Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 70


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 70


**Terimakasih**


Setelah keluar dari kamar Nita, Davin mengusap kasar wajahnya dan mengepalkan tangan meninju tembok kamar. Bisa-bisanya ia kelepasan dan melakukan hal itu kepada kakak angkat, nonanya sendiri.


Kontrol dirinya selalu baik selama ini, namun entah kenapa ia sulit melakukanya ketika sedang bersama Nita. Bayangan gadis itu mengodanya dengan begitu kejam, selama beberapa hari ini.


Bersamaan dengan gemuruh hasrat yang kian membara di dalam dada, Davin memejamkan mata. Ia sudah berjanji untuk menjadi pelayan sang boss seumur hidupnya. Itulah sebab mengapa ia selalu menghindari perempuan selama ini. Pekerjaan yang selalu melibatkan nyawanya hampir setiap detik, membuatnya tidak ingin mengambil resiko yang dapat mempengaruhi performa kinerja dirinya. Namun, sekuat apa ia mencoba menepis rasa yang tumbuh di dalam dada terhadap gadis itu, nyatanya perasaan itu malah semakin tumbuh dengan subur di hatinya.


Tidak, ia tidak boleh melakukan itu, membiarkan benih-benih cinta itu tumbuh di sana, terlebih kepada kerabat sang nona. Ia harus berhenti sebelum semuanya menjadi begitu berat untuk di lepas. Ia harus segera menghindar.


Suara dering telepon membuyarkan lamumannya. seperti biasa sudah waktunya untuk bekerja. Sebagai kepala keamanan di kastil dan seluruh staf keamanan Thomson group, ia mempunyai andil yang sangat besar untuk memastikan seluruh keluarga dan aset bossnya dalam keadaan aman.


Salah satu anak buahnya telah memanggil, tanda sebuah pekerjaan telah menantinya. Setelah menetralkan sikap, ia segera pergi untuk menghampiri anak buahnya tersebut.


kasak-kusuk puluhan bodyguard terdengar dari loby kastil, ketika Davin tiba disana.


"Ada apa?" tanya Davin pada anak buahnya.


"Maaf boss, nona muda di bawa paksa nyoya besar keluar dari kastil dan kami tidak bisa menghentikannya."


"Lalu, apa boss besar tau?"


"Tidak boss, bos besar tidak tau. Beliau sedang mandi sepertinya."


Shiit!


umpatan kecil keluar dari mulut Davin, ia bisa membayangkan boss besarnya akan kalang kabut sebentar lagi.


"Nyoya besar tidak membawa seorang pengawal sekalipun?" tanya Davin.


"Bawa bos, nyoya hanya membolehkan Jimy saja yang ikut." jawab sang anak buah.


Davin diam, pria itu terlihat memijat pelipisnya perlahan.


Apa yang sebenarnya sedang dilakukan nyonya besarnya, hingga harus membawa kabur Aila?


Baginya, tidak sulit untuk menemukan mereka mengingat Aila memakai gelang pelacak, tapi ia harus tahu terlebih dahulu alasan nyoya besar melakukan semua itu.


"Omaaaaaaa?!" suara Leon mengelegar di tengah keheningan kastil.


Davin sudah bisa menduga, tuannya itu tengah mencari istrinya yang tiba-tiba menghilang.


"Davin, kau lihat oma?"tanya Leon dari ujung tangga.


"Maaf, tuan. Nyonya membawa nona muda pergi." ucap Davin jujur.


"Pergi? apa maksudmu?"


"Nyonya besar membawa nona Aila pergi tuan, dan kami tidak bisa menghentikannya."


"Shiit! Damn!" berbagai umpatan langsung keluar dari mulut Leon.


"Hubungkan aku dengan Oma, Davin!" perintah Leon.


"Baik, tuan."


Davin terlihat mengeluarkan gawainya, menekan dan menggeser layar kemudian menyerahkannya kepada Leon.


Tuuuuut! Tuuuuuut!


Terdengar nada telepon tersambung.


[Ya, Davin?] terdengar suara oma dari seberang.


[Omaaaaaa!]


[Berhenti teriak Leon, aku tidak tuli!]


