Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 94


__ADS_3

Cinta 49 Cm


Part 94


**Menanti**


Miranda menatap gadis yang terbaring lemah didepannya denga iba. Wajah mungil itu nampak sangat tenang saat tertidur.


Sudah hampir dua jam Aila tidak sadarkan diri. Mungkin karena terlalu stres dan kelelahan, gadis itu pingsan saat ia tiba di ruang perawatan. Tapi, mungkin itu lebih baik, karena Aila tidak harus melihat janinnya yang masih berupa gumpalan itu harus menyerah dan kalah.


"Gadis yang malang," gumam Miranda.


Sedikit banyak ia telah mendengar kisah hidup Aila dari Alex dan Oma. Kisah hidup yang menurutnya penuh kerikil tajam dan juga bebatuan. Sebuah kisah yang tidak seorang pun mau melaluinya. Namun apa mau dikata? nasib tidak pernah mau bertanya apakah kita mau melaluinya atau tidak.


Berbeda dengan kisah hidupnya yang mulus, semulus jalan tol. Hampir semua yang diinginkan, selalu terpenuhi sejak kecil. Hidupnya penuh limpahan tawa dan kebahagiaan. Tidak berlebihan, jika ia mengtakan hidupnya memang sempurna.


Tapi bukan berarti ia kasihan dengan Aila. Tidak sama sekali. Aila terlalu kuat untuk dikasihani. Menurutnya, karena perjalanan hidupnya yang sulit itulah, Aila bisa memahami Leon lebih baik dari wanita manapun. Terbiasa hidup ditengah kesusahan, mengajarkan Aila tentang empati, kebesaran hati dan kepekaan yang tingi. Dan sikap itulah, yang Leon cari sebagai penyeimbang atas skapnya yang keras dan kasar.


Mungkin saja benar, perkataan Oma. Aila tercipta sebagai tuas pengaman untuk Leon. Seperti sebuah alat yang bisa mengendalikan sebuah tegangan yang tidak tentu ukuran dan kekuatannya. Ya, mungkin seperti itulah arti dari keberadaan Aila untuk sang boss.


Jika mengatakan Aila adalah gadis yang sangat beruntung karena bisa mendapatkan Leon, Miranda kira itu tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, Leonlah yang beruntung karena mendapatkan Aila. Seorang gadis peyayang dengan hati yang hangat. Selain itu, Aila juga penyabar dan selalu mengalah. Jika dilihat sekilas, Aila hanyalah gadis yang sederhana. Namun siapa sangka, jika gadis itu mampu merebut semua cinta karena kemuliaan hatinya?


Mungkin pepatah itu benar, sebuah emas meskipun penuh lumpur tetaplah bernama emas.


Saat sedang larut dengan lamunannya, Alex masuk bersama dengan Lucas. Ada bercak darah pada beberapa bagian kemeja yang dikenakan Lucas. Namun pria itu nampak sehat dan tidak terluka. Miranda menduga, darah itu memang bukan berasal dari tubuhnya.


Ya, kerusuhan yang baru saja terjadi, memang sangat menguras tenaganya dan pikiran Lucas. Tapi, mereka bisa mengalahkannya dengan mudah.


Yang membuat mereka sedikit kesulitsn adalah, didalam kastil terdapat banyak orang yang tidak bersalah. Para kariyawan dan pelayan kastil. Sehingga, mau tidak mau mereka harus lebih berhati-hati agar tidak ada nyawa yang tidak bersalah melayang.


Untung saja, Leon cepat memberi tahunya untuk putar balik, jika tidak, mungkin saja, kastil sudah menjadi tempat pembantaian sekarang.


"Bagaimana keadaanya?" tanya Lucas pada Miranda.


Miranda bangkit dari kursinya dan berdiri disamping Alex. "Dia akan membaik setelah beberapa hari," jawab Miranda.


Selama ini yang membuat masalah pada kesehatan Aila memang hanya janinnya. Setelah, janin itu tidak ada, semua akan segera membaik. Termasuk dengan kandungannya.


Lucas mengangguk paham. Matanya terlihat fokus menatap Aila yang masih terlelap.


