Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 92


__ADS_3

Cinta 49 cm


Part 92


**Kejadian tidak terduga**


Seperti yang sudah disepakati, hari ini mereka akan melakukan pemeriksaan lanjutan tentang janin yang berada di dalam kandungan Aila. Miranda tidak menyarankan untuk melakukan kuret sementara waktu ini, karena kandungan Aila masih dibawah sepuluh minggu. Ia hanya memberikan beberapa obat agar janin tersebut luruh dengan sendirinya.


Jika dengan obat tidak juga berhasil, terpakasa ia akan melakukan kuret pada Aila.


Mendengar penjelasan Miranda, Aila pikir itu seperti membunuh secara perlahan. Meskipun tentu saja bukan seperti itu maksudnya. Tapi tetap saja, tujuan dari semua tindakan hari ini adalah untuk membunuh janinnya sendiri.


Berkali-kali Aila menghela napas dan memejamkan mata, untuk sekedar mengusir sesak yang memenuhi dada. Walau sudah ribuan kali, bibirnya berucap maaf, namun tetap saja, ia merasa sangat bersalah.


Setelah meminum obat yang diberikan Miranda, Aila berbaring. Tentu saja Leon tetap setia menunggui disampingnya. Tetap saja, itu tidak membuatnya lebih baik. Meski, beberapa kali Miranda menggodanya, jika mereka akan bisa membuatnya lagi yang lebih cantik, tentu saja diwaktu dan saat yang tepat namun, Aila masih saja merasa tidak rela.


'Tenang sayang, kalian akan segera memilikinya lagi. suamimu hebat dalam hal itu," ucap alex menggoda Aila. Namun, gadis itu tidak menanggapi godaan Alex. Pikirannya terlalu buruk untuk bercanda saat ini.


"Kenapa kau baru mengakuinya jika aku hebat diatas ranjang? aku yakin kau tidak bisa mengalahkan rekorku," cibir Leon pada Alex.


"Siapa bilang aku kalah...."


"Mengakulah sayang, kau memang kalah. Kau bahkan tidak sampai empat," sahut Miranda mengomentari suaminya.


Mendengar sindiran Miranda pada Alex, Leon terbahak.


"Kau dengar itu sayang? tidak ada yang bisa mengalahkan suamimu," ucap Leon menyombongkan diri pada istrinya. Aila hanya menggelengkan kepala. Ia heran, kenapa bagi seorang pria prestasi diatas ranjang sangatlah pentin?


"Kau kejam sayang, kau harusnya membantuku," Alex merajuk pada Miranda. Sedang Miranda terlihat cuek.


Leon kembali terbahak melihat sikap Alex yang telah mengecewakan istrinya.


Tawanya berhenti ketika mendengar Aila merintih. Sepertinya obat yang diberikan Miranda mulai bekerja.


Leon kembali mengusap punggung tangn Aila, memberi istrinya itu semangat.


Melihat sikap Leon memperlakukan Aila, membuat Miranda yakin jika singa kontruksi itu begitu menyayangi istrinya.


"Aku penasaran, bagaimana keduanya bertemu untuk pertama kali," gumam Miranda pada Alex yang sedang duduk disampingnya. Meskipun tidak mengenal dengan baik pribadi dan karakter seorang Leon, Miranda jelas tahu jika Leon bukan sosok pria yang ramah, pria itu cenderung dingin menurutnya. Namun, ia juga tahu jika Leon cukup populer diantara para wanita kelas atas. Temannya bahkan terang-terangan sangat ingin untuk sekedar menjalani one night stand bersama Leon. Tapi pria itu justru memilih seorang Aila, wanita sederhana untuk menjadi istrinya.


Alex mengangkat bahu, ia juga tidak tahu tentang awal mula kisah mereka. Pasalnya, ketika dirinya datang, Leon sudah menikahi gadis itu.


"Bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Alex pada Leon.


"Aku lupa," jawab Leon singkat. Leon malas jika harus membahas masa lalu. Meskipun semua kisahnya dengan Aila tidak ada yang terlupa darinya.


"Aku melihatnya bermain basket saat itu," Aila menjawab pertanyaan Alex.