[Oma dimana sekarang? kembalikan istriku,]


[Kau tau kami dimana, tapi awas, jika kau menyusul, akan ku bawa lebih jauh!]


[Omaaaaa,]


[Berhenti merengek! aku hanya mengajaknya berlibur.]


[Berlibur? kenapa harus sekarang?!]


[Kenapa memangnya? kau sudah tidak tahan, hah?]


[Omaaa,]


[Tidak akan ku biarkan kau melakukannya lagi, sebelum dia benar-benar sembuh!"


[Aku tau, aku akan menunggu dia benar-benar sembuh, oma.]


[Kau kira aku percaya? akui saja kau sudah tidak tahan! ingat, jangan coba-coba kemari atau ku bawa dia lebih jauh!]


Tuuuuut! Tuuuut!


Sambungan telepon terputus.


Shiiiit!


Leon kembali mengumpat, karena kesal.


Rasanya seperti punya mobil baru, sedang enak-enaknya naikin, ee di cabut sama depkolektor, karena gak bisa nyicil?!


Kesel kan? itulah yang sedang Leon rasakan.


"Kita ke kantor, tuan?" tanya Davin.


"Ke kantor Davin, memang apa lagi yang bisa ku lakukan di sini? jika perlu kita tidur di kantor!" ucap Leon kesal.


Entah kekesalannya di tujukan untuk siapa, namun yang pasti davin yang akan kena imbasnya. Pria malang itu harus ikut tidur di kantor menemani kegalauan bossnya.


Selama perjalanan menuju kantor Leon terus mengumpat. Rencananya untuk menikmati hari bersama istrinya, gagal total karena ulah omanya.


"Kenapa hari ini cerah sekali, davin? bukankah seharusnya hujan?" ucap leon disela kekesalannya.


Davin diam, ia sudah banyak menyaksikan kekonyolan bossnya, namun jika menyangkut masalah Aila, kekonyolan itu menjadi berlipat.


Banyak orang yang menginginkan cuaca yang cerah, namun. bossnya, malah sebaliknya.


Tau kenapa? karena hatinya tidak secerah cuaca hari ini.


Sebelas dua belas dengan bossnya, perasaan Davin pun sama galaunya. Cumbuan panasnya, di pagi buta bersama Nita, terus terbayang dalam ingatannya. Hangat tubuh gadis itu, serasa masih tertinggal di permukaan dada. Mungkinkah itu yang di namakan cinta? jika benar, akankah ia melakukan banyak kekonyolan seperti bossnya?


Davin menggelengkan kepalanya cepat, ia tidak butuh roman picisan seperti itu. Pikir Davin.

__ADS_1


**********


Tiga hari telah berlalu sejak Aila dibawa kabur oleh Oma. Selama itu pula Davin harus menemani bossnya tidur di kantor, itupun dengan menyaksikan sang boss uring-uringan tidak jelas setiap detiknya. Apa mau dikata, begitulah jika sang boss kehilangan mainannya.


"Suruh dia pulang, Davin!" ucap Leon di sela kesalnya.


Lagi-lagi Davin hanya diam mendengar rengekan bossnya. Jika dirinya saja tidak mampu menyuruh omanya membawa pulang Aila, apalagi dengan dirinya?


Drrrrrrt! Drrrrrrt!


Gawai Davin yang berada di atas nakas bergetar, pertanda sedang ada panggilan masuk. Pria itu segera meraih ponselnya kemudian mengusap layar, satu nama si pemanggil tertera di sana. Siapa lagi jika bukan Oma.


Dengan cepat Davin mengangkat telepon tersebut, mungkin saja itu adalah kabar kepulangan mereka, kabar yang akan mengakhiri penderitaannya tidur di sofa.


[Ya nyonya"]


[Bukan Oma kakak, ini aku, Aila.] terdengar suara Aila dari seberang sana.


[Nona? ada apa?]


Mendengar panggilan istrinya disebut, Leon segera menoleh kearah davin dan menajamkan pendengarannya.


[Aku boleh minta tolong, kak?]


[Silahkan, nona. Saya akan bantu jika saya bisa.]


[Bisakah kakak tanyakan obat mbakku, sudah habis apa belum? dan tolong lihat lukanya?]


