Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 31


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 31


**Memohon**


Sesampainya di Apartemen, Aila segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tidak mau jika Leon melihat penampilannya begitu berantakan.


Jangan berpikir Aila tidak tau, jika lelakinya itu sangat posesif. Aila mengerti itu, sehingga ia harus lebih berhati-hati dalam segala hal, supaya Leon tetap pada jalur kewarasannya.


Setelah selesai mandi, Aila mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Ia tidak ingin Leon curiga karena rambutnya basah. Sembari menunggu rambutnya kering, Aila menyalakan televisi yang berada di dalam kamar. Tepat saat itu, mata Aila menangkap sosok yang begitu dikenalnya sedang menjadi perbincangan hangat di sebuah acara berita siang.


"Seorang artis dan pebasket handal, Leon galvaro ternyata seorang pengusaha dan seorang CEO di beberapa perusahaan ternama dan terbesar di dunia.


Baru-baru ini, dia bahkan memperluas usahanya di indonesia dengan mengambil alih perusahaan konstruksi yang hampir bangkrut bernama The Thomson Corporation. Siapa yang menyangka? jika seorang pebasket yang terkenal itu merupakan pebisnis hebat dengan kekayaan yang fantastis!" ucap seorang pembawa berita perempuan.


Mata Aila membulat karena kaget, hairdryer yang berada di tangannya bahkan sampai terjatuh mengenai jempol kakinya.


Namun entah kernapa, hairdryer yang jatuh mengenai kakinya tidak membuat Aila kesakitan. Tubuhnya sudah lemas seperti tidak bertulang, gadis itu terduduk di lantai dengan mata masih menatap kearah layar televisi.


Aila hanya tau jika Leon seorang artis dan pemain basket saja, bukan seorang pengusaha. Oma memang pernah cerita jika ayah Leon punya perusahaan, tapi Leon tidak pernah bekerja disitu karena hubungannya dengan sang ayah sangat buruk. Mengetahui kenyataan bahwa Leon seorang CEO di beberapa perusahaan membuat dirinya syok.


Sebuah tayangan mengatakan jika berita siang ini, langsung menjadi trending topic di beberapa negara, tempat dimana perusahaan Leon berada. Leon dikenal sebagai seorang pebasket dan artis, namun fakta baru mengungkap tentang siapa sebenarnya sosok Leon, menjadi begitu menghebohkan.


Tidak hanya Aila, keluarga Atmaja pun terlihat terkejut. Mereka tidak menyangka jika Leon memimpin beberapa perusahaan di luar negeri.


Tasya dan Clara yang sedang makan pun tidak kalah terkejutnya, ketika menyaksikan berita siang ini melalui televisi yang berada di dalam kafe.


Hanya Niko yang tidak terkejut dengan berita yang begitu menghebohkan itu. Niko adalah satu-satunya sahabat Leon yang mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya, selain dengan Oma tentunya.


Wanita tua itu terlihat menarik salah satu sudut bibirnya, akhirnya cucunya itu mau mengungkap tentang siapa jati dirinya yang sebenarnya di hadapan publik.


Selama ini, Leon memang tidak pernah menampakkan dirinya di depan publik sebagai seorang pengusaha. Ketika ada rapat atau pertemuan rutin pemegang saham, Leon selalu menyuruh anak buahnya yang melakukan. Para karyawan perusahaan pun tidak tau dan belum pernah melihat rupa pemimpin mereka, mereka hanya melihat wakil direkturnya saja, yaitu Davin untuk perusahaanya yang berada di Shanghai, Erik untuk yang berada di jepang dan Serkan untuk yang berada di Dubai.


Semua itu Leon lakukan semata mata untuk menutupi jati dirinya yang sesungguhnya. Kenyataan bahwa ia adalah keturunan keluarga Thomson, membuat dirinya selalu diincar untuk dibunuh sejak ia masih kecil. Sehingga ia harus mengubah nama bahkan menyembunyikan fakta tentang dirinya.


**********


Aila masih terduduk dengan lemas di lantai, ketika indra dengarnya menangkap suara mobil memasuki garasi yang berada di lantai satu.


Leon pasti sudah pulang, dengan cepat Aila mematikan televisi dan merapikan dirinya sebelum akhirnya melangkah untuk menyambut sang singa.


