
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 63
**Selamat datang**
"Cium..." pinta Aila, karena Leon sepertinya tidak ingin mengawali taruhan mereka duluan.
"Berdirilah sayang," ucap Leon malas.
Aila mencebik, Leon tahu benar ia sudah lebih dari berdiri, ia bahkan sampai berjinjit kini.
"Ayolah, leherku pegal jika harus terus membungkuk."
"Aku tidak sampai..." cicit Aila. Ia selalu berpikir kenapa Tuhan harus mempertemukannya pada raksasa seperti Leon, jika pria itu hanya terus menghina kekurangannya.
"Lakukan apapun, agar kau sampai!" Leon masih enggan untuk mengalah. Entahlah ia selalu ingin tahu isi kepala gadisnya itu.
"Gendong?"
"Gak!"
Aila mendesah, kemudian menunduk. Lalu turun dari atas kaki Leon.
"Kenapa? tidak jadi taruhan?" tanya Leon yang melihat Aila turun dari atas kakinya, membuat gadis itu semakin jauh dari jaraknya.
Aila tidak menjawab, gadis itu malah memainkan kancing kemeja lelakinya.
"Hei! ngambek?"
Aila menggeleng, lalu mendongakkan kepalanya dan menatap manik mata biru milik prianya. Leon benar, jarak mereka terlampau sangat jauh, tapi kenapa mereka bisa saling jatuh cinta?
"Tuan?" tanyanya kemudian.
"Hem,"
"kenapa kau begitu tinggi?" tanya Aila heran.
Ya, posisi Leon tinggi diatas semuanya. Entah itu kekayaannya, kecerdasannya, dan bahkan ketampanannya. Aila pikir Leon terlalu sempurna. Tentu saja jika tidak mengikutsertakan sifatnya.
Leon terkekeh, "Bukan aku yang tinggi, tapi kau yang terlalu pendek!" Seperti biasa, Leon malah menjawabnya dengan ejekan.
Namun Aila tidak menanggapi, baginya mulut Leon memang sudah pedas dari sananya.
"Boleh aku memelukmu, tuan?" tanya Aila.
Leon menautkan kedua alis. Baginya, semua ucapan yang keluar dari mulut Aila adalah isyarat, dan sekarang entah apa lagi yang diinginkan gadis mungilnya itu.
"Apa lagi yang kau inginkan, hem?" tanya Leon sembari mencondongkan tubuhnya tepat di depan wajah Aila.
Saat itu juga, Aila langsung meraup kedua pipi Leon dan menciumnya.
Untuk sesaat, pria itu terlihat kaget sebelum akhirnya ia pun ikut memejamkan mata menikmati bibir gadisnya.
Seketika Davin dan puluhan bodyguard di belakang mereka, berbalik badan, memberi privasi kepada sang tuan.
Merasa pegal, karena terus membungkuk, Leon menangkat tubuh Aila dan menggendongnya seperti kanguru.
"Kenapa menginginkan kastilku, hem?" tanya Leon di sela ciuman Aila.
"Aku tidak mau meninggalkan tempat itu lagi," ucap Aila. Terdengar ada nada penyesalan dan kesedihan di sana.
Leon menghela napas dalam, ternyata butuh banyak waktu untuk menyembuhkan luka di hati istrinya.
"Kau istriku, siapa yang bisa mengusirmu?"
"Karena itulah, aku ingin memastikan tidak ada lagi orang luar yang datang dan menghancurkan keluargaku." ucap Aila sembari menatap lekat manik mata suaminya.
Leon memiringkan kepalanya, "Kalau itu terjadi, Emm...maksudku ada orang luar yang datang lagi, bagaimana?"
"Mau bagaimana? akan ku biarkan dia membawa suamiku. Tapi tidak keluargaku. Aku punya banyak orang yang menyayangiku di sana." ucap Aila santai.
"Hei! bagaimana bisa begitu?! kenapa kau membiarkan suamimu dibawa pergi? harusnya kau merebutnya kembali!" ucap Leon kesal. Bisa-bisanya Aila berpikir seperti itu.
Aila mengerakkan bahunya sesaat, "Aku membantunya berbahagia, tuan. Dimana salahku?" ucap Aila cuek.
Leon menghembuskan nafasnya kasar, " Kalau begitu, aku tidak jadi memberikan kastilku padamu!" ucapnya kesal, lalu menurunkan Aila begitu saja kemudian melanjutkan langkah, meninggalkan Aila yang terlihat melongo.
"Hei, tuan. Bagai mana dengan taruhannya?" teriak Aila ketika sadar dari terkejutnya.
