Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 69


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 69


**Ini tidak akan terulang**


"Bagaimana?" tanya Alex pada perempuan yang memakai jas putih disampingnya.


"Biasa ini mah, pengantin baru kan?" tanya Miranda. Dokter spesialis kandungan yang Alex bawa untuk memeriksa Aila. Masih begitu pagi ketika Leon memaksanya untuk mencari dokter kandungan terbaik. Sahabatnya itu sungguh punya penilaian sempurna untuk sebuah kata 'Terbaik'. Tidak boleh laki-laki_lah, tidak boleh tua_lah, harus lulusan luar negeri_lah, karena pusing dengan syarat yang diajukan oleh Leon, akhirnya Alex membawa teman seangkatannya dulu semasa kuliah.


Namanya Miranda harvey. Wanita cantik, dengan tinggi bak model, kulit putih dan tentu saja cerdas. Sudah sejak lama ia memendam rasa pada wanita itu, namun Miranda seperti tidak perduli dengan perasaannya.


"Bukan pengantin baru mereka," jawab Alex sembari duduk disamping


ranjang Aila.


Miranda yang sedang menulis resep obat mengangkat muka menatap Alex.


"Eh, bukan_ya? kapan mereka menikah?" tanyanya heran. Meski tidak akrab dengan Leon, Miranda sedikit banyak tahu tentang pria itu. Dari Alex tentu saja.


"Udah tiga tahun lalu," jawab Alex sembari membaringkan tubuh tepat disamping Aila.


Merasa risih, Aila bergeser lebih jauh. Apalah, tinggkah sahabat suaminya yang gesrek itu.


"Tenang sayang, aku gak buas seperti Leon, ok?"


Aila mencebik kearah Alex, tapi pria itu malah terbahak.


Miranda hanya menggelengkan kepala melihat tinggkah kedua orang didepannya itu.


"Lah? tapi baru semalem ML_nya? hebat banget bisa nahan tiga tahun," tanya miranda yang disertai kikikan diakhir kalimat.


Miranda saja yang tidak tahu lika-liku perjalanan cinta mereka. Jika saja perpisahan itu tidak terjadi mungkin mereka sudah punya anak dulu. Jangankan menunggu tiga tahun, sehari aja Leon tidak mungkin membiarkan Aila nganggur, mulai sekarang. Itulah yang dipikirkan Alex.


"Tahan, soalnya gak serumah. Iya kan sayang?" Alex menoleh kearah Aila, namun gadis itu tampak cuek.


Miranda mengernyitkan alis tidak paham dengan maksud Alex.


"Well, tapi gak ada masalah kan?" tanya Alex mengalihkan pembicaraan.


Miranda menggeleng, "Biasa, di pakai pertama, wajar kalo luka. Yang pake segede gitu, yang di pake imut gini." jawab Miranda sembari terkekeh.


Entah apa yang harus Aila rasakan saat ini, sudah malu karena suaminya harus memanggil dokter setelah malam panas mereka, di tambah ia menjadi bahan olokan dua orang di depannya.


Gak bisa ya, ngegosip di belakang? ngomongin orang kok di depan muka, apes tenan!


Tepat saat itu, Leon masuk bersama Erik.


Tanpa banyak kata, Leon mendorong Alex hingga pria itu jatuh di sisi ranjang.


"Pelit lo!" sungut Alex.


Leon tidak menanggapi, "Gimana hasilnya?" tanyanya pada Miranda.


"Gak apa, biasalah malam pertama. Aku akan tulis resep buat hilangin nyerinya." ucap Miranda.


Leon mengangguk, "Udah punya suami?" tanyanya di luar jalur pembicaraan.


Miranda terlihat kaget dengan pertanyaan Leon yang tanpa basa-basi itu. Ini pertemuan pertama mereka, tapi langsung tanya status? oh my god!


Tidak hanya miranda, terlihat Alex dan Aila juga nampak kaget dengan pertanyaan Leon.


"Single dong," jawabnya santai.


