Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 72


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 72


**Kegilaan Aila**


Aila mendekat kearah suaminya. Pria itu tengah menatapnya dengan tajam, setajam silet. Dengan tangan terlipat di dada dan aura sedingin es kutub utara, Leon terlihat lebih menakutkan dari hantu pocong dalam film horor yang pernah Aila tonton.


Dilihat dari bibirnya yang terkatup rapat, Leon sepertinya tidak berniat menyapa.


Benar saja, hinga jarak sudah begitu dekat pun, Leon tdak menyapanya. Hanya ekor matanya yang terlihat bergerak mengikuti setiap gerik tubuh Aila.


Aila berhenti, ketika jarak antara dirinya dengan Leon tinggal selangkah. Gadis itu terlihat menunduk sembari meremas jemarinya. Ia tahu benar jika suaminya marah dan ia bukan tipe wanita yang bisa merayu.


"Tuan...," Panggil Aila pelan, tanpa menatap suaminya.


"Apa?!" sahut Leon cepat. Nada suaranya gak ada manis-manisnya sama sekali.


"Saya pu.."


"Siapa yang tanya?!" potong Leon cepat.


Aila menelan ludahnya, "Apa and...."


Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, terdengar pintu kamar di ketuk dari luar.


"Masuk!" perintah Leon tanpa mengalihkan tatapannya pada Aila. Sedang Aila yang tengah mencuri pandang, seketika menciut saat mata mereka bertemu.


"Maaf tuan, seluruh staf sudah siap di ruang rapat." ucap Davin memberitahu bossnya.


"Hem! aku segera kesana!" jawab Leon, lagi-lagi tanpa menoleh kearah Davin. Matanya tetap menatap tajam kearah istri mungilnya itu.


"A_anda akan rapat, tu..."


"Ya!" Lagi-lagi ucapan aila di potong dengan cepat.


Aila kemabali menggigit bibir bawahnya. Takut salah ucap, akhirnya ia memilih diam.


"Kenapa diam?" tanya leon tajam.


Aila tidak menjawab, gadis itu terlihat meremas tangannya, serba salah.


"Tau apa salahmu?"


Aila mengangguk.


"Apa?"


"Pergi tanpa izin," jawab Aila pelan.


"Lalu?"


"Tidak telepon," lanjut Aila, masih dengan menundukkan kepala. Ia tidak punya keberanian menatap mata singa yang mengintimidasi di depannya.


Leon diam sesaat, jujur ia teramat ingin memeluk mainannya itu, namun tidak dipungkiri jika hatinya juga teramat kesal saat ini.


"Sekarang kau berani memakai alas kaki, hem?!" tanya Leon setelah melihat Aila memakai selop rumahnya.


Tanpa banyak bicara, gadis itu segera melepas alas kakinya. Keadannya saat ini persis seperti seorang murid yang sedang dihukum gurunya karena melakukan kesalahan.


Seringai tipis tercetak di sudut bibir Leon melihat mainannya tertekan.


"Ikuti aku!" perintahnya kemudian.


Meski tidak mengerti, Aila tetap mengikuti Leon melangkah keluar kamar. Entah kemana singanya itu akan membawanya pergi, pasalnya Davin bilang, mereka akan rapat, tapi kenapa mengajaknya? lagipula rapat apa sih sore-sore begini? seneng banget nyiksa kariyawan.


Aila berusaha mensejajarkan langkah dengan sedikit berlari karena kakinya yang pendek. Bunyi gemerincing gelang pada kakinya memecah kesunyian kastil. Tepat di depannya, susingging senyum tercipta di bibir Leon. Ah, ia sangat merindukan kidung merdu kaki mainannya itu.


Leon semakin mempercepat langkah menuju kastil depan, agar Aila berlari dan membuat setiap jengkal tanah kastil menjadi ramai dengan gelang kakinya. Ayolah, itu adalah kepuasan tersendiri baginya.


Kastil depan memang sebagian ia gunakan untuk kantor. Pria itu mengendalikan semua perusahaanya dari rumah, selain dari ke empat sahabatnya tentu saja.


