
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 36
Aila terlihat mengeliat perlahan, tangan kanannya terlihat sedang meraba sesuatu, sedang matanya masih tertutup. Apa lagi, jika bukan mencari dada Leon? Tidak mendapatkan apa yang di inginkan, gadis itu bangun sembari mengucek matanya, menatap kearah jam yang tergantung di dinding kamar.
Seketika matanya terbelalak, melihat jarum jam tepat diangka 7.
Ia bangun kesiangan.
Gadis itu kemudian menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya bersiap untuk melompat turun dari ranjang.
Namun, seketika ia terdiam ketika sepasang mata menatapnya dengan tajam. Seperti seekor singa yang tengah menanti buruannya, Leon duduk di sofa dengan melipat tanganya di dada.
Tuhan! apa lagi kesalahnya kali ini?
"Sudah bangun?!" tanya Leon tajam.
"Ya" jawab Aila lirih, sembari menunduk.
"Tau apa kesalahanmu?!" tanya Leon.
Aila diam, mencoba mengumpulkan kembali ingatannya semalam.
Ketemu! Ia mengganggu sang singa ketuka tidur, bahkan berani menciumnya.
Dengan ragu, gadis itu kemudian mengangguk.
"Kemari!"
Aila menurut, dengan rambut yang terlihat kusut karena bangun tidur, ia menyeret kakinya mendekat kearah Leon.
"Duduk disini!" perintah Leon menepuk pahanya.
Aila tergagap.
Biasanya juga langsung ditarik, kenapa sekarang memintanya?
"Cepat!"
Aila menurut. Dengan gugup, gadis itu menyentuh dada Leon dan mrndudukkan dirinya di atas paha sang singa.
"Kenapa? gugup hah?!"
Aila diam, menunduk. Kenyataanya, jantungnya memang sedang berdegup kencang sekarang, bukan apa-apa, melainkan sedang menanti hukuman.
" Kau menyentuh dadaku dan menciumku dengan berani semalam. Kenapa gugup sekarang?" tanya Leon dengan seringai kecilnya.
Aila semakin menunduk, namun masih enggan mengangkat telapak tangannya pada dada Leon. Mendengarkan irama detak jantung lelakinya sungguh menyenangkan.
"Kau pasti mengagumi tubuhku, hingga selalu ingin menyentuhnya." lanjut Leon, membanggakan diri.
Aila diam, ia lebih fokus pada irama jantung yang sedang ia rasakan, ketimbang mendengarkan ucapan kenarsisan Leon.
Merasa di abaikan, Leon melepas tangan Aila dari dadanya, membuat gadis itu mendongakkan kepala kearahnya.
"Kau sedang menggodaku?!"
"Tidak" jawab Aila singkat.
"Jika tidak kenapa selalu meraba dadaku?"
"Meraba?"
"Ya, kau melakukannya seperti ini!" Leon meraba dadanya sendiri memberi contoh.
"Mereka terdengar indah." ucap Aila.
Leon mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Irama jantung kakak sangat indah, membuatku bisa tidur." ucap Aila polos, sembari menempelkan tangannya kembali.
Leon terkekeh. Sungguh! semua tingkah laku gadis kecilnya itu membuatnya gila.
"Kakak akan pergi?" tanya Aila yang menyadari Leon sudah terlihat rapi, sangat rapi bahkan. Pria itu memakai jas berwarna silver, warna yang mencolok. Dengan rambut disir kearah belakang, singa besarnya sungguh terlihat tampan.
"Ya"
"Apakah lama?" kebiasaan Aila, yang mulai dimengerti oleh Leon. gadis kecilnya tidak mau ditinggal sendirian.
"Tiga minggu, mungkin satu bulan?"
Aila diam, gadis itu tiba- tiba menarik tangannya dan menunduk.
Seulas senyum muncul dari sudut bibir Leon.
"Kenapa?"
Aila menggeleng pelan.
"Mau ikut?"
"Apa boleh?" Aila mengangkat wajah.
