Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 73


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 73


**Kegilaan Aila 2**


Tidak henti-hentinya Aila menatap tajam kearah Erik dan Davin secara bergantian. Perasaannya kini campur aduk, antara marah dan kesal. Ia tidak habis pikir kedua sahabat suaminya itu berani mendekati Nita. Terutama Davin, pria yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri malah sudah berani meniduri Nita.


Tidak, Nita tidak boleh menjadi bahan mainan mereka berdua. Ia harus menyeleksi sendiri siapa yang berhak mendapatkan kakaknya. Meski gadis itu sudah melabuhkan hatinya pada Davin, namun Davin juga sepertinya harus di uji untuk menentukan apakah pria itu memang yang terbaik untuk Nita.


Tidak berapa lama, Alex datang dengan membawa apa yang Aila minta. Pria itu tertawa kecil mengejek, ketika melewati Davin dan Erik.


"Untukmu, sayang." ucap Alex sembari menyerahkan sebuah apel dan pistol yang ia bawa kepada Aila.


"Terimakasih kakak," sahut Aila sembari tersenyum manis.


Alex membalas senyuman Aila dengan lebih manis. Dua orang itu terlihat seperti sedang bermain drama deik-detik eksekusi hukuman mati.


Dengan santai, Aila mulai memakan apel yang diberikan Alex padanya. Entah pria itu sudah mencucinya atau belum, ia sudah tidak peduli. Perasaan kesalnya pada dua manusia di depannya sudah memuncak.


Leon yang sedari tadi mengamati tingkah istrinya hanya diam dan melihat. Mau bagaimana lagi? jika sedang seperti itu, Aila sulit untuk dihentikan apalagi dibujuk.


Aila memakan buah Apel itu hingga tersisa separuh, kemudian ia meraih pistol yang di berikan Alex. Gadis itu terlihat memainkan pistol tersebut, hingga ia menyadari sesuatu. Buah Apel yang tinggal separuh itu, ia letakkan di atas kursi kemudian menatap horor keaarah Alex.


"Apa, sayang?" tanya Alex tidak mengerti.


"Berikan padaku!" perintaha Aila meminta sesuatu.


"Apa?"


"Peluru!"


"Hei! dari mana kau tau jika pistol itu kosong?" kali ini Alex yang terheran-heran. Aila sadar jika pistol yang diberikannya tanpa peluru.


"Cepat kakak, atau aku yang akan mengambilmya sendiri." ancam Aila.


Dengan ragu Alex menyerahkan peluru yang dibawanya kepada Aila.


Setelah peluru berada di tangan, dengan cekatan ia mulai memasukkn peluru tersebut kedalam pistol. Layaknya penembak profesional, Aila melakukannya dengan cekatan, seperti pistol adalah sesuatu yang akrab baginya.


Tidak hanya Alex yang melongo menyaksikan tingkah Aila, Leon pun tidak kalah terkejutnya, gadis kecilnya ternyata mengerti dengan benda berbahaya tersebut.


Jujur saja, Leon mulai tidak tenang sekarang. Entah apa yang akan dilakukan istrinya itu, namun yang pasti bukan sesuatau yang baik.


"Itu bukan mainan sayang," ucap Leon sembari mendekat kearah istrinya.


"Benarkah? tapi benda ini terlihat lucu," sahut Aila sembari memainkan pistolnya.


Leonmenggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimanapun ia harus membujuk mainanya itu untuk berhenti dari kegilaanya.


" Kembalikan sayang," pinta leon membujuk Aila.


Serta-merta gadis itu langsung menyembunyikan pistol dibelakang punggungnya.


"Aku hanya ingin memainkannya sebentar bersama kak Davin dan kak Erik, tuan. Setelah itu akan ku kembalikan, janji." ucap Aila dengan manja.


Leon menarik napas sembari mengacak rambutnya. Ia bingung menghadapi setan kecilnya itu.


"Baiklah, apa yang akan kau lakukan dengan itu?!" tanya Leon menyerah. Sepertinya pria itu mulai penasaran juga dengan rencana mainanya.


"Begini tuan, aku ingin menembak apel ini diatas kepala mereka." ucap Aila sembari menunjukkan Apel yang hanya tinggal separuh karena ia baru saja memakannya.


Aila mengucapkannya dengan begitu riang, tanpa beban. Sedang Leon dan yang Lainnya nampak kaget, mendengar ucapan Aila. Alex bahkan sampai melongo di buatnya


.