Meskipun kakinya terasa panas dan tidak nyaman, karena melewati jalan taman dan rerumputan basah, Aila tidak mengeluh. Ia tahu jika dirinya sedang di hukum.


Memasuki kastil utama, Leon naik kelantai dua, dimana kantornya berada. Setelah sampai di ruang rapat, Leon masuk begitu saja, sedang Aila berhenti. masak iya mau masuk juga? ngapain, ngerti juga kagak ya kan?


Merasa istrinya tidak lagi mengikuti, Leon menoleh.


"Kenapa berhenti?! masuk!" perintahnya masih dengan nada dingin.


Aila diam, ia melongok kedalam. Meja besar dan panjang di dalam ruangan itu sudah penuh dengan staf kntor yang akan melakukan rapat.


"Masuk!" Leon mengulangi perintahnya, karena melihat Aila malah diam diambang pintu.


Aila menghela napas.Jika sebelumnya ia datang ke kantor suaminya dengan kelakuan bar-bar, percayalah itu karena dia sedang ingin membuktikan sesuatu, lagi pula ia terpaksa, tapi kalo sekarang...Aila malu jika harus menampakkan diri di depan kariyawan suaminya.


Tidak sabar dengan sikap istrinya, Leon kembali memutar tubuh berjalan mendekat, kemudian mengangkat tubuh istrinya dengan satu tangan menuju kursinya. Pria itu tidak memperdulikan jeritan kecil dari mulut Aila, karena kaget.


Malu karena semua mata menatap kearahnya, Aila menutup muka dengan kedua tangan.


Sikap Aila yang seperti itu malah membuat Leon gemas. Refleks pria itu mengecup singkat pipi wanitanya. Sepertinya ia lupa jika sedang kesal.


Tapi bukan Leon namanya, jika harus mengalah. Pria itu kembali memasang wajah cueknya, meskipun sebelumnya ia terkekeh sembari mencium pipi gadisnya.


Sampai di depan mejanya, ia mendudukkan Aila di atas meja tepat di depannya.

__ADS_1


Jangan tanya bagaimana perasaan Aila sekarang. Duduk di tengah-tengah orang yang sedang rapat itu sangat Aneh. Ia merasa seperti manekin yang sedang di pajang sebagai obyek penelitian.


Rapat dibuka oleh Davin, ketika Leon sudah duduk di kursinya.


Tidak ada yang bisa Aila lakukan, selain diam. Sesekali gadis itu mengayunkan kakinya, memainkan tangan dan bahkan dokumen dan alat tulis suaminya, namun ketika Leon menatap tajam kearahnya, ia kembali diam.


Sejujurnya Leon tidak begitu konsentrasi dengan rapat kali ini. Ia lebih fokus memperhatikan tingkah mainanya itu. Leon akui, Aila terlihat lebih segar dan lebih menggiurkan untuk segera di santap, tapi gengsi lebih menguasainy. Tiba-tiba minta jatah! harga dirinya mau dikemanakan?


Merasa bosan karena terus duduk, Aila bergeser lebih dekat pada suaminya.


"Turun, tuan..." pinta Aila.


Leon melirik sekilas, lalu kembali fokus pada rapatnya tanpa menjawab pertanyaan Aila.


Gadis itu terlihat mngerucutkan bibirnya kesal, karena diabaikan. Leon tahu jika Aila tengah mengejeknya, ia hanya pura-pura tidak melihatnya.


Bukan Aila jika mudah menyerah dan tidak berisik. Gadis itu kembali bergeser dan berbisik.


"Pipis, tuan..." rengeknya lagi.


Kali ini Leon tidak hanya melirik, tapi menggeser semua peralatan rapatnya lalu meraih tubuh Aila menghadap tepat di depannya.


"Gak!" jawab leon singkat.


Aila kembali diam. Menciut.


Tiba-tiba saja kakinya terasa geli, membuat Aila segera melihat kebawah. Ternyata tangan Leon tengah mengelus kaki hingga betisnya.


