Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 71


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 71


**Pertandingan**


Seperti tersiram air di musim kemarau yang panjang, pohon yang sudah lama meranggas itu, kini mulai bersemi. Setiap ujung panggkal batangnya mulai terlihat hijau kembali. Menumbuhkan daun-daun muda yang indah. Penuh mimpi dan harapan untuk menyambut hari esok yang akan datang.


Seperti itulah perasaan Nita saat ini. Dadanya penuh dengan semerbak wangi bunga-bunga kebahagiaan.


Masih terekam jelas dalam ingatannya, bagaimana ia menghabiskan malam yang penuh pergulatan rintihan dan erangan bersama tangan kanan sang boss.


Tanpa sungkan ia menyerahkan diri dan juga hatinya kepada lelaki tersebut, seorang penyelamat sekaligus penyembuh dari luka masa lalunya.


Percakapannya malam itu cukup menjadi bukti, jika Davin juga merasakan hal yang sama dan menginginkannya.


"Jangan menyukaiku, aku seorang pembunuh," pintnya disela cumbuan panasnya.


Serta merta Nita menutup mulut lelakinya dengan telunjuk.


Ia menggeleng, "Bagiku, anda penyelamat." ucapnya di sela kecupan lembut pada dada lelakinya.


"Aku ingin hangat tubuhmu, ingin sentuhanmu dan juga hatimu." ucap Davin kala gairah sudah berada pada puncaknya.


"Aku milikmu, kini dan selamanya." tandas Nita mengakhiri, karena setelah itu tidak ada lagi kata terucap, selain rintihan dan erangan yang memenuhi ruangan. Dengan tubuh saling merengkuh, basah karena keringat, mereka menyatu dalam deru gairah yang tidak berkesudahan hingga pagi datang datang.


Meski nyeri dibawah tubuhnya masih terasa, namun setiap detik pergulatan malam itu membuatnya candu. Ingin terus melakukannya lagi dan lagi.


"Hai, cantik!"


Suara sapaan seorang pria membuyarkan lamunannya.


"Tu_tuan Erik?" ucap Nita terkejut. Lelaki berparas blasteran yang tidak lain sahabat sang boss, tiba-tiba datang menyapanya.


"Sedang apa? disini dingin, kenapa tidak masuk?" tanya Erik sembari mendudukkan tubuhnya tepat disamping Nita.


Gadis itu segera menggeser tubuh, karena Erik duduk terlalu dekat dengannya.


"Tidak ada tuan, hanya mencari udara segar." jawab Nita asal. tidak mungkin ia mengatakan tengah menanti kedatangan lelakinya pulang dari kantor. Meski tanpa saling menyapa, melihat lelakinya sudah cukup baginya. Mau bagaimana? posisi Davin sebagai tangan kanan sang boss membuat hubungan mereka menjadi rumit.


"Mau jalan-jalan? aku bisa mengajakmu berkeliling jika mau," tawar Erik.


"Ti_tidak tuan, terimakasih." tolak Nita halus. Dalam hati gadis itu bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba pria tampan bak artis hollywood itu begitu baik padany?


"Kenapa takut denganku hah? aku tidak akan macam macam denganmu, sayang." ucap Erik sembari tertawa kecil memperlihatkan giginya yang berjajar dengan rapi.


"Bu_kan itu maksudku, tuan." jawab Nita gugup. Gimana gak gugup jika sekarang pria setengah bule itu malah semakin mencondongkan tubuh lebih dekat.


"Jangan khawatir, sayang. Tidak akan ada yang memarahimu,"


"saya..."


Tepat saat itu ia melihat Davin dan Leon lewat tidak jauh dari tempatnya duduk. Sepertinya mereka baru saja pulang dari kantor. Nita melihat Davin tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, dingin dan...


Lelakinya itu bahkan sempat berhenti sejenak ketika menatapnya.


Merasa tidak enak, Nita segera berdiri dan pamit.


"Maaf tuan, saya harus kembali untuk membantu non Lisa memasak," ucap Nita, kemudian melangkah pergi dari tempat itu.


Namun tanpa disangka, Erik menghentikan langkahnya dengan mencekal tangan gadis itu.


"Tunggu!" ucap Erik tanpa berbalik.


Seketika langkah Nita terhenti. Saking kuatnya tarikan Erik, gadis itu bahkan hampir membentur tubuhnya.


Nita tergagap kaget, sekaligus gugup, karena jarak mereka yang begitu dekat. Gadis itu berusaha melepaskan diri, setelah menyadari posisinya, namun Erik seperti sengaja menahannya.


Dengan jarak sedekat itu, ia bisa leluasa menikmati wajah kalem Nita Wajah yang sejak pertamakali sudah mampu menyihir hatinya.


"Lepaskan, tuan," pinta Nita sembari berusaha melepaskan diri.