"Terserah, kau membuatku kesal." ucap Leon tanpa berbalik.
Aila terlihat mengulum senyum sesaat, sebelum akhirnya ia berlari menyusul suaminya.
"Tuan?" ucap Aila dengan napas ngos-ngosan.
Leon tidak menjawab dan tetap melanjutkan langkah, bahkan langkahnya ia percepat agar Aila kesulitan mensejajarkan langkah dengannya.
"Jangan marah," ucap Aila membujuk suaminya.
Leon masih diam, pria itu terlihat menambah kecepatan langkahnya. Ia ingin mengerjai wanitanya. Siapa suruh membuatnya kesal.
"Tuan?" Aila masih berusaha membujuk sembari berlari kecil, tapi lagi-lagi Leon tidak menanggapi.
Merasa lelah dan nyut-nyut_an pada telapak kakinya, Aila berhenti. Gadis itu kemudian duduk di tengah jalan sembari menunduk.
Melihat Aila tidak lagi membujuk dan mengikutinya, Leon menoleh. Ia melihat gadisnya duduk di tengah jalan sembari menunduk.
Apa yang sedang di lakukannya?
Leon mendesah, drama apa lagi yang sedang dimainkan wanitanya itu.
"Ada apa?!" teriak Leon. Ia enggan mendekat.
__ADS_1
"Kakiku sakit," ucap Aila tanpa menatap kearah suaminya.
"Jangan pura-pura! cepat kemari atau ku tinggal!" ancam Leon. Entah kenapa ucapan Aila tadi membuatnya begitu kesal.
Aila diam, tidak menjawab. Gadis itu malah terlihat meringkuk sembari memeluk lututnya sekarang. Membuat Leon menautkan kedua alis.
Apa dia sedang menangis?
Leon kembali menggelengkan kepalanya, ia tidak akan tertipu pada muslihat mainannya itu.
"Hei! cepatlah!" teriak Leon sekali lagi. Namun, Aila lagi-lagi tidak menjawab.
Leon mendesah, mengabaikan rasa kesalnya, pria itu berjalan mendekat.
Setelah benar-benar dekat, Leon menarik napas panjang sembari menatap gadisnya yang tengah menunduk sembari memeluk lutut tersebut.
"Cepat berdiri!" perintah Leon sembari menendang pelan kaki Aila.
Aila bergeming, "Kakiku sakit," ucapnya pelan tanpa mengangkat kepalanya.
Leon kembali mendesah. Bukankah tadi Aila sendiri yang ngotot ingin jalan? dan sekarang ngeluh kakinya sakit? dasar kancil!
Namun melihat kaus kaki yang dibpakai gadisnya basah dan kotor, Leon pun jadi iba. Ia akhirnya jongkok di depan Aila dan meraih kaki gadis tersebut kemudian memeriksanya.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat pergelangan kaki Aila membiru.
"I__ini kenapa?!" tanya Leon heran.
Tidak mungkin hanya jalan kakinya bisa lebam kan? lagi pula gadis tidak jatuh sedari tadi.
Aila tidak menjawab dan malah mengalungkan tangan pada leher Leon sembari tersenyum ceria.
"Gendong..." rengeknya manja.
"Ini kenapa?!" tanya Leon dengan nada sedikit lebih tinggi. Pria itu kesal karena Aila malah tidak menjawab pertanyaannya.
"Oh, itu. Semalam aku terjatuh waktu menyusun barang di atas lemari, tuan. Tapi sekarang sudah tidak sakit." ucap Aila santai.
Leon menatap gadisnya sesaat, bagaimana bisa kaki selebam itu tidak terasa sakit?
Ah, ia lupa, jika Aila pandai menutupi rasa sakitnya.
"Kenapa tidak bilang?" ucap Leon, nadanya terdengar dingin sekarang.
"Aku lupa, tuan." Aila segera merapatkan tubuh dan mengeratkpan tangan pada leher Leon. Ia tahu pria itu akan segera memarahinya.
"Lepas!" perintah Leon sembari mengurai pegangan Aila, tapi gadis itu malah mengeratkan tangannya.
Ia berdecak, tidak suka jika Aila menyembunyikan apapun darinya.
"Sakit...jangan marah." ucap Aila lirih.
Leon menarik napas dalam, egonya selalu luruh ketika mendengar gadisnya mengiba setiap kali ia hampir meledak.
"Tuan?"
"Diam, kau membuatku kesal!"
Aila menurut. Rencananya untuk mengerjai Leon agar tidak lagi ngambek, malah ia sendiri yang kena. Apes!
Sudah hampir sampai pada gerbang kedua, namun Leon masih tetap dengan kediamannya.