"Bagaimana keadaan Erik?" tanya Miranda pada Alex.


Alex yang semula mengamati Aila, kini menoleh kearah istrinya. "Dia baik," jawabnya singkat.


Ketiga orang tersebut kemudian saling diam. Meskipun tidak mengatakan apapun, namun terlihat jelas jika kepala mereka saat ini dipenuhi oleh sebuah kekhawatiran. Khawatir tentang apa yang akan mereka katakan jika Aila terbangaun dan menanyakan suaminya nanti.


Lucas memutar tubuh dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang terletak didepan ranjang Aila. Pria itu mengusap kasar wajahnya menghalau pikirannya yang kusut.


"Bocah itu, kenapa melakukannya seorang diri?" Lucas tidak habis pikir dengan jalan pikiran Leon.


Alex menghela napas, kemudian duduk di depan Lucas. Pria iu hanya Diam. Pertanyaan Lucas, sama persis dengan apa yang ada di pikirannya.


Tiba-tiba saja, pintu ruang perawatan diketuk dari luar. Lucas menoleh kemudian mempersilahkan masuk.


Seorang anak buahnya masuk dan mendekat. Pria itu terlihat membisikkan sesuatu di telinga Lucas. setelahnya, Lucas berdiri dan berjalan keluar diikuti anak buahnya dan Alex. Sedang Miranda tetap ditempatnya. Meskipun tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, Miranda paham, jika mereka tengah membahas sesuatu yang penting. Sehingga ia memilih untuk tetap didalam.


Tidak berapa lama, Alex masuk dan duduk kembali di sofa. Melihat raut wajah pria itu, sepertinya mereka baru saja mendapat kabar yang tidak bagus. Menyadari hal itu, Miranda merasa penasaran untuk mencari tahu dan bertanya pada suaminya.


"Apa sudah ada kabar dari Leon?" tanya Miranda.


Alex mendesah kemudian menggeleng. "Orang-orang Lucas bilang jika Steven mati, tapi mereka tidak mengetahui apapun tentang Leon sampai saat ini," jawab Alex sembari membuang napasnya, resah.


"Apa mungkin ia tertangkap?" tanya Miranda menebak kemungkinan yang terjadi.


"Entahlah,.." Alex sendiri tidak bisa memastikan hal itu untuk kali ini. Pasalnya apa yang dilakukan oleh Leon sangatlah beresiko. Bagaimanapun, Leon masuk kedalam kandang lawan seorang diri.


"Aku berharap dirinya selamat," Alex membenamkan wajah pada kedua telapak tangannya. Meskipun terkadang menyebalkan, Leon tetap sosok sahabat sekaligus saudara yang baik dan loyal. Yang terpenting dari semua itu, Leon sangat berjasa dalam hidupnya.


Miranda mengusap pundak suaminya, menenangkan pria itu. Ia tahu, jika Leon sangat berarti untuk Alex.

__ADS_1


"Tenanglah, dia pasti baik-baik saja," ucap Miranda.


"Semoga," sahut Alex. Meskipun sejujurnya ia sendiri tidak yakin, tentang hal itu.


Keduanya kembali terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga Alex terlihat sangat terkejut pada raut wajahnya. Pria itu terlihat melihat kearah Aila dan mendapati ternyata gadis itu sudah terbangun. Alex langsung berdiri mendekat kearah ranjang Aila diikuti Miranda. Wanita itu juga nampak terkejut. Dalam hati, mereka hanya berharap, semoga Aila tidak mendengar percakapan mereka.


"Kau sudah bangun sayang?" tanya Alex pada Aila.


Gadis itu terlihat tersenyum dan mengangguk pelan.


Melihat reaksi Aila, Alex dan Miranda saling tatap sesaat. Mereka merasa lega, setidaknya Aila tidak mendengar percakapan mereka.


"Apa yang kau rasakan, sekarang?" tanya Miranda.


Aila menggeleng, "Tidak ada, aku merasa lebih baik sekarang," Jawab Aila. Ya, fisiknya memang terasa lebih baik, tapi didalam hatinya siapa yang tahu?