Mendengar permintaan nonanya, sesaat Davin merasa ragu. bukankah itu berarti ia akan bertemu kembali dengan Nita? ah, ia tidak yakin mampu menahan diri setelah apa yang terjadi.


[Kakak mendengarku?]


[Ah, ya nona. Saya akan memeriksanya nanti.]


[Terimakasih atas bantuan kakak.]


[sama-sama, nona.]


Tuuut! Tuuuuuut!


Sambungan telepon terputus.


Davin terlihat menghela napas sesaat, sedang Leon yang mendengar pembicaraan istrinya dengan Davin tadi semakin bertambah kesal.


"Hanya itu? dia tidak menanyakanku?" tanyanya pada Davin.


'Tidak, tuan. Hanya itu." jawab Davin.


Lagi-lagi Leon hanya bisa mengumpat. Bagaimana bisa, selama tiga hari ini istrinya tidak menghubunginya sama sekali? dan malah menghawatirkan orang lain.


Entah apa yang oma ajarkan pada Aila, namun yang pasti, gadis itu seperti sengaja mengabaikannya.


Tidak lagi konsentrasi di kantor, Leon memilih pulang ke kastil untuk sekedar mencium aroma tubuh istrinya di ranjang mereka.


Ditinggal tiga hari serasa seperti setahun dan entah akan berapa lama lagi Aila pergi.


"Davin?" tanya Leon, ketika mereka sampai di loby kastil.


Davin diam tidak menjawab, pikiran pria itu sedari tadi pagi seperti tidak berada di tempatnya, entah melayang kemana.Bukanya tidak tahu, Leon menyadari hal itu.


"Viiin!" ulang Leon dengan nada lebih tinggi.


Davin tergagap,"Ya, tuan?' jawabnya kemudian.


"Maaf tuan,"


Leon menernyitkan alis.Davin tidak pernah kehilangan konsentrasinya, namun tiga hari belakangan ini, anak buahnya tersebut, terlihat tidak fokus dengan tugasnya.


"Bukan itu yang ingin aku dengar Davin. Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Leon memastikan.


"Tidak, tuan. Saya akan fokus lain kali." jawab Davin meyakinkan bossnya.


Mendengar jawaban Davin, malah membuat Leon semakin penasaran dan yakin ada yang sedang terjadi dengan tangan kanannya itu.. Namun untuk sekarang sudah cukup, ia ingin memberi waktu pada bawahannya itu untuk berpikir.


"Kau tau aku tidak suka di bohongi, bukan? jadi ceritakan apa yang terjadi jika, kau sudah siap. Aku tunggu." tandas Leon kemudian menaiki tanga menuju lantai dua.


Davin diam, pria itu hanya membungkuk hormat sebagai jawaban. Bossnya tidak pernah berubah, matanya selalu jeli dalam menilai sikap seseorang. Cepat atau lambat ia akan tahu jika dirinya telah melanggar janji untuk tetap mengabdikan tubuh dan pikirannya hanya pada dirinya. Ia membagi pikirannya pada seorang wanita yang tidak lain kerabat nonanya sendiri.


Memikirkan hal itu, kepala Davin serasa mau meledak.


*********


Dua hari ini, hati Nita dirundung kegalauan tingkat dewa. Entah apa yang terjadi padanya, hingga makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Hari-harinya ia habiskan di kamar saja, tawaran Lisa untuk mengajaknya berkeliling kastil, tidak lagi menarik baginya.


Ditambah kepergian Aila yang tiba-tba, membuatnya tidak bisa untuk sekedar berbagi cerita.


Cumbuan panas yang dilakukan tangan kanan sang boss padanya, meninggalkan sebuah rasa yang sulit ia ungkapkan. meski kelakuan Davin termasuk kategori kurang ajar, namun entah kenapa ia tidak berdaya untuk marah pada pemuda tersebut.


Bagaimana ia akan marah, jika wajah tersebut dua hari terakhir ini malah mengganggu pikiran dan memenuhi otaknya?


Ia sendiri bingung bagaimana mengungkapkan perasaanya kini, tapi yang pasti ia merindukan si pemilik wajah dingin itu. Ya, itu gila, tapi kenyataanya begitulah adanya.