"Tidak, sayang. Aku sudah lama ingin mengobrol denganmu, tapi kenapa kau seperti menghindar? kau takut denganku?" Erik semakin memperkuat cekalan pada tangan Nita. Melihat wajah Nita yang gugup dan Takut, entah kenapa membuat Erik semakin tertarik. selama ini tidak ada wanita yang mampu menghindari pesona ketampanannya, namun gadis di depannya itu malah seperti tidak tertarik dengannya.


"Bu_bukan begitu..."


Belum sempat Nita menyeelesaikan ucapan, tubuhnya sudah lebih duludi tarik oleh seseorang dari belakang.


Kaget, Nita menoleh. Ternyata Davin yang sudah menariknya.


"Lepaskan dia!" perintah Davin tajam.

__ADS_1


"Elo lagi, elo lagi! apaan sih? jangan ikut campur napa?" ucap Erik kesal, menurutny Davin menganggu rencananya untuk mendekati Nita.


Davin tidak memperdulikan ucapan Erik, pria dingin itu malah menatap kearah Nita.


"Pergilah!" perintah Davin pada Nita.


Nita mengangguk dan segera pergi, namun lagi-lagi Erik mencekal tangannya, membuat gadis itu memekik pelan karena tarikan Erik membuat bahu kananya terasa nyeri.


Melihat Nita kesakitan, Davin menggeram.


"Lepas!' perintah Davin tajam.


"Jangan ikut campur, lagian gue cuma mau kenalan sama dia. iya kan sayang?" ucap Erik santai kearah Nita.


"Tapi dia gak mau!" jawab Davin tajam.


"Tau dari mana dia gak mau?" tanya Erik tidak kalah tajam. Entah kenapa ia berpikir, Davin sudah kelewatan kali ini. Biasanya, sahabatnya itu tidak peduli dengan hal lain kecuali urusan yang menyangkuat tentang Leon.


Leon yang sedari tadi menyaksikan sikap keduanya, mulai tidak sabar. Ia bukan pria bodoh yang tidak bisa membaca arti dari sikap davin. Dugaannya benar, ketidak fokusan davin akhir-akhir ini karena ada yang sedang terjadi dengan bawahan sekaligus sahabatnya itu, namun ia tidak menyangka jika itu karena wanita dan parahnya wanita itu adalah Nita.


"Lepaskan tangan kalian!" perintah Leon sembari menatap kedua sahabatnya dengan tajam.


Tidak ada reaksi dari keduanya, meraka saling menatap tajam satu dengan yang lain. Merasa kesal karena tidak ditanggapi, Leon menarik pistolnya dan mengarahkan tepat pada kepala Nita.


"Lepas atau ku tembak?!" Gertak Leon, membuat Nita gemetar ketakutan.


Melihat Nita gemetar ketakutan, seketika kedua pria itu melepas cekalan pada kedua lengannya.


"Pergilah!" perintah Leon pada Nita setelah kedua sahabatnya melepaskan tangannya.


Tanpa bnyak bicara lagi, Nita segera berlari menuju kastil.


"Jelaskan padaku, apa maksud semua ini?!" tanya leon setelah Nita menghilang masuk kedalam kastil.


'Well, aku hanya ingin mendekatinya,' ucap Erik acuh kearah Leon, ia kemudian menatap kearah Davin, "Dan dia terlalu ikut campur!" lanjutnya.


Davin diam, ia hanya menatap tajam kearah Erik. Ia memang pria yang tidak bnyak bicara seperti Erik.


Leon menatap kearah Davin, ia hapal betul karakter sahabatnya itu, Davin tidak akan ikut campur jika tidak ada kaitannya dengan dirinya sendiri dan pekerjaannya. Tanpa bertanyapun ia sudah tahu jika bawahannya itu memendam rasa pada Nita.


Leon menarik napas, kemudian duduk di kursi taman sembari mengamati wajah keduanya bergantian.


'Maaf, tuan. Sejak bertemu di resort, tuan." ucap Davin jujur. Bagaimanapun ia harus mengatakannya meskipun ia akan mendapat hukuman.


"Shiit! itu artinya kau juga menyukainya?!" sela Erik tidak percaya, ternyata mereka jatuh cinta pada gadis yang sama.


Davin tidak menjawab, ia hanya fokus pada bossnya. Apapun yang terjadi ia harus bertangung jawab tentang perbuatannya pada Nita. tentang malam panas mereka.


LEon menggelengkan kepalanya penuh ironi, "Kalian sadar, siapa yang sedang kalian rebutkan? dia kerabat istriku!" ucapnya sembari menatap tak percaya pada kedua sahabatnya.


Ia mengira ucapan Erik tempo lalu hanya gurauan semata.


"Dari semua wanita, kenapa harus kerabat istriku?! kalian membuatku sakit kepala, brengsek!' umpat Leon.