"Baguslah, cepetin aja kalian nikah!" ucap Leon menatap Alex.


"Siapa?" tanya Alex gelagapan.


"Elo sama dia, siapa lagi? gak capek kucing-kucingan terus?" tanya Leon. Ia tidak habis pikir dengan kebanyakan orang yang harus nunggu bertahun-tahun hanya untuk menyatakan perasaan. Apa susahnya sih tinggal ngomong?!


Miranda tampak santai sembari tersenyum, sedang Alex terlihat salah tingkah.


"Gue sih gak ngerasa kucing-kucingan. Kalo ada pria jentle kayak elo yang nyatain perasaan, ya bakal gue trima lah." ucap Miranda sembari membereskan peralatan yang baru saja digunakan untuk memeriksa Aila.


Mendengar ucapan Miranda, Alex terlihat salah tingkah sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedang Erik dan Leon saling melempar pandang.


"Jadi selama ini lo cuma pandangin doang? cemen lo!" cibir Leon sembari menendang kaki Alex. Sontak pria itu mengaduh kesakitan, sedang Miranda nampak tertawa kecil melihat kelakuan mereka.


Alex tidak menyangka, jika Miranda mengharapkan kejelasan dari sikapnya. Ia pikir selama ini, gadis itu menghindar karena tidak suka.


Shiit! Alex meruntuki ketidak pekaan hatinya.


Entah dapat wangsit dari mana, pria itu segera berlari kearah nakas, mengambil setangkai mawar yang berada di dalam vas, lalu membawanya menuju Miranda. Alex mengambil posisi setengah jongkok, dengan setangkai mawar itu ia melamar Miranda penuh drama.


"Will you marry me?" ucap Alex.


Miranda terdiam sesaat, "Jawab apa ya?" tanya Miranda bingung.


"Jawab iya, dong sayang. Aku malu lah kalo kamu tolak," ucap Alex jujur.


"Gimana dong, emang ada lamaran di dalam kamar orang?"


"Darurat sayang, please!"


Miranda terkekeh sesaat, sebelum menjawab, "Ya"


Alex langsung berdiri dan memeluk Miranda. Tepuk tangan dari Aila mengiringi keduanya, sedang Erik dan Leon hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah itu Miranda pamit dan keluar dari kamar, tentu saja diikuti Alex yang mengekor dari belakang.


Namun, sebelum hilang dari pintu, pria itu sempat berbalik.


"Elo tujuh kali, gue bakalan sepuluh kali. Lihat aja!" ucap Alex setengah berbisik, sebelum berlari menyusul Miranda.


"Coba aja kalo bisa! bakal gue kasih saham 25% di perusahaan gue." balas Leon.


"Gue pegang ucapan loe!" teriak Alex dari luar kamar.


"Apa?"


Leon menaikkan sebelah alis karena istrinya menatap dengan horor kearahnya.


Aila heran, bagimana bisa malam pertama dijadikan taruhan?


"Dia yang memulainya, sayang." Ucap Leon cuek.


Ia kemudian mendekat kearah istrinya, namun netranya malah menangkap Erik yang tengah termenung di atas sofa.


"Gak keluar lo?" tanya Leon pada Erik.


Erik menggerakkan badan dengan malas, "Bisa gak gue tidur disini?!" ucapnya ngawur.


"Ngimpi lo! keluar!" perintah Leon.


Erik berdiri melangkah, tapi bukan keluar malah mendekat kearah Aila.


"Kakak angkat kamu single kan, sayang?" tanyanya pada Aila.


"Ya, kenapa?"


"Yes!" ucap Erik sembari melompat kegirangan.


Aila dan Leon saling melempar pandang tidak mengerti dengan sikap Erik.


"Apaan sih lo?!" tanya Leon.


"Jodohin aku sama dia, sayang." pinta Erik.


Mendengar permintaan Erik, Aila melongo untuk sesaat, Play boy cap kadal seperti Erik ingin mendekati Wanita sebaik Nita? no, no, no!


"Gak!" jawab Aila ketus.