Dan parahnya, ia tidak melihat pria itu selama dua hari ini di dalam kastil. Lengkaplah sudah, hatinya gundah galau merana sekarang.


Meski hatinya galau, tapi tenggorokannya merasa haus. Harusnya, tenggorokannya juga mendukung suasana hatinya yang lagi slow melow kan ya? mau bagaimana lagi, walaupun galau tubuhnya tetap butuh minum.


Dengan malas ia melangkahkan kaki keluar dari kamar menuju dapur.. Di istana yang sebegitu besarnya, dapur khusus staf dan bodyguard berbeda dengan dapur untuk pelayan. Jadilah ia jarang menemui orang di dapur itu.


Tapi itu malah membuatnya nyaman untuk sekedar duduk menikmati waktu selain di kamarnya tentu saja. Ia juga bebas memasak apapun di sana.


Seperti sore itu, karena tidak napsu makan seharian ini, ia pikir akan memasak mie kuah pedas kesukaannya sendiri.


Lisa bilang, memakan mie instan didalam kastil dilarang, jadilah ia titip pada maria pagi tadi di pasar. Entahlah, **** masakan koki kastil lebih dari sekedar enak buatnya, namun mie instan kuah pedas tetap menjadi menu favorit di lidah kampungnya.


Cara memasaknya yang tergolong mudah menjadikannya cepat selesai. Satu mangkuk kuah pedas siap untuk dinikmati. namun, ketika akan mencari mangkuk, gadis itu celingukan. Pasalnya letak mangkok berada di atas lemari yang begitu tinggi. malas jika harus memanjat, akhirnya nita memakan mie nya langsung dari panci. pikirnya, tidak akan ada yang melihatnya, jadi kenapa harus repot. Lagi pula ia sudah terbiasa melakukan itu di kampung.


Mengesampingkan, rasa galau, Nita mulai memakan mie_nya dengan lahap, hingga tanpa di sadari, seseorang telah berdiri di sampingnya.


"Ehem"


Mendengar suara deheman dari seseorang, membuat Nita menoleh.


Uhuk! Uhuk!


Sontak Nita tersedak melihat siapa yang sedang berdiri tepat disampingnya. Pria es yang sudah dua hari ini dirindukannya, berdiri tepat di sampingnya dan melihat dirinya tengah makan mie instan langsung dari pancinya.


Apes! gak elegan banget.


Buru-buru Nita meraih air putih dan meminumnya hingga tandas. berharap rasa tidak nyaman pada tenggorokannya segera hilang. Namun bukanya hilang, tapi malah semakin menjadi karena pria disampingnya itu terus menatapnya dengan intens.


Merasa malu dan tidak tahu harus bagaimana, Nita berdiri dan keluar dari dapur begitu saja meninggalkan mie instan miliknya yang baru dimakannya sedikit.


Melihat tingkah Nita, Davin menghela napas dalam. Pria merana itu berpikir, jika Nita takut karena kejadian di pagi itu. Sepertinya ia harus segera membereskan masalah ini, sebelum nonanya berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.

__ADS_1


Meliahat mie yang masih banyak di depan mata, Davin merasa penasaran untuk mencobanya. Ia sendiri sudah lama tidak menikmati makanan instan itu selama bekerja pada bossnya. Seperti ada kerinduan tersendiri yang membuatnya ingin mencicipi mie instan buatan Nita.


Pikiran awal yang hanya ingin mencicipi, malah membuat ia menghabiskan mie instan tersebut. mau bagaimana lagi, rasanya memang menggugah selera makan. Di tambah sejak siang tadi ia belum makan apa-apa karena mood bossnya


yang sedang tidak baik.


Selesai makan Davin kembali ke kamarnya. Ia ingat pesan nonanya untuk memberikan obat dan mengganti perban pada luka nita. Seharusnya semua itu adalah tugas Alex, namun pria itu mewanti-wanti semua sahabatnya untuk tidak mengganggunya, karena ia tengah sibuk menyiapkan acara pertunangan dirinya dengan miranda.


Alhasil, ia sendiri yang harus melakukan tugas itu, meski hatinya menolak. Bukan apa-apa, ia hanya takut kelepasan lagi jika dekat-dekat dengan gadis itu.