Aila mengulum senyum menatap suaminya yang pura-pura fokus dengan rapat.


Hemm! gayanya sok cuek, pake marah, tapi butuh juga.


Apa susahnya sih bilang kangen?


Sengaja, Aila menggeser tubuhnya menjauh. Gadis itu bahkn hampir tepat di depan meja Davin.


Davin terlihat terkejut karena tingkah nonanya, namun Aila lebih dulu memberi isyarat untuk diam dengan menempelkan telunjuk pada bibirnya. Pria itu menurut untung saja.


Sedang Leon yang merasa kehilangan mainannya segera menoleh. Untuk sesaat pria itu terlihat kaget, karena Aila sudah berada di meja Davin.


Ia menyeringai sembari memiringkan kepalanya. Sepertinya, singa kecil itu, sedang ingin mengajaknya bercanda.


"Kemari!" perintah Leon, yang langsung membuat semua kariyawannya menoleh.


"Ehem! lanjutkan!"


Setelah semua kembali fokus pada materi rapat, Leon kembali menatap gadisnya. Ia kemudian menggerakkan jari telunjukknya memberi kode pada Aila untuk mendekat.


Namun gadis itu malah menggeleng sembari mengembungkan pipinya.


Leon kembali menyeringai. Jujur, instingnya untuk melahap semakin besar, tapi ia berusaha untuk menahannya.


Lagi-lagi Aila menggeleng sembari mengembungkan pipinya dan membuka_tutup mulutnya. Sungguh, wajahnya terlihat menggemaskan saat itu.


Tidak tahan dengan sikap gadisnya, Leon kembali menyeringai kemudian bangkit dari duduknya melangkah menuju Aila. Dalam waktu sekejap, dengan satu tangan saja, istri nakalnya itu ,telah berada dalam gendongan.


"Kita bermain di luar sayang, kau setan kecil yang nakal!" ucapnya sembari berbisik . Sedang Aila, terlihat menutup wajah dengan kedua tangan, sejak dirinya di gendong.


"Pimpin rapat Davin!" perintah Leon pada Davin sebelum meninggalkan ruangan.


Davin hanya membungkuk hormat sebagai jawaban.


Sepanjang jalan menuju kastil kedua, Leon diam, kembali pada sikap dingin dan cueknya, namun Aila tidak takut, gadis itu malah terlihat memainkan cambang tipis suaminya. Terserah saja mau dibawa kemana, toh ia juga merindukan singanya.


Ketika melewati taman depan, Aila tidak sengaja melihat Nita menangis disamping Lisa. Ah, ia sampai lupa untuk mengunjungi kakak angkatnya itu. Mau bagaimana lagi, jika disamping Leon, ia seperti terikat leher dan kakinya. Tidak bisa kemana-mana.


"Kenapa dengan mbakku, tuan?" tanyanya pada Leon.


Leon yang tidak mengerti, hanya mengangkat bahu sekilas sebagai jawaban.


"Turun, tuan," pinta Aila.


Leon menggeleng, "Gak, sayang!, " Leon gak peduli. Ia tidak akan melepaskan maiananya kali ini.


"Aku mohon, tuan. Dia menangis, tolonglah.." ucap Aila memohon.


Leon menoleh kearah taman dimana Nita dan Lisa sedang duduk. Ia memang melihat Nita sedang menangis di depan Lisa. Membawa pergi Aila di tengah kejadian seperti itu, adalah ide yang buruk. Aila pasti tidak akan konsentrasi melayaninya.


Leon mendesah sesaat, sebelum akhirnya ia menurunkan Aila.


"Cepat kembali, atau hukumanmu lebih Berat!" ancam Leon.


Aila mengangguk. Ia mengecup pipi suaminya singkat sebelum berlari kearah kakak angkatnya.


Nita terlihat kaget dengan kedatangan Aila, gadis itu langsung menyembunyikan wajah dan menghapus air matanya.


"Mbak kenapa?" tanya Aila.


Nita menggeleng, "Kenapa? gak papa kok," ucapnnya memaksa senyum di wajah yang sembab.


