu padanya begitu mesra, apa kau selingkuh?"
"Selingkuh?! bukankah itu kata yang tepat untukmu, tuan?" jawab Aila sinis.
Leon terkekeh.
"Tiga tahun, tidak hanya membuatmu pintar mengamuk tapi juga menjadikan mulutmu pedas!"
Aila tidak menanggapi ucapan Leon, gadis itu menggembungkan pipinya kesal.
Leon membawa Aila mendekat kearah mobil. Untuk sesaat Aila mencuri pandang kearah wajah Leon, tangannya terasa gatal untuk menyentuh pipi pria itu.
Buru-buru Aila meruntuki otaknya yang gesrek, bagaimana bisa otaknya masih saja tidak waras selama tiga tahun!
"Sudah?!"
"Apa?!" sahut Aila ketus.
"Menatapku?"
Aila memalingkan wajahnya.
"Akuilah sayang, kau merindukanku bukan?"
Aila menatap tajam kearah Leon, Pria itu selalu tau isi hatinya, karena itukah ia mempermainkan perasaannya?
Geram, Aila menggigit bahu Leon kuat-kuat, membuat Leon menghentikan langkah. Pria itu diam dan memejamkan mata untuk sesaat, menahan sensasi perih luar biasa. Aila benar-benar menggigitnya.
Setelah puas, Aila melepas gigitannya.
"Sakit, sayang!"
Leon meringis kesakitan, namun Aila tidak peduli. Gadis itu malah menjulurkan lidahnya mengejek. Sontak membuat Leon terbahak mengalahkan rasa perih di bahunya. Ah, tingkah Aila selalu membuatnya gila.
Leon kemudian memasukkan Aila kedalam mobil kemudian menatapnya lekat-lekat. Gadisnya itu sangat pintar, ia punya seribu cara untuk melarikan diri, dan kali ini, ia tidak akan membuat itu terjadi.
Aila yang kesal memilih diam seribu bahasa, ia lebih memilih menatap keluar jendela. Jujur sebenarnya lehernya pegal, tapi gadis itu menahannya. Gengsi dong, jika ketahuan mencuri pandang lagi?
Dasar mata dan otak sama aja, sama- sama ngeresnya!
Sepanjang jalan, Leon tidak berhenti tersenyum. Di matanya, Aila tidak berubah. Meski gadis itu sekarang lebih berani terhadapnya, namun ia tahu hatinya hanya untuknya. Sekuat apa Aila menyembunyikan perasaannya, ia tetap tahu jika gadisnya itu sama menderitanya selama tiga tahun ini. Liontin yang masih melingkar indah dilehernya sudah cukup menjadi jawaban atas semuanya.
"Tuan?" tanya Aila. Aila menyerah dengan pegal dilehernya.
Leon tidak menjawab, panggilan tuan membuatnya kesal.
"Bisakah kau memanggilku mas?"
Seketika Aila tertawa.
Leon mengerdikkan bahu, sedang Davin yang berada di depan kemudi terlihat menahan tawa.
"Bagaimana kabar anak dan istri tuan?"
Jika dihitung dari waktunya, bukankah seharusnya mereka sudah punya anak?
"Istri dan anak siapa yang kau maksud?" jawab Leon santai.
"Istri anda tuan, masak kak Davin? saya berani taruhan dia tidak akan pernah menikah karena anda!"
Davin mengerutkan kening, kenapa namanya dibawa-bawa?
"Istriku duduk disampingku_ kalau anak_ waktu itu aku belum sempat membuatnya, kau tau? aku selalu.."
Aila menghentakkan kakinya dan mendelik kearah Leon.
"Apa?"
"Saya serius, tuan!"
"Aku serius sayang, jika saja aku membuatnya waktu itu, kita pasti sudah punya anak sekarang. Kau tau? aku selalu menyesalinya karena itu." ucap Leon dibuat-buat.
Sedang Aila langsung menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Pembicaraan konyol mereka hanya akan menjadi hiburan gratis bagi kedua bodyguardnya.
Leon lagi-lagi tertawa melihat tingkah Aila, sedang Davin terlihat melirik kearah tuannya melalui kaca spion dalam. Sudah lama ia tidak mendengar tawa dari mulut sang boss. Mungkin sulit untuk dipercaya, namun kenyataannya, hanya Aila yang bisa melakukannya. Membuat bossnya kembali hidup dengan sebenar-benarnya hidup.
Selanjutnya, Aila memilih diam ketimbang jadi bahan lucu-lucuan.
*******
Adimas menunggu dengan resah di depan rumah Nita. Ia tidak paham Aila dibawa kemana dan apa hubungannya dengan pria itu. Melihat lelaki itu memperlakukan Aila, ia yakin mereka ada hubungan. Meski terlihat kasar, namun Adimas tahu, pria itu sangat mencintai Aila. Tapi apa hubungan mereka?
Aila juga tidak menjawab panggilannya, membuatnya semakin cemas saja.
Satu-satunya jawaban, hanya Nita dan ia akan mencari tahu dari gadis itu.
Saat sedang berpikir, orang yang dinanti-nanti akhirnya datang juga.
Nita terlihat terkejut, melihat Adimas duduk di depan rumahnya. Pasalnya, selama ini pria tersebut menjaga jarak darinya, lalu kenapa sekarang berada di rumahnya?
"Baru pulang?" tanya Adimas basa-basi.
Nita mengangguk," Iya, ada apa mas? tumben kerumah?"
Adimas menggaruk tengkuknya, bingung harus mulai dari mana? Ia jelas tahu gadis itu menaruh rasa padanya. Tapi, ah sudahlah!
"Tadi Aila dibawa sama gengster, kamu tau siapa mereka?"