"Yang berani menjadi tumpuan apel ini, dia boleh menikah dengan kakakku." lanjut Aila dengan nada serius.


Mendengar ucapan Aila, Nita yang sedari tadi diam sebagai pendengar, terlihat kaget.


"Hei! kau bisa membunuh mereka, sayang!" Sahut Leon cepat.


Aila mengerdikkan bahu, tidak peduli.


"Terserah! mau atau tidak akan ada pernikahan." jawab aila santai.


"Ayolah, itu tidak lucu Leon! sejak kapan dia bisa menembak?" protes Erik pada sahabatnya.


Ia tahu jika Aila belajar menembak tiga tahun yang lalu bersama serkan dan itupun hanya sebentar, setelah itu, tidak mungkin gadis itu latihan menembak bukan? yang benar saja, ia tidak ingin mati konyol hanya karena seorang wanita.


"Siapa yang maksa kakak? aku bilang yang mau jadi tumpuan dia yang berhak mendapatkan kakakku. Jika kakak tidak mau ya sudah," sahut Aila santai.

__ADS_1


"Istrimu gila ku rasa!" cibir Erik kearah Leon yang langsung mendapat pelototan dari mata Aila.


Leon diam. Pria itu seperti sedang berpikir untuk mencari solusi.


Suasana menjadi hening, tidak ada yang mengeluarkan suara, hingga Davin maju kedepan Aila dan membungkuk hormat padanya.


"Saya siap menjadi tumpuan, nona. Silahkan lakukan," ucap Davin sopan.


Aila langsung melompat kegirangan mendengar jawaban dari Davin, Sedang Leon dan yang Lain tampak terlonjak kaget.


"Benarkah? kakak mau melakukannya?" tanya Aila antusias.


"Hei! apa kau gila?" Leon tidak habis pikir dengan jalan pikiran Davin. Bawahannya itu cerdas, sangat cerdas malah. Lalu kenapa sekarang malah ingin mati konyol?


"Kau ingin bunuh Diri, hah?" tanya Leon pada Davin.


"Saya percaya nona bisa melakukannya,tuan." jawab Davin mantap.


Mendengar ucapan Davin, Aila tersenyum bangga kearah Leon, sedang suaminya itu terlihat menggeleng ironi. Ia rasa tidak hanya istrinya yang gila, Davin pun sepertinya sama saja.


"Ayolah sayang, hentikan ini. Kau bisa membunuh penembak terbaikku." ucap Leon membujuk Aila, namun Gadis itu buru-buru menggeleng dengan cepat sembari menekuk muka, merengut manja. Ah, Leon tidak tahan dengan itu.


"Biarkan nona melakukannya, tuan." pinta Davin. Meskipun ia tidak yakin akan hidup setelah ini, tapi entah kenapa Davin ingin melakukannya. Ia tahu jika nonanya sedang ingin menguji keseriusannya untuk bersama dengan Nita dan ia tidak bisa menyalahkan hal itu, mengingat Nita sangat berharga bagi Aila. Lagi pula, ini adalah satu-satnya jalan untuknya.


Leon maju lebih mendekat kearah istri keras kepalanya itu, kemudian menarik napas panjang.


"Jika tembakanmu meleset bagaimana?" tanya Leon serius.


"Berarti kak Davin belum beruntung." jawab Aila tak kalah serius.


Mendengar jawaban ngawur Aila, Leon melongo tidak percaya. Istrinya mulai berani bermain-main dengan nyawa manusia. Tidak hanya Leon, semua orang yang berada disitu pun menatap tidak percaya kearah Aila, termasuk Nita. Satu-satunya orang yang tertawa hanya Alex. Entah dibagian mana yang menurutnya lucu.


"Berikan apelnya nona," pinta Davin.


Dengan senang hati Aila memberikan Apel yang hanya tinggal separuh itu kepada Davin.


Davin menerimanya kemudian meletakkan apel tersebut diatas kepalanya.


Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya, Leon hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah.


Dengan cepat Aila naik keatas kursi taman kemudian mengambil posisi siap untuk menembak. Gadis itu melakukannya dengan sangat santai, seperti sedang bermain tembak-tembakan saja.


Satu detik, dua detik suasana senyap. Semua orang terlihat tegang, keringat dingin mulai mengucur di pelipis. Mungkin saja sebentar lagi mereka akan menyaksikan Davin mati dengan sia-sia. Mati karena kurang beruntung saja, setidaknya begitulah menurut Aila.


