Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 90


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 90


**Dilema**


Untuk menjadi sebuah karang yang berdiri kokoh, diperlukan ribuan derasnya ombak yang menghantam. Begitu juga dengan sebuah hubungan. Datangnya ujian dalam hidup, terkadang untuk mengokohkan.


**


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Leon pada Niken, istri dari Roger sahabat Oma.


"Tenang sayang, duduklah.." Pinta Niken pada Leon. Saking tidak sabarnya, Leon bahkan langsung masuk saat pintu perawatan terbuka.


Leon menurut, Pria itu langsung duduk didepan Niken. Ia merasa sangat cemas, ditambah lagi, Niken dan Roger memeriksa Aila selama hampir satu jam lebih. Bagi Leon, waktu satu jam terasa seperti setahun lamanya.


"Siapa dia?" Niken tidak langsung menjawab pertanyaan Leon. Wanita tua itu merasa penasaran dengan gadis mungil yang sedang menjadi pasiennya saat ini. Ia sangat mengenal keluarga Rebeca, Omanya Leon. Mereka memang sudah bersahabat sejak lama. Meskipun ia mengenal keluarga Thomson melalui suaminya. Ia pikir, Rebeca tidak mempunyai cucu perempuan dan cucunya hanya satu yaitu Leon. Dirinya juga belum pernah mendengar jika Leon sudah menikah.


"Dia istriku Oma...ada apa dengannya?" Leon sudah tidak sabar ingin segera mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya.


Niken menatap kearah Oma, gerak tubuh sahabatnya itu membenarkan ucapan cucunya.


"Astaga, kau sudah menikah? kalian tidak mengundang kami?" Niken terkejut sekaligus kaget jika ternyata Leon sudah menikah dan dirinya tidak diundang.


"Ceritanya panjang Oma Niken, Plesae! sekarang katakan dulu apa yang terjadi," desak Leon pada Niken. Ia merasa niken terlalu banyak mengulur waktu. Tidak mungkin 'kan ia menceritakan tentang pernikahan konyolnya sekarang?


Jika saja yang dihadapinya saat ini adalah Alex, ia pasti sudah menendang pria itu. tapi didepannya sekarang hanyalah wanita tua? apa yang bisa dilakukannya?


Niken mendesah, Sebenarnya ia memang sedang mengulur waktu karena apa yang akan disampaikannya adalah hal yang sulit. Tapi ia juga berhak tahu tentang identitas pasiennya, bukan?


Meskipun menghindar dari cucu sahabatnya tersebut, adalah hal yang mustahil. Niken tahu karakter Leon sejak kecil. Dan bocah didepannya itu tidak akan menyerah sebelum mendapat apa yang dia mau.


"Ok, tapi sebelum itu aku ingin tahu siapa yang yang merawat istrimu sebelum ini?" tanya Niken.


"Yang merawatnya Alex," Jawab Leon cepat.


Niken menganggukkan kepalanya paham, "Apa dia tidak bilang sesuatu pada kalian?" tanya NIken lagi. Melihat kondisi Aila, ia pikir sangat aneh, Alex masih membiarkan janin Aila berkembang.


Leon mentap Oma. Namun wanita tua itu menggeleng tidak tahu. Alex pun tidak mengatakan apapun pada dirinya.


"Tidak, Alex tidak mengatakan apapun," jawab Leon.


"Memangnya apa yang terjadi?" lanjut Leon bertanya.


Niken sudah menduganya. Entah apa alasan Alex menyembunyikan permasalahan kandungan Aila tapi menurut Niken, Leon berhak tahu akan keadaan istrinya. Karena hal itu akan menentukan tindakan selanjutnya yang akan mereka lakukan.


"Aku tidak tahu kenapa Alex menyembunyikannya, tapi aku rasa kau harus tahu akan hal ini," Niken menjeda kalimatnya untuk mengambil napas. Bagaimanapun menyampaikan kabar buruk terhadap keluarga pasien ada beban tersendiri.


"Kandungan istrimu terlalu beresiko jika diteruskan. Mungkin akan mengakibatkan hal buruk untuk istrimu," Niken melanjutkan ucapan.