"Ayolah, sayang...kurang apa aku? sudah tampan, kaya, p


baik.."


"Kurang otak," potong Aila cepat.


Sontak tawa Leon meledak seketika, sedang Erik terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Aila tidak menjawab malah menjulurkan lidahnya kearah Erik.


"Hei, bantuin kek!" ucap Erik pada Leon.


Leon tidak menjawab, pria itu mengangkat bahunya, ia tidak mau ikut campur jika menyangkut istrinya. Yang benar saja, lebih baik Erik yang ngambek ketimbang Aila. Bisa payah kalo juniornya tidak dikasih jatah.


"Jelasin alasannya, sayang." tuntut Erik.


"Kakak play boy, aku tahu itu. Mbak Nita itu wanita yang baik, jadi jangan pernah mendekatinya atau ku tembak!" ancam Aila.


Erik terlihat menelan ludahnya kasar, sedang Leon terlihat menahan tawa yang hampir meledak.


"Hei, suamimu lebih parah dari aku!" ucap Erik membela diri.


"Kenapa bawa- bawa namaku?!" sahut Leon.


"Itu benar..."


" Kalian sama saja! keluar aku ngantuk!" potong Aila cepat.


Leon mendengus kesal pada Erik, dirinya juga yang akhirnya kena semprot istrinya. Heran! semalam Aila manis seperti anak bulu, sekarang kenapa jadi galak?


"Itu kenyataan," ucap Erik mengangkat bahu.


"Keluar kau, mengganggu saja!" usir Leon.


Erik mendesah, sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.


"Aku gak akan nyerah, akan aku dekati kakakmu dan akan kubuat dia jatuh dalam pelukanku!" janji Erik sembari buru-buru berlari menjauh dari pintu, karena Aila sudah terlihat mengambil vas dari atas nakas siap melempar.


Sepeninggal Erik, Aila menarik napas dalam. Gadis itu berharap jika ucapan Erik hanya gurauan, karena ia tidak ingin berurusan dengan sahabat suaminya itu. Bagaimanapun, Nita adalah wanita yang baik, ia tidak akan membiarkan kakak angkatnya itu di permainkan, meskipun oleh sahabat suaminya sendiri.


Aila menarik selimut, matanya terasa berat, ia sangat mengantuk sekarang. Semalam ia tidak tidur karena suaminya terus mengganggunya.


Namun saat akan terpejam, ia melihat Leon tengah menatapnya dengan intens.


"Ada apa..?" tanya Aila, tatapan itu...


"Em__kata Miranda kapan sembuhnya, yang?" tanya Leon.


Aila menghela napas panjang, belum juga minum obat, sudah ditanya kapan sembuh? Ampuuuun!


"Gak tau, satu bulan mungkin." ucap Aila asal, sembari menarik selimutnya lalu mengambil posisi membelakangi suaminya.


"Hei! itu terlalu lama sayang, kau pasti bohong!" ucap Leon tidak percaya, ia lalu mendekati istrinya dan membalikkan tubuh mungil itu untuk menghadapnya.

__ADS_1


Aila tidak menjawab, gadis itu memejamkan mata rapat-rapat.


Gemas melihat sikap istrinya, Leon membuka selimut yang menutupi tubuhnya lalu mencumbunya tanpa ampun.


Merasa geli karena Leon terus mencium lehernya, Aila mendesah.


"Jangan.." ucap Aila.


Leon menyeringai, "Makanya jangan bohong," ucap Leon sembari menggigit hidung Aila pelan.


Aila meraba hidungnya sembari menatap suaminya lekat, begitupun dengan Leon, mereka saling bertatapan untuk sesaat.


Entah siapa yang memulai, mereka kini terlibat dalam satu ciuman yang panas, saling mema**gut dan melu**at. Hingga pada satu titik mereka saling menginginkan lebih, namun tidak bisa melakukannya. Mau tidak mau Leon menyudahi cumbuan pada istrinya, atau dirinya yang akan kesusahan sendiri.


