
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 67
**Kau membuatku gila**
Temaram lampu taman di sepanjang jalan menuju gerbang kedua sudah menyala, Pertanda senja sudah berganti malam.
Tampak gerimis di luar, terlihat dari bias air hujan yang tertimpa cahanya lampu sorot mobil.
Saat kamera CCTV menangkap kehadiran mereka, seketika pengamanan area kastil kembali di perketat.
Sore tadi, boss mereka bilang tidak ingin di ikuti karena ia ingin privasi. Meski begitu, sensor pelacak yang terpasang pada mobil dan gelang kaki Aila terus mereka pantau. Bagaimanapun juga, mereka tidak ingin kecolongan barang sebentar. Keselamatan sang boss dan keluarganya adalah yang utama.
Ketika gerbang kedua terbuka, mereka disambut oleh puluhan bodyguard. Sekedar ingin memastikan sang tuan, pulang dalam keadaan baik.
Mobil berhenti tepat di depan kastil kedua.
Buru-buru Aila segera turun setelah oma. Wanita tua itu langsung menggandeng tangan Aila, ia tahu jika Leon ingin kembali menggendong gadis mungil itu. Benar saja, mengetahui, oma lebih dulu menguasai Aila, Leon berdecak kesal.
"Bawakan koper oma, masuk kedalam," perintah Leon pada salah satu bodyguard disana.
Mendengar ucapan Leon, oma segera berbalik.
"Siapa yang kau suruh?" tanya oma.
"Siapa lagi? mereka lah oma." ucap Leon sembari menunjuk bodyguardnya.
Oma menggeleng sembari mengangkat tongkatnya, " Bawa sendiri dan jangan menyuruh orang lain!" perintah oma.
"Hei! ayolah oma. Buat apa aku bayar mereka?" Jawab Leon kesal, ia tahu jika oma tengah mengerjainya.
"Bawa masuk, atau ku bawa Aila dari sini!" ancam oma.
Leon mengusap wajahnya kasar, "Omaaaa..."
"Cepat!" lanjut oma.
Leon melirik Aila, seperti meminta bantuan, namun gadis itu menggeleng kecil tidak mau ikut campur.
"Ayo!" ulang oma.
Dengan berdecak kesal dan terpaksa, Leon mengangkat koper-koper oma masuk kedalam. Pria itu mengangkat tiga koper besar sekaligus.
Melihat hal itu, oma tertawa kecil. " Lihat, meskipun pecandu, dia tetap kuat dan perkasa. Jadi tenanglah, dia akan tetap menjadi singa di ranjang." ucap oma kearah Aila. Wanita tua itu tengah membanggakan cucunya, membuat pipi Aila bersemu merah karena malu.
Mendengar Nonya besar kembali pulang ke kastil, Maria dan pak Liem tampak segera menyambut.
"Selamat datang, nyoya besar." ucap mereka hampir bersamaan.
Oma terlihat mengulum senyum, namun sedetik kemudian ekor matanya bergerak-gerak seperti tengah mencari seseorang.
"Dimana, kak Lisa?" tanya Aila pada Maria. Gadis itu paham, jika Oma tengah mencari cucunya yang lain. Meski tampak cuek, Aila paham jika oma memperhatikan Lisa.
"Di dapur nona, sedang memoersiapkan makan malam." jawab Maria sopan.
Aila mengangguk paham. Ada rasa tidak enak yang menyelinap di hatinya, harusnya ia tidak keluyuran hari ini dan membantu Lisa memasak.
Tanpa bicara lagi, oma melanjutkan langkah masuk kedalam ruang tengah.
Tidak lama setelah itu, Alex dan Erik terlihat masuk menghampiri mereka.
Raut kesal langsung menghiasi wajah Leon melihat Alex tiba-tiba datang. Padahal biasanya meskipun disuruh pulang untuk urusan bisnis, pria itu selalu banyak keluhan. Leon paham, Kedua sahabatnya itu, datang hanya ingin menganggunya.
"Kalian punya apartemen sendiri, kenapa selalu disini!" cibir Leon kearah kedua sahabatnya.
Alex mengangkat bahu, sedang Erik lebih fokus menatap kearah Aila.
"Hai mungil, sini peluk kakak!" ucap Erik kearah Aila.
Aila berlari kecil kearah Erik, namun Leon buru-buru menarik rambut gadis itu, membuat Aila memekik kesakitan.
"Hei! lepaskan gadisku!" perintah Erik.