Tidak ada jawaban dari keduanya, mereka sadar telah melakukan kesalahan, namun mau bagaimana lagi? cinta tidak bisa memilih dengan siapa ia akan berlabuh.


"Kita bertanding naik kuda besok pagi, yang bisa mengalahkanku, dia boleh mendekati Nita." ucap leon memberi solusi. Ia tidak ingin hanya karena wanita persahabatan mereka hancur.


"Hei! kenapa harus kuda? balap mobil kek!" tolak Erik. Yang benar saja, ia tidak begitu mahir naik kuda.


"Siapa yang tanya pendapatmu, hah?!" tanya Leon acuh.Ia tahu, Erik payah naik kuda, namun ia juga tahu jika Davin tidak mahir dalam balapan mobil. Davin ahli menembak. Meskipun kemampuan Erik juga tidak buruk, namun Davin jelas akan menang telak.


"Hari ini Serkan juga akan datang, jadi mari kita rayakan pertandingan kalian...dan ingat! siapapun yang kalah tidak berhak atas gadis itu lagi," ucap Leon.


"Leoooonn..."


"Diam dan jangan merengek! awas jika kau tidak menepati janjimu!" ucap leon kearah Erik. "Dan kau Davin, bersiaplah dengan konsekuensinya jika kau kalah!" lanjut Leon sembari menatap Davin.


"Saya mengerti, tuan."


"Bagus! aku tidak ingin dengar lagi tentang masalah ini." tandasLeon, kemudian berdiri lalu melangkah menuju kastil. Namun sebelum masuk Loby, pria itu berbalik.


"Bawa Alex juga kemari bagaimanapun caranya, jika perlu seret dia kemari!" perintah Leon pada salah satu bodyguardnya.


"Baik, tuan."


Dengan perasaan kesal, Erik meninggalkan Davin. Mekipun mereka sadar, memeprebutkan wanita itu konyol, tapi perasaan memang tidak bisa di bohongi.


Sepeninggal Erik, Davin menghela napas, lalu melangkah masuk menuju kastil. Pria itu tidak menuju kamarnya, melainkan kamar Nita. Ia hanya ingin memastikan gadis tu baik-baik saja, karena tadi ia melihat Nita kesakitan. Jika bukan temannya sendiri, ia pasti sudah menghabisi Erik, tapi ia tidak bisa menyalahkan sahabatnya itu, bukan sepenuhnya salah Erik juga, pria itu toh tidak mengetahui jika dirinya punya hubungan dengan Nita.


Baru saja satu ketukan ia layangkan, Nita sudah membuka pintunya dan langsung memeluknya dengan erat. Davin bisa merasakan jika tubuh wanitanya bergetar, ia bisa menduga jika Nita baru saja menangis karena ketakutan.

__ADS_1


Perasaan sesak tiba-tiba datang memenuhi dadanya, ia tidak bisa membayangkan jika dirinya kalah dalam pertandingan besok. Apakah ia bisa memenuhi konsekuensinya dan menjauhi Nita?


"Jangan menangis," pinta Davin sembari mengusap kepala gadisnya. Ia tidak sanggup jika harus melihat wanitanya menangis.


"Aku mohon, jangan kalah pada pertandingan besok," pinta Nita sembari mengurai pelukannya.


"kau mendengarnya?'


Nita mengangguk, "Aku mendengar dari balik pintu loby." jawab Nita dengan isak kecilnya.


Davin menghela napas sesaat, "Aku tidak bisa janji, aku tidak mahir naik kuda." jawab Davin jujur. Lebih dari apapun, ia sangat ingin menang, namun ia juga tidak ingin memberi banyak harapan palsu pada Nita.


Nita menggeleng dan kembali memeluk lelakinya, "Aku tidak ingin dengan yang lain, berjanjilah..." pintanya memohon.


Davin diam. Kenyataanya ia tidak bisa menjanjikan apapun. Berkuda bukan kemahirannya, meski ia berlatih dengan keras sekalipun, ia tetap tidak bisa mengalahkan bossnya.


"Harusnya mereka bertanya tentang perasaanku, bukan menjadikanku taruhan," lanjut Nita, isaknya semakin jelas terdengar. Hatinya sakit karena dirinya di jadikan taruhan.


Davin tetap diam, ia bingung harus mengucapkan apa. Meskipun ia tahu, bossnya mengadakan pertandingan itu, karena ia tidak ingin pilih kasih diantara dirinya dan Erik. Dari dulu bossnya memang tidak pernah memberi perlakuan berbeda pada semua bawahannya.


Davin keluar setelah mereka berbicara banyak. Pembicaraan yang sebenarnya tidak ada ujung pangkalnya. Pada akhirnya ia tetap tidak bisa berjanji untuk menang, meskipun ia akan berusaha semaksimal mungkin.


