
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 66
**Kembali bersama**
Hari mulai senja, saat mobil sedan BMW berwarna metalik itu memasuki gerbang klasik nan megah milik sebuah rumah bernuansa eropa kuno.
Rumah milik Oma.
Aila merapat pada jendela, melihat lebih jelas saat mobil memasuki halaman yang di tanami pohon palem itu. Bunga Angrek yang terikat pada setiap batangnya menambah keunikan tesendiri.
Persis seperti tiga tahun lalu, Oma masih saja menyukai bunga dari family orchidaseae tersebut. Tumbuhan yang hidup secara epifit itu, memang banyak sekali ragam dan jenisnya. Pemeliharaan dan perawatannya pun tergolong mudah, sehingga sangat cocok untuk mengisi waktu luang bagi orang tua seperti oma.
Aila bergerak turun, ketika mobil berhenti tepat didepan teras rumah oma. Untuk sesaat ia mengamati suasana rumah bergaya klasik eropa kuno tersebut. Tidak lama setelah itu, Leon pun ikut turun, namun pria itu tidak segera masuk dan malah bersedekap sembari menyandarkan tubuhnya pada badan mobil.
"Masuklah!" perintah Leon.
Aila menoleh, "Anda tidak masuk, tuan?"
Leon mendesah pelan,
"Sejak kau pergi, oma tidak pernah mengizinkan aku masuk rumahnya." ucap Leon sembari menunduk dan memainkan kakinya.
Mendengar ucapan Leon, entah kenapa sudut hati Aila terasa nyeri. Ia pikir keputusannya untuk melarikan diri adalah yang terbaik, namun sepertinya ia malah meninggalkan luka untuk banyak orang.
Meskipun sebelumnya, ia mendengar dari Alex jika hubungan Leon dan omanya tidak baik, namun tetap saja ia tidak menyangka jika ternyata sudah separah itu. Leon termasuk pria keras kepala, hampir tidak ada omongan yang bisa membuat pria itu menurut, namun melihat Leon benar-benar tidak melanggar aturan yang oma buat, membuat Aila berpikir masalah mereka lebih dari serius.
Aila menghirup napas dalam, mencoba menetralkan sikap. Entah kenapa hatinya tiba-tiba di penuhi oleh perasaan yang sulit untuk di jelaskan.
Meski berbagai hal berkecamuk di dalam pikirannya, Aila tetap melangkahkan kakinya kearah pintu masuk rumah Oma. Semuanya memang harus segera di akhiri.
Baru beberapa langkah, Aila kembali menoleh.
Entah apa yang dipikirkannya, tiba-tiba gadis itu berlari kearah Leon dan memeluknya.
Meski kaget, Leon tetap diam.
"Ada apa?" tanya Leon sembari mengusap kepala gadisnya.
"Tetap disini dan jangan tinggalkan aku tuan," Aila berkata tanpa mengangkat wajahnya. Ia sadar, Leon menderita selama tiga tahun ini lebih darinya. Kenyataan itu membuatnya merasa bersalah.
"Aku akan tetap disini. Masuklah," ucap Leon lembut.
Aila adalah gadis yang peka dengan perasaan orang lain. Dengannya, Leon tidak perlu banyak bicara untuk menyampaikan rasanya. Dalam banyak hal, Aila sudah lebih dulu mengetahui apa yang dipikirkannya tanpa perlu bicara.
Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ia melakukan kesalahan yang begitu fatal tiga tahun lalu dan melukai gadis sebaik istrinya.
Gadis itu mengangkat wajah dan mengurai pelukannya. Dengan tatapan sendu ia berbalik dan melangkah meninggalkan suaminya di depan teras.
Meta, pelayan setia oma, terlihat setengah berlari kearah ruang depan. Wanita paruh baya tersebut terlihat tergesa memeriksa tamu yang datang di hari yang sudah mulai petang.
Matanya membulat, wanita itu terlihat terkejut mengetahui siapa yang datang. Gadis yang selalu dicari Nyonya dan tuan mudanya tengah berdiri tegak di depan mata.
Meski sang Nyoya besar terlihat abai dengan kepergian cucu menantunya, namun meta paham akan seberapa besar rasa kehilangan yang dirasakan oleh majikannya itu.