"Benarkah? aku tebak, Leon pasti bersikap sok cool saat itu," Alex tahu benar bagaimana cara leon menakhlukkan hati para wanita.


Leon tidak terlalu peduli dengan komentar Alex, ia lebih memilih menyibukkan diri bermain ponsel.


"Em..." Aila terlihat berpikir dan mengingat pertemuan awal mereka. "Aku tidak ingat apa dia melakukan itu, aku tidak terlalu memperhatikan.." lanjut Aila jujur. Aila ingat, jika saat itu ia sedang terburu-buru untuk bekerja sambilan.


"Hei! aku bintang lapangan dan kau tidak memperhatikannya?" Leon buka suara. Ia merasatidak terima dengan pengakuan Aila. Tidak seorang wanitapun yang tidak memperhatikan dirinya. Ayolah! lagi pula itu kesan pertama. Bagaimana Aila bisa lupa?


"Tapi, aku benar-benar lupa, lagi pula kesan pertamaku biasa saja," jawab Aila dengan polosnya.


Alex langsung terbahak mendengar ucapan Aila. "Aku sudah menduganya sejak awal, pasti kau yang mengejarnya," tebak Alex. Sejak pertama melihat sikap Aila, ia tahu jika Aila bukan tipe cewek yang agresif dan bukan tipe yang sok jual mahal juga. Aila gadis yang ramah dan hangat.


"Hei! kau pikir aku siapa? aku Leon Thomson. Pengusaha muda yang tampan, pemain basket yang handal dan terkenal. Kenapa aku mengejar seorang wanita?" sanggah Leon.


Ia tidak ingin terlihat seolah-olah dirinya yang tergila-gila pada Aila. Meski kenyataannya begitu.


Miranda dan Alex terkikik melihat sikap kekanakn Leon. Miranda pikir pria itu cool dan sempurna, ternyata bisa bersikap bodoh juga.


"Tapi...kau memang menculik dan mengurungku, tuan.." jawab Aila mengingatkan. Memangnya bagaimana, gadis miskin sepertinya bisa terkurung di kandang mewah milik sang singa?


"Astaga! jadi benar, ternyata kau menculiknya?" tanya Alex tidak percaya.Yah, ia memang sudah bisa menduga jika ada sedikit pemaksaan dalam hubungan dua orang didepannya itu, namun, Alex tidak menyangka jika Leon benar-benar melakukan itu demi seorang wanita.


'Itu....." Leon mati kutu, tidak bisa lagi membantah. "Hei, apa pemeriksaannya sudah selesai?" Leon mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa ia selalu kehilangan harga diri saat bersama dengan Aila.


Alex kembali terbahak, karena Leon tidak bisa menjawab, sedang Miranda terlihat sedang menahan tawanya.

__ADS_1


"Terus saja tertawa!" Leon menendang kaki Alex dengan kesal, namun Pria itu malah semakin terbahak.


Tepat saat itu, Erik masuk kedalam. "Apa aku melewatkan sesuatu?" tanyanya ketika melihat Alex terbahak, sedang Leon terlihat kesal dan Aila terlihat biasa saja.


Leon mengangkat bahu, "Dia mulai tidak waras ku rasa," Leon mengomentari sikap Alex.


Erik menatap Alex sekilas lalu duduk diatas ranjang disamping Aila dan menyerahkan map yang dia bawa pada Leon. "Aku rasa kau harus memeriksa ini,"


Leon menerima map tersebut dan membukanya. Raut wajahnya terlihat sedikit berubah setelah beberapa saat membacanya. "Kita adakan rapat siang ini juga!" perintahnya pada Erik.


"Tuan mau kekantor?" tanya Aila pada suaminya.


Leon mendongakkakn kepalanya. Ia lupa jika hari ini berjanji untuk menemani istrinya. "Hanya sebentar sayang, aku janji.." mau bagaimana lagi? sepertinya Steven sudah mulai bergerak, dan ia tidak bisa membiarkannya begitu saja.


