Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 25


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 25


** Kesal**


Sudah setengah jam, Aila berada di samping Leon tanpa melakukan apapun. Pria itu terlihat sibuk dengan deretan angka-angka pada layar laptopnya. Entah apa yang sedang dihitungnya, hingga membuat matanya begitu fokus menatap layar.


Aila merubah posisi duduknya, gadis itu terlihat sedang menyandarkan punggungnya pada sofa dibelakang. Duduk diam selama setengah jam tanpa melakukan apapun membuatnya bosan.


Sebenarnya perut Aila sudah merasa lapar, makanan yang ia masak pun pasti sudah mulai dingin, tapi mau bagaimana lagi? Aila merasa takut jika harus mengingatkan Leon tentang itu. Apa lagi pria itu terlihat begitu serius menatap laptopnya, Aila jadi mengurungkan niatnya untuk bicara.


Diam - diam, Aila menatap kearah Leon. Sungguh, sebuah pahatan Tuhan yang begitu sempurna. Hidungnya yang tinggi menjulang semakin terlihat jika dilihat dari samping, alisnya yang tebal, bibirnya yang seksi dengan garis rahang yang tegas, membuat siapapun yang menatapnya akan terpesona.


Aila segera mengalihkan pandangannya, sebelum isi otaknya mulai tidak waras. Bagaimanapun Aila juga seorang wanita normal, melihat keindahan terpampang didepan mata, mana bisa ia menolaknya.


Leon tiba tiba berdiri dari duduknya, pria itu terlihat berjalan kearah meja kerjanya. Tanganya terlihat sibuk mencari sesuatu diantara tumpukan file yang menggunung.


Karena penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan Leon, Aila segera bergeser ketempat dimana Leon duduk. Pria itu ternyata sedang mengerjakan laporan keuangan. Banyaknya deretan angka malah membuat kepala Aila pusing, pantas saja Leon begitu fokus mengerjakannya.


"Hem!"


Tetiba saja, Leon sudah berada di belakang Aila. Dengan satu tangan meraih mouse, dan tangan yang lain berpegang pada meja membuat Aila terkunci di antara tubuh Leon dan meja didepannya.


Aila menjadi kikuk karenanya. Gadis itu ingin melepaskan diri, tapi tangan Leon menghalanginya.


"Diam!"


Aila langsung diam, meringkuk. Tubuhnya kecil, sehingga tidak menghalangi pandangan Leon pada layar.


Aila menarik napas, kala aroma tubuh Leon menyeruak kedalam indra penciumannya. Aroma maskulin dari tubuh Leon, selalu membuat Aila tersihir. Sekuat tenaga Aila menetralkan perasaannya, menahan debaran jantungnya yang kian menggila, ketika Leon menyandarkan dagu di pundakknya.


Berbeda dengan Aila yang mulai resah karena posisi mereka, Leon terlihat santai sembari melanjutkan pekerjaanya. Memasukkan angka angka pada layar laptop.


"Shampo apa yang kau pakai?" tanya Leon, tiba-tiba.


Aila tergagap, apa yang harus ia katakan? jika shampo yang dipakainya adalah milik Leon yang Aila pakai secara diam diam.


"Milik kakak." ucap Aila takut takut.


Gadis itu terlihat menggigit bibir bawahnya karena cemas, mungkin saja Leon akan marah.


Leon mengangkat dagunya dari pundak Aila, kemudian pria itu mendekatkan hidungnya pada rambut Aila. Membaui rambutnya.


"Shampo ku?"


Aila mengangguk, cemas.


Dengan santai, Leon menyandarkan dagunya lagi pada pundak Aila. Pria itu merasa heran, kenapa selama ini ia tidak sadar jika shamponya begitu harum.


Aila menghela napas lega, karena Leon tidak memarahinya.


Tidak ada yang bisa Aila lakukan, selain ikut menatap kearah layar. Dagu Leon yang berada di pundaknya, membuat Aila sulit untuk bergerak.


Sesekali Leon mengetuk-etukkan jarinya pada meja, terlihat seperti sedang berpikir.


"Kenapa di antara sisi debet dan kredit berbeda?" Celetuk Aila.


Leon memicingkan matanya,"Kau mengerti?" tanya Leon.


"Hanya sedikit." jawab Aila sungkat.


"Bagaimana seharusnya?"


"Harus mencari selisihnya,"


"Carilah!"


kemudian Aila meraih kertas dan pena di samping laptop dan mulai menghitung dengan manual. Padahal disampingnya ada Hp yang bisa ia gunakan untuk menghitung.


Leon menarik salah satu ujung bibirnya, membiarkan gadis polosnya menghitung secara manual.


"Sudah."