"Jangan bohong, aku lihat mbak menangis tadi," Aila merasa Nita sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kamu salah lihat dek, aku gak papa kok. Tanya aja ke non Lisa kalo gak percaya." Nita masih berusaha mengelak.


Aila menggeleng, mulut Nita bisa berbohong, namun wajah sembabnya mengatakan sebaliknya.

__ADS_1


"Mbak sepertinya gak benar-benar anggap aku seperti adik sendiri...kenyataannya masih ada yang mau mbak sembunyikan." ucap Aila dengan nada kecewa.


Nita buru-buru menggeleng dan meraih tangan Aila.


"Kamu salah paham dek...aku.."


"Kalo gitu, ayo cerita!" tuntut Aila.


"Benar mbak, cerita aja. kalo sungkan karena ada aku , aku bisa pergi kok." ucap Lisa. kenyataannya ia memang belum tahu kenapa Nita menangis. Ia hanya kebetulan lewat dan melihat Nita murung. Setelah di tanya kenapa, gadis itu malah menangis.


Nita diam untuk sesaat dan menatap menatap Aila lekat.


Sekarang, hanya gadis itu yang ia miliki sebagai kerabatny, tapi Ia tidak mau membebani aila dengan masalahnya, karena ia tahu jika Aila sudah lebih banyak masalah. Namun, tidak menceritakan masalahnya pada gadis itu, hanya akan membuat Aila kecewa setelah mengetahuinya.


Tanpa banyak kata, Lisa segera pergi agar Nita tidak lagi sungkan menceritakan masalahnya pada Aila.


Setelah kepergian Lisa, Nita mulai menceritakan semuanya. tentang hubungannya dengan Davin dan tentang pertandingan besok. pertandingan yang akan menentukan ia menjadi milik siapa. Meski harus menahan malu karena hubungannya dengan Davin akhirnya terbongkar, namun ia lebih tidak ingin jika harus menikah dengan Erik.


Aila yang meyimak cerita Nita sejak awal telihat kaget, gadis itu bahkan sampai melongo. Ia tidak menyangka jika Nita menyukai Davin, dan tangan kanan suaminya yang kaku itu, juga mencintai Nita. Meraka bahkan sudah menghabiskan malam bersama.


Waw! hanya satu kata itu yang terlintas dipikiran Aila. Bagaimana cinta bisa begitu aneh, hingga bisa meluluhkan pria sedingin Davin.


Sepertinya setelah ini, ia harus segera membuat perhitungan dengan pria itu, karena sudah berani meniduri mbaknya yang polos.Tapi sebelum itu, ia harus menenangkan Nita terlebih dahulu.


Setelah berjanji membantu membujuk suaminya untuk membatalkan pertandingan, Aila kemudian mengantar Nita menuju kamarnya. Namun, baru saja akan melangkah, ia melihat Davin dari kejauhan, pria itu sepertinya telah selesai dengan rapatnya dan sedang menuju kastii kedua.


Entah kenapa Aila mengurungkan niatnya untuk maengantar Nita dan malah menunggu Davin lewat di depannya.


Menyadari tatapan horor dari nonanya, Davin mendekat. ia juga melihat Nita tengah duduk di belakang gadis itu dengan wajah sembab. Davin langsung paham apa yang sedang terjadi.


"Aku tidak memanggil kakak," ucap Aila dingin kepada Davin setelah pria itu mendekat.


Davin terlihat salah tingkah, meskipun masih dengan wajah datarnya.


"Ya, nona." jawab Davin asal.


"Tidak ada yang ingin kakak jelaskan?" tanya Aila.


Davin diam untuk sesaat, pria itu kemudian menatap Nita.


"Maaf, nona." ucap Davin pelan.


"Hanya itu?" tuntut Aila. Ia tidak puas dengan jawaban Davin.


"Maaf, nona." lagi-lagi hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Davin. Jujur, ia sendiri bingung harus mengatakan apa selain kata maaf.


Aila menarik napas dalam, sebelum akhirnya berteriak.