"Bagaimana jika aku yang melakukannya? kau bisa menutup mataku." ucap Leon membujuk Aila.


Namun, lagi-lagi Aila menggeleng dengan cepat.


"Iya atau tidak akan ada pernikahan!" Sahut Aila tajam. Ia bukan anak kecil yang bisa di bodohi. Menurut dokumen rahasia milik suaminya yang tidak sengaja ia baca, pria itu bisa menembak dengan baik, meski dengan mata tertutup.


Leon menghela napas dalam, sebelum akhirnya pria itu mundur dan menyerah.


Setelah Leon mundur, aila mengmbil posisi kembali, dan...


Dor!


Satu tembakan terdengar, bahkan ketika Leon belum sampai pada tempatnya dan orang-orang belum fokus dengan pandangannya.


Aila melakukannya dengan sangat cepat.


Sontak Leon berbalik dengan wajah tegang dan mungkin juga sedikit pucat. Ia melihat buah apel diatas kepala Davin sudah jatuh diatas rumput taman, sedang Davin masih berdiri mematung.


Leon segera melangkah menuju Davin dan menyentuh pundak pria itu.


'Kau tidak papa?!" tanyanya sembari memeriksa setiap inci bagian tubuh Davin. Kepalanya memang tidak bolong, tapi mungkin saja pelurunya meleset bukan?


Untuk pertama kalinya ia merasa khawatir dengan bawahannya itu.


Davin menggeleng sembari tersenyum, meski jangan ditanya jantungnya sudah berdegup sekeras apa.


"Tembakan nona tepat, tuan." ucap Davin sembari membungkuk mengambil apel yang berada tidak jauh darinya.


Buru-buru Leon mengambil apel itu dan menelitinya. Davin benar, tembakan istrinya tepat, tapi bagaimana bisa?


Ia kemudian menoleh kearah istrinya. Wajahnya nampak datar, seperti tidak tidak pernah terjadi apapun. Gadis itu bahkan terlihat mengangkat bahu cuek kerahnya. Semua orang hampir mati jantungan karena kelakuannya, tapi dia? Astaga!


"Kakak diterima menjadi kakak iparku," ucap Aila kepada Davin.


Davin terlihat membungkuk hormat, sedang yang lain masih terlihat melongo tidak percaya. Bahkan ketika gadis itu turun dan menggandeng tangan Nita melangkah menuju kastil, mereka masih melongo.


Hingga celotehan Aila tentang rencana pernikahan Nita dan Davin terdengar menjauh, sekumpulan pria berwajah bodoh itu belum juga tersadar dari terkejutnya.

__ADS_1


"Simpan semua senjata di kastil ini, jangan sampai nona kalian melihatnya lagi!" perintah Leon tanpa sadar.


"Aku rasa dia bisa membunuhmu suatu saat nanti," ucap Alex kepada Leon.


Leon tidak menanggapi ucapan alex, pria itu masih tidak habis pikir bagaimana istrinya bisa begitu mahir menembak?


"Bagaimana kau tau jika dia bisa melakukannya?" tanya Leon pada davin.


Davin mengatakan jika ia mengamati saat Aila berlatih menembak, dan ia juga mengamati jejak tembakan gadis itu pada beberapa CCTV ketika kabur dulu. Sebagai seorang penembak jitu, ia tahu jika Aila punya bakat menembak, jika dilihat dari jejak bidikan yang ditinggalkan gadis itu.


Mendengar penuturan Davin, Leon merasa takjub. Sejak bertemu dengan Aila, gadis itu memang sudah banyak memberinya kejutan, namun kejutannya kali ini diluar dugaan. Entah kejutan apa lagi yang akan Aila tunjukkan nanti.


******


Dikamar Nita, Aila terus berceloteh tentang rencana pernikahan kakak angkatnya, namun Nita tidak Begitu fokus dengan celotehan Aila. Gadis itu masih terlihat syok dengan kejadian yang baru saja dilihatnya. Ia tidak menyangka, jika Aila bisa menembak. Tapi kapan gadis itu berlatih? selama tiga tahun tinggal bersama, ia tidak pernah melihat gadis itu melakukan hal-hal yang aneh, selain kaluar di pagi buta untuk pergi ke pantai tentu saja. Apa iya, Adimas yang mengajarinya? itu lebih tidak mungkin lagi kan? setahunya, pistol milik anggota tidak boleh disalah gunakan.


