Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 30


__ADS_3

🌸Cina 49 Cm 🌸


Part 30


** Bertemu Clara **


Aila duduk di kursi belakang mobil dengan diam, sesekali matanya menatap keluar jendela menikmati keramaian jalanan ibu kota.


Selain memang pendiam, Aila juga kesulitan untuk beradaptasi dengan orang baru. Akhirnya, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah duduk dengan diam.


Jimy yang sedang duduk di kursi kemudi, mencuri pandang kearah Aila melewati kaca spion dalam.


Ia tidak menyangka, jika ada seorang gadis di dalam apartemen bosnya. Dari informasi yang baru dia dapatkan, gadis yang sedang dikurung di dalam apartemen bosnya itu baru saja genap berumur 17 tahun. Penampilannya juga sangat sederhana, layaknya ABG pada umumnya. Entah apa yang bosnya itu pikirkan, sehingga mengurung gadis yang masih ABG, padahal Leon jelas saja bisa mendapat wanita yang lebih seksi dan cantik dari kalangan artis maupun model tanpa harus mengurungnya. Melihat ketampanan dan kekayaan yang Leon punya, bukankah akan banyak wanita yang mendekat? bahkan hanya untuk sekedar tidur dengannya, tapi bosnya itu malah memilih mengurung gadis remaja.


Jika dilihat dari cara bosnya memperlakukan gadis yang sedang duduk di belakangnya itu, sepertinya ia sangat istimewa. Bosnya bahkan memakaikan gelang pelacak pada kakinya.


Setidaknya itulah yang ada dipikiran Jimy tentang Aila.


Davin bilang, gadis itu sangat berharga bagi bosnya, setara dengan setengah hidupnya.


Bagaimanapun, jimy tetap merasa kasihan pada Aila. Gadis seusianya bukankah seharusnya sedang berada disekolah? berkumpul dengan teman temannya, tapi Aila harus menghabiskan hari harinya hanya didalam apartemen untuk melayani bosnya.


Tiba tiba saja ia jadi merasa iba pada Aila, entah karena apa. Bisa jadi mungkin karena perawakan tubuh Aila yang begitu mirip dengan adiknya yang sudah lama tiada, atau karena hal lain. Ia sendiri tidak mengerti.


Tanpa terasa mobil sudah memasuki area mall terbesar di ibukota, setelah memparkirkan mobilnya di basement, ia segera membukakan pintu belakang untuk Aila, gadis itu terlihat kaget karena dilayani oleh Jimy, tapi dengan segera ia menormalkan sikapnya kembali.


"Silahkan, nona" Ucap jimy sembari membungkuk hormat.


Diperlakukan layaknya princess Aila jadi kikuk sendiri.


Ia kemudian keluar dari mobil.


"Terimakasih," ucap Aila sembari membungkuk kearah Jimy.


"Em...panggil Aila saja, karena saya juga bukan nona" pinta Aila.


Jimy terkesiap mendengar ucapan Aila.


"Tidak nona, anda adalah majikan saya, sudah seharusnya saya memanggilnya begitu" ucap Jimy.


Aila terlihat mendesah.


kenapa semua orang yang bekerja dengan Leon bisa sekaku itu.


"Terserah kakak saja," ucap Aila akhirnya, sembari melangkahkan kakinya menuju pintu masuk mall.


Jimy merasa takjub dengan sikap Aila, lelaki itu menatap punggung Aila beberapa saat sebelum berlari menyusulnya. Ia kira wanita bosnya itu angkuh dan sombong karena selama perjalanan dia hanya diam. Kebanyakan wanita dari bos-bos kaya kan memang begitu, sombong dan angkuh, padahal kalau bosnya sudah bosan akan dibuang juga.


Tapi sepertinya, ia salah menilai Aila. Gadis itu seperti menolak ketika diperlakukan secara istimewa.


Kedua anak buah Dragon mengikuti Aila dengan jarak sekitar dua meter, agar hadis itu tidak risih. Tapi kenyataanya malah mengundang perhatian dari pengunjung lain. Sejak masuk tadi, beberapa pasang mata menatap mereka dengan aneh, membuat Aila merasa tidak nyaman.