"Kak Jimyyyyyyyyyyyy!" teriak Aila memanggil bodyguard pribadinya.


Jimy yang sedari tadi berada disamping Leon di depan loby kastil, terlihat menoleh kearah tuannya.


"Pergilah! kau miliknya," ucap Leon kepada Jimy.


Jimy mengangguk sopan kemudian berlari kearah nonanya.


"Ya, nona?" tanya Jimy.


"Tolong panggilkan kak Erik," pinta Aila.


"Baik, nona." jawab Jimy, kemudian berlari menuju kastil.


Memgetahui jika istrinya akan melakukan permainan, Leon mendekat.


Tepat saat itu, Alex datang dengan muka kacau dan kesal. Pria itu sepertinya datang dengan paksaan. Ia mengenakan setelan jas toxedo yang sangat rapi.


"Apaan sih? ganggu orang nikmatin hidup aja!" ucapErik tidak kalah kesalnya dengan Alex. Melihat Erik yang hanya memakai handuk kimono, sepertinya ia sedang berendam. Pria itu juga datang dengan paksaan sepertinya.


"Ganggu orang kata kakak? kakak yang gangu hidup orang!" balas Aila tidak kalah kesalnya.


Untuk sesaat Erik tidak mengerti dengan ucapan Aila, hingga ia melihat Nita yang berada di belakangnya sedang menunduk. Setelah mengamati sekitar dan melihat Davin pun turut hadir, Erik akhirnya paham apa yang sedang terjadi. Ia rasa gadis kecil sahabatnya itu tengah murka.


Sedang Alex yang baru saja berbicara dengan Jimy, terlihat tertawa. Ia sepertinya mulai paham dengan situasi di depannya dan alasannya ia di jemput paksa oleh bodyguard Leon. Sepertinya ia harus mengucapkan terimakasih dengan bodyguard gila itu. Berkatnya, ia tidak melewatkan moment konyol kedua sahabatnya karena memperebutkan wanita.


Ya, meskipun ia harus meninggalkan acara foto pre weddingnya. Sebenarnya bukan hal itu yang lebih menarik baginya. Kenyataan bahwa Davin, sahabatnya yang sedingin es bisa juga jatuh cinta, membuatnya kaget. Ia sempat mengira jika Davin tidak normal.


"Kak Alex," panggil Aila lembut.


"Iya, sayang?"dengan senang hati Alex menanggapi panggilan Aila. Tidak ada salahnya mengikuti permainan gadis itu. Terakhir kali Aila bermain, membuat Leon kalang kabut selama tiga tahun dan itu membuat Alex tertarik.


"Aku ingin sebuah apel dan pistol yang terbaik, bisa ambilkan?" pinta Aila.


"Tentu sayang, apapun untukmu." jawab Alex lebay. Meski setelahnya ia mendapat tatapan tajam dari Leon, pria itu tetap cuek.


"Aku hanya melayaninya," ucapnya acuh kearah Leon.


"Lebih tepatnya, melayani kegilaannya." lanjutnya sembari tertawa, sebelum berlari masuk kedalam mengambil apa yang Aila inginkan.


Mendengar Aila meminta pistol sembari menatap tajam kerah nya, Erik menelan ludah kasar. Ayolah, terkadang Aila lebih gila daripada suaminya. Leon benar, Aila adalah setan kecil yang menakutkan.


Berbeda dengan Erik yang mulai khawatir, Davin tetap tenang dengan wajahnya datarnya. pria itu memang tidak pernah mempunyai ekspresi, atau mungkin saja ia memang sudah siap menghadapi kegilaan nonanya. Entahlah, apapun itu ia memang harus menerimanya.


Bersambung...


*Terimakasih banyak. Aku ucapin pada kelen semua gaess, sudah tetap bersamaku dalam cerita ini, sampai sekarang.

__ADS_1


Semoga kalian bahagia setelah membacanya.


Terimakasih juga atas doa kalian semua untukku, semoga tuhan membalasnya dengan kebaikan yang banyak buat kalian.


__ADS_2