Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 85


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 85


**Steven hundson**


"Ini pernikahan kita dan kau harus membawa pistol? astaga!" Protes Miranda tidak percaya ketika melihat Alex menyelipkan sebuah pistol di pingganggnya.


Alex hanya bisa menanggapi protes kekasihnya itu dengan senyuman masam. Mau bagaimana lagi? meskipun hari ini adalah hari pernikahannya sudah bisa dipastikan jika hari ini juga akan ada perang. Mereka yakin jika musuh dipastikan akan datang pada hari ini. Mau tidak mau mereka harus menghadapinya, meskipun mungkin akan membahayakan orang-orang yang mereka cintai, tapi semua itu memang sudah menjadi resiko menjadi keluarga besar dari group Thomson.


Meskipun Lucas sudah menempatkan beberapa pengintai dan sniper handal di beberapa titik, tapi berjaga-jaga toh tidak ada salahnya.


"Hanya berjaga-jaga sayang," ucap Alex menenangkan Miranda.


Miranda hanya bisa mengelengkan kepalanya. Tidak ada seorangpun yang menginginkan menikah di tengah rasa yang tidak aman, tapi sejak awal, Alex memang sudah mengatakan semua resiko jika mau menjalin hubungan dengannya, dan ia menerimanya dengan sepenuh hati. Hanya saja ia merasa tidak sedang menikah dengan seorang dokter tapi seorang mafia.


Berbeda dengan Miranda yang merasa tidak nyaman dengan pesta pernikahannya, Nita terlihat jauh lebih tenang. Sejak awal ia sudah menyadari jika calon suaminya adalah tameng dari sang boss, apapun yang akan terjadi, ia hanya bisa pasrah dan berdoa agar Tuhan selalu menjaga suaminya.


Sedang didalam satu ruangan khusus, Leon sedang mengumpulkan semua sahabatnya untuk briefing sebentar sebelum acara pernikahan dimulai. Seperti sebelumnya, Leon hanya berpesan apapun yang terjadi, mengutamakan keselamatan diri menjadi prioritas utama jika hal buruk terjadi. Terutama pada Alex dan Davin, Leon meminta untuk lebih mengutamakn keselamatan istri mereka setelahnya baru yang lain. Karena mulai hari ini, ada keluarga yang harus mereka lindungi. Yang terakhir, untuk pertama kalinya Leon meminta maaf pada kedua sahabatnya yang akan menikah pada hari ini. Sebagai seorang boss, Ia tidak bisa menjamin keamanan pernikahan mereka.


"Ayolah, pernikahan dengan sedikit kekacaun, itu akan sangat menarik," celetuk Alex menanggapi ucapan Leon.


"Yah, asal jangan sampai kau tertembak saja di dan melewatkan malam pertama di meja operasi," ledek Erik yang disusul tawa dari semua orang.


Pada dasarnya, semua menyadari akan resiko yang dihadapi karena sudah menjadi keluarga besar Thomson. Tapi semua itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan semua hal yang telah Leon lakukan untuk mereka.


**


Ditempat Lain, didepan ruang pengantin. Aila terlihat termenung seorang diri. Kejadian terakhir yang menimpa dirinya membuatnya berpikir.


Sejak awal, dimata Aila, suaminya adalah sosok yang sempurna. Dilihat dari segi manapun akan sangat sulit menemukan kekurangan pria itu. kecuali yang bersangkutan dengan sikapnya tentu saja. Tapi, kehadiran dirinya hanya membuat Leon menjadi lemah. Dan akhir-akhir ini, Leon terlalu berlebihan dalam menghawatirjkan dirinya. Meskipun Aila tahu jika musuh suaminya memanfaatkan dirinya untuk membuat Leon menyerah dan kalah. Tapi semua sikap Leon malah membuatnya sedih. Sedih karena pria itu menjadi lebih tertekan dari biasanya.


"Apa yang kau pikirkan, hem?" Suara Leon membunyarkan lamunan Aila.


Istrinya itu tidak menjawab dan hanya tersenyum.


"Kemarilah," Leon mengangkat tubuh Aila dan mendudukkn diatas pangkuannya. Entah kenapa ia merasa, semakin lama tubuh Aila semakin ringan.


Untuk sesaat, Leon menatap wajah pucat didepannya. Jika dulu wajah mungil didepannya itu selalu nampak lucu dan menghibur, Tapi sekarang, Leon selalu khawatir ketika menatap wajah itu.


"Katakan padaku, apa yang kau pikirkan?" Leon mengulang pertanyaannya. Bukannya tidak tahu, akhir-akhir ini, istrinya itu sering terlihat melamun.


Aila tidak menjawab. Gadis itu terlihat fokus menatap garis wajah suaminya. Wajah yang selalu nampak sempurna dimatanmya. Menggenakan setelan jas biru tua, singanya terlihat sangat rapi dan mempesona.