Leon bangkit dan mendekat kearah istrinya, saat akan mencium keningnya, Aila menahan tubuhnya. "Anda sudah berjanji untuk tetap disini tadi malam...jangan pergi," Aila memegang lengan suaminya. Ia benar-benar tidak ingin ditinggal oleh Leon saat ini.


Leon menghela napas, "Oma dan yang lain akan menemanimu, lagi pula hanya satu jam, gak lebih," Leon memberi pengertian pada Aila. Ia mengerti saat ini Aila sangat membutuhkannya, namun masalah Steven juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Ia akui selama kehamilan Aila, dirinya sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, tapi mau bagaimana lagi, semua terjadi bersamaan dengan pernikahan Davin. Sehingga ia harus bekerja lebih keras dari biasanya.


Aila melihat orang-orang sekelilingnya. Bukan ingin egois, namun mereka jelas berbeda. Ia ingin suaminya bukan yang lain. Aila diam dan melepaskan lengan suaminya perlahan, namun sikapnya jelas menunjukkan jika ia tidak rela.


"Anda sudah berjanji...." Suaranya terdengar serak karena menahan isak. Biar saja ia kekanakan dan egois untuk saat ini. Entah kenapa Aila merasa berat melepas suaminya pergi kekantor, meskipun hanya satu jam.


Leon memberi isyarat pada semuanya untuk keluar. Saat seperti itu, Aila sulit untuk dibujuk.


Setelah semuanya keluar ruangan, Leon menghela napas dalam sembari menatap istrinya yang tengah menunduk.


"Pergilah," Meski terpaksa Aila harus merelakan suaminya pergi. Walaupun ia istrinya, toh pria itu tidak seutuhnya menjadi miliknya.Tidak tubuhnya tidak juga waktunya. Aila mengerti jika Leon memiliki tanggung jawab pada ribuan kariyawannya, tapi tidak bisakah ia meminta waktunya barang sehari?


Meski Aila sudah menyuruhnya pergi, Leon masih terdiam ditempatnya. menatap istrinya yang terlihat mengusap airmata dengan punggung tangan. Bagaimana ia bisa pergi dengan tenang, jika Aila bersikap seperti itu?


"Berhenti menangis, aku tidak jadi.." ucap Leon pada akhirnya.Meskipun memaksa pergi, ia hanya akan kepikiran dan tidak konsentrasi dengan rapatnya.


Bukannya senang, Aila malah mengencangkan tangisnya. Ia sendiri bingung kenapa. Aila tidak mau ditinggal, tapi juga tidak ingin Leon kecewa.


Melihat sikap Aila, Leon mengusap wajahnya kasar. Jujur saja, ia terkadang bingung menghadapi sikap Aila. Jika ada pepatah mengatakan, sikap wanita layaknya cuaca yang berubah-ubah dan tidak konsisten, ia merasakan sendiri hal itu.


"Aku ingin anda pergi tuan, tapi aku juga ingin anda disini," Aila mengungkapkan isi hatinya dengan jujur. Masih dengan isaknya, Aila melanjutkan ucapan, "Aku tidak tahu kenapa begitu, tapi itulah yang hatiku inginkan,.." Aila menyeka Air matanya yang mengalir menganak sungai.


Leon yang semula berdiri kini mendekat. Pria itu membuang senyum. Ia mengerti maksud istrinya. Sejak awal, Aila bukan sosok wanita yang penuntut dan egois. Gadis itu mengerti setiap hal pada dirinya. Hanya saja, waktu dan kondisi membuat dirinya terkadang harus mengabaikan kepentingan keluarganya sendiri.


Aila tidak menjawab. Ia hanya membalas pelukan suaminya erat. Detak jantung Leon bahkan bisa ia dengar dengan begitu jelas.


"Aku merindukanmu tuan..." ucap Aila.


Leon tertawa mendengar ucapan istrinya. "Kita selalu bertemu sayang,'


Soal mengungkapkan perasaan, Aila selalu bisa jujur dengan hatinya. Sedang dirinya, selalu saja gengsi untuk sekedar berucap rindu.


Aila tidak menanggapi kekehan suaminya. Ia terus memeluknya dengan erat. Seperti sedang menumpahkan sebuah kerinduan yang dalam. Setelah puas, Aila melonggarkan pelukannya. Ia meraba wajah suaminya dan menatap pada manik mata biru laut itu.