Entah mendapat dorongan dari mana, Aila malah memainkan tangannya pada cambang tipis di bagian bawah dagu Leon.
Pria itu hanya terlihat melirik sekilas kemudian membiarkan Aila melakukan kesenangannya.
"Kenapa tidak bilang, jika terjatuh?" tanya Leon pada akhirnya.
Aila menghentikan tangannya kemudian mendongak menatap Leon yang tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Karena anda pasti akan marah." ucapnya.
Kemudian ia melanjutkan kegiatannya. Aila heran kenapa memainkan cambang bisa menjadi begitu menyenangkan?
"Ya, itu jelas. Karena kau keras kepala. Aku bisa menyuruh orang untuk membereskan rumah itu, tapi kau tetap ngotot membereskannya sendiri." ucap Leon masih dengan nada kesal.
Aila diam tapi tidak mendengarkan.
"Dan karena keras kepalamu, kau harus di hukum!" lanjut Leon.
Aila mendesah sembari menarik tangannya. Gadis itu terlihat menekuk bibirnya. Peraturan apa yang mengharuskan orang yang sedang terluka malah mendapat hukuman?
Tapi mau bagaimana lagi, sejak dulu undang-undang Leon memang sudah seperti itu.
Tanpa terasa mereka sudah memasuki halaman depan kastil, Aila menatap wajah suaminya, yang mulai berkeringat. Namun entah kenapa, keringat itu malah membuat level ketampanannya semakin bertambah. Singanya semakin terlihat seksi menurutnya. Meski menggendongnya selama perjalanan, napas pria itu sama sekali tidak ngos-ngosan.
"Sudah?"
"Ya?"
"Menikmati wajahku?"
Aila mengangguk, "Anda sangat tampan, tuan." puji Aila tulus.
Leon menyeringai, "Kemana matamu selama ini? kenapa baru sadar jika aku tampan, hem?"
Aila diam, kali ini ia tengah fokus menikmati leher suaminya dengan jakun aneh itu.
"Kau tau, banyak wanita yang tergila-gila padaku." Leon mulai narsis.
"Ya."
"Karena itu, kau harus bersyukur karena aku memilihmu."
__ADS_1
"Ya."
"kau harus bangga karena itu."
"Ya."
Leon terlihat mengulum senyum puas.
Dan Aila membiarkan Leon gembira dengan kenarsisannya. Ia tidak habis pikir, hanya dengan satu pujian, Leon bisa kehilangan akal. Level percaya dirinya benar-benar luar biasa.
"Sekarang cium!"
Cup! Aila mencium pipi suaminya.
"La.."
Cup!
Cup!
Cup!
Cup!
Cup!
Leon belum selesai dengan ucapannya, namun Aila sudah lebih dulu kembali memberinya kecupan bertubi-tubi di kedua pipi dan lehernya.
Membuat Leon terkekeh.
"Kau sepertinya sudah sangat lama ingin memciumku bukan?"
Aila diam tidak menanggapi. Sesekali membuat singanya senang sepertinya cukup menghibur juga, pikir Aila.
Memasuki kastil kedua, mereka ternyata sudah disambut oleh para pelayan kastil. Wajah pertama yang muncul tentu saja wajah penuh wibawa milik pak Liem. Pria tua itu terlihat semakin tua saja, terlihat dari kerut wajah dan kantung besar di balik kaca matanya.
"Turuun.." pinta Aila.
"Kenapa? bukankah kakimu sakit?"
"Aku malu," ucap Aila.
Leon terkekeh, kemudian menurunkan Aila tepat di depan pintu utama kastil kedua.
"Selamat datang kembali, nona." ucap Pak Liem sembari tersenyum simpul.
Aila membungkuk, kemudian tersenyum. Gadis itu berjalan mendekat.
"Boleh aku memeluk, anda pak Liem?" tanya Aila.
Pak liem terlihat menatap Leon sesaat dan melihat tuan mudanya menganggukkan kepala.
Pak Liem kemudian tersenyum kearah Aila, yang langsung mendapat pelukan dari gadis itu.
"Aku kangen sama pak Liem." ucap Aila tulus. Ia tahu meski dulu pak Liem jarang mengajaknya mengobrol tapi pria tua itu selalu memperhatikannya. Aila tahu jika dulu pak Liem sering mengikutinya diam-diam ketika ia pergi ketaman rahasia waktu tengah malam. Ya, semenjak Leon tidak tidur di kamar mereka, Aila memilih tidur di taman rahasia.
Seulas senyum tercipta dari sudut bibir tua pak Liem, lelaki itu kemudian mengusap kepala Aila pelan. Aila selalu mengingatkannya pada cucunya yang sudah meninggal karena peristiwa kelam masalalunya.