"Berapa?"


"53 Milyar?"


Leon mencium kepala Aila singkat,"Pintar!"


Aila tersenyum, malu malu.


"Uang siapa yang hilang begitu banyak?" gumam Aila lirih, namun Leon masih bisa dengan jelas mendengar.


"Tidak hilang sayang, tapi dicuri."


"Ha?" Aila tidak mengerti maksud Leon.


"Uangku, yang mereka curi."


Aila kaget mendengar ucapan Leon, hingga menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.


Sedang Leon malang terkekeh melihat tingkah Aila.


Ah, Leon pasti sudah gila. Ia kehilangan uang begitu banyak, tapi masih bisa tertawa?


"Itu hanya semenit, dari hidupku sayang. Jadi jangan khawatir, ok?" ucap Leon santai.


Ya, uang yang dikorupsi dari perusahaan Leon memang hanya bernilasi semenit dari hidupnya, tapi siapapun yang berani mencuri darinya harus dihukum.


Aila diam, tidak tau apa yang harus dikatakan. Aila bahkan belum pernah melihat uang sebanyak itu, tapi Leon malah terlihat santai kehilangan uang segitu banyaknya.


Leon menyingkap rambut Aila kebelakang dan Leon kembali meletakkan dagunya pada pundak Aila. Embusan nafas hangat Leon, terasa menyapu leher Aila, membuat surai gadis itu meremang.


Aila mulai terlihat resah.


"Kau ingin kuliah?"


Aila menggeleng.


"Kenapa? otakmu sedikit pintar. Kau bisa kuliah jika kau mau,"


Leon gengsi jika harus mengakui bahwa Aila memang pintar.


"Aku boleh kuliah?"


"Tidak!"


Aila diam, ia tau jika tawaran Leon hanya basa basi.


"Aku, akan tetap dirumah."


Leon mengulum senyum, "Bagus! aku tidak suka, jika wanitaku keluyuran."


Cuup!


Satu kecupan mendarat di leher Aila.


Aila kaget, dengan tindakan Leon. Gadis itu terlihat mengeliat ingin melepaskan diri, tapi tangan kekar Leon berhasil menahannya.


Merasa sia-sia, Aila kembali diam.


"Dengar! kau hanya perlu disampingku dan membantuku menghabiakan uang, kau mengerti?"


Aila mengangguk pelan.


Leon kembali mengulum senyum, entah kenapa membuat gadisnya salah tingkah merupakan candu baginya.


Leon melingkarkan satu tanganya pada perut Aila, dengan tangan yang lain menyingkirkan rambut yang menutupi leher Ailavke belakang.


Aila memejamkan matanya, ia tau apa yang akan Leon lakukan.


Jangan lagi!


Benar saja, Leon menempelkan bibirnya pada leher mulus milik Aila dan mulai menyusuri setiap lekuknya, dan sesekali mengecupnya.


Jantung Aila mulai berdebar tidak karuan, tubuhnya bergetar karena sensasi aneh yang ia rasakan. Aila menggigit bibir bawahnya kuat kuat, agar tidak mengeluarkan suara.

__ADS_1


Namun, ketika bibir Leon mulai menyusuri dadanya, Aila mulai merasa tidak nyaman. Aila segera berbalik dan menahan dada Leon. Tapi sepertinya pria itu sedang tidak ingin dihentikan, disingkirkanya tangan Aila dari dadanya. Mereka saling bertatapan untuk sesaat, Aila bisa melihat kilatan mata Leon yang penuh hasrat, bahkan detak jantung pria itu terdengar begitu kuat.


Leon menarik tengkuk Aila, ditatapnya bibir mungil gadisnya yang begitu menggoda.


Cuup!


Leon mendaratkan satu kecupan disana.


persetan dengan gengsi, ia sudah tidak bisa menahannya.


Candu. Itu yang leon rasakan.


Ingin terus mengecupnya, tapi Aila menghentikannya. Gadis itu menempelkan jarinya pada bibir Leon.


"Jangan!" ucap Aila lirih, sembari menunduk.


"Kenapa?" suara Leon terdengar serak dan berat.


"Oma bilang, tidak boleh melakukan itu."


"Apa? aku hanya mengajarimu cara berciuman, kau pasti belum berpengalaman." ucap Leon memberi alasan.


Aila diam, menunduk.


"Aku hanya tidak mau kau menggigit bibirku, ketika kita melakukannya nanti." Ucap Leon melanjutkan.


Aila masih diam, kenyataanya yang Leon ucapkan memang benar. Ia belum pernah berciuman, tapi ia tidak mau melanggar janjinya pada Oma.


"Em...aku lapar, bolehkah jika makan?" Ucap Aila mengalihkan pembicaraan.