"Cepat pulang,,,"


Leon tersenyum dan meraup wajah istrinya. Ia mel**at bibir mungil istrinya lembut. Seketika ia merasakan aroma obat dari sana.Tapi ia tidak menghiraukannya, Leon tetap menyesap bibir itu hingga puas.


Sejak penculikan itu, Aila harus meminum banyak sekali obat, dan Leon selalu menyesal akan hal itu.


"Tunggu aku ok?" Leon mengembalikan Aila keatas ranjang. Setelah membetulkan selimut dan mencium kening istrinya, ia keluar dari ruang perawatan.


Ia berpesan pada Miranda untuk sealalu mengecek keadaan istrinya. Tidak lupa ia juga berpesan pada Lucas untuk menjaga keadaan kastil dan semua keluarganya. Setelahnya, Leon pergi bersama dengan Erik menuju kantor. Sejak Pak Hadi pergi dan Davin sibuk dengan pernikahan dan bulan madunya, Eriklah yang menjadi asisten pribadinya menggantikan Davin. Meskipun Erik lebih berisik dan lambat, tapi Leon tidak punya pilihan lain. Ia mengerti jika Erik juga punya pekerjaan lain.


*******


Staf perencanaan pada bagian pembangunan proyek terbaru mereka melaporkan, jika tiba-tiba saja rekan bisnis sekaligus partnernya, The Hundson property memutus kontrak kerjasama secara sepihak. The Hunson property tiba-tiba memutus kontrak dan menjalin kerjasama dengan perusahaan Citra kontruksi. Perusahaan yang merupakan saingan dari The thomson Group. Meski perusahaan itu masih harus naik dua tingkat untuk dikatakan saingan, namun selain Thomson Group, mereka yang terbaik.


Leon yakin, jika Steven sedang melancarkan agresi pertamanya. Mereka sama-sama tahu, jika melanggar kontrak, akan ada konsekuensi tersendiri. Dan Leon tahu, jika konsekuensi itulah yang memang sedang dicari oleh Steven. Leon menduga, jika Steven sengaja mencari masalah dengannya, dan ia tidak akan mengabaikannya. Leon akan memberinya pelajaran, namun tidak sekarang. Alasan pertama karena masalah proyek yang harus segera selesai, sedang yang kedua, Davin juga belum pulang dan lagi istrinya juga masih membutuhkan dirinya.


Permasalahan Perusahaan Hundson yang melanggar kontrak kerja, tidak terlalu memusingkan dirinya, toh ia masih punya banyak relasi bisnis dari negara lain yang lebih baik dari itu dan akan dengan senang hati bekerja sama dengannya. Rapat kali ini, memang khusus untuk membahas hal itu dan meloby beberapa relasi bisnis mereka untuk bergabung.


Dalam sekejap saja, mereka sudah mendapat pengganti dari The hunson, meskipun Leon harus mengalami kerugian yang tidak sedikit. Bagaimanapun, Hunian itu sudah siap launcing dan karena masalah ini, semuanya menjadi tertunda. Yang terpenting dari semua itu, jadwal rencana launcing mereka kini didahului oleh Citra kontruksi dengan proyek Mega Green land mereka. Dan itu membuat mereka kalagh start dalam menembus pasar.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Erik. Bagaimanapun, mereka membutuhkan rencana untuk selanjutnya. Seekor tikus yang melarikan diri, bukankah harus ditangkap? Tentu saja karena, sedikit banyak tikus tersebut telah mengetahui rahasia perusahaan.


"Tidak jauh dari yang telah kita bahas tadi malam, tidak sekarang. Kita tunggu situasi kembali normal.." sahut Leon. Ia pikir jika mereka langsung membereskannya sekarang, Steven hanya kan merasa jika dirinya penting.

__ADS_1


"Citra kontruksi, terkenal pintar bermain dengan media. Mereka juga sangat licik. Aku sarankan jangan terlalu lama," ucap Erik mengingatkan. Meskipun kekuatan mereka jauh dari Thomson group, tapi terkadang kekuatan kalah dengan taktik yang lici 'kan?