Aila terlihat mengulum senyum, ketika Meta menyapa dan mempersilahkan dirinya untuk masuk. Sedang kepada tuan mudanya, wanita paruh baya tersebut hanya terlihat menganggukkan kepalanya singkat tanpa berani mempersilahkan untuk ikut memasuki rumah.
Mengingat terakhir kali Leon datang dalam keadaan mabuk berat dan membuat sang Nyoya berakhir di rumah sakit, Meta pikir lebih baik mereka tidak bertemu terlebih dahulu.
Meta berjalan terlebih dahulu menuju ruang santai, sedang Aila hanya terlihat mengekor diam sari belakang. Hati yang sudah ia persiapkan semenjak kedatangannya di kota ini, berlahan goyah berkecamuk tak tentu arah ketika melihat sosok wanita tua yang dulu begitu dikenalnya tampak begitu lelah dengan wajah tuanya, sedang duduk di kursi goyang dengan mata terpejam.
Sesaat setelah Meta membisikkan sesuatu di telinganya, wanita tua itu terlihat membuka mata dan langsung menoleh kearah Aila.
Lutut Aila langsung terasa lemas saat pandangan mata mereka beradu. Waktu tiga tahun ternyata tidak hanya mampu mengubah keadaan dan perasaan, namun juga fisik seseorang. Oma terlihat jauh lebih tua, dari waktu terakhir ia melihatnya. Wanita tua itu juga terlihat ringkih sekarang.
"Kau..."
Tidak menunggu Oma menyelesaikan ucapan, Aila sudah lebih dulu berlari menghambur dan memeluk kaki wanita tua itu.
Tidak ada kata-kata yang terucap setelahnya. Dua wanita lintas usia itu larut dalam tangis kerinduan yang mendalam.
Meski Tangis oma tidak seheboh Aila, namun jelas dalam hati, wanita tua itu tergoncang.
"Kau harusnya sudah bahagia, kenapa pulang?" tanya Oma saat Aila sudah lebih tenang.
"Bahagiaku disini, oma." jawab Aila sendu.
"Kau memang gadis bodoh," cibir oma, namun tangannya mengusap kepala Aila lembut.
"Maafkan dia...maafkan suamiku.." pinta Aila mengiba.
Oma diam, terlihat kekecewaan yang begitu dalam di wajahnya. Wanita tua itu terlihat memalingkan muka, menghindari bertemu tatap.
"Omaa..dia sudah banyak menderita, maafkanlah dia," Aila terus mengiba, memohonkan ampun untuk suaminya. Bagaimanapun caranya ia harus kembali menyatukan hubungan nenek dan cucu tersebut. Karena pada kenyataannya mereka berdua saling menderita.
__ADS_1
Oma masih diam, sesekali desahan napas kasar keluar dari mulutnya. Bukan kesalahan Leon yang ia sesali, namun kisah kelam anak dan suaminya yang harus kembali terulang pada cucunya. Keluarganya hancur karena wanita Lain, sedang keluarga anaknya hancur karena sikap pengecut sang putra dan kini cucunya pun melakukan hal yang sama. Sialnya ia masih hidup dan menyaksikan semuanya. Melihat Aila hanya mengingatkan pada kisah kelamnya sendiri, itulah sebab ia lebih merasa kecewa ketimbang Aila.
"Maafkan suamiku oma, aku mohon.." tidak peduli ia harus memohon berapa kali, yang pasti saat ini Aila hanya ingin membantu mengurangi baban suaminya.
"apa kau tidak punya harga diri? dia sudah menyakitimu begitu rupa, tapi kau tetap mencintainya?" cibir oma. Mungkinkah hanya ia yang merasa, jika Aila selalu bisa meluluhkan kerasnya hati? Entah kenapa gadis itu selalu membuat dirinya tidak berdaya.
Mendengar nada oma yang sudah kembali seperti biasanya, Aila tersenyum lega. Tanpa kata pun Aila sudah paham, jika oma sudah memaafkan suaminya.
"Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa melupakannya meski aku sangat ingin," ucap Aila dengan nada memelas, membuat oma terenyuh mendengarnya.
Ia tahu bagaimana Leon menjalani hidup selama tiga tahun ini, cukup menjadi bukti jika cucunya juga menderita. Dulu mereka memang masih sangat muda dan naif. Mungkin saja Tuhan menghadirkan masalah itu untuk membuat mereka dewasa. Membuat mereka paham, jika menjalani rumah tangga, tidak hanya bermodal cinta, ada pengertian dan tanggung jawab disana.