Setelah sampai ditempat dimana ia bisa membeli kebutuhan pribadinya, Aila berbalik, Gadis itu melangkah dengan ragu kearah jimy dan temannya.


"Ada apa, nona?"


"Em...bisakah kakak menunggu disini saja? aku akan mengambil sesuatu dan segera kembali" ucap Aila.


Jimy sejenak berpikir, ia tau Aila tidak nyaman jika mereka terus mengikutinya. Sudah menjadi tugasnya untuk memastikan Aila tetap aman. Namun di sisi lain, Jimy juga merasa kasihan dengan Aila, mungkin saja gadis itu butuh refresing sejenak karena selalu terkurung didalam apartemen.


Lagi pula pintu keluar masuk hanya satu arah melewati kasir saja, jika mereka tetap mengawasi pintu kasir ia akan tau gadis itu sudah keluar atau belum.


"Baiklah, tapi nona harus berjanji jika sudah selesai cepat kembali." ucap Jimy.


Aila mengangguk, " Terimakasih, aku janji cepat kembali" ucap Aila terlihat senang.


Jimy hanya tersenyum, sembari menatap punggung Aila menjauh.


"Kalo dia kabur gimana kak?" tanya salah satu temannya.


"Ada pelacak di kakinya, lagi pula dia gak akan kabur" jawab Jimy.


"Dari mana kakak tau, gadis itu tidak akan kabur?"


Jimy diam. Tidak tau harus bicara apa, entah kenapa ia percaya jika Aila tidak akan kabur.


Aila menoleh kesana kemari, matanya menyusuri setiap rak mencari semua daftar belanjaan yang akan ia beli. Ia harus pulang tepat waktu atau Leon akan marah besar nanti. Dengan cekatan ia mulai memasukkan satu persatu barang kedalam keranjang, ia sudah membeli semuanya. Ketika akan berbalik menuju kasir matanya menatap kearah makanan ringan favoritnya, gadis itu tertarik untuk membelinya satu. Namun ketika tangannya hendak meraih snack tersebut, Aila mendengar suara langkah heels mendekat kearahnya.


"Hei, kampungan! sekarang udah punya duit buat ngemall ya?"


Aila menoleh kearah sumber suara yang ternyata milik Dinda dan seorang anggota genknya. Dinda adalah teman sekelas Aila, sejak pertama pindah kesekolahnya, gadis itu sudah menunjukkan rasa tidak sukanya pada Aila.


Aila diam, tidak menanggapi hinaan Dinda. Ia tetap mengambil snack dan memasukkannya kedalam keranjang, namun belum sempat masuk tangan Dinda sudah menepisnya duluan, membuat snack itu terjatuh.


Aila terlihat menghela napas, mencoba tetap sabar.


"Aku pernah punya salah apa ke kamu Din? hingga kamu begitu benci sama aku!" tanya Aila.


Dinda tersenyum sinis, " Salah loe itu miskin, kampungan tapi berani sekolah di sekolah paling elit di jakarta, udah gitu pakai sok pintar meraih juara satu paralel lagi! seharusnya itu gue murid yang paling pintar!" ucap Dinda penuh kebencian.


"Oalah, jadi loe iri karena cewek miskin kaya gue bisa juara umum?" Aila terpancing juga akhirnya.


"Berani ngejawab gue loe! loe gak tau siapa gue, hah?!" Dinda semakin emosi, ia menarik keranjang Aila dan menumpahkan semua isinya.


Aila mendelik kaget, "Apa yang loe lakuin?!" ucap Aila sembari berjongkok memunguti belanjaanya yang tercecer di lantai.


"Ampun! yang dibeli murahan semua cin!" cibir teman Dinda.


"Itu juga palingan dari tip yang diberikan kak Leon, karena udah mau menemaninya tidur" Timpal Dinda merendahkan


"Bilang aja, kalian iri karena aku yang dipilih oleh kak Leon, dan bukan kalian!" ucap Aila dingin. Ia sudah terbiasa jika dihina karena miskin, tapi Aila tidak bisa membiarkan harga dirinya juga dihina.


"Gue iri? sama loe? mimpi loe! gue cantik, pintar dan kaya, gapain gue iri? sama cewek kampungan kayak loe, lagi!"