"Aku tau itu....kapan Davin pulang?" tanya Leon.


"Malam ini kurasa," jawab Erik. Ia sempat berbicara dengan Davin kemaren tentang masalah proyek, dan pria itu mengatakan jika dirinya akan pulang segera. Bagaimanapun Davin merasa bersalah jika harus berlama-lama liburan, sedang bossnya terlihat sangat kerepotan.


"Kita lakukan setelah Davin pulang," jawab Leon.


Erik mengangguk paham.


"Kabari Serkan untuk mempersiapkan semuanya," lanjut Leon.


Erik Kembali mengangguk. Sudah lama mereka tidak beramin-main. Tapi entah kenapa, pikiran Erik sedikit tidak tenang dengan itu. Bukan karena takut, tapi lebih pada was-was. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Sebelum inipun, ia pernah melakukan hal yang lebih besar dan lebih berbahaya, tapi pikirannya tidak seperti saat ini.


"Apa ada yang masih harus dilakukan?" Tanya Erik lagi.


"Aku pikir tidak, kita bisa menunggu laporan dirumah,' Jawab Leon. Ia kemudian mengemasi barang-brangnya dan meninggalkan kantor untuk segera pulang kerumah. Ia berjanji pada Aila jika dirinya akan pulang dalam waktu satu jam.


Mereka berdua berjalan kearah basement dimana mobil terparkir. Tiba-tiba seorang pegawai cleaning service menghadang langkah mereka. Seorang pria paruh baya lebih tepatnya. "Maaf tuan, mengganggu waktu anda, saya hanya ingin memberikan ini." Pria paruh baya tersebut memberikan satu buket mawar merah pada Leon. "Saya dengar nona muda sedang sakit, tuan." lanjutnya. Leon menerima buket tersebut dengan diam, tepatnya ia heran. Bagaimana ia bisa tahu jika Aila sakit? ia juga baru tahu jika di kantornya ada Cleaning service yang sudah tua.


"Saya tahu, ini tidak seberapa tapi izinkan saya memberikannya pada nona muda. Saat itu saya belum sempat mengucapkan terimakasih padanya." ucap Pria tua tersebut memohon.


"Kapan kau bertemu istriku dan dari siapa kau tahu jika istriku sedang sakit?" tanya Leon langsung. Sejak istrinya diculik, ia merasa harus mencurigai siapapun akan berbuat buruk.


Erik terlihat memanggil petugas keamanan dan menyerahkan mawar tersebut padanya. Ia meminta agar petugas itu memastikan jika mawar tersebut aman.


"Maaf pak tua, semua yang akan masuk ketangan nona muda, harus melalui pemeriksaan," ucap Erik.


"Tidak masalah tuan, silahkan anda periksa.." cleaning service tersebut mempersilahkan petugas keamanan untuk memeriksa buket mawar tersebut.


"Hem, kau belum menjawab pertayaanku," ucap leon mengingatkan.


"Tentu tuan, saya bertemu nona di loby waktu itu..." Cleaning service paruh baya tersebut mulai bercerita. Saat melihat Aila di loby dan terlihat menungu seseorang, ia tidak berpikir jika Aila istri dari boss besarnya. Tepat saat itu, karena kecerobohannya ketika bekerja, ia menumpahkan air dilantai hingga merambah kemana-mana. Jika bukan karena pertolongan Aila mungkin saja saat itu ia sudah dipecat, karena waktu itu memang bersamaan dengan waktu istirahat jam kantor. Gadis itu membantunya mengeringkan lantai dengan cepat agar ia tidak terkena marah oleh kepala bagian kebersihan. Sejak awal ia memang sudah disuruh untuk mengundurkan diri karena umurnya yang sudah tua, namun saat itu ia masih harus membiyayai anaknya yang masih SMK, sehingga ia memohon untuk tetap dipekerjakan, meskipun hasilnya kurang maksimal ketimbang petugas kebersihan yang lain.Pria itu juga mengatakan jika ia mendapat informasi dari Alea jika sang nona sedang sakit.