"Panggil suamimu!" perintah Oma. Sudah saatnya menyelesaikan semuanya, atau ia akan mati sebelum menimang cicitnya.
Aila tersenyum lalu mengangguk. Gadis itu kemudian keluar menuju suaminya. Saking senangnya ia bahkan berlari hingga berisik gelang kakinya terdengar, membuat oma menggelengkan kepalanya. Ia bahkan belum bertindak, tapi cucu tengiknya itu sudah lebih dulu mengikatnya.
Saat sampai di teras, ia tidak melihat Leon. Di dalam mobil hanya ada pak Hadi, sopir pribadi suaminya. Aila menggedarkan pandangannya di sekitar teras rumah oma, namun sosok Leon tidak juga tertangkap oleh netranya. Tiba-tiba saja, gadis itu terlihat panik.
"Tuan, tuaaaan?" panggilnya sembari mengitari teras dan taman, namun Aila tidak menemukan apa yang diinginkannya.
Ia kemudian berlari mengitari halaman samping rumah oma, disitulah ia melihat suaminya sedang duduk dengan sebotol minuman di tangan. Aila paham apa yang sedang di lakukannya.
Sejak sakau malam itu, Leon memang berniat untuk berhenti, namun Alex menyarankan untuk menguranginya secara bertahap. Karena kesabaran Aila, Leon bisa melewati masa pengobatannya dengan baik. Yang tadinya, Leon harus minum dua jam sekali, lama-lama ia bisa mengurangi menjadi empat jam sekali, hingga sekarang menjadi enam jam sekali. Tapi saat pria itu tertekan, ia tidak bisa menekan keinginannya untuk kembali mengonsumsi minuman perusak badan tersebut.
Mengetahui Aila datang, Leon segera berdiri. Terlihat pria itu tersenyum menutupi kegugupannya. Ia sudah berjanji untuk sembuh, tapi saat-saat tertentu sangat sulit baginya.
Tanpa banyak kata, Aila berlari dan langsung memeluk suaminya. Ia bisa merasakan, bagaimana perasaan suaminya karena oma mendiamkannya selama tiga tahun. Sedang oma adalah satu-satunya keluarga yang ia punya dan orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Aila juga tahu bagaimana suaminya harus menebus kesalahannya karena telah mengecewakan wanita tua itu.
"Ada apa?!" tanya Leon yang bingung dengan sikap Aila.
"Aku mencarimu, tuan." ucap Aila dengan suara bergetar.
"Aku disini sayang," jawab Leon lembut.
"Aku takut... tidak menemukan anda..." ucap Aila mulai menangis. Waktu tiga tahun mengajarkannya arti sebuah kehilangan yang mendalam baginya, dan itu seperti mimpi buruk yang tidak berkesudahan.
Leon menarik napas dalam, hatinya ngilu, teramat ngilu. Merasa tidak pantas mendapat cinta yang begitu banyak dari Aila, sedang menyembuhkan luka yang diberikannya dulu, ia tidak mampu. Sekarang gadis itu pula yang malah membantunya keluar dari candu.
Tidak bisa mengucapkan apapun, selain membalas pelukan itu dan mencium gadisnya. Nyatanya, ia yang lebih merasa takut kehilangan ketimbang Aila. Hanya saja, ia tidak punya nyali untuk mengatakannya.
"Kenapa mencariku, hem? tanya Leon mengalihkan pembicaraan.
Aila mengangkat wajah, "Jangan menghilang tiba-tiba," ucapnya sendu.
Leon menggeleng, "Aku tidak menghilang sayang, aku disini."
Tatapan khawatir dari Aila selalu membuatnya tidak tahan, ia mengangkat tubuh gadisnya, dan membenamkan wajah di dada Aila.
"Hatiku terasa begitu sakit, jika kau lakukan itu!" ucapnya parau.
Semakin Aila mengkhawatirkan dirinya, semakin besar pula rasa takut akan kehilangan gadisnya. Dan itu cukup mencekik dan menyiksanya.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Aila. gadis itu hanya merengkuh kepala suaminya dan menciumnya.
"Oma mencari anda," ucap Aila setelah mereka saling menata sikap.
"Mencariku?!" tanya Leon memastikan.
Aila mengangguk.
Leon terlihat bingung sekarang. Selama tiga tahun, wanita tua itu selalu menolaknya dan mendiamkannya. Tiba-tiba sekarang mencarinya?