__ADS_1


"Kalo gak iri, apa namanya? dari pada sibuk karena iri denganku, lebih baik kalian pantaskan diri supaya kak Leon melirik kalian!" ucap Aila sinis.


"Berani juga, mulut kotormu itu menasehatiku!" Dinda mendorong Aila hingga terjatuh, kemudian dengan cepat Dinda menyiramkan sekotak jus strawberi pada rambut Aila.


"Itu hukuman buat cewek murahan kayak loe!" desis Dinda.


Aila Masih diam terduduk dilantai, kausnya basah oleh jus, dan lengan kirinya nyeri karena terbentur rak ketika didorong oleh Dinda tadi.


"Kamu gak papa?" sebuah tangan terulur kearah Aila. Ia kemudian mendongakkan kepalanya, tangan itu ternyata milik Clara. Aila terlihat menghela napas, satu masalah belum selesai sudah muncul lagi.


Merasa tangannya tidak disambut, Clara kembali menarik tangannya.


"Kak Clara? ini kak Clara kan?" tanya Dinda.


"Ya" jawab Clara.


"Aku penggemarmu kak," ucap Dinda antusias.


"Oh, ya?" Clara merapikan rambutnya kebelekang telinga, merasa tersanjung.


"Ya, siapa yang tidak mengagumi kakak, kakak itu cantik, seksi, pintar dan kaya lagi" puji Dinda.


"Ah, kamu berlebihan, sayang" ucap Clara tersipu.


"Itu kenyataan kak, kakak yang lebih pantas bersanding dengan kak Leon ketimbang si gembel ini!" cibir Dinda sembari menendang kaki Aila yang masih bersimpuh.


Clara tersenyum bangga, namun sedetik kemudian ia menarik senyumnya.


"Jangan gitu, dia adalah pacar dari sahabatku, nanti dia tersinggung" ucap Clara sembari melirik Aila.


"Dia itu tuli kak, selain itu dia juga bisu!" cibir Dinda Lagi.


Aila tetap diam, hanya mendengarkan.


"Sudah-sudah, memangnya dia salah apa sehingga kalian marah?" tanya Clara.


Dinda tergagap, tidak mungkin ia memberitahu Clara bahwa ia membuly Aila hanya karena dia iri, karena gadis itu lebih pintar darinya. Itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri.


"I...itu karena dia mengambil begitu banyak barang, dan pasti tidak bawa uang kak, secara dia kan miskin" ucap Dinda dengan nada menghina.


"Kakak kan tau, papaku salah satu pemegang saham di mall ini. Kalau dia mencuri dari sini maka akan membuat mall ini bangkrut kan?" lanjut Dinda.


"Ya, dia pasti bermaksud mencuri," timpal teman Dinda.


"Apa benar dek?" tanya Clara kearah Aila.


Aila diam tidak menjawab, toh dijawab juga tidak akan ada gunanya. mereka berdua sama-sama tidak menyukainya.


"Jawab dek! jangan bikin Leon malu, kalo emang gak punya uang, kakak bisa membayarkannya untukmu" ucap Clara bermaksud merendahkan Aila secara halus.


Aila tetap diam, tidak menjawab pertanyaan Clara.


"Lihat kan kak? dia tuh tuli!" ucap Dinda.


"Heh, tuli! jawab pertanyaan kak Clara!" Dunda semakin geram, tangannya terulur akan menjambak rambut Aila, namun tiba-tiba ada tangan yang menahan dan mencengkramnya. Tangan tersebut milik Davin, sontak mereka semua kaget. Davin mencengkeram tangan Dinda dengan kuat, sehingga gadis itu meringis kesakitan. Tangan Dinda ia kibaskan kuat-kuat, membuat gadis itu mundur beberapa langkah.


Tidak berapa lama Jimy dan temannya muncul.


Ya, untung saja Davin tidak percaya begitu saja dengan Jimy, selain karena orang baru, ini juga hari pertamanya bekerja. Akhirnya, ia mengirim seorang mata-mata untuk mengawasi mereka. Benar saja, terjadi sesuatu pada nona mereka dan jimy tidak tau.


"Anda tidak papa, nona?" ucap Davin sembari membantu Aila berdiri.


"Hei! siapa kau?! beraninya menyakiti tanganku!" umpat Dinda.


"Saya adalah pengawal pribadi nona Aila"


Dinda terkesiap mendengar ucapan Davin.