Leon mengerutkan kening tidak mengerti, "Buruk bagaimana maksud Oma?" Leon tidak paham. Bagaimana bisa kehamilan menyebabakan hal yang buruk?


Niken menghela napas dalam, "Kandungan istrimu terluka parah, dan itu butuh pemulihan tersendiri, sehinggai belum tepat jika saat ini harus di huni oleh sebuah janin." jawab niken menjelaskan kondisi Aila.


Leon terkejut mendengar penjelasan Niken. Pasalnya Alex tidak mengatakan apapun padanya. Apa mungkin itu akibat dari penculikan kemaren?


"Boleh aku tahu apa yang terjadi pada Istrimu?" Niken kembali bertanya. Bagi seorang dokter sepertinya, Ia tentu paham jika luka di rahim dan memar pada tubuh Aila disebabkan karena pukulan benda tumpul. Aila jelas mengalami kekerasan fisik.


Leon menghela napas dan mengusap wajahnya kasar. Pria itu terlihat sangat berat untuk mengatakan apa yang terjadi. Namun sebagai seorang dokter, Niken berhak tahu apa yang di alami istrinya. "Dia.... dia sempat mengalami penculikan lima hari yang lalu," jawab Leon jujur.


Niken terkejut, "Ya Tuhan, gadis mungil yang malang.." Melihat luka-luka di tibuh Aila, Niken tidak bisa membayangkan bagaimana kejamnya para penculik itu menyakiti Aila.


Leon diam, tidak menanggapi komentar sahabat Omanya itu. Jujur saja Semua itu kembali mengingatkannya pada Steven. Lucas benar, tidak seharusnya ia kehilangan fokus pada masalah itu. jika benar Steven yang menculik istrinya, maka, ia tidak akan memafkan pria itu. Karena akibat menyakitkan yang harus diterima oleh istrinya.


"Sebagai dokter aku hanya bisa menyarankan agar kalian tidak meneruskan kehamilan ini. Karena akibatnya mungkin akan fatal," ucap Niken memberi saran. Mungkin saja kehadiran seorang bayi dalam keluarga itu sangat dinantikan oleh banyak orang, namun keselamatan seorang ibu juga harus menjadi prioritas. "Tapi keputusan berada ditangan kalian," lanjut Niken. Bagaimanapun, keputusan seperti ini harus dibicarakan berdua. Sebagai seorang dokter mungkin ia akan dengan mudah memutuskan apa yang harus dilakukan, tapi berbeda jika posisinya sebagai seorang ibu.

__ADS_1


"Aku mengerti," jawab Leon. Pikirannya kini seperti benang kusut. Jadi hal ini yang coba Aila sembunyikan darinya?


"Saat ini aku hanya berusaha menghentikan pendarahannya, namun itu akan kembali terjadi. Aku harap kalian memutuskannya dengan cepat, karena itu akan mempermudah proses tindakan selanjutnya." Niken menutup ucapannya.


Ia rasa Leon sudah cukup mengerti, meskipun pria didepannya itu lebih banyak diam tidak seperti diawal. Niken paham, jika Leon mungkin saja syok dan butuh waktu untuk berpikir.


Niken berdiri dan berjalan keluar ruangan. Terdengar Oma mengucapkan terimaksih atas bantuan sahabatnya itu. Namun Leon masih terdiam ditempatnya. Perasaan kecewa sekaligus bercampur rasa bersalah menyatu dalam dirinya. Ia kecewa karena Aila menyembunyikan hal sebesar itu darinya, namun ia juga merasa bersalah, karena semua ini terjadi tidak lain karena dirinya.


Oma masuk kedalam ruang perawatan, tepat saat itu Aila terlihat bergerak. Gadis itu membuka matanya. Oma terlihat ingin mendekat, namun Leon lebih dulu menahannya. "Tinggalkan kami berdua, oma.." pinta Leon. Permintaan Leon lebih mirip sebuah perintah. Namun ia mengerti jika cucunya itu butuh ruang untuk berbicara.


Oma mengalah, wanita tua itu berbalik namun sebelum melangkah ia sempat berucap, "Jangan terlalu kasar padanya," Pesan Oma pada Leon. Ia mengerti jika Leon kcewa, namun sebagai wanita ia juga mengerti posisi Aila.