Alek manggut-manggut paham, "Bagus jika begitu,"


Miranda mengambil stetoskop dan memeriksa perut Aila. Wanita itu terlihat diam dan berpikir, sebelum akhirnya tersenyum. "Semuanya baik ku rasa," ucap Miranda. "Tapi kau harus banyak istirahtat sayang, agar cepat pulih," lanjutnya.


Aila mengangguk paham, "Terimakasih kak,"


Miranda tersenyum, "Sekarang istirahatlah," ucap Miranda.


"Jika ada yang kau butuhkan, kau bisa memanggil kami, ok?" pesan Alex, sebelum dirinya dan Miranda berjalan keluar ruangan.


**


Aila menatap mendung yang berarrak di langit dari dalam jendela ruang perawatan. Hari-hari masih saja hujan, padahal seharusnya sudah masuk musim kemarau. Kenapa musim dan cuaca akhir-akhir ini sulit sekali untuk diprediksi?


Benar! sulit diprediksi, sama seperti jalan hidupnya. Perjalanan yang entah akan membawanya kemana. Baginya, dimanapun tempat pemberhentian terakhir, tidak akan masalah selama ada Leon disisinya. Namun, sekarang pria tersebut tidak ada dan entah dimana rimbanya.


Ya, jujur saja, Aila mendengar percakapan Alex dan Miranda tadi. Bahkan jauh sebelum itu, Percakapan Alex dengan Lucas pun, Aila mendengarnya. Ia sudah terbangun sejak dari tadi. Hanya saja ia memilih diam.


Bukannya tidak tahu, sekarang ini, semua orang tentu saja sedang mencari suaminya. Tentang khawatir, mungkin semua orang juga mersakannya. Tidak terkecuali dengan Oma, wanita itu jelas lebih terpukul. Bagaimanapun, ia yang membesarkan Leon sejak pria itu masih kecil.


Jika Oma saja masih berusaha terlihat tenang, bukankah berlebihan jika dirinya histeris berlebihan?


"Jika ada teman kenapa memilih sendiri untuk bersusah hati?" Sebuah suara menganggetkan Aila. Gadis itu segera menghapus air matanya dengan punggung tangan. Tanpa menoleh pun ia hapal siapa pemilik suara itu. Dialah Serkan.


"Merasa lebih baik?" tanya Serkan setelah lelaki itu mendekat.


Aila mengangguk, "Ya," jawabnya singkat.


Serkan berdiri diambang jendela disamping ranjang Aila, Matanya melihat keluar jendela cukup lama, pria itu menatap entah apa.


"Apa dia baik-baik saja?" pertanyaan Aila membuat Serkan meoleh. Ia lalu berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada bingkai jendela. "Aku tidak bisa mengatakan sebuah kepastian padamu, tapi kita masih terus mencarinya." Serkan menjawab pertanyaan Aila dengan jujur. Ia tidak ingin menutupi apapun pada gadis itu. Kenyataannya, mereka memang masih belum mengetahui bagaimana dan dimana Leon sekarang berada.


Sahabatnya itu meninggalkan ponselnya didalam apartemen, sedang salah satu mobilnya ditemukan tidak jauh dari mansion milik Steven.


Air mata Aila kembali merebak. Serkan memang selalu berbicara apa adanya. Dan itu berarti, posisi suaminya memang belum diketahui sedang berada dimana.


"Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi, pagi tadi.." isak Aila menyesal. Andai waktu bisa kembali, maka ia akan berusaha menahan suaminya apapun yang terjadi. Ia tidak akan membiarkannya pergi kemanapun saat itu.


Serkan diam. Pria itu kembali memutar tubuh dan menatap keluar jendela, memberi ruang pada Aila untuk menenangkan dirinya.


Meskipun dihatinya kini telah ada Lisa, namun melihat Aila menangis tetap saja membuatnya tidak tega.


Sejujurnya bukan hanya Aila yang merasa menyesal, dirinya pun sama. Ia menyesal kenapa saat itu, ia tidak ikut kekantor bersama dengan Leon. Kejadian hari ini memang diluar prediksi mereka. Lusa mereka baru saja menyusun rencana untuk mendatangi Steven. Rencana itu memang akan dilaksanakan setelah Aila melakukan perawatan. Dan hari itu adalah besok. Tidak disangka, Steven lebih dulu menyerang lebih awal dari keputusan.