"Tidak, sayang."
Aila kembali diam menunduk.
"Tidak ingin ditinggal?" tanya Leon mengangkat dagu Aila.
Gadis itu masih diam. Sedetik saja tanpa melihat singanya, Aila sudah gelisah tidak bisa tidur, bagaimana jika sebulan?
"Hem?" tangan Leon mulai memainkan kancing piyama Aila.
Aila masih diam, namun jelas terlihat ia mulai gelisah.
Leon melepas tiga kancing pertama piyama Aila, ia kemudian menundudukkan wajahnya dan mulai mencumbu leher dan bagian atas dada gadis itu.
Aila mulai bergerak resah, mendorong bahu Leon pelan.
"Aku belum mandi," ucap Aila gugup berusaha menjauhkan diri.
Leon tidak peduli, ia terus mencumbu bagian atas dadanya.
"Tidak masalah sayang, aku suka aroma tubuhmu!"
Aila menggigit bibir bawahnya, tidak sadar tangannya mulai naik dan menjambak rambut Leon yang sudah tertata.
Puas mendengar desahan dari mulutnya, Leon membuka piyama Aila.
Dengan lembut, Leon membelai dada Aila yang masih memakai bra.
"Katakan, kenapa diam?"
Aila masih menggeleng, keras kepala.
Ctak!
Leon membuka kait bra pada punggung Aila dan melepasnya perlahan. Memang bukan pertama kalinya ia melihat surga miliknya itu, namun tetap saja membuat hasratnya berkobar naik.
Diamatinya tubuh polos didepannya , intens. Aila terlihat resah, wajahnya memerah menahan hasrat yang yang kian naik.
Ia kemudian menurunkan wajah dan mulai me**mat puncak dada gadisnya yang menegang.
"Ah!"
Satu desahan lolos dari bibir Aila.
"Ayo katakan, kenapa diam?" tanya Leon tanpa menghentikan aktifitasnya.
__ADS_1
"Ja__jangan pergi terlalu lama." ucap Aila parau.
Leon berhenti, kemudian mengangkat wajah. Terlihat seringai kecil dari bibirnya.
"Aku tidak akan pergi, sayang!" ucap Leon.
Aila mengerutkan kening tidak mengerti, bukankah ia tadi bilang ia bilang akan pergi?
Leon terkekeh, "aku hanya menggodamu, sayang!" ucap Leon dengan tawa tertahan.
Aila mendelik kesal, tapi di sudut hatinya ada perasaan lega.
"Pakai bajumu! kita harus segera turun!" ucap Leon sembari membantu Aila memakai branya, kemudian bajunya.
Setelah berpakaian Aila terus menunduk, malu.
Cup!
Leon mencium singkat bibir Aila.
"Kau menggemaskan!" kedip Leon.
Aila tersenyum, malu-malu.
Leon kemudian mengendongnya, kearah pintu.
"Aku belum mandi." ucap Aila.
"Tidak perlu, sayang!"
Mereka keluar dari kamar yang ternyata sudah ditunggu oleh pak Liem dan beberapa pelayan Lain.
Leon kemudian menurunkan Aila disana, wajahnya masih memerah karena ulah Leon tadi.
Para pelayan juga menyadari hal itu, namun mereka memilih diam.
"Maaf tuan, nona..."
"Tidak perlu, pak Liem. Biarkan dia memakai piyamanya, itu baik untuknya!" ucap Leon menatap Aila.
Sedang Aila hanya diam, tidak paham makaud Leon.
Pria itu kemudian meraih kepala Aila dan membawanya melangkah. Karena kakinya yang pendek, gadis itu harus sedikit berlari agar bisa sejajar dengan Leon atau kepalanya akan tertarik. Gemerincing kaki dari gelang kakinya memecah keheningan kastil pagi itu, yang diikuti kekehan dari Leon.