Setelah Oma meninggalkan ruang perawatan. Leon mendekat kearah ranjang. Pria itu duduk begitu saja tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, namun tatapan matanya jelas menyiratkan sebuah kekecewaan.


"Maafkan aku.."ucap Aila terdengar lemah. Bisa jadi karena keadaan tubuhnya yang masih lemas atau karena sesaknya rasa dalam dada. Yang pasti air mata mengambang dipelupuk matanya.


Leon membenamkan wajah pada kedua telapak tangan dan berakhir dengan mengusapnya kasar. Permintaan maaf Aila selalu menyayat hatinya. Aila selalu bisa menyiksanya dengan kata-kata.


"Kenapa kau lakukan itu? kenapa menyembunyikannya dariku?" Meskipun ingin sekali memeluk tubuh lemah didepannya, karena khawatir. Namun tidak bisa ia pungkiri, jika hatinya juga terluka.


'Maaf..." Lagi-lagi Aila hanya bisa berucap maaf.


"Apa kau ingin bunuh diri dengan membiarkannya tetap hidup?" Leon tidak mengerti dengan sikap Aila yang membahayakan dirinya sendiri.


Aila menggeleng. Jelas bukan itu maksudnya melakukan semua ini.


"Sebegitu inginnya kau pergi dariku, hingga menyakiti dirimu sendiri.." Leon sangat kecewa dan terluka saat ini. Meskipun ia tahu jika Aila melakukan semua itu demi membahagiakan dirinya, namun tidak tahukah, jika ia tidak bisa kehilangan?


Seketika, Aila tergugu mendengar ucapan suaminya. Hatinya hancur mendengar hal itu. Ia memang pernah pergi meninggalkan suaminya, namun semua itu bukan keingginannya. Apapaun yang terjadi ia tidak mungkin meninggalkan Leon, kecuali pria itu sendiri yang memintanya.


Aila meraih lengan suaminya dan memeluknya erat. Ia terisak pilu disana.


"Maafkan aku sudah menyakitimu, maafkan aku.." Aila terus mengiba dan meminta maaf sembari memeluk lengan suaminya.


Leon menarik tangannya kemudian berdiri. "Istirahatlah," setelah mengatakan itu, ia berbalik dan meninggalkan ruang perawatan begitu saja. meninggalkan Aila yang terisak seorang diri disana.


Leon tidak langsung pergi begitu saja, ia menyandarkan diri pada dinding bagian luar ruang perawatan.Tangis istrinya terdengar begitu jelas, namun Ia harus meninggalkan istrinya sekarang, atau ia akan meledak. Ia butuh pelepasan saat ini.


Leon kemudian berjalan menuju kastil depan, dimana arena basket berada. Saat kacau seperti itu, ia memilih untuk bermain basket. Ia akan bermain hingga tenaganya habis.


Melihat Sikap Leon, Ketiga sahabatnya hanya diam. Mereka paham, jika Leon butuh waktu untuk sendiri. Meskipun begitu, mereka tetap ada disampingnya, bagaimanapun Leon membutuhkan teman untuk bicara.


******


Oma sudah bisa menebak apa yang terjadi, saat melihat Leon keluar dari ruang perawatan dengan wajah kusut. Wanita tua itu langsung menuju ruang perawatan. Ia yakin jika Aila sedang bersedih sekarang. Bagaimanapun masalah beruntun yang dihadapinya tidaklah mudah. Ditambah, Aila bukanlah sosok yang terbuka.


Oma memasuki ruang perawatan dan mendapati Aila sedang menangis. Ia mendekat dan memeluk gadis itu. "Sabar sayang, semua akan baik-baik saja," Oma hanya bisa menghiburnya untuk saat ini. Bagaimanapun Aila masih terlalu muda untuk menghadapi semuanya seorang diri.