"Cepatlah sembuh, aku ingin melakukannya lagi." ucap Leon sembari membelai pipi istrinya lembut.


Aila mengambil tangan suaminya, menciumnya lalu mengangguk pelan.


"Tidurlah," ucap Leon sembari menarik tubuh istrinya dalam pelukan, sejujurnya ia sendiri juga sangat mengantuk.


Tidak berapa lama, mereka berdua sudah terbuai dalam indahnya mimpi bersama.


*******


Semalam Oma membangunkan semua penghuni kastil untuk mencari kedua cucunya yang tiba-tiba menghilang, Nita jadi berpikir yang tidak-tidak. Gadis itu terlihat resah, memikirkan apakah Aila dan suaminya sudah ditemukan atau belum.


Hari sudah pagi, namun tidak ada seorangpun yang memberi tahu tentang kabar mereka padanya.


Akhirnya ia memberanikan diri untuk mencari Lisa dan bertanya pada gadis itu. Nita langsung menuju dapur ia menduga gadis itu pastilah sudah berada disana.


Desain kastil yang sudah seperti labirin, membuat Nita lupa dimana letak dapur berada. Begitu banyak lorong, ruangan serta kamar. Gadis itu merasa bingung, meski Aila pernah menjelaskan padanya.


Sudah lama berjalan, namun merasa hanya berputar di satu tempat, Nita berhenti mengistirahatkan tubuhnya. Luka di bahu kanannya memang belum sepenuhnya sembuh, jika harus berjalan kaki terlalu lama, ia masih merasa lemas dan cepat pusing.


Hingga ia melihat sebuah kamar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, terbuka sedikit pintunya. Ia memberanikan diri melangkah lalu mengetuk pintu tersebut. Tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar, meski ia sudah beberapa kali mengetuk dan memanggilnya.


Karena tidak ada pilihan lain, ia memberanikan diri untuk masuk, ia berpikir mungkin penghuninya tidak mendengar. Benar saja, ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi di kamar tersebut. Tanpa berpikir panjang, Nita melangkah lebih dekat kearahnya dan memanggil sang pemilik kamar.


"Maaf, bisakah saya bertanya dimana letak dapur?" tanya Nita sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Tidak ada sahutan dari dalam, padahal ia dengan jelas mendengar suara orang yang sedang mandi.


"Hallo mbak, mas...bisakah saya bertanya dimana leta..."


Belum sempat Nita menyelesaikan ucapannya, seorang membuka pintu kamar mandi dengan tiba-tiba, membuat gadis itu terperanjat kaget dan terhuyung ke depan menabrak badan seseorang.


Betapa kagetnya ia, ketika menyadari jika tengah berada di depan laki-laki yang tengah bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk di pinggang. Untuk sesaat ia bisa melihat tubuh pria itu kekar, dengan perut liat dan berotot. Merasakan nyeri pada bahu kanan karena tabrakan tadi membuatnya segera sadar dan mendongakkan kepala.


Wajahnya pias seketika melihat seorang laki-laki yang berdiri tanpa jarak di depannya adalah tangan kanan sang boss, pria yang terkenal dingin. Siapa lagi jika bukan Davin.


Gugup sekaligus takut, Nita segera berbalik, namun tidak disangka ia malah menabrak daun pintu dan membuatnya oleng. Tanpa sadar ia berpegang pada lengan Davin, Davin pun sama, karena refleks ia menangkap pinggang gadis itu hingga tubuh mereka merapat satu dengan yang lain.


Mereka saling menatap untuk sesaat, hingga tanpa sadar tangan Nita meraba dada bidang pria itu dan menimbulkan gelenyar aneh pada tubuhnya.


"Apa maumu?" tanya Davin tanpa melepas tubuh di depannya.


"Ma__maaf tu__tuan, Eh__mas, tu__an" racau Nita gugup. Lagi-lagi lidahnya kelu untuk sekedar bersuara. Entah kenapa ia selalu seperti itu saat di depan Davin.