Pak Liem dan para pelayan hanya bisa menatap heran setelah kepergian tuan dan nona mereka. Bagaimana tidak? hari ini adalah hari terpenting, dimana mereka akan mengucap janji suci sebuah pernikahan. Namun, Leon tidak mengizinkan caloni strinya untuk memakai gaun pengantin, bahkan calon istrinya itu hanya memakai piyama pink dengan celana pendek selutut dan lagi sepertinya ia tidak tau jika dirinya akan menikah hari ini.
"Kita melewati ruang makan," ucap Aila, ketika mereka melewati ruang makan.
"Kita tidak makan, sayang!"
"Lalu, kita akan kemana?"
Leon menyeringai, " kau akan tau, sebentar lagi."
Aila diam, mengikuti langkah Leon. Pria itu mengajaknya keluar menuju taman yang berada didepan kastil.
Aila heran, di dekat air mancur terlihat sudah di hias begitu indah penuh dengan karangan bunga berwarna peach, dengan tirai-tirai putih pada tiang tiang di sepanjang karpet merah yang terbentang menuju sebuah tempat dimana bapa/pastur sedang berdiri. Disana juga sudah berkumpul para pelayan, Jimy, Davin dan juga Niko.
"Ini, apa?" tanya Aila heran.
"Kau akan mengerti nanti!" ucap Leon santai.
Semakin penasaran, Aila berusaha berbalik untuk bertanya dengan Niko, namun Leon sudah lebih dulu menahannya.
"Diam dan menurutlah!"
Aila kembali diam, menurut mengikuti langkah Leon duatas karpet merah.
Aila menatap kearah para pelayan di sekelilingnya mencoba mencari jawaban, entah kenapa perasaannya mulai tidak enak.
Namun wajah para pelayan terlihat heran ketika menatap kearahnya walaupun tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka.
Leon berhenti tepat di depan bapa.
"Kita mulai Bapa!"
Sejenak mata bapa melihat heran kearah Aila yang hanya memakai piyama.
"Ehem, pakaian bukan menjadi syarat untuk menikah, bukan begitu bapa?" tanya Leon yang mengerti keheranan bapa.
"Ya, kita mulai sekarang." ucap bapa.
Sedang Aila menatap tajam kearah Leon, mulutnya seperti ingin mengucapkan sesuatu namun Leon lebih dulu bersuara.
"Diam dan dengarkan!" perintah Leon mengeratkan pegangan pada lengan Aila.
Aila diam, menurut.
"Anda, Leon Stuward Thomson, bersediakah menerima Aila Melani sebagai seorang istri dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan sehat maupun sakit?" ucap bapa .
"Ya" jawab Leon mantap.
"Dan anda, Aila Melani, bersediakah menerima Leon stuward Thomson sebagai seorang suami dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan sehat maupun sakit?"
Untuk sesaat Aila diam, menatap kearah Leon yang tersenyum lembut kearahnya, baru pertama ia melihat senyum yang begitu lembut dari seorang Leon.
"Ya" ucap Aila sembari menatap Leon.
Silahkan pasangkan cincin untuk mempelai wanita.
Leon mengambil, sebuah cincin dari saku jasnya dan memasangkannya pada jari manis Aila.
"Sekarang, kalian sudah menjadi suami istri yang sah, selamat! semoga Tuhan memberkati rumah tangga kalian." ucap bapa.
"Tunggu! tunggu...ini bukan latihan? ini sungguhan?!" ucap Aila.
"Ini sungguhan, sayang!" ucap Leon tersenyum.
Aila menatap kearah bapa, mencari jawaban darinya.
"Ini sungguhan, kalian sudah menjadi suami istri yang sah sekarang." ucap bapa sembari tersenyum.
"Apa kau terpaksa untuk menikah?" tanya bapa?
"Bu___bukan begitu bapa..."
"Selama tidak ada paksaan, kalian sudah sah." lanjut bapa.
Aila tiba-tiba terduduk di lantai dengan lemas. Leon segera berjongkok di hadapan gadisnya.
"Hei...."