Aila menangis cukup lama, hingga gadis itu kelelahan dan kembali tertidur. Bagi seorang yang pernah mempunyai luka dan trauma dimasa lalunya, semua itu tidaklah semudah yang dipikirkan. Aila pernah merasakan dibuang oleh kedua orang yang seharusnya menyayanginya dan itu selalu menjadi mimpi buruk yang tidak berkesudahan. Sekarang ia dihadapkan pada pilihan untuk membuang janinnya sendiri demi hidupnya. Ia merasa menjadi ibu yang lebih buruk ketimbang orang tuanya. Kenyataan bahwa janin dalam kandungannya tetap bertahan hidup dan sehat membuat Aila berpikir bahwa janin itu juga ingin dibiarkan tetap hidup.


Oma menemani cucunya itu hingga tertidur. Seberapa banyak waktu dan umur yang sudah ia lalui, tidak menjadikannya mampu menyembuhkan sebuah trauma mendalam pada diri seseorang. Leon dengan lukanya sedang Aila dengan masa lalunya. Mereka hanya perlu saling terbuka dan berbicara dari hati kehati.


Yah, semua orang pernah terluka dimasa lalu, tidak terkecuali dirinya.


Di dunia ini, tidak semua orang berpikir, jika masa lalu hanya sebuah kenangan usang. Masa lalu adalah sebuah memori yang terus hidup didalam jiwa. Ia membentuk pola pikir dan kepribadian kita. Pernah membekas begitu dalam pada hati. Dan Karena masa lalu_lah diri kita menjadi ada.


Seburuk apapun itu, ia tetap pernah menjadi bagian dalam hidup.


Setelah Aila terlelap, Oma keluar dari ruang perawatan. Wanita tua itu menghirup udara segar dibawah pohon pinus. Ia duduk dibangku taman ditemani Maria. Mereka duduk dalam diam. Jika Maria diam karena tidak tahu harus berbuat apa, namun tidak dengan Oma. Wanita tua itu merasa sudah terlalu lama menjalani hidupnya, namun ia merasa belum pernah melalukan hal yang besar untuk cucunya. Leon, meskipun terlihat keras kepala dan arogan, namun ia lebih rapuh dari yang terlihat.


Oma ingin melakukan hal yang bisa membuat kastil besar ini kembali ceria, namun apa? Ia berpikir untuk memberi sebuah kejutan yang bisa membuat kedua cucunya kembali bahagia. Setelahnya jika mungkin ia harus menghadap Tuhan, ia sudah merasa lega.


*****


Sementara itu, Alex yang baru tiga hari menjalani bulan madunya, terpaksa harus pulang karena mendengar kabar jika Aila harus kembali dirawat. Meskipun Leon tidak mengabarinya dan memintanya pulang, namun ia tetap khawatir. Bagaimanapun Aila adalah pasiennya.

__ADS_1


Alex tiba di kastil saat hari sudah mulai senja. Pria itu langsung bergegas menuju ruang perawatan, namun di taman depan ia melihat Leon sedang duduk sendirian. Sesaat ia merasa bingung, harus menemui Aila terlebih dulu atau menghampiri sahabatnya itu. Bagaimanapun, Leon pasti merasa kacau untuk saat ini. Sejujurnya ia juga merasa bersalah karena menuruti keinginan Aila dan menyembunyikan kenyataan yang ada, tapi ia bisa apa?


"Apa yang terjadi?"


Leon menoleh dan terkejut melihat Alex sudah berada disampingnya.


"Kenapa pulang? bukankah kalian sedang bulan madu?" Setahu Leon, Alex sedang berbulan madu ke Bangkok bersama Miranda. Yah, meskipun ia yakin kepulangan Alex tentu saja karena mendengar kabar istrinya.


"Well, aku tidak tenang. Bagaimana bisa terjadi? apa kau tidak menjaganya?"


Leon langsung menatap tajam pada Alex, "Masih berani kau bilang seperti itu? kau pikir apa yang sudah kau lakukan?" ucap Leon kesal.


Alex meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa terjebak dalam lubang yang digalinya sendiri.


"Itu...tidak mudah menolak permintaan istrimu, kau tahu itu.." Alex berusaha membela diri. Meskipun kenyataannya memang benar. Rengekan Aila yang mengiba membuat siapun bisa gila. Jika seseorang membutuhkan peluru untuk membunuh, tapi gadis mungil itu hanya butuh kata-kata mengiba.