Sedang Clara sudah terlihat pucat, ia tau siapa Davin. Tangan kanan Leon yang terkenal sadis dan juga dingin.


"Pengawal?"


"Ya! sebaiknya anda bersiap untuk mendapat masalah karena menuduh istri dari seorang Leon Thomson, seorang pencuri dan membullynya" ucap Davin tajam kearah Dinda.


"Menikah?!" ucap Clara kaget.


"Ya! anda tidak percaya? silahkan cek! mereka sudah menjadi suami istri sah secara hukum dan negara" ucap Davin menjelaskan.


Clara dan Dinda jelas terperanjat kaget, sedang Aila malah melongo.


Belain sih belain, tapi gak bohong juga kan?


"Dan anda nona, jangan melewati batas! atau perusahaan keluarga anda akan mengalami kerugian dalam jumlah besar!" ancam Davin kearah Clara.


"Kau berani mengancamku, Davin?!" ucap Clara emosi.


"Saya tidak mengancam, nona! hanya memperingatkan, untuk itu jangan buat saya kehilangan kesabaran!" ucap Davin tajam.


"Mari nona," Davin membimbing Aila untuk kelua, meninggalkan Dinda dan Clara yang berdiri mematung ditempatnya.


Aila menurut, ia melangkah dengan tubuh yang sedikit gemetar. Syok, karena kejadian tadi.


Davin membawa Aila pada kursi panjang di depan sebuah toko, di ikuti Jimy dan anak buahnya.


"Anda perlu baju baru nona, baju anda basah dan kotor," ucap Davin.


Aila menggeleng, "Tidak perlu kak, aku akan pulang saja" ucap Aila.


"Anda belum membeli apapun, mau saya temani?"


Aila menggeleng, " Aku akan belanja di swalayan kecil saja kak, sembari pulang"


"Ya, anda harus sudah dirumah sebelum tuan tiba"

__ADS_1


Aila mengangguk.


"Jangan memberi tahu kak Leon tentang kejadian tadi kak," pinta Aila.


"Saya tidak bisa nona, semua yang terjadi pada anda harus di laporkan kepada tuan Leon,"


" Tapi mereka semua akan terkena masalah kak,"


"Itu sudah resiko mereka, nona"


"Aku tidak papa, jadi aku mohon, jangan memberi taunya, ya?" rengek Aila.


Davin tidak menjawab.


"Mari, saya antar menuju mobil" ucap Davin mengalihkan pembicaraan.


Aila menghela napas, membujuk Davin bukan hal yang mudah. Davin itu ibarat mata bagi Leon, jadi pria itu hanya akan mematuhi sang pemilik mata, bukan yang lain.


Aila berdiri, menuju mobil dengan diantar oleh Davin, di ikuti Jimy dan anak buahnya.


"Silahkan, nona" Davin membukakan pintu mobil untuk Aila dan mempersilahkannya masuk.


Aila menurut, masuk kedalam mobil. Ketika Davin akan menutup pintu, Aila menahannya.


"Aku mohon sekali lagi, jangan memberitahu kak Leon tentang kejadian tadi" ucap Aila memohon.


"Anda harus segera pulang, nona" lagi-lagi Davin mengalihkan pembicaraan dan menutup pintu mobil.


Aila mendesah, ia hanya bisa berharap jika Davin berbaik hati untuk tidak memberitahu Leon.


Buuk! Buuk!


Dua tinju melayang pada pipi kanan Jimy dan pada bagian perut anak buahnya.


Aila yang melihat Jimy dan anak buahnya di diberi hukuman karena kelalaiannnya menjaga dirinyaa, hanya bisa memejamkan mata. Ia tidak menyangka karena hal sepele yang menimpa dirinya orang lain juga harus menanggunggnya.


Jimy dan satu anak buahnya masuk kedalam mobil dengan muka datar, seolah tidak terjadi apapun.


"kita akan pergi kemana setelah ini, nona?" Tanya Jimy setelah duduk di kursi kemudi.


"Ke swalayan saja," ucap Aila tanpa menatap Jimy.