"Kakak jahat! ini pernikahanku, tapi aku bahkan hanya memakai piyama, huuuuu huuu" Aila menangis sembari memukul dada Leon, Leon membiarkan Aila memukulinya sembari tertawa kecil yang diikuti senyuman dari yang Lain.
"Huuu huuuuu, aku juga belum mandi, huuuu huuuu." Aila kembali menangis yang diiringi tawa kecil dari para pelayan dan yang lain.
Leon meraih kepala Aila dan memeluknya"Aku janji! jika sudah memungkinkan, kita akan mengadakan pesta yang meriah untuk pernikahan kita." janji Leon sembari mengusap kepala Aila.
Aila tidak menjawab dan masih terisak dan menangis dipelukan Leon.
Leon membiarkannya.
"Aku punya kejutan untukmu!" ucap Leon mengurai pelukannya.
Aila mengangkat wajah dan menghapus air matanya.
"Davin!" ucap Leon.
"Baik, tuan"
__ADS_1
Davin terlihat tengah membawa seorang wanita paruh baya ke depan Aila.
Aila kaget, gadis itu berdiri kemudian berlari dan menghampur kedalam pelukan wanita tersebut.
"Ibuuuu, ibu panti. Huuuuu huuu." ucap Aila sembari memeluk wanita yang sudah membesarkanya hingga ia seperti sekarang.
"Tidak papa, ibu sudah banyak bicara dengan pastur dan tuan muda tadi." ucap Ibu panti sembari mengusap kepala Aila.
"Aku belum sempat mengunjungi ibu... maafkan aku." ucap Aila masih dengak isaknya.
"Tidak apa, ibu mengerti."
Aila mengurai pelukannya, terlihat ibu panti menghapus air mata di pipinya.
"Nona, ini bunga pernikahan anda," seorang pelayan wanita memberikan sebuah buket bunga kepada Aila.
"Ini tidak cocok, aku bahkan hanya memakai piyama." ucap Aila mencebik, yang diiringi tawa kecil dari semua orang.
"Lempar nona!" ucap pelayan wanita yang Lain.
Aila tersenyum, mengambil posisi berbalik kemudian melempar buket bunga tersebut kebelakang.
Buket bunga tepat berada diatas kepala Niko, refleks pria itu menangkapnya.
"Buset! ogah gue nikah muda!" ucap Niko kembali melempar asal buket tersebut kearah kerumunan pelayan wanita, yang disambut pekikan dari mereka.
Walaupun pesta itu tidak sempurna, namun dua hati yang telah menyatu melalui janji suci jelas lebih indah dari keindahan itu sendiri.
******
Aila terlihat sedang berbincang dengan ibu pantinya di sebuah kursi disamping air mancur, sedang Niko terlihat sibuk sedang menggoda Leon dan para pelayan sudah kembali pada pekerjaannya masing-masing. Karena sebentar lagi pesta di kastil utama akan segera di mulai.
Sesekali Leon mencuri pandang kearah Aila yang sedang berbincang dengan ibu pantinya. Ia sendiri belum begitu percaya jika gadis mungilnya itu mulai detik ini sudah resmi menjadi istrinya.
"Tuan Leon dari tadi terus melihatmu, sayang. Pergilah, mungkin ada yang ingin disampaikan?" ucap ibu panti.
"Biar saja, aku masih kangen sama ibu." jawab Aila.
"Jangan begitu, bagaimanapun ia sudah menjadi suamimu, jadi kau harus patuh padanya." ucap ibu panti memberi nasehat.
"Dia orang baik, Aila. Kau beruntung bisa menjadi istrinya." lanjut ibu panti.
Aila menghela napas, seandainya ibu panti tau bagaimana Leon memperlakukannya niscaya ia tidak akan berkata seperti itu.
"Apa ibu akan menginap?" tanya Aila.
"Tidak sayang. Bukan ibu tidak mau, ibu juga ingin merasakan tinggal di istana seperti ini, tapi bagaimana dengan adik-adikmu?" ucap ibu panti.