'Jika tuan akan memecat saya saat ini, saya sudah tidak masalah tuan, anak saya sudah lulus sekolah sekarang. Sebentar lagi akan bekerja," ucap cleaning service menutup ceritanya.


Leon tidak langsung menjawab ucapan Pak tua didepannya. Ia terlihat menatap lama pada lelaki tersebut. Sebelum akhirnya mengambil bunga yang berada di tangan Erik.


"Ok, temui aku diruanganku besok," ucap Leon pada kariyawannya itu, lalu berjalan memasuki mobilnya dengan membawa serta buket mawar tersebut tentu saja.


"Baik tuan," Cleaning service itu membungkuk hormat. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Meskipun boss besarnya itu tidak mengucapkan terimakasih namun Leon tetap membawa bunga itu dengan tangannya sendiri. Dan itu sudah lebih dari cukup dari sebuah ucapan terimakasih.


"Aku rasa, Aila seperti malaikat bagi semua orang..." Komentar Erik saat mobil sudah melaju beberapa saat.


Leon tidak menjawab, ia hanya menatap buket mawar disampingnya. Pendapat Erik memang tidak salah, istrinya mempunyai hati yang hangat pada semua orang. Itulah kenapa, ia banyak menerima cinta dan kasih sayang dari orang-orang disekitarnya.


"Yah, walaupun terkadang seperti setan kecil yang menakutkan," Erik Melanjutkan ocehannya.


Lagi-lagi Leon tidak menanggapi ucapan Erik, Leon memilih mengalihkan perhatiannya pada pemandangan diluar jendela mobil. Terkadang karena kebaikan hatinya itulah, Aila dengan mudah bisa dimanfaatkan oleh orang lain untuk niat yang jahat.


Erik terus berisik sepanjang jalan. pria itu mengomentari berbagai hal, sekaligus juga mengeluh. Erik mengeluhkan waktunya yang tidak lagi ada untuk bermain-main dengan para gadis diluar sana. Erik mengumpati Davin berkali-kali. Orang lain yang berbulan madu, tapi dirinya yang jungkir balik.


Hingga sampai dijalan perbukitan menuju kastil, Pria itu mendadak diam saat menyadari ada mobil yang sedari tadi mengikuti mereka.


"Aku rasa mobil itu mengikuti kita sejak keluar dari kantor," Erik melihat kearah Leon melalui kaca spion dalam.


Mendengar ucapan Erik Leon menoleh kebelakang. "Kau yakin?" tanya Leon. Pasalnya sejak tadi ia tidak memperhatikan jalan, ia asyik melamun tentang berbagai masalah yang ia hadapi akhir-akhr ini.


"Ya, aku perhatikan sejak beberapa tikungan, ia terlihat menjaga jarak dan tidak berniat mendahului, padahal aku menyetir dengan santai," jawab Erik menjelaskan.


"Mari kita cari tahu," sahut Leon. Erik yang mengerti maksud bossnya segera menambah kecepatan mobilnya. Erik membuktikan kemahirannya menyetir. Benar saja, Mobil dibelakangnya terlihat mengejar mereka. Akhirnya terjadilah aksi kejar kejaran diantara mereka.


"Sudah kuduga!" umpat Erik.


Leon mengambil senjatanya dan memastikan jika peluru nya terpasang dengan baik. "Tetap fokus mengemudi, kita ikuti apa maunya," ucap Leon.


Erik mengangguk paham. Mereka saling memacu mobil dengan kecepatan tinggi, hingga suara tembakan dari belakang mengagetkannya.


"Sial!" umpat Erik, ketika beberapa mobil keluar dari semak dan ikut mengejar mereka.


Leon mencoba tetap fokus dan membaca situasi. Posisi mereka terjepit sekarang. Ia tahu dirinya sedang digiring kesuatu tempat. Dilihat dari formasi mereka, sepertinya semua ini sudah mereka rencanakan.


Melarikan diri di jalan satu arah daerah perbukitan bukanlah hal yang mudah, Tapi bagaimanapun, mereka kalah jumlah. Ada empat mobil dibelakang dan didepan ada lebih banyak dari itu.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2