Leon terlihat sedang naik menuju lantai dua, di ikuti beberapa bodyguard nya beserta Davin tentunya. Matanya birunya langsung menyapu seluruh ruangan mencari Aila. Gadis yang beberapa hari ini menjadi tahanan di apartemennya.


Raut kelegaan dan seringai kecil terlihat di sudut bibirnya, ketika ia menyaksikan gadis itu lari tergopoh-gopoh untuk menyambutnya.


Membuat suara gemerincing dari gelang kakinya nyaring terdengar, itulah bagian yang paling Leon suka. Suara lonceng kaki Aila.


"Kakak pulang?" sapa Aila.


"Hem,"


Leon melepas jasnya sembari berjalan keruang tengah kemudian melemparkan begitu saja kearah Aila, gadis itu tergagap pada awalnya, tapi akhirnya ia bisa menangkapnya.


Tidak selesai sampai disitu, Leon melepas dasinya dan kembali melemparkan asal kebelakang dimana Aila berada. Dengan sabar Aila kembali menangkapnya walaupun dengan susah payah.


Leon kemudian mendudukkan dirinya di atas sofa, menyandarkan tubuhnya. Wajah tampannya terlihat begitu kelelahan. Pria itu mulai memijit pelipisnya pelan dengan mata terpejam.


Aila langsung paham, jika Leon sedang banyak pikiran. Semua bodyguard berdiri dengan diam, tidak terkecuali Davin.


"Kemari!" Perintah Leon kearah Aila.


Aila menurut, melangkah kearah Leon.


Setelah tepat di depannya, leon menarik tangannya agar lebih dekat. Mendudukkanya pada pangkuan kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Aila dan membenamkan wajah di tempat favoritnya. Dimana lagi, kalau bukan di dada Aila. Entah kenapa, Leon selalu merasa tenang jika melakukan itu.


Aila terlihat kikuk, sekaligus malu. Bagaimana tidak? saat ini mereka tidak hanya berdua, ada Davin dan beberapa anak buah Dragon disana.


Tapi ia tidak bisa apa-apa, jika singanya yang meminta. Sesekali mata Aila melirik kearah Davin dan yang Lain, raut wajah mereka terlihat datar seperti biasanya. Ah! Aila lupa, jika semua anak buah Leon tidak memiliki jiwa apalagi ekpresi pada wajahnya.


Satu-satunya yang terlihat waras memang hanya dirinya.


"Kau memasak sesuatu?" tanya Leon mendongakkan kepalanya menatap wajah Aila, tentu saja masih dengan wajah menempel pada dadanya.


"Belum, ingin kubuatkan sesuatu?"


"Ya, buatkan spageti, persis seperti waktu itu" perintah Leon.


Aila mengangguk, kemudian gadis itu berdiri, namun tangan Leon menahannya.


"Sebentar lagi!" ucap Leon, masih tidak rela jika harus mengangkat wajahnya.


Aila diam, membiarkannya.


Setelah puas, Leon baru melepaskannya dan Aila segera berdiri melangkah kearah dapur sembari membawa kemeja dan dasi Leon.


"Apa Erik bisa pulang, Davin?" Tanya Leon kearah Davin.


"Sementara belum bisa tuan, perusahaan kita di jepang sedang menangani proyek besar jadi sepertinya belum bisa ditinggal" jawab Davin menjelaskan.


"Bagaimana dengan Serkan?"


"Dia juga sama tuan, minyak kita menjadi rebutan di pasar eropa, sehingga butuh pengamatan yang teliti agar semua tetap berjalan dengan baik"


Leon mendesah, masalah perusahaan Thomson Corporation ternyata jauh lebih rumit dari apa yang dia bayangkan. Sehingga akan sulit jika dirinya hanya bekerja dengan Davin Saja. Bayangan tentang mereka ysng akan bekerja selama dua bulan tanpa keutungan membuat kepala Leon semakin pusing saja. Hans memang luar biasa liciknya, pria busuk itu telah menguras habis seluruh aset perusahaan tanpa tersisa.


Ia harus segera membereskannya atau pria itu akan semakin membuat masalah.


"Kirimkan orang kita yang terbaik untuk terus memata-matai Hans!" perintah Leon.

__ADS_1


"Siap, tuan"


Leon segera berdiri kala bau harum masakan menyeruak kedalam indra penciumanya, sepertinya Aila sudah selesai dengan pesanannya.