Setelah mempersiapkan peralatanya, Davin segera menuju kamar Nita.


Untuk sesaat ia ragu ketika akan mengetuk pintu tersebut, namun perintah nonanya harus ia jalankan.


Satu, dua, tiga ketukan ia layangkan di pintu dan tidak butuh waktu lama pintu itu terbuka.


Namun bukan sambutan yang ia terima, tapi wajah pias dan kegugupan yang menyapa.


"Boleh masuk?" tanya Davin.


Nita terlihat diam menunduk, sembari merasakan debaran jantungnya yang kian bertalu.


"Tenang aja, aku kesini hanya melaksanakan perintah nona untuk menggant perbanmu dan memberimu obat." selembut mungkin Davin mencoba menjelaskan, agar gadis di depannya tidak ketakutan.


Setelah diam beberapa saat, akhirnya anggukan kecil terlihat dari kepala Nita. Membuat Davin lega.


Mereka akhirnya masuk kedalam kamar.


"Berdiri saja, dan buka kancing bajumu," pinta Davin.


Nita diam, gadis itu terlihat menunduk sembari meremas jarinya.


Melihat hal itu, Davin menghela napas, sekedar mengulur kesabarannya.


"Jika kau tidak nyaman, akan ku panggilkan dokter lain," ucap Davin sembari berbalik . Namun belum sempat ia melangkah, Nita menarik kemeja yang di pakainya.


"Jangan..." pintanya lirih.


Davin mendesah. Ia bukan tipe lelaki sabar. Menghadapi sikap Nita yang penuh teka-teki membuatnya bingung harus bagaimana.


"Jika begitu, ayo lakukan!" perintah Davin sembari berbalik.


Lagi-lagi, Nita hanya diam sembari meremas tangan. ingin sekali ia melakukan perintah Davin, namun tubuhnya seakan kaku dan juga ia sangat malu jika harus membuka baju atasnya di depan pria itu. Tapi kenapa Davin tidak menyadari kesulitannya?


Bingung dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi sikap Nita, Davin kembali berbalik dan melangkah keluar.


Melihat Davin melangkah keluar, Nita panik. Entah mendapat dorongan dari mana, gadis itu segera berlari dan memeluk punggung Davin dari belakang.


Sontak membuat Davin terkejut dan menghentikan langkah. Satu setik, dua detik Nita tetap pada posisinya, gadis itu malah semakin mempererat pelukannya. Mungkin esok ia akan menyesali perbuatannya, namun untuk saat ini, ia hanya ingin memeluk pria itu. ia tidak peduli jika nanti, Davin akan menganggapnya wanita murahan. Biarlah ia menikmatinya walau hanya sesaat.


Tanpa disangka, Davin mlepas paksa tangan Nita yang melingkar di perutnya. Namun bukan untuk pergi, melainkan untuk berbalik dan meraih pinggang gadis itu untuk lebih merapat pada tubuhnya. Tanpa banyak bicara, Davin mengangkat dagu Nita dan menciumnya dengan panas.


Sejak awal mengetuk pintu, debaran jantungnya sudah menggila dan kini ia seperti mendapat angin segar, lalu bagaimana ia bisa menahannya?


Nita membiarkan lidahnya di belai dan di ***** oleh pria yang sejak dua hari ini menganggu pikirannya. Bahkan ketika pria itu mencumbu lehernya, ia hanya bisa pasrah.


"Kau hangat dan aku menginginkanmu, jadi jangan menggodaku!" ucap Davin setelah pria itu mengangkat wajah dari leher jenjangnya.


Nita tidak menjawab, matanya melihat sayu kearah manik mata milik pria es di depannya. Seiring tubuhnya yang tiba-tiba melemas, tangannya meraba dada pria di depannya dengan gemetar.


"Kau takut padaku?" tanya Davin karena merasakan tubuh nita lemas dan bergetar di tubuhnya.


"Ti_dak," ucap Nita sembari menggeleng. Ia membranikan diri menyentuh dan meraba wajah Davin, meski tangannya gemetar.