"Anda terlihat tampan, tuan.." puji Aila tulus.


Leon tertawa kecil, "kau sudah sering mengucapkannya sayang,"


"Biar saja, aku akan mengucapkannya hingga aku mati," sahut Aila tidak peduli.


Mendengar kata 'mati' pada ucapan Aila, membuat Leon langsung menutup senyumnya. Raut wajahnya berubah seketika, "Kau tidak boleh mati, tanpa seijinku!" ucap Leon terdengar dingin.


Aila kaget melihat reaksi suaminya. Ia tidak menyangka, jika gurauannya akan ditanggapi dengan begitu serius.


Aila tidak lagi melanjutan pembicaraan. Ia diam dan memilih membenamkan wajahnya pada dada bidang didepannya. Mendekapnya dan merasakan hangat serta aroma tubuh yang dirindukannya. Meskipun setiap malam tubuh itu selalu memeluknya erat, entah kenapa Aila merasa sangat merindukannya sekarang. Jauh dari apapun yang dirasakan oleh Leon, dirinya lebih merasa khawatir jika suatu saat nanti mereka akan berpisah. bgaimanapun perpisahan itu pasti terjadi. Entah karena kematian maupun kehilangan. Mengingat hal itu, hatinya terasa sangat sakit. Apalagi hal itu hampir saja terjadi, jika penculikan itu berhasil.


"Aku mencintaimu, Tuan.."


Dari ribuan kata, kalimat itulah yang keluar dari bibir Aila. Kata yang mampu mewakilkan jutaan rasa yang sedang memenuhi hatinya saat ini. Ia mungkin lupa, jika itu adalah kata cinta pertama yang ia ucapkan semenjak mereka memulai hubungan.

__ADS_1


"Aku tau," Leon mencium puncak kepala Aila dalam.


Dulu, ia tidak pernah terpikir untuk menyeret gadis serapuh Aila untuk masuk kedalam kehidupannya. Tapi cinta itu datang begitu saja tanpa mampu ia tolak. Gadis itu sudah membuat Leon gila sejak pertama kali melihatnya.


"Dengar!" Leon menjeda ucapannya, sekedar untuk menarik napas. Menetralkan sesak yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. "Kau hanya perlu tetap hidup dan berada disampingku, apa kau mengerti?"


Aila tidak menjawab. Gadis itu hanya mengeratkan pelukan. Memang kalimat apa yang harus ia ucapakan? air matanya sudah cukup menjadi sebuah jawaban.


Lucas datang tepat saat itu, namun Leon masih enggan melepas tubuh istrinya. Ia hanya menatap Lucas, agar memberinya waktu sedikit lebih lama.


Lucas paham maksud sahabatnya meskipun tanpa bicara. Pria itu tidak melanjutkan langkah, ia menyandarkan tubuh pada bingkai pintu dan melipat tangannya di dada. Lucas sangat mengerti dengan apa yang sedang Leon rasakan saat ini. Karena jauh sebelum hari ini, ia pernah merasakan semuanya. Bahkan sakitnya masih terasa hingga detik ini.


Mungkin semuanya terdengar konyol. Pria bejat seperti mereka harus tunduk dan menangis hanya karena seorang wanita. Tapi percayalah, semua itu hanya karena rasa takut akan kehilangan tujuan hidup. Ya, saat kita memiliki seseorang untuk saling mencintai dan memiliki, maka kita akan membuat sebuah tujuan bersama. Saat seseorang tersebut menghilang, maka bisa dipastikan ia akan membawa tujuan itu dan bahkan separuh jiwa kita pergi bersamanya. Dan itu adalah sebuah kenyataan. Kenyataan yang harus diakui, tidak peduli apakah dirimu seorang pria bejat sekalipun.


Leon mengusap sisa air mata di pipi Aila.Tangisannya membuat make up tipis pada wajahnya luntur, sehinga lebam disekitar pipi dan matanya kembali terlihat jelas. Saat seperti itu, wajah istrinya nampak sangat pucat dan memprihatinkan.


"Selama acara berlangsung, kau harus tetap disampingku dan Lucas," pesan Leon pada Aila.


Aila mengangguk paham.


Leon segera memindahkan tubuh Aila diatas kursi rodanya dan mendorongnya kearah Lucas berada.


'Ada apa?" tanya Leon ketika sampai didepan Lucas.


"Serkan memanggilmu," jawab Lucas singkat.


Leon menatap pada istrinya. Sekilas pria itu terlihat bingung antara harus mengantar istrinya ke depan atau menemui Serkan terlebih dahulu.


"Biar aku yang membawanya ke depan," ucap Serkan yang mengerti isi pikiran Leon.


Leon mengangguk, kemudian mencondongkan badannya, "Ikutlah dengannya, ok?"