Ah, iya bisa menduga, semuanya pasti karena Aila. Mungkinkah itu pertanda oma memaafkannya?
Mengerti apa yang dipikirkan suaminya, Aila mengusap pipinya lembut. "Kita hadapi bersama," ucapnya sembari tersenyum hangat.
Jika ada yang bilang, ketulusan bisa memberi kekuatan, mungkin itulah yang sekarang Leon rasakan.
Leon kemudian mengangguk, ia lalu membawa Aila masuk ke dalam rumah Oma. Meski raut wajah Leon datar seperti biasa, namun Aila bisa mendengar detak jantung pria itu berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Leon menurunkan Aila ketika mata oma menatapnya. Dua orang nenek dan cucu tersebut, terlihat saling menatap untuk sesaat. Sebelum helaan napas terdengar mengiringi ucapan Oma.
"Bawakan koperku!" perintahnya pada Leon.
"Apa?! kenapa harus aku? di luar ada pak Hadi," ucap Leon menolak.
Aila membulatkan matanya, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Suaminya masih saja gengsi untuk meminta maaf pada oma, atau ia terlalu tinggi menaruh harapan pada singanya itu? harapan tentang ucapan maaf, mungkin tidak akan ia dengar dari mulut seorang Leon.
Oma melangkah maju membawa tongkatnya dengan tatapan dingin. Seketika Leon langsung memutar tubuh dan bersembunyi di balik tubuh Aila.
"Kemari kau bocah tengik! kau kira kau siapa hah?" ucap oma sembari mengejar Leon dan memukulkan tongkatnya bertubi-tubi pada kaki, tangan dan tubuh pria itu.
"Aww! sakit omaa!" teriak Leon sembari meraba kaki dan tangannya.
"Jika aku ibumu, akan ku kutuk kau jadi tahi ayam!" sinis oma di sela napasnya yang memburu. Wanita tua itu tengah melampiaskan kekesalannya selama tiga tahun.
__ADS_1
"Apa? kenapa tahi ayam? itu menjijikkan!" jawab Leon bergidik sembari menghindar.
"Lalu apa?" oma terlihat berhenti lalu berkacak pinggang, "Ah, benar, itu kurang setimpal, ini saja, semoga satu-satunya kebangganmu itu tidak lagi bisa berdiri!" ucap oma menyumpahi sembari menunjuk bagian bawah tubuh leon dengan tongkatnya.
Seketika, Leon langsung melihat kearah kebanggaannya kemudian menutupinya.
"Oma kejam! aku lebih baik mati dari pada anuku tidak berfungsi, astaga!"
Lagi-lagi Aila hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua tingkah dua orang di depannya tersebut, namun jauh dari dalam hatinya, ia merasa lega, oma sudah memafkan suaminya.
Belum puas dengan kekesalannya, oma terus memukuli Leon dengan tongkatnya, membuat pria itu hanya bisa pasrah dan mengaduh kesakitan. Lama-lama, Aila merasa tidak tega, gadis itu kemudian berlari dan memasang badan untuk melindungi suaminya.
Melihat hal itu, seketika oma berhenti mengayunkan tongkatnya.
"Hei! apa yang kau lakukan? minggir, dia harus merasakan hukuman dari kebodohannya!" ucap oma kearah Aila.
"O__oma, berhenti, dia kesakitan." Aila berkata sembari memeluk suaminya. Membuat selengkung senyum kemenangan di bibir Leon.
"Astaga, Astaga! kau benar-benar gadis bodoh! bagaimana bisa kau kasihan dengan seorang penghianat sepertinya?" oma tidak habis pikir dengan sikap Aila. Entah terbuat dari apa hati gadis itu, hingga bisa memaafkan kesalahan suaminya dengan begitu mudah.
Mungkin bukan tentang kebaikan hati Aila yang mampu memaafkan kesalahan suaminya, namun keberanian gadis itu memberikan kesempatan kedua untuk cucunya. Keberanian yang tidak pernah ia miliki sebelumnya, hingga akhirnya hanya penyesalan yang tidak berkesudahan yang ia rasa.
Dulu sekali, ia tidak punya keberanian itu untuk suaminya dan akhirnya mereka saling menderita di sisa hidupnya.
"Aku mencintainya, oma.." ucap Aila memelas, membuat Oma geleng-geleng kepala.