Setelah bicara panjang lebar dengan Nita, Aila pamit untuk mandi, mengingat hari memang sudah sore.


Sampai di dalam kamarnya, ia tidak menemui singanya di sana. Gadis itu buru-buru mandi sebelum singanya tiba, atau akan panjang urusannya.


Selesai mandi dan berganti pakaian ia berniat untuk menemui Oma, sejak pulang siang tadi, ia belum sempat menemui wanita tua itu, karena Leon terus menahannya.


Saat keluar dari kamar ia seperti mendengar bunyi deburan Air dari dalam taman yang memang terletak persis di depan kamarnya. Taman itu sengaja dibangun didalam ruangan agar Aila tidak keluyuran.


Karena penasaran, Aila melangkah masuk kedalam taman.


Matanya seketika membulat sempurna, takjub, melihat pemandangan di depannya. Taman yang biasanya berisi aneka bunga dan patung itu kini berubah menjadi kolam renang yang sangat jernih airnya. Lalu kemana taman itu pergi? bukankah ketika lewat tadi taman itu masih ada?


Di dorong oleh perasaan takjub sekaligus penasaran, Aila mendekat kearah kolam dengan hati-hati. Saat ia sudah berada di bibir kolam dan tengah fokus mengamati sekitar, Aila dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba muncul dari dasar kolam.


Pria itu tidak lain adalah Leon, suaminya sendiri.


Untuk sesaat Aila terpana melihat tubuh suaminya yang luruh bersama air. Entah sudah berapa puluh kali ia melihat tubuh itu, namun tetap membuatnya terpesona. Baginya Leon lelaki tertampan yang pernah ia lihat, bahkan lebih tampan dari opa-opa pada film korea.


"Tutup mulutmu, sayang. Air liurmu hampir menetes." ucap Leon tiba-tiba. Pria itu terlihat merapatkan tubuh pada sisi kolam.


Aila segera mengatupkan bibir, malu dan salah tingkah mendengar ucapan suaminya.


"Kau mencariku?" tanya Leon sembari menyugar rambutnya yang basah. Saat seperti itu, entah kenapa dimata Aila ketampanan suaminya bertambah.


"Darimana asal kolam ini, tuan?" tanya Aila yang malah tidak menjawab pertanyaan Leon.


"Otomatis," jawab Leon singkat.


Mulut Aila kembali ternganga karena takjub.


"Kau mencariku?" Leon mengulangi pertanyaannya.


"Tidak, tuan. Tadi..."


"Oh," ada raut kecewa dari wajah Leon. "Lalu, kau mau kemana?" tanya Leon penasaran.


"Ke taman," jawab Aila asal. Ia tidak mau jika Leon tahu dirinya ingin pergi ke kamar Oma, karena pria itu pasti akan langsung kesal.


"Di taman banyak nyamuk, sayang. Bermain disini saja, lagi pula airnya hangat." ucap leon sembari menepuk air di depannya.


"Benarkah?" tanya Aila antusias.


Leon mengangguk, "Sentuh saja jika tidak percaya,"


Aila melangkah maju dengan hati-hati. Gadis itu takut terpeleset dan jatuh kedalam kolam, pasalnya ia tidak bisa berenanang.


Ia lalu berjongkok dan menyentuh air di depannya.


"Waw! anda benar, tuan. Ini hangat," ucap Aila dengan nada takjub. Ia heran bagaimana caranya membuat air sebegitu banyak menjadi hangat?


Leon tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang norak. Jujur tingkahnya yang seperti itu yang membuatnya terpeson. Aila selalu jujur mengungkapkan kekagumannya tanpa malu ataupun gengsi.


"Kemarilah, kau bisa duduk dan bermain di sini." tunjuk Leon pada sisi kolam.


"Bolehkah?"


Leon mengangguk.


Dengan mata yang berbinar Aila mendudukkan dirinya di tepi kolam. Gadis itu tertawa kecil saat kakinya menyentuh air kolam yang hangat. Sungguh, seumur hidupnya, ia belum pernah bermain air hangat di kolam yang begitu besar seperti saat ini. Rasanya sungguh menyenangkan hingga tanpa disadarinya, dress putih yang ia kenakan telah basah sebagian.


Melihat kelakuan istri mungilnya itu, Leon hanya menggelengkan kepala heran. Membuat Aila bahagia ternyata sangat sederhana.


Bersambung...


Maaf gaess, up lambat terus. mood aku lagi naik turun gunung.

__ADS_1


hahaha,


__ADS_2