Aila mengangguk paham.


Tanpa kata, Lucas mendorong kursi roda Aila dan membawanya ke taman kastil depan untuk menyaksikan pernikahan kakak angkatnya. Ya, pesta pernikahan mereka memang diadakan di luar ruangan, tepatnya di taman depan kastil utama, sesuai dengan permintaan Miranda.


"Siapa namamu gadis kecil?" tanya Lucas saat mereka sampai di meja para tamu.


Aila menghela napas. Ia sudah cukup dewasa untuk dipanggil gadis kecil. Yah, meskipun tubuhnya memang pendek dan mungil. Tapi, come on! itu gak lucu.


"Aila melani, Oom." Aila menjawab pertanyaan Lucas dengan padat, singkat dan jelas.


"Oom? umurku baru 35 sayang, sebutan itu terlalu tua," protes Lucas tidak suka di panggil Om oleh Aila.


"35 itu sangat tua Oom, jarak kita bahkan 15 tahun. Aku rasa memanggil anda Om itu pantas," jawab Aila tidak mau kalah.


Sejenak lucas terkejut mendengar jawaban Aila. Ia tidak menyangka jika Aila masih masih sangat muda.


"Jadi kau menikah di umur 17, benar?" tanya Lucas memastikan. Ia teringat ucapan Leon, jika mereka menikah tiga tahun yang lalu.


Aila memgangguk, "Dari mana Oom tahu?" tanya Aila tidak mengerti.


"Astaga! ternyata Leon menikahi seorang bocah," gumam Lucas heran. Pria itu terlihat berbicara sendiri. "Apa kau tidak sekolah, hingga menikah di usia begitu muda?" lucas balik bertanya.


Aila mendesah. Mengingat awal mula kisahnya, hingga akhirnya ia terjebak di dalam sangkar emas mewah ini. Lucu, menyebalkan, tapi juga menyenangkan, jika mengingatnya.


"Oom tidak tahu saja jika sahabat Oom itu seorang psikopat. Dia datang kesekolahku, membuat keributan dan menculikku lalu mengurungku di apartemen hingga beberapa hari kemudian menikahiku diam-diam." dengan polosnya, Aila menceritakan perjalanan kisah hidupnya yang dramatis itu pada Lucas.


Sontak saja Lucas tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Aila. Pria itu bahkan sampai mengeluarkan air mata karena saking gelinya. Ia bisa membayangkan sikap konyol Leon saat itu.

__ADS_1


Melihat Lucas terus tertawa Aila malah merasa heran. Gadis itu benar-benar tidak paham bagian mana dari ceritanya yang terdengar lucu.


"Ok, lalu kenapa kau mau menikah dengan pria psikopat itu?" tanya Lucas penasaran.


"Mau bagaimana lagi, dia sangat tampan Oom," Jawab Aila jujur.


Lucas kembali terpingkal mendengar kejujuran Aila.


"Kenapa dia?" tanya Erik yang tiba-tiba sudah berada disamping Aila. Pria itu merasa heran melihat Lucas tertawa begitu keras, sedang disekitar mereka tidak ada badut.


Aila mengangkat bahu, tidak mengerti. "Aku rasa kotak tertawanya rusak," ucap Aila asal.


"Astaga! kau pikir dia Squidward?" sahut Erik ikutan ngawur.


"Bukan Squidward, tapi Spongebob!" ralat Aila, dan mereka akhirnya tertawa geli bersama.


"Jika bukan istri Leon, aku pasti menculikmu. Kau pasti akan sangat menghibur," ucap Lucas ketika tawanya reda.


Aila mencebik kesal, "Aku bukan badut, Oom!" protes Aila.


Tidak peduli Lucas sudah tertawa berapa lama, tapi nyatanya gadis mungil didepannya sungguh bisa membuat pipinya kembali kaku karena tertawa.


Erik ikut terpingkal, namun bukan karena ekspresi Aila tapi karena sebutan Oom dari gadis itu kepada Lucas.


Aila menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan dua pria didepannya. Entahlah, Aila merasa terjebak diantara pria-pria besar yang aneh.


********


Sementara itu, Pria berjas abu-abu yang sempat bertemu Aila tadi pagi terlihat resah di kursinya. Sesekali, matanya mengamati dimana Aila sedang duduk. Pria itu diketahui bernama Steven hundson. Pengusaha muda di bidang properti yang baru-baru ini sedang naik daun karena prestasinya dalam mengelola perusahaan. Sebulan belakangan ini, perusahaan mereka mengadakan kerjasama dengan perusahaan Leon dalam proyek mega besar, hunian sekaligus kantor dengan konsep metro milenium yang penuh dengan fasilitas canggih danmewah didalamnya.


Kerjasama tersebut sebenarnya adalah salah satu usaha dari sebuah proses balas dendamnya kepada Thomson Group. Terutama pada sang boss besar, Leon Thomson.