"Dasar pedofil!" cibir Leon.
Sontak Alex dan Erik saling bertatapan dan langsung terbahak setelahnya.
"Harusnya kau katakan itu untuk dirimu sendiri, tuan Leon!" sindir Erik.
Leon tidak menanggapi, pria itu kemudian membawa kepala Aila masuk keruang tengah.
Meninggalkan kedua sahabatnya yang sedang menertawakan dirinya.
"Malam ini kita beri pelajaran padanya," ucap Erik penuh makna.
ALex mengangkat bahu, "Terserah kau, aku tidak ikut campur. Dia menahannya selama tiga tahun, aku tidak ingin menerima kekonyolannya."
"Hei! mengerjainya sedikit apa salahnya?" tanya Erik. Mengerjai Leon itu sangat tidak mungkin, mengingat pria itu terlalu sempurna. Tapi malam ini, ia yakin sahabatnya itu pasti akan membajak Aila, kapan lagi bisa ngerjain Leon, ya kan?
Alex kemudian berlalu menuju ruang tengah meninggalkan Erik dengan keberisikannya.
Saat semua sudah berkumpul di ruang tengah, Aila membawa Nita untuk di perkenalkan. Seperti biasa, oma menyambutnya dengan senyuman hangat. Wanita tua itu bahkan tidak sungkan mengucapkan terimaksih pada Nita, karena telah menjaga Aila. Sedang Nita terlihat kikuk di tengah-tengah keluarga millyoner tersebut.
Tanpa disadari semua orang, sejak awal kedatangan Nita keruang tengah, Erik terus menatap gadis itu penuh minat. Melihat sikap Nita yang lembut namun malu-malu entah kenapa membuat hatinya tetiba dihinggapi gelenyar aneh. Matanya sulit teralihkan dari wajah gadis itu.
Semua orang terlihat menikmati obrolan santai malam itu, tapi tidak dengan Leon. Pria itu lebih banyak diam dengan muka tertekuk menahan kesal. Sejak pertama bertemu Aila, ia sudah banyak menahan diri, namun ada saja rintangan untuk menikmati gadis itu. Ditambah sekarang, tanpa ditencanakan Oma dan kedua sahabatnya datang tanpa diundang. Mereka seperti berencana untuk menganggu malam panas mereka.
Leon melangkah pergi begitu saja meninggalkan semua orang di ruang tengah. Melihat hal itu Oma dan kedua sahabatnya saling lirik penuh makna. Tapi tidak dengan Aila, ia tahu suaminya itu tengah kesal dan itu membuatnya khawatir. Jika kesal, Leon akan kembali minum melebihi dosis.
Meski ruang tengah terdengar ceria dengan canda tawa, namun pikiran Aila tidak disana. Gadis itu terlihat gusar, berkali-kali menoleh kearah pintu menunggu suaminya, namun pria itu tidak muncul juga. Merasa resah Aila melangkah keluar mencari suaminya.
Saat akan melangkah kearah bar mini di samping ruang kerja suaminya, ia melihat Leon keluar dari sana dengan sekardus sampaye di tangannya. Melihat hal itu Aila segera berjalan mendekat, namun suaminya terlihat cuek dengan kedatangannya.
"Em__tuan?" ucap Aila sembari mensejajarkan langkah suaminya.
"Apa?" jawabnya cuek tanpa menoleh.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Cari angin!" jawabnya singkat. Pria itu terus melangkah keluar meninggalkan kastil.
Aila diam terus mengekor dari belakang, membuat selengkung senyum terukir di bibirnya.
Ketika memasuki taman belakang, Aila kira suaminya akan berhenti, namun pria itu tetap melanjutkan langkah.
Aila semakin bingung, mau kemana singa gilanya itu malam-malam dengan sampaye yang begitu banyak?
"Tuan, anda mau kemana?" tanya Aila mulai khawatir.
"Jika penasaran, ikut saja!" jawab Leon masih cuek.
Aila mendesah, meski sebenarnya ia tidak nyaman karena diluar begitu dingin, dan juga gelap, toh ia terus mengikuti Leon.
Aila terpaku ditempatnya ketika tanpa terasa mereka sudah berada di depan gerbang penuh tanaman merambat. Tempat yang pernah menjadi sangst istimewa di hatinya. Tempat yang pernah menjadi saksi bisu malam-malamnya yang penuh air mata.
Ya, tempat itu adalah taman rahasia yang dibangun suaminya khusus untuknya.