"Sudah selesai?" tanya Leon yang tuba tiba sudah berada di belakangnya dan meletakkan dagu runcing miliknya pada kepala Aila. Kalau di pundak terlalu kependekan, soalnya.


"Hampir," jawab Aila singkat. Gadis itu terlihat kesulitan karena Leon terus menempel padanya, ia kalau badanya kecil badan Leon dua kali lipat darinya.


"Duduklah, aku sulit bergerak!" pinta Aila.


"Tidak!"


Aila diam, membiarkan.


Setelah selesai, ia mengambil piring dan menaruhnya dimeja tapi singa besarnya tetap saja menempel padanya.


"Sudah," ucap Aila.


"Suapi!" perintah Leon sembari melepaskan gadisnya.


Aila menurut, gadis itu menarik kursi mendekat kearah Leon dan mulai menyuapinya.


Leon makan dengan diam, sepertinya pria itu menikmati makanannya. Terbukti dalam sekejap saja ia telah menghabiskan semua isi piringnya.


"Ini," Aila menyodorkan segelas air putih kepadanya.


Leon menerima dan meminumnya.


Aila segera membereskan alat makan dan mencucinya pada wastafel.


Merasa kenyang, Leon menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap punggung gadisnya yang tengah mencuci piring di wastafel. Ingatan tentang video pembullyan Aila di mall tadi membuatnya geram. Ya, Davin sudah menunjukkan video tersebut kepadanya tadi. Siapapun yang berani menyakiti wanitanya harus diberi pelajaran yang setimpal.


"Sayang,"


Aila menoleh, "Ya?"


"kemarilah,"


Aila menurut, gadis itu berjalan mendekat, seperti biasa Leon selalu menarik tangannya agar lebih dekat.


"Kalian, kemarilah!" perintah Leon pada anak buah Dragon.


Jimy dan yang lainnya mendekat, ia sudah tau apa yang akan tuannya itu lakukan. Apalagi? jika bukan untuk hukuman.


Entah kenapa tiba-tiba perasaan Aila menjadi tidak enak.


Leon mulai memainkan rambut ikal Aila.


"Ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu di mall!"


Deg!


"Kakak pasti sudah tau dari kak Davin,"


"Aku ingin dengar langsung dari mulutmu, sayang!" ucap Leon dengan menempelkan telunjuknya pada bibir Aila.


Aila diam. Ia yakin jika Leon sudah tau, lalu kenapa masih bertanya lagi?


"Tidak mau jawab?"


Aila tetap Diam,


"Baiklah,...Davin?!"


"Ya, tuan"


"Pastikan orang tua anak itu tidak mendapat tempat dimanapun! geser semua saham yang mereka tanam!"


"Ja___jangan lakukan itu, aku baik-baik saja," Aila panik. Ia memang marah dengan Dinda, tapi membuat orang tuanya yang harus membayar semua kesalahannya, bukankah itu tidak etis?


Leon terkekeh, " Bagaimana bisa kau membela orang yang sudah menghinamu?!" tanya Leon.


Aila diam.


"Keluarkan anak itu dari sekolah tanpa mendapat ijazah, Davin!"


"Apa? kenapa?"


"Karena dia harus menerima akibat dari kesalahannya, sayang!"


"Jangan lakukan itu! aku mohon, " pinta Aila.


"Apa kau tidak punya harga diri?! anak itu sudah menghinamu!"


"Aku bisa menerima kemarahan mereka!" ucap Aila dengan cepat.


"Kau bodoh!"


"Mereka hanya ingin yang terbaik untuk kakak, aku rasa mereka benar, aku tidak pantas berada disini," ucap Aila sembari menahan sesak yang tiba- tiba datang.


"Yang boleh menilaimu hanya aku! bukan yang lain!"


Aila diam, gadis itu memalingkan wajah supaya Leon tidak melihat matanya yang mulai berembun.


Leon menarik lengan Aila, ingin gadis itu duduk di pangkuannya.


"Aaaakh!" pekik Aila kesakitan.


Leon mengerutkan kening, " kenapa?!"

__ADS_1


Aila menggeleng," Ti_tidak papa," Buru-buru Aila menormalkan sikapnya. Ah, seharusnya ia bisa menahan rasa sakitnya.


Leon tidak percaya begitu saja, pria itu membuka paksa lengkan baju Aila, tapi Aila lebih dulu mundur beberapa langkah kebelakang. Melihat sikap Aila, Leon malah semakin penasaran.