"Sekali-kali ibu harus menyenangkan diri sendiri. Jangan selalu mengurus kami."
Ibu panti tersenyum, Aila masih sama. Gadis itu masih penuh perhatian kepada orang- orang disekitarnya.
"Sejak kau pergi, banyak anak baru yang datang. Mereka banyak yang masih bayi, jadi kami harus bekerja keras." ucap ibu panti.
"Maaf, Aila masih belum bisa membantu." ucap Aila sedih.
"Kau sudah membantu begitu banyak sayang, sudah dua nulan ini tuan muda menjadi donatur untuk panti kita, beliau bahkan memberi beasiswa kepada anak panti yang pintar untuk tetap sekolah." ucap Ibu panti.
"Dua bulan?" tanya Aila.
Jika diingat- ingat, selama bertemu hingga sekarang memang hampir dua bulan dirinya dan Leon bertemu. Jadi, sejak bertemu dengannya Leon langsung menjadi donatur di pantinya?
"Ya, pelayan yang mengantar selalu bilang, jika kau sehat dan hidup dengan baik. Karena itu, aku tidak perlu khawatir lagi sekarang."
Aila diam, ia tidak tau jika selama ini Leon sudah banyak membantu pantinya.
"Ayo, aku harus berpamitan pada tuan muda." ucap Ibu panti.
Mereka berdua berjalan kearah Leon.
"Maaf, tuan. Saya harus pulang sekarang." ucap Ibu panti.
"Baiklah, terimakasih sudah datang." jawab Leon.
"Tidak, tuan. Saya yang seharusnya berterimakasih, anda sudah menjaga Aila dengan baik." ucap ibu panti.
Dengan baik apanya? Leon memperlakukannya seperti hewan peliharaan ketimbang kekasih.
"Sudah menjadi tugasku, ibu."
"Suruh orang untuk mengantarkannya, Davin!" perintah Leon.
"Baik, tuan."
"Mari yonya, ikuti saya." ucap Davin kearah ibu panti.
Ibu panti mengangguk, sebelum berbalik ia memeluk Aila erat.
"Jaga dirimu sayang, dan tetap bahagia." ucap ibu panti di sela-sela pelukannya.
Aila mengangguk," Ibu juga,"
Kemudian ibu panti mengikuti langkah Davin, menuju kastil utama.
Leon menatap Aila yang masih belum melepaskan pandangannya pada kepergian ibu panti.
"Ehem!"
Aila menoleh kearah Leon.
"Aku tidak melihat Oma?"
"Dia akan datang sebentar lagi, aku sudah mengirim video pernikahan kita padanya."
"Dia akan marah karena itu."
"Dia psti senang, sayang. Dia menyukaimu."
Aila tersenyum.
"Sekarang, masuk kekastilmu dan jangan keluar!" perintah Leon.
"Kakak akan pergi?"
"Aku harus menemui para tamuku sayang,"
"Oh"
"Kenapa? sudah tidak sabar untuk malam pertama, hah?" ucap Leon sembari menarik pinggang Aila hingga gadis itu berjinjit.
"Tidak" jawab Aila, sembari memalingkan muka.
"Siapkan dirimu! karena aku akan segera memintanya." goda Leon.
Aila tergagap.
"Apa harus malam ini?"
"Ya, kenapa? kau tidak mau?"
"Em....apa sakit?"
"Ya awalnya, tapi akan nikmat pada akhirnya, sayang!"
Aila menggigit bibir bawahnya, sebelumnya ia penah membaca di internet dan semua mengatakan sakit pada awalnya.
"Sekarang masuklah! atau kita mulai sekarang!"
Tanpa disuruh dua kali, Aila melepaskan diri dan segera berlari kearah kastilnya. Membayangkan Leon akan meminta haknya, membuat Aila bergidik ngeri. Ia pasti akan menjadi bubur dalam semalam.
__ADS_1
Bersambung....