Jimy mengangguk dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Aila duduk dengan diam selama perjalanan, rambutnya dan kausnya yang terkena jus strawberi terasa sangat lengket, tapi ia tidak punya waktu untuk membersihkan diri. Ia harus pulang sebelum Leon sampai dirumah, atau masalah yang lebih besar akan datang.


Tidak berapa lama, jimy menghentikan mobilnya pada sebuah halaman swalayan. Lelaki itu keluar untuk membukakkan pintu bagi Aila.


"Silahkan, nona"


"Terimakasih,"


Aila melangkahkan kakinya memasuki swalayan, diikuti jimy dan satu anak buahnya. Pelayan toko yang menyambut terlihat menatap aneh kearah Aila karena penampilannya, tapi mereka tetap diam karena dua lelaki kekar yang berada di belakangnya.


Aila meraih keranjang, segera memasukkan semua barang yang akan ia beli dengan cepat, kemudian segera membawa menuju kasir. Swalayan yang tidak terlalu besar, namun semua yang Aila butuhkan ada semua disana. Setelah melakukan pembayaran Aila segera keluar, namun setelah sampai di dekat mobil gadis itu terlihat berhenti dan berbalik. Aila menuju Apotik yang letaknya berada tepat disamping Swalayan, walaupun tidak mengerti kenapa Aila kesana, Jimy dan anak buahnya tetap mengikutinya tanpa banyak bertanya.


Setelah membeli obat yang ia inginkan, Aila segera menuju ke mobil. Namun langkahnya terhenti, saat matanya menangkap sesosok pedagang, yang sepertinya buta tengah berjualan baju kaus di depan toko.


Dengan beralaskan tikar, pedagang itu menggelar dagangannnya begitu saja.


Aila berjongkok di depannya, pedagang tersebut tetap diam tanpa reaksi, sepertinya memang benar-benar buta karena tidak menyadari kehadirannya.


"Bapak jualan, kaus?" tanya Aila.


Si bapak terlihat kaget, sebelum akhirnya tersenyum.


"Iya, non! mangga di pilih mau yang mana?" ucap si bapak semangat.


"Berapa satunya, pak?"


"Semua sama, non! 35 ribu saja" ucap si bapak.


Aila menatap semua kaus yang masih terbungkus dengan rapi didepannya, mengambil dua dengan ukuran yang berbeda.


"Bapak tau, saya ambil berapa?" tanya Aila.


Si bapak terlihat menggeleng.


"Saya mah percaya saja, sama si non" ucap bapak sembari tersenyum.


Aila menghela napas, merasa kasihan. Bagaimana jika pembelinya adalah orang jahat, dan malah menipunya?


Aila mengambil dua lembar seratus ribuan uang yang masih tersisa didalam dompetnya, uang hasil jerih payahnya sendiri kemudian ia meraih tangan si bapak dan memberikannya.


"Kembali, non?" tanya si bapak sembari meraba uang yang Aila berikan.


"Gak pak! uangnya pas, bapak simpan ya?" ucap Aila kemudian berdiri dan melangkah menuju mobilnya.


Si bapak terlihat masih meraba dan terlihat mengerutkan keningnya. Ia merasa, pembelinya salah memberinya uang.


Si bapak terlihat berbicara sendiri, namun karena tidak ada jawaban akhirnya ia diam. Raut wajahnya terlihat tersenyum semenit kemudian.


Tuhan telah menolongnya, melalui tangan baik yang dikirimkan padanya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya hari ini.


Bersambung.....


Aku ucapin makasih banyak Gengs, buat kalian yang udah vote, like dan koment. Kalian semangat terbesar aku dalam menulis.


Jujur sudah ada beberapa ambasador yang nawarin buat gabung di platform mereka, tapi aku masih cari yang gak pakai koin. Karena aku pribadi mengerti kesulitan kalian,..


Kalo gitu ngapain gak nulis di fb aja yang gak ribet? aku jawab ya gengs, di fb ada peraturan group yang kita harus hormatin gaess, dan lagi pembacanya masih lintas usia.


Jadi mengertilah, ,,

__ADS_1


Pokonya aku cinta kalian semua, walaupun belum bisa membalas satu persatu komen dan pesan yang masuk. Sedang bikin premis novel dengan judul Lain juga, jadi sibuk banget. Tungguin ya, novel selanjutnya bakal beda banget kok, aku janji....


__ADS_2