"Kau tau? suamimu itu sangat hebat dalam menjalankan setiap misi, dulu.." Serkan mulai bercerita tentang masa lalu mereka saat bergabung dengan black stone. Pria itu menceritakan jika Leon sudah mencuri perhatian para ketua divisi sejak pertama bergabung. Leon adalah pria yang tidak banyak bicara, namun kecepatannya dalam belajar, memukai banyak orang.


Leon bisa menguasai taktik menebak dan berlatih ilmu ketangkasan dengan cepat. Kecerdasannya membuat iri banyak teman seangkatan mereka, namun pria itu terlalu cuek untuk mengurusi hal diluar misi. Wajahnya yang tampan membuat banyak agen wanita tertarik padanya, namun lagi- lagi, Leon bersikap dingin pada mereka.


Berbeda dengan para pemula yang lain ketika menjalankan misi pertamanya. Leon tidak melakukan sedikitpun kesalahan dan mencapai nilai sempurna untuk misi pertamanya. Serkan sendiri pernah merasa iri padanya. Leon seperti tidak punya celah dan kelemahan.


"Tapi apa kau tahu? sejak mengenal dirimu, dia menunjukkan banyak sekali kebodohannya," Serkan berkata sembari membuang senyumnya.


Perkataan Serkan membuat Aila tersenyum meskipun air matanya masih merebak.

__ADS_1


Aila setuju, bukan hanya Serkan yang berpikir jika Leon terlalu sempurna, Sampai saat inipun Aila masih berpikir jika suaminya memang perfect. Hanya saja terkadang pria itu memang gila.


"Kau adalah sumber kelemahan baginya," lanjut Serkan dengan nada yang lebih serius. Pria itu menjeda ucapannya, dan menatap lekat pada Aila. "Tapi kau juga sumber kekuatan baginya,"


Aila menatap mata Serkan. Gadis itu sedang menebak arah dari ucapan pria didepannya tersebut.


"Tugasmu sekarang hanya berdoa, sisanya serahkan pada kami,"


Aila tidak menjawab, namun Air matanya kembali menganak sungai.


Dulu, Serkan berpikir, kata cinta hanyalah sebuah omong kosong. Namun setelah mengenal Aila, dan mengamati hubungan gadis itu dengan sahabatnya, Serkan mulai menarik kata-katanya. Cinta mungkin hanya sebuah rasa, tapi perasaan itu mampu memberikan sebuah kekuatan. Kekuatan untuk kembali menjalani hidup, kekuatan untuk menyembuhkan luka, kekuatan untuk bahagia dan masih banyak lagi. Karena cinta jugalah, dua pasang manusia bisa saling terhubung perasaan dan pikirannya.


"Leon bukan pria lemah yang akan mati begitu saja, dia pasti kembali.." ucap Serkan optimis.


Aila mengangguk sembari menusap air matanya. Serkan benar, dari pada membuang waktu untuk terus menangis kenapa ia tidak berdoa dan meminta pada Tuhan agar menyelamatkan suaminya? ia juga harus berusaha dengan keras untuk menyembuhkan diri, setidaknya jika dia sehat, tidak akan lagi merepotkan orang lain.


*********


Tiga hari berlalu sejak hari itu. Aila terlihat sudah jauh lebih sehat sekarang. Meski kaberadaan Leon belum juga diketahui. Davin dan Nita juga sudah kembali sejak dua hari yang lalu. Harusnya kepulangan mereka menjadi kabar bahagia untuknya. Sejak awal Aila sangat ingin mendengar kisah tentang liburan mereka, tapi entah kemana hatinya kini pergi. Aila merasa tidak lagi bersemangat untuk melakukan apapun. Setiap hari yang dilakukan gadis itu hanyalah berdoa dan menunggu suaminya kembali.