Delapan tahun yang lalu Leon melakukan kesalahan besar pada keluarganya. Boss besar group Thomson itu telah melakukan pemecatan sepihak dan mempermalukan ayahnya dikalangan para pemegang saham, hanya karena kesalahan kecil yang dilakukan sang ayah.Ya, ayahnya melakukan korupsi dana perusahaan, tapi semua itu dilakukan ayahnya bukan semata-mata karena serakah, namun ia melakukannya karena ketika itu, mereka sangat membutuhkan uang untuk pengobatan sang adik yang sedang menderita kanker getah bening. Adiknya sangat membutuhkan biayaya yang sangat banyak untuk melakukan cangkok sum-sum tulang belakang. Tapi Leon tidak mau bertanya dan tidak menerima alasan apapun. Baginya kesalahan tetaplah sebuah kesalahan tanpa mau tahu alasan dibalik semua itu.


Setelah jatuh bangun menjalankan usaha kecil ibunya di bidang properti, akhirnya usaha tersebut berkembnag pesat dan menjadi yang terbaik dia Asia untuk saat ini. Steven Hundson mulai merencanakan aksi blas dendamnya dengan mengadakan kerja sama dengan Thomson Group dan rencanaya berhasil. Ia bisa dengan mudah keluar masuk di dalam perusahaan tersebut, hingga mengenal pak Hadi. Dan akhirnya merencanakan penculikan wanita kesayangan sang boss untuk membalaskan dendam atas kehancuran keluarganya dan kematian adiknya karena tidak tertolong.


Namun, tidak disangka, jika perempuan yang dia culik adalah wanita yang selama tiga tahun ini ia cari-cari hingga ke pelosok negeri. Wanita yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama saat melihatnya.


Tiga tahun lalu, saat ia mengikuti Leon dalam sebuah pertandingan basket, tanpa sengaja ia melihat gadis itu tengah merangkak mencari gawainya yang terjatuh diantara kerumunan manusia. Karena tidak tega, akhirnya ia membantu mengambilkan gawai yang sudah retak tersebut. Gadis itu begitu bahagia saat itu, hingga mulutnya mengucap kan terimakasih berkali-kali.


Seperti menemukan barang yang sangat berharga dalam hidupnya, gadis mungil itu memeluk gawainya dan menangis. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghibur gadis itu, akhirnya ia menyuruh anak kecil untuk memberinya sebuah balon. Dan itu berhasil membuatnya tertawa.


Saat itu ia berencana untuk membeli hp dan memberikannya, sebagai ganti Hp gadis itu yang mungkin sudah rusak, namun saat ia kembali gadis itu sudah tidak ada.


Sejak saat itu, wajah mungil sendu gadis itu berhasil mengusik pikirannya dan muncul di setiap mimpinya. Entah kenapa ia yakin jika suatu saat nanti ia akan bisa memiliki gadis itu bagaimanapun caranya. Namun siapa sangka, jika gadis itu ternyata adalah istri dari musuh besarnya sekaligus wanita yang hampir saja dibunuh oleh anak buahnya karena tidak tahu. Kini ia sadar kenapa ia tidak bisa menemukannya, bahkan hingga ia mencarinya keseluruh negara sekalipun. Leon pasti sangat over protektif dengan wanitanya tentu saja.


Boss besar Thomson Group itu pasti mengurung istrinya dan menjauhkannya dari dunia luar.


"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Malvin, tangan kanan Steven.


Steven hanya mengangkat tangan sebagai jawaban.


"Maafkan saya yang tidak teliti hingga tidak tahu jika gadis itu adalah wanita yang anda cari selama ini," ucap Malvin penuh penyesalan.


"Bukan salahmu, akulah yang ceroboh karena tidak mencari tahu terlebih dulu tentang siapa istri seorang Leon." balas Steven menyadari kebodohannya sendiri.


Steven kembali menatap kearah dimana Aila sedang duduk. Gadis itu terlihat sangat manis berbalut dress putih dan hiasan bunga dikepalanya. Persis seperti tiga tahun yang lalu, hatinya berdesir ketika ia menatapnya.


Meskipun keadaan pesta sangat tenang, namun ia yakin, jika Leon memperketat keamanan di sekitar kastil terutama disekitar istrinya. Semua itu terlihat dari, seorang pria yang sedang duduk disamping Aila. Meskipun tidak banyak orang yang tahu, tapi ia jelas mengenali sosok legendaris pimpinan Black stone itu. Siapa yang tidak mengenal sosok Lucas? pembunuh berdarah dingin yang terkenal di antara para boss besar Eropa. Secara keseluruhan ia jelas kalah telak dengan antisipasi yang Leon lakukan, tapi apapun yang terjadi ia harus merebut gadisnya kembali.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2