"Hem! tentu, makanlah dulu. Aku mau mandi." Ucap Leon setuju, ia tidak mau terlihat begitu ingin mencium Aila.


Aila segera berdiri dan buru buru meninggalkan ruang kerja Leon.


Sepeninggal Aila, Leon hanya bisa mengerang kesal. Mengepalkan tanganya meninju udara di depanya.


Kenapa ia selalu kehilangan harga diri jika sedang bersama dengan Aila?


"Lihat aja! Setelah menikah besok, apa kau masih bisa menolak?" Seringai Leon.


************


Leon berjalan kearah kamar mandi dengan malas, lagi lagi ia tidak mendapat apa yang diinginkan. Aila kembali menolaknya.


Leon masuk ke dalam bathub dan mulai berendam. Badannya sangat capek, seharian ini ia bahkan belum sempat istirahat.


Urusan perusahaan begitu menguras isi kepalanya.


Leon mulai memejamkan matanya, berendam dengan air hangat membuat pikirannya sedikit rileks.


Hampir satu jam pria itu berendam. Setelah dirasa cukup, Leon segera bangkit untuk membilas tubuhnya dengan shower. Pria itu kemudian keluar dari kamar mandi menuju walk in closet. Mengambil salah satu celana pendek disana dan memakainya. Ketika sedang memilih baju, entah kenapa pria itu tiba tiba berhenti, kemudian meraih ponselnya.


Mencari kontak Aila dan memanggilnya.


Tuuut! tuuuut!


[ Hallo? ]


[ Cepat kemari! carikan aku pakaian! ]


Leon buru buru memutus panggilanya, sebelum Aila sempat menjawab ucapanya.


"Akan ku buat kau terus melihat tubuhku." gumam Leon sembari menyeringai.


Tidak berapa lama, Aila sudah berada di walk in closet. Matanya melihat Leon sedang bersandar pada sebuah rak baju di sana dengan bertelanjang dada.


"Kemari!"


Aila menurut, gadis itu melangkah kearah Leon.


Tuhan, apalagi sekarang?


"Ambilkan aku baju!" Perintah Leon.


Aila menghela napas, jelas jelas letak baju ada di sebelahnya, kenapa harus minta ia yang mengambilnya?


"Yang ini?" Aila menunjuk salah satu kaus yang ada di depannya.


Leon menggeleng, " Yang Lain,"


Tangan Aila bergeser kekanan.


"Yang ini?" Aila menunjuk kearah sweater.


Lagi lagi Leon menggeleng.


"Yang ini?"


" Bawa ketiganya kemari!"


"Yang mana?"


" Semua yang kau tunjukkan, sayang!"


Aila menurut, mengambil ketiganya dan membawanya pada Leon.


"Ini" Aila memberikan salah satu baju pada Leon.


Leon menggeleng, dan meletakkannya begitu saja di lantai.


"Ini?" Aila memberikan lagi, salah satu dari dua baju di tangannya.


Lagi lagi Leon menggeleng, dan meletakkanya di lantai.


"Yang itu!" tunjuk Leon kearah baju yang sedang di pegang Aila.


Aila memberikannya.


"Pakaikan!" perintah Leon.


Pria itu kemudian mengangkat tubuh Aila dan mendudukkannya pada salah satu rak kosong di depannya.


Aila memakaikan kaus putih polos pada Leon. Pria itu tersenyum senang, kemudian melangkah kearah koleksi jam tangan miliknya.


Aila menarik napas pelan,


Acara memakai baju saja, harus begitu merepotkan.


Gadis itu kemudian meloncat, turun dari rak. Dengan sabar Aila memunguti handuk dan baju baju yang berserakan dilantai, kemudian mengembalikannya ketempat semula.


Setelah memilih jam yang menurutnya sesuai, Leon menoleh kearah Aila.


"Aku lapar, suapi aku!" perintah Leon sembari melangkah keluar.


Lagi lagi Aila hanya bisa menarik napas.


Sepertinya, bayi besarnya itu mulai bertingkah lagi.


Ya, Aila paham jika Leon sedang kesal karena dirinya telah menolaknya tadi.


Cepat cepat Aila menyusul Leon kearah dapur.


Pria itu terlihat sedang duduk dengan santai di atas kursi makan sembari memainkan gawainya.


Aila kemudian mengambilkan nasi dan lauk untuk Leon.


"Ini," Aila menyodorkan piring ditangannya kearah Leon.


Tapi Leon, tidak menerimanya. Pria itu terlihat masih sibuk dengan gawainya.


Aila menarik piringnya kembali.


"Kau sudah makan?" tanya Leon, tanpa mengalihkan perhatian pada gawainya.