Tangan kekarnya menarik paksa Aila dan membuka lengan baju gadis itu. Matanya terbelalak melihat luka lebam yang sudah membiru dengan ukuran yang lumayan besar untuk lengannya yang kecil.


"Kenapa?!" tanya Leon dengan nada yang mulai dingin.


"Hanya terjatuh," ucap Aila bohong, terlihat gadis itu menggigit bibir bawahnya, cemas. Ia berharap Leon akan percaya.


"Jujurlah! atau akan kubuat gadis itu lebih menderita!" ancam Leon.


Aila diam, tudak tau harus bicara apa.


"CEPAT!" Bentak Leon dengan suara lumayan keras.


Aila tergagap karena kaget, tubuhnya langsung gemetar ketakutan.


"Masih gak mau jawab?!" ulang Leon.


Aila masih diam, bibirnya terkatup rapat karena takut.


"Davin!"


"Ya, tuan"


"Ambilkan katana milikku!"


"Baik, tuan"


Aila semakin panik, Jimy juga mulai terlihat resah.


"Ini tuan" Davin menyerahkan sebuah samurai panjang seperti yang sering digunakan oleh orang jepang.


Aila semakin gemetar ketakutan, gadis itu menerka apa yang akan Leon lakukan.


"Kau, kemari!" perintah Leon pada Jimy.


Dengan cepat Jimy maju di depan Leon.


"Kau ingat perjanjiannya saat akan bekerja denganku?!"


"Ingat, tuan! anda tidak menerima kelalaian sekecil apapun" ucap Jimy datar.


"Bagus! sekarang terima hukumanmu!"


"Baik tuan!" Jimy mengulurkan tangannya diatas meja makan.


Mata Aila terbelalak, kaget. Apa Leon ingin memotong tangannya?


Suasana ruang makan tiba-tiba menjadi sangat mencekam.


Aila segera mendekat kearah Leon.


"Dia tidak salah kak, aku yang menyuruhnya menunggu di luar," ucap Aila menjelaskan.


"Tetap saja dia tidak bisa menjagamu, sayang! dan setiap kelalian harus dibayar!" ucap Leon sinis.


"Tapi aku yang salah, jadi hukum saja aku, kumohon.." Aila mengiba.


Leon tidak bergeming, pria itu tetap mengangkat katana miliknya dan bersiap mengayunkan pedang itu kearah tangan Jimy namun Aila buru-buru melangkah dan bersimpuh di kaki Leon, gadis itu memeluk kakinya dengan erat. Leon terperanjat kaget dan segera menahan pedangnya.


"Aku mohon jangan lakukan itu, hiks... hiks... jangan lakukan!" Aila menangis di kaki Leon.


Leon masih diam.


"Aku akan patuh, mulai sekarang! aku janji....maafkan dia, huuuu huuu"


Aila terisak pilu.


...Leon menghela napas kasar, suara yang paling tidak ingin di dengarnya didunia ini hanya ada dua, yang pertama adalah suara tangisan ibunya...


dan yang kedua, adalah suara tangisan Aila.


klontang!!


Leon melemparkan katana miliknya kedepan Jimy, kemudian ia berjongkok dan mengangkat pundak Aila untuk bangun.


Diraihnya kepala gadis yang sedang terisak di depannya itu, kedalam pelukannya.


"Jangan menghukumnya, aku mohon...hiks, hiks" Aila terus terisak dalam pelukan Leon.


Gadis itu terus menangis, dan Leon diam membiarkannya.


Hingga beberapa saat, Leon mengurai pelukannya, setelah Aila terlihat lebih tenang.


"Sudah?!" ucap Leon.


Aila mengangguk.


"Jangan menghukumnya," Aila masih memohon.


Leon mengusap kepala gadisnya, " Semua tergantung padamu, sayang! jika kau menurut, semua akan baik-baik saja" ucap Leon dengan seringai kecilnya.


"Aku janji akan menurut, diam dan tidak nakal" ucap Aila masih dengan isak kecilnya.


"Bagus! ingat itu!" ucap Leon sembari mencium puncak kepala Aila singkat, kemudian ia mengangkat tubuh Aila dan mendudukkannya diatas meja makan.


Satu hal yang Aila pelajari hari ini adalah jangan pernah melanggar peraturan dari Leon, atau orang lain akan terluka.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2