"Bicara pelan-pelan," ucap Davin sembari berbisik tepat di telinga gadis itu. Ia berusaha menurunkan nada selembut mungkin, karena ia tahu Nita tengah ketakutan. Tubuh gadis itu terasa bergetar di tubuhnya.


Bisikan Davin di telinga, malah membuat Lidahnya semakin kelu. Mulut Nita terkatup rapat seakan di lem dengan kuat.


Menatap bibir pucat dan bergetar di depannya, membuat Davin iba. Entah mendapat dorongan dari mana, pria itu menyentuh bibir Nita dengan ibu jarinya. Mengelusnya perlahan dan mengecupnya dalam.


Pernah menjadi pembunuh bayaran dan hidup dengan penuh kekerasan membuat dirinya tidak pernah merasakan hangatnya tubuh seorang wanita. Jika sebelumnya ia memang menghindari terlibat dengan mereka, namun entah kenapa ia merada berbeda saat pertama kali melihat Nita. Ia selalu merasakan debaran yang kuat saat berdekatan dengan gadis itu.


Nita kaget setengah mati merasakan bibir hangat nan kuat milik pria di depannya melum**t bibirnya, namun ia tidak punya kekuatan untuk menolak. Bukan karena cengkraman pria itu terlalu kuat, namun karena tubuhnya sendiri yang tidak mau menolak. Ciuman Davin terlalu lembut dan dalam, membuatnya terlena, pasrah menerima perlakuan pria itu.


Entah berapa lama Davin melu**t bibirnya, hingga membuat Nita tidak bisa bernapas.


Tersadar dari kecerobohannya, ia mengangkat wajah dan melihat gadis itu terengah merah padam.


"Pergilah..atau aku tidak akan bisa menahan diri." ucap Davin pelan sembari menegakkan tubuh Nita dan melepas pelukannya.


Namun ketika Davin melepas tubuh Nita, gadis itu bukannya berdiri tegak tapi malah luruh, jatuh, sontak membuat Davin menangkapnya kembali.


"Ma__af, sa__saya .." ucap Nita tidak jelas, tubuhnya begitu lemas karena sentuhan Davin yang tiba-tiba itu.


Melihat wajah sayu dan tubuh lunglai di depannya, membuat Davin semakin menginginkan gadis itu. Tanpa banyak bicara lagi, ia kembali meraih dagu gadis itu dan ******* bibir merah di depannya dengan panas, sedang satu tangan menahan tubuh Nita agar tidak terjatuh.


"Ah..." rintih Nita pelan, saat bibir Davin mulai mencumbu lehernya. Tiba-tiba saja ia merasa seluruh tulangnya lepas.


Jika tangan Davin tidak menahannya ia pasti sudah luruh jatuh ke lantai.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia disentuh oleh seorang pria.


"M__as.." ucap Nita sembari mencakar pundak Davin dengan sisa tenaganya, Davin mengangkat muka dan memandang wajah di depannya dengan kilatan penuh nafsu, namun melihat gadis itu menggeleng pelan, Davin sadar dan mengerti maksud Nita. Ia segera mengendong gadis itu menuju ranjang miliknya dan meletakkannya disana.


Setelah itu ia berlalu menuju tempat pakaian dan memakai bajunya. Selesai berpakaian Davin kembali menemui Nita dan mengangkat gadis itu menuju kamarnya.


"Maaf, ini tidak akan terulang." ucap Davin setelah meletakkan Nita di atas ranjang kemudian berlalu begitu saja keluar dari kamar, meninggalkan Nita dengan tubuh gemetar dan gelenyar aneh yang tiba-tiba datamg menguasai tubuhnya.


Nita terpejam dengan setetes air mata meluncur dari sudut matanya. Semuanya terjadi begitu cepat dan tiba-tiba, dan sekarang meninggalkan sebuah rasa yang entah apa di dalam hatinya.


Bersambung...


Davin,

__ADS_1


Gaess...kalo cari cowok yang suka permisi, kalem, jan disini.


Ini tempatnya bad boy semua, hahatidak


__ADS_2