Setelah puas menumpahkan rasa kangennya, Aila melepas pelukan. Di sudut loby kastil, ia melihat Maria. Namun wanita itu terlihat menunduk, seperti baru saja menyeka air mata.
Tanpa banyak bertanya, Aila segera menghampiri wanita paruh baya itu dan memeluknya dengan erat. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, namun semua jelas melihat Maria tengah menangis karena terharu. Aila sendiri diam, selain melepas kerinduan.
Sejak kecil ia tidak tahu sosok seorang ibu dan dalam pelukan Maria ia merasakan hangatnya sosok itu.
"Terimakasih, karena masih disini dan menungguku." ucap Aila setelah mengurai pelukannya. Maria diam, kedua tangannya sibuk mengelap air mata yang bercucuran.
Tidak di pungkiri, setelah kepergian Aila, kastil tak ubahnya seperti neraka. Mereka hanya merasakan suasana yang mencekam, karena sewaktu-waktu bisa saja menjadi sasaran kemarahan tuan mudanya.Tidak ada lagi keceriaan di sana, yang ada hanyalah tawa kegilaan dan makian frustrasi dari sang tuan. Namun mereka semua paham, betapa dalam kesedihan di hati mereka karena di tinggal sang nona, Leon lah yang lebih merasakan sakitnya.
Merekalah saksi betapa terpuruk tuan mudanya karena kehilangan Aila, hingga setiap sudut kastil yang terlihat hanya minuman dan minuman. Tidak jarang mereka menemukan tubuh sang tuan terkapar di taman, di teras, di lantai keesokan harinya setelah semalaman tuan mudanya itu menyiksa diri.
Namun mereka tidak bisa berbuat apapun, meski sangat ingin membantu.
Aila kembali menyapukan pandangannya, ia terlihat tengah mencari seseorang. Siapa lagi jika bukan Lisa? adik tiri dari suaminya sendiri. Namun gadis itu tidak terlihat.
"Nona lisa berada di belakang, nona." ucap maria yang tahu akan isi pikiran Aila. Seketika Aila berlari kearah dapur. Benar saja, ia melihat gadis itu tengah tersedu.
"Kakak tidak menyambutku?" ucap Aila sembari mendekat, membuat tangis Lisa semakin pecah. Ia sengaja tidak menyambut karena ia yakin akan menangis dan ia juga sadar ia bukan siapa-siapa bagi Aila. ia hanya tawanan yang menjadi pembantu. Namun tidak di sangka, Aila yang malah pergi mencarinya.
Akhirnya Mereka berpelukan sambil menangis. Tanpa banyak bicara pun, mereka sudah saling mengerti isi hati satu dengan yang lainnya.
Seketika suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti kastil kedua. Kastil yang sudah lama ditutup, kini untuk pertama kalinya sejak tiga tahun kembali terbuka pintunya. Siapa yang menyangka, jika kebahagiaan itu kembali hadir menyapa.
Leon menatap kosong lantai dibawahnya, pria itu sedari tadi hanya terlihat diam dengan tangan terlipat di dada dengan punggung bersandar pada dinding. Ia tidak menyangka, kehadiran Aila begitu banyak membawa kebahagiaan di hati para pelayan setianya.
Satu fakta yang ia baru sadari, Aila memberi warna tidak hanya pada hidupnya, tapi juga pada hidup semua orang yang berada di kastilnya.
Pelan, Aila mendekat kearah lelakinya, membuat Leon membenarkan posisi tubuh. Sesaat ia menatap wajah kuyu pria itu, kemudian ia menghambur dan memeluknya erat. Sangat erat.
"Terimakasih, karena telah membawaku kembali." ucap Aila.
Leon tidak menjawab, pria itu hanya membalas pelukan Aila dan menciumi kepalanya.
"Terimakasih karena sudah kembali." ucapnya sembari mencium kening gadisnya lama.
Air mata keharuan terlihat membasahi pipi para pelayan wanita yang menyaksikan adegan drama bak film korea tersebut.
Sedang pak Liem hanya tersenyum lega melihat sikap keduanya.
Tidak lama setelah itu Davin yang mendorong Nita dengan kursi rodanya tiba beserta Alex dan semua bodyguardnya. Dengan gembira Aila memperkenalkan kakak angkatnya itu pada semua orang disana. Membuat suasana kegembiraan kastil hari itu terasa sempurna.
Bersambung...
Karena bingung dengan saran dari pembaca, author gaptek ini mengembalikan judulnya seperti semula.
__ADS_1
Terimaksih.