"Aku bisa menikahkanmu dengan cucuku yang lain, jangan lagi memilihnya!" ucap oma kearah Aila.
"Hei! cucumu hanya aku!" Leon tidak terima.
"Siapa bilang? aku rasa Serkan lebih cocok untukmu, dia manis, tidak suka bermain wanita dan tidak pemabuk!" oma kembali berdebat dengan Leon.
"Kenapa bawa-bawa serkan?" ucap Leon, ia lalu menoleh kearah Aila, " Asal kau tahu saja, Serkan lebih parah dariku!" ucapnya.
"Benarkah? tapi kak Serkan terlihat manis," jawab Aila polos.
Oma langsung tertawa," Kau pintar sayang, menikah saja dengannya, kau pasti bahagia." timpal oma.
Leon mendelik, "Serkan kau bilang manis? ya dia manis ketika tidur!" cibir Leon kesal, lalu pria itu menoleh kearah oma," Dan dia sudah menikah, kenapa oma ingin menikahkannya lagi? oma saja yang menikah lagi!"
Oma kembali memukul kaki Leon, kemudian wanita tua itu menarik tangan Aila melangkah keluar.
"Dia bohong sayang, serkan memang pria yang manis." ucap Oma sembari berlalu dengan Aila disampingnya, meninggalkan Leon dengan kekesalannya.
Umpatan kecil keluar dari mulut ketika Leon terpaksa mengangkat koper oma untuk di bawa keluar.
Ia sudah bisa menduga, malam ini ia tidak bisa memainkan Aila. Wanita tua itu pasti akan menahan Aila di kamarnya. Mengingat hal itu, Leon kembali mengumpat sembari mengacak rambutnya kesal.
Aila dan Oma sudah duduk manis di kursi belakang, ketika Leon dengan wajah kusut muncul sembari membawa koper oma yang jumlahnya se erte itu. Jujur Aila bingung, memang apa saja yang oma bawa?
Dirinya saja yang pindahan dari luar kota hanya membawa baju beberapa potong.
Setelah memasukkan semua koper oma kedalam bagasi, Leon membuka pintu belakang bermaksud untuk masuk kedalam.
"kau tidak punya mata? disini penuh!" ucap Oma.
Leon kembali menghembuskan nafas kasar, ia paling tidak suka duduk di depan bersama supir. Ayolah itu tidak elegan! ia boss besar, kenapa harus duduk bersama supir?
"Dia kecil, geser dikit juga muat!" Leon bersikeras masuk, namun oma tetap melarang. Melihat dua orang dewasa yang rebutan kursi Aila akhirnya angkat bicara.
"Biar aku yang duduk di depan," ucap Aila sembari mernggeser tubuh untuk pindah tempat duduk, namun Langsung ditahan oleh Leon.
"Enak aja, jangan pernah bermimpi duduk dengan pria lain!"
"Aku duduk sendiri, tidak duduk bersama pak Hadi." jawab Aila polos.
Leon menoyor kepala Aila, gadis itu dari dulu selalu tidak peka!
"Baiklah aku duduk di depan!" Leon akhirnya mengalah, sedang oma terlihat mengangkat bahu tidak peduli.
Dengan malas, Leon membuka pintu depan, namun entah apa yang ada dipikiran pria itu, tiba-tiba ia menutup pintu depan kembali, dan masuk begitu saja di kursi belakang, mengangkat Aila dan mendudukkannya di atas pangkuan, membuat Aila menjerit kecil karenanya.
"Astaga! kau memang bayi besar yang gila!" cibir Oma.
Leon tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu sekilas. Cuek, yang penting ia bisa kekepin mainannya.
"Cepat jalan!" perintah Leon.
"Baik tuan!"
Pak Hadi langsung mengemudikan mobil keluar dari halaman rumah oma.
Tanpa malu, sepanjang jalan Leon terus menciumi pipi kemerahan Aila, membuat oma jengah. Cucunya itu sepertinya sedang pamer kepadanya.
Sedang Aila hanya bisa pasrah, menerima kelakuan singanya, meski sejujurnya ia sangat malu dengan oma.
__ADS_1
Walaupun oma terlihat kesal dengan kelakuan Leon, namun sekilas wanita tua itu tersenyum simpul melihat keduanya. Mungkin ia masih punya kesempatan menimang bayi sebelum meninggal nanti. Semoga..
Bersambung...