Seperti sore ini. Aila terlihat duduk didepan gerbang depan seorang diri. Gadis itu sedang menunggu suaminya dan berharap pria itu kembali. Meskipun sikapnya terlihat aneh, namun Aila merasa lebih baik jika melakukan itu ketimbang berada di dalam kamar sendirian.


"Sedang apa?"


Pertanyaan Erik membuyarkan lamunan Aila. Gadis itu menoleh dan melihat pria tinggi menjulang didepannya dengan tatapan layu. "Tidak ada," ucapnya.


Erik diam, sejenak ikut merasakan tiupan angin sore padawajahnya.


"Bagaimana luka kakak?" tanya Aila sembari melihat pada lengan bagian kiri Erik.


"Well, lebih baik.." Erik menunjukkan tangannya yang mengenakan arm sling.


"Syukurlah.." Aila tersenyum, kemudian kembali diam. sesekali gadis itu menoleh keluar pagar, berharap akan ada yang datang.


Erik mengikuti kemana arah mata Aila. Pria itu menghela napas sesaat. Aila bisa saja berbohong, namun ini adalah kali kedua gadis itu duduk didepan gerbang saat senja datang. Erik paham jika Aila tengah menunggu suaminya. Meskipun sikap Aila hanya akan sia-sia, namun siapa yang tega melarangnya? Semua penghuni kastil sangat mengerti dengan apa yang dirasakannya.


"Ini untukmu," Erik menyerahkan buket mawar yang sempat dititipkan Leon padanya, sesaat sebelum pria itu meninggalkan dirinya hingga hari ini.


Aila terlihat memicingkan matanya menatap buket mawar yang masih berada di tangan Erik. Bukan apa-apa, pasalnya buket itu terlihat sangat berantakan dan sudah setengah layu. Daun-daunnya bahkan sudah gugur sebagian.


"Ini titipan dari suamimu, sebelum dia pergi...' ucap Erik yang mengerti isi pikiran Aila. "Maaf, aku tidak bisa langsung memberikannya padamu hari itu,..." lanjut Erik. Untung saja kemarin ia teringat buket itu dan menyuruh Maria untuk memberinya air. Bunga-bunga itu memang menjadi lebih segar namun tetap saja berantakan.


Aila menerima bunga tersebut dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bibir dan tangannya bergetar.


"Terimakasih.."ucap Aila lirih. Ia memeluk bunga itu dan membelainya. Seakan bunga tersebut memiliki sebuah nyawa. Aila memperlakukannya dengan sangat hati-hati.


Tanpa bisa ditahannya, air matanya menetes.


Erik berbalik dan pergi meninggalkan Aila seorang diri. Semakin lama berada didekat istri sahabatnya itu, hanya membuatnya bingung untuk bersikap. Percayalah, semua orang merasakan apa yang Aila rasakan, bagaimanapun mereka sudah mencoba segala cara untuk mencari Leon, namun jejak pria itu tidak juga mereka temukan. Bagaimanapun, memastikan Leon tetap baik-baik saja itu adalah hal yang mustahil.


Sepeninggal Erik, Aila menangis dengan cukup keras sembari memeluk buket mawarnya. Ia terduduk ditengah jalan depan gerbang. Meskipun air mata sudah menjadi teman akrab disetiap malamnya, namun gadis itu sepertinya tidak berpikir untuk berhenti ataupun merasa lelah karenanya.


Aila menangis cukup lama, hingga gadis itu terlihat begitu kelelahan.


Seiring senja yang kian bertukar dengan malam, dan dedaunan mimosa yang mulai terkatup, tangis Aila mengisi keheningan.


Dari ribuan pasangan, kenapa harus dirinya yang terpisah?


Dari banyaknya pemilik malam, kenapa malamnya yang kian sunyi?


Dan dari banyaknya mawar, kenapa harus mawarnya yang layu?


Namun, apalah guna ratapan? toh tidak akan mengembalikan keadaan.


Aila menghapus air matanya dan melangkah pulang.


Ia harus kuat dan tidak cengeng. Karena esok, senja masih akan datang, dan dirinya akan kembali menanti suaminya pulang.


Mungkin besok, atau setelahnya, mungkin juga selamanya.... Senja itu akan tetap datang membawa sebuah harapan.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2