Davin memejamkan mata saat merasakan sentuhan tangan Nita pada wajahnya. Seumur hidup ia tidak pernah disentuh, tepatnya tidak pernah membiarkan dirinya disentuh oleh seorang wanita sejak kematian ibunya. Entah kenapa tangan lembut Nita mengalirkan desiran yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tangan itu mengalirkan perasaan damai dan tenang di dalam hatinya.


Merasakan hasrat yang kian memuncak, ia mengais tubuh lunglai di depannya dan membaringkannya di atas ranjang, kemudian menindihnya dengan posesif.


Meliahat tidak ada perlawanan, Davin semakin tidak terkendali. Satu tangan ia gunakan untuk membuka kancing baju Nita dan tangan yang lain berada pada kepala gadis itu. Sedang mulutnya ******* bibir penuh di depannya dengan lembut.


Saat kancing sudah terlepas, Davin mengamati dada yang menyembul di depannya, sembari meremas lembut pada puncaknya.


Sejak tertembak, Nita memang tidak bisa memakai bra, karena talinya akan mengenai lukanya yang belum kering. Jadilah Davin tidak perlu susah-susah menyentak bra gadis itu.


"Ah...." rintih Nita saat puncak dadanya dimainkan.


Davin kembali ******* bibir Nita, sedang tangannya masih berada pada dada gadis itu. Mungkin karena terlalu bersemangat, tidak sengaja tangannya menekan luka pada bahu kanan Nita, membuat gadis itu terpekik pelan.


Sontak membuat Davin tersadar dari sikapnya dan segera mengangkat wajah.


"Maaf, sakitkah?' tanyanya panik.


"Sedikit," jawab Nita dengan suara serak.


Davin bangun dan menegakkan tubuh.


"Kita lepas perbannya sekarang," ucap Davin kemudian melangkah menuju peralatan yang ia letakkan di atas meja.


"Berbaring saja!" perintah Davin yang melihat Nita ikut bangun.


Nita menurut, ia kembali berbaring dan merapatkan kembali kancing bajunya, namun tetap membiarkan dada atasnya sedikit terbuka, agar Davin bisa melepas perban pada lukanya.


Namun, tiba-tiba Davin menahan tangan Nita yang sedang merapatkan baju.


"Biarkan," pintanya.


Meski malu, Nita mengikuti perintah Davin.


Pelan-pelan Davin membuka perban anti air pada luka di bahu Nita, namun nyeri pada lukanya tetap terasa, membuat Nita memejamkan mata sembari mengigit bibir bawahnya.


Merasakan remasan yang kuat dari tangan Nita pada pinggangnya, Davin menoleh. Melihat wajah Nita yang tegang sembari menutup mata, Davin merasa kasihan. Ia kemudian mengecup kening gadis itu dalam, membuat Nita membuka matanya.


"Tak apa, ini hanya sebentar." ucap Davin sembari menatap lekat wajah Nita.


Nita tidak menjawab dan malah meneteskan air mata. Gadis itu menangis.


Melihat Nita menangis membuat Davin bingung.


"Sakit sekali?" tanyanya. Ia tidak habis pikir, hanya melepas perban apa sesakit itu?


Nita menggeleng dan membenamkan wajahnya pada dada Davin.


"Terimakasih,' ucap Nita dengan isaknya.


Davin diam, meski ia tidak mengerti maksud dari sikap Nita, namun ia yakin gadis itu tengah memendam luka.


"Terimakasih karena sudah menyembuhkan lukaku." lanjutnya.


Davin meraih kepala Nita dan menciumnya. Ia sekarang paham maksud dari gadis itu. Nita menyerahkan nyawa demi melindungi lelaki yang dicintainya, namun pria itu bahkan tidak peduli pada keadaannya.Ya, ia sangat tahu akan hal itu, karena selama sakit, hanya Aila dan dirinya yang menungguinya.


Awalnya, Davin memandang rendah sikap Nita yang rela berkorban nyawa untuk melindungi Adimas, namun melihat bagaimana gadis itu bertahan dan menghadapi rasa sakitnya, membuat Davin merasa iba.


Mungkin juga karena terus bersama di dalam satu ruangan, membuat cinta itu tumbuh di hatinya.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2