"Ya" Jawab Aila singkat.


"Kalau begitu, suapi aku!" perintah Leon.

__ADS_1


Aila menurut, gadis itu meraih kursi disampingnya mendekat pada Leon. Dengan sabar ia mulai menyuapi Leon. Leon membuka mulutnya, menerima suapan Aila.


Pria itu makan dengan diam, sembari memainkan gawainya.


Satu demi satu suapan telah masuk kemulut Leon, hingga tidak tersisa sebutir pun nasi di piring.


Aila segera berdiri menaruh piring kotor kedalam wastafel, kemudian mencucinya. Setelah selesai, gadis itu kemudian mengambil segelas air untuk Leon.


Leon mengambilnya kemudian meminumnya hingga tandas. Melihat Leon sudah kenyang Aila memberanikan diri untuk bicara.


"Kak..."


Leon menoleh dan menatap tajam kearah Aila.


"Sayang," Aila mengoreksi ucapannya.


"Hem!"


" Ini sudah malam,"


"Lalu?"


"Aku harus pulang, besok harus sekolah."


"Kau sudah selesai ujian?"


" Ya"


"Berarti, kamu gak perlu ke sekolah lagi."


"Tapi..."


"Davin akan mengurus sekolahmu, sayang."


"Hah?"


"Satu lagi. Mulai sekarang ini adalah rumahmu, jadi tidak perlu kembali ke kos."


"Maksudnya?"


"Maksudnya, jangan pernah meninggalkan apartemen tanpa seijinku dan jika keluar harus ada pengawal yang menemanimu." ucap Leon tajam.


"Hah?"


"Besok kau akan tau,"


"Tapi,"


"Jangan membantah! kita bicarakan lagi nanti!"


"Aku..."


Drrrrrt! Drrrrrrrt!


Gawai Leon bergetar, karena ada panggilan masuk.


Leon segera mengangkat satu tangannya, memberi kode kepada Aila untuk diam. pria itu kemudian mengangkat teleponya dan melangkah menjauh dari Aila.


Aila diam. Gadis itu mencoba mencerna ucapan Leon, namun sekeras apapun Aila berpikir ia tetap tidak mengerti maksud ucapan Leon.


Apa tadi? pengawal? apa Leon sedang latihan bermain drama? ucapannya terdengar ngawur.


Leon terlihat kembali kemudian duduk di kursinya.


"Aku akan keluar sebentar dengan Davin, kau tetap di sini!"


"Kakak pulang malam?"


"Mungkin,"


Aila diam.


"Gak mau ditinggalin?"


"Boleh ikut?"


Leon terkekeh," Tidak, sayang."


Aila diam, raut kecewa terlihat di wajahnya.


"Marah?"


Aila menggeleng.


"Besok, ku ajak kesuatu tempat."


"Kemana?"


"Rahasia"


"Kerumah Oma?"


"Kau ingin kesana?"


Aila mengangguk.


"Kangen sama Oma?"


Aila mengangguk.


"Tapi, aku tidak sayang."


"Kenapa?"


"Oma cerewet."


Aila mengulum senyum.


Entah kenapa Aila menganggap Oma seperti neneknya sendiri.


"Mobil anda siap tuan," Ucap Davin tiba tiba sudah berada di pintu dapur.


Leon mengangguk. Pria itu kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya keluar.


Entah kenapa, Aila mengikuti Leon dari belakang. Gadis itu bermaksud mengantar Leon sampai depan pintu.


"Tidak perlu diantar sayang," ucap Leon tiba tiba berbalik.


Aila tergagap, ia bahkan tidak sadar kalau sedang mengikuti Leon.


"Ya" ucap Aila gugup karena malu.


Leon terkekeh melihat sikap gadisnya, pria itu kemudian berbalik dan berjalan kearah Aila.


"Jangan nakal dan tetap dirumah, oke?"


Aila mengangguk dengan kikuk.


Kemudian Leon meraih kepala Aila, dan mencium kening gadis itu.


Aila tersenyum, malu malu.


Diam-diam, Davin menatap kearah mereka. Lelaki itu terlihat tersenyum walaupun samar.Jika suasana hati tuanya senang, maka pekerjaanya pun akan mudah.


Bersambung....


Kamu!


Ya kamu, baper?


Kasihan! makanya jomlo jangan di pelihara. Ha ha ha


Maaaak, maaf ya! part selanjutnya mungkin akan lama tayangnya.


Gak tau sampai kapan. Maap ya?


Soalnya aku mau edit semua dari mulai part satu, supaya kalo dibaca gak bikin pusing kepala. Ha ha ha:-) :-) :-)

__ADS_1


__ADS_2