Nita mengerutkan kening.
"Gengster? sampean gak salah, mas?"
Adimas menggeleng, "Gak lah Nit, dia bawa bodyguard banyak kok."
__ADS_1
"Bodyguard?"
Adimas mengangguk.
Ngomongin tentang bodyguard, ia jadi teringat boss besarnya membawa banyak bodyguard dan......
"Ciri-ciri orangnya kaya gimana, mas?"
"Setengah bule gitu lah pokoknya,"
"Jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa Nit?"
"Boss besar aku, mas?"
"Boss hotel maksudnya?"
Nita mengangguk," Dia datang bawa banyak banget bodyguard tadi siang dan lagi, tadi dia nanya-nanya tentang Aila gitu."
Adimas menggut-manggut paham.
"Kamu pasti tahu kan? bagaimana masa lalu Aila?"
"Aku gak tau pastinya sih, mas. Dari kecil emang kita tumbuh bersama, tapi sejak aku diadopsi, aku ikut orang tua angkat aku, sedang dia di panti. Ketemu juga baru tiga tahun lalu." ucap Nita.
"Dia gak pernah cerita tentang masalahnya atau kehidupan pribadinya?"
Nita terlihat berpikir sesaat, Aila adalah tipe anak yang tertutup. Meski ribuan kali ia bertanya tentang masalah mimpi buruknya, namun gadis itu tidak pernah mau memberi tahu. Ia yakin jika Aila pernah trauma di masa lalunya, namun gadis itu tidak pernah mau berbagi cerita padanya. Aila hanya pernah bercerita, jika dirinya pernah melalui masa-masa sulit di masa lalu.
Nita menggeleng pelan.
"Tapi aku yakin, gengster yang sampeyan maksud itu boss aku." ucap Nita.
"Berarti, sekarang Aila di hotel kamu dong?"
"Mungkin, tapi kalo iya, hebat juga Aila ha ha ha."
Adimas menggelengkan kepalanya, "Bukan waktunya bercanda Nita,"
"Aku serius lho mas, orang bilang, boss aku itu rajanya konstruksi di Asia."
"Yang bener kamu?!"
Nita mengangguk yakin, " Orang hotel bilangnya gitu,"
Adimas diam, pria itu terlihat berpikir. Jika apa yang Nita ucapkan memang benar, masalahnya tidak akan semudah yang dia bayangkan. Tapi yang terpenting dari semua itu, Aila ada hubungan apa dengan boss tersebut?
******
Leon memasukkan Aila di dalam kamar hotelnya meski gadis itu terus berontak dan mengomel.
"Tuan, saya rasa anda sudah salah!" ucap Aila ketika Leon mendudukannya di ranjang king size hotel.
"Salah?!"
"Ya, meski uang anda banyak, anda sepertinya salah orang. Saya bukan wanita murahan!"
Leon mengerutkan kening sembari mendekatkan wajah, "Yang bilang kamu murahan siapa, sayang?"
"Anda memperlakukan saya seperti wanita murahan!"
"Perlakuan yang mana? aku bahkan belum menyentuhmu?"
Leon mulai melepas kemejanya, pria itu ingin mandi, namun sepertinya Aila salah paham.
Aila langsung menyilangkan kedua tangannya di dada," Apa yang akan anda lakukan?!"
Leon mencondongkan tubuhnya kearah Aila, membuat Aila gugup.
"Mandi, mau ikut?"
Aila langsung mendorong dada Leon, kemudian berdiri dengan kesal.
"Gak dulu, gak sekarang mesumnya gak hilang!" gumam Aila pelan.
Sedang Leon hanya terkekeh.
"Tunggu dan jangan coba kabur!" ancam Leon.
Aila berkacak pinggang," Memang kenapa kalo saya kabur?!"
Leon berjalan mendekat kearah Aila sembari menyeringai, Membuat Aila harus mundur. Sayang, ia terpojok karena di belakangnya sudah ada sofa.
Setelah Aila tidak lagi bisa bergerak, Leon mulai mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya seruas jari. Mata birunya menatap tajam kearah manik mata Aila, ia bisa melihat pipi gadisnya merona.
Leon kemudian memainkan rambut Aila, namun tangannya dengan cepat di tepis olehnya. Membuat Leon terkekeh.
"Jika kau pergi, aku akan mengikatmu di ranjang dan melepas semua pakaianmu! paham?!"
Aila ingin mendorong tubuh Leon, namun kedua tangannya dengan cepat di kunci hanya dengan satu tangan pria itu.
"Tenang saja, kita akan melakukannya dengan pelan, sayang." ucap Leon sensual tepat ditelinga Aila. Membuat gadis itu hampir kehilangan akal, bagaimana tidak? meski otaknya menolak, namun tubuhnya merasakan getaran hebat.
Aila menginjak kaki Leon dengan keras, membuat pria itu seketika melepas cengkramannya pada tangannya dan mengaduh kesakitan.
Rasakan!
"Cepatlah mandi tuan, atau saya akan pergi!" ancam Aila.
Jujur saja Aila tidak tahan dengan pesona tubuh polos Leon itu. Sepertinya bukan otak Leon yang mesum, tapi otaknya. Astaga!
"Kau menjadi singa betina sekarang?!"
Aila tidak memperdulikan ucapan Leon, gadis itu malah menghentakkan kakinya.
"Cepat!" perintah Aila.
"Iya, iya!" jawab Leon sembari melangkah menuju kamar mandi.
Sampai di dalam kamar mandi, ia bingung sendiri, kenapa Aila sekarang lebih galak darinya? Sepertinya ia harus hati-hati mulai sekarang.
Bersambung...
__ADS_1
Demi kelen, gess!
Aku up dua part dalam sehari, puas!