"Tetap saja kau seorang dokter yang payah," Leon tetap merasa kesal, meski sejak awal ia tahu jika Alex melakukan itu karena permintaan istrinya.


Lagi-lagi Alex hanya bisa meringis pasrah mendengar umpatan dari Leon. Bagaimanapun ia mengerti perasaan sahabatnya itu.


"Bicarakan pelan-pelan padanya. Dia akan mengerti jika kau sendiri yang meminta. Aku rasa semua yang dia lakukan hanya untuk dirimu," ucap Alex memberi saran. Alex pikir, keduanya hanya kurang membuka diri antara satu dengan yang lain. Yah, mereka saling memberi, tapi tidak saling menerima.


Leon tidak menjawab. Meskipun ia membenarkan perkataan Alex. Ia memang bukan tipe pria yang lembut dan pandai berkata-kata, karena itulah ia lebih memilih tindakan sebagai pembuktian.


Alex bangkit dari duduknya, "Aku akan pergi untuk melihat istrimu,"


Leon diam tidak menjawab ucapan Alex. Sebenarnya, ia merasa buruk karena sudah meninggalkannya begitu saja tadi pagi, tapi entahlah, ia juga butuh waktu untuk sendiri.


Setelah pamit, Alex kemudian pergi meninggalkan Leon seorang diri.


Ia menuju ruang perawatan dimana Aila berada.


Setelah mengetuk pintu, Alex masuk kedalam. Ia melihat Aila terbaring seorang diri. Gadis itu tersenyum saat melihatnya.


"Kakak pasti pulang karena aku?" Aila bisa menebak jika kepulangan Alex karena dirinya. Ia mulai menyadari jika keputusannya, hanya menyusahkan banyak orang.


"Well, kau selalu menyusahkan," Alex berkata dengan nada bercanda. Namun Aila merasa perkataan Alex memang benar. "Maaf.." Aila meminta maaf, karena merasa bersalah.


"Sudahlah, bagaimana keadaanmu?" Alex mengalihkan pembicaraan.


Aila menggeleng, "Aku merasa sakit," jawab Aila jujur.


Alex tertawa kecil, "Aku kira kau kebal sakit?" cibir Alex.


Aila tersenyum getir menanggapi cibiran Alex. Kenyataannya, Alex benar ia tidak terlalu kuat untuk melalui semuanya sendiri.


Alex memeriksa beberapa bagian tubuh Aila. Pria itu terlihat berpikir sesaat sebelum berbalik menuju nakas dan melihat cacatan yang ditinggalkan Niken dan obat yang diberikan. Alex mengamati obat tersebut, kemudian kembali menatap Aila. "Kau sudah meminumnya malam ini?" tanya Alex.


Aila mengangguk, "Ya," jawab Aila.


"Ok, istirahatlah, jika perlu sesuatu kau bisa memanggilku," pesan Alex pada Aila.


Aila kembali mengangguk dan meminta maaf sebelum Alex benar-benar keluar dari ruangannya. Bagaimanapun ia sudah mengganggu bulan madu pria itu.


Alex hanya tersenyum dan mengatakan tidak masalah, karena itu memang tugasnya. Meskipun begitu, Aila merasa sangat bersalah. Pada akhirnya ia hanya menyusahkan banyak orang.


Setelah Alex pergi, Aila mematikan lampu dan memandang keluar jendela. Langit malam ini bertabur bintang. Hujan deras yang menguyur kastil seharian, sepertinya ikut membawa pergi kabut mendung. Membuat langit terlihat cerah. Namun sayang, ia harus menikmatinya seorang diri.


Aila kembali meringkuk, memeluk dinginya malam. Ia sangat ingin melihat suaminya sekarang. Namun ia sadar telah membuat Leon kecewa.


Aila mengusap perutnya sembari memejamkan mata, "Apa yang harus ibu lakukan padamu?" Aila berbicara sendiri dengan perasaan perih yang tak terkira. Ibu macam apa yang tega membunuh darah dagingnya sendiri?


Andai saja Leon mengerti...


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2