Sepeninggal Davin, Nita terus menangis. Ia tidak bisa membayangkan jika Davin kalah dan ia harus menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya,


Saat seperti itu ia teringat Aila, kemana gadis itu ketika dibutuhkan?


********


"Tenanglah sayang," ucap Oma menenangkan aila ketika mereka sampai di depan pintu gerbang kedua, pasalnya gadis itu terlihat resah sepanjang perjalanan tadi. Ia tahu kenapa gadis itu terlihat tidak tenang.Tentu saja karena sebentar lagi ia akan menghadapi suaminya, sekaligus cucunya yang keras kepala itu. Kepergian mereka yang tiba-tiba tentu saja akan membuat Leon marah ataupun kesal, namun ia yakin, itu tidak akan bertahan lama, mengingat Leon sangat tergila-gila dengan Aila. Apalagi setelah ia melakukan permak habis-habisan pada gadis mungil itu. Ya, kenyataanya mereka tidak hanya berlibur, namun lebih kepada memberikan perawatan pada Aila, agar gadis itu terlehat lebih mulus dan mennggiurkan untuk Leon.


"Aku takut, dia akan marah Oma," ucap Aila terlihat resah.


"Percayalah, dia tidak akan bisa marah padamu," Oma berusaha menyakinkan Aila. Ia tahu persis karakter Leon, jikapun kesal itu hanya sebentar, ia yakin setelah melihat Aila dengan penampilan barunya, cucunya itu tidak mungkin bisa marah lama-lama. Membayangkan akan terjadi sesuatu yang panas di kamar cucunya nanti malam, wanita tua itu tersenyum sendiri.


"Dia sangat tergila-gila padamu, sayang. Maka dari itu, jual mahal_lah sedikit, agar dia semakin penasaran. Percaya dirilah, kau cantik sekarang." lanjut Oma memberi semangat pada cucu menantunya tersebut.


Aila tidak menjawab, gadis itu terlihat tersipu malu mendengar ucapan Oma. ia memang sedikit lebih percaya diri sekarang setelah oma melakukan perawatan pada tubuhnya. Tapi tetap saja, itu tidak cukup untuk meredakan keresahan hatinya.


Mereka disambut dengan gembira oleh para pelayan ketika masuki kastil.


"Pulang juga kamu," sapa Erik menyambut Aila.


Aila mengangguk, "Kakak masih di sini?" tanya Aila, gadis itu heran Erik selalu terlihat di kastil, apa pria itu tidak bekerja?


"Lah, terus kemana kalo gak disini?"


"Pulang," jawab Aila singkat.


Erik mengerucutkan bibirnya, laki sama bini kok sama. Sama-sama seneng ngusir.


"Leon uring-uringan semenjak kamu pergi tanpa pamit, jadi selamat datang di dalam kemarahan sang singa jantan," ucap erik setengah berbisik. Pria itu sengaja menakut-nakuti aila.


"Benarkah? apa dia sangat marah sekali?" tanya Aila penasaran.


Erik mengangguk, "Ya, dia memarahi semua orang karena membiarkanmu pergi," jawab Erik.


mendengar ucapan Erik, Aila semakin resah dan gugup untuk menghadapi kemarahan suaminya.


"Berhenti menakutinya!" hardik Oma pada Erik sembari memukulkan tongkatnya pada kaki pria itu.


"Aww! sakit Oma," teriak Erik sembari meraba kakinya.


"Jangan dengarkan dia, sayang. sekarang masuk kamarmu dan temui dia," pinta oma pada Aila.


Meski di penuhi perasaan was-was, aila menuruti ucapan Oma. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar untuk menemui singanya.


"Awas! arrrrrrrrrrgh!" teriak Erik sembari menirukan gaya singa ketika menerkam mangsanya, namun sedetik kemudian pria itu kembali mengaduh kesakitan, karena pukulan tongkat dari Oma untuk yang kedua kalinya.


Berkali- kali Aila menghela napas dalam, sekedar menetralkan kegugupan, sebelum ia memutar handle pintu kamar.


klik!


Aila memasuki kamar setelah pintu terbuka. Belum juga mendapat dua langkah gadis itu tiba-tiba berhenti sembari mengurut dadanya. Jantungnya serasa mau copot saat itu juga. Ia melihat Suaminya tengah menatap kearahnya dengan tajam, layaknya singa yang tengah kelaparan selama sebulan.


Mukanya terlihat asam, kecut, dingin, nano-nano lah pokoknya.


Aila melanjutkan langkah sembari menelan ludah, persis seperti tahanan menuju tiang gantungan. Siap tidak siap, ia harus menyambut hukuman.


Bersambung.....


*Sedang ingin menyibukkan diri, sesibuk mungkin.

__ADS_1


__ADS_2