"Sini!" perintah Leon sembari menarik tangan Aila. Meski tidak paham maksud suaminya, Aila menurut dan tetap diam.
Lalu Pria itu mengangkat Aila, dan mendekatkan gelang pelacak di tangan Aila pada kode sensor pintu.
Seketika pintu taman terbuka dengan sendirinya.
Leon kemudian menurunkan Aila dan kembali membawa sampaye yang tadi di bawanya masuk kedalam taman, meninggalkan Aila yang masih bengong sendirian.
Gadis itu tidak menyangka, jika gelang ditangannya merupakan kode pembuka pintu taman rahasia.
Setelah sadar dari terkejutnya, Aila buru-buru menyusul Leon masuk kedalam, dengan sesungging senyum di bibirnya.
Belum juga hilang terkejutnya, ia sudah kembali di buat takjub dengan suasana taman di depannya. Keadaannya jauh lebih indah dari tiga tahun lalu.
Berbagai jenis bunga mawar terhampar sejauh mata memandang, hingga setiap jengkal tanah disana tertutup oleh kelopak bunga yang gugur. Seperti de javu, Aila merasa sudah sering berkunjung ke tempat seperti itu.
Leon juga sepertinya sudah menambahkan beberapa bangunan baru disana. Termasuk air mancur dan sebuah rumah kecil yang semua dindingnya terbuat dari kaca. Aila pikir jika ada seseorang beraktifitas di dalamnya, maka akan terlihat jelas dari luar. Di sekitar rumah tersebut juga di kelilingi kolam bernuansa unik, dengan kelopak mawar mengambang diatasnya.
Gazebo yang dulu ada, sepertinya sudah diganti dengan rumah kaca tersebut.
Saking takjubnya, ia sampai tidak tahu kemana suaminya pergi. Merasa sendirian, Aila mulai mencari dan memanggil suaminya.
"Tuaan?" panggil Aila.
Tidak ada jawaban.
"Tuaaaaan?" Aila memanggil sekali lagi dengan lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban.
"TUAAAAAN?!" Aila berteriak kini, namun lagi-lagi tidak ada jawaban.
Aila mulai panik, ketakutan mulai mendera pikirannya. Sejak awal masuk ke dalam taman, ia sudah merasa aneh, seperti de javu. Suasana taman persis seperti ada didalam setiap mimpi buruknya sebelum bertemu Leon.
Terus memanggil namun tidak ada jawaban, Aila putus asa. Tubuhnya luruh ke tanah, sembari menunduk ia menangis. Saat semua pikiran buruk dan rasa takut berkecamuk, Tiba-tiba ia merasa sesuatu yang dingin mengalir di seluruh tubuhnya. Seseorang seperti sengaja menyiramnya dengan Air.
Terkejut, Aila mendongakkan wajah. Betapa kagetnya, ia melihat Leon tengah menyiramnya dengan sampaye yang tadi dibawanya. Terdorong perasaannya yang campur aduk, Aila menghambur sembari memukuli tubuh suaminya.
Leon tidak menanggapi, dan malah mengangkat tubuh Aila lalu membawanya kerumah kaca. Mendudukkan gadis itu di tepi kolam dan menatapnya intens ketika mereka sudah duduk bersisian.
Pelan, Leon mengecup bibir Aila lembut. Sangat lembut.
Seketika Aila melupakan kekesalan dan ketakutannya.
"Aku pengen buat bayi, bolehkan?" tanya Leon pelan.
Aila menunduk sesaat, sebelum anggukan kecil terlihat dari kepalanya.
Tanpa banyak bicara lagi, Leon mel**at bibir gadisnya, meng***m dan mengecupnya dalam. Sedang tangannya dengan lincah mulai melepas kancing blues Aila satu persatu.
"Tu__tuan.."
Erangan rendah meluncur dari bibir Aila, saat Leon mulai mengecup leher, bagian belakang telinga dan turun kebelahan dadanya.
Tanpa disadari bluesnya kini telah terlepas dari badan Aila. Meninggalkan bra biru laut yang membungkus dadanya, namun itu juga tidak lama karena setelah itu, Leon menyentak lepas bra yang di pakai Aila dan melepasnya begitu saja. Detik itu juga berganti dengan remasan lembut disana. Saat ia belum siap, puncak dadanya yang menegang dik***m dan diisap. Aila menggelinjang dalam gairah.
Pria itu berhenti dan mengangkat wajah untuk sesaat, ia mengambil sampaye yang berada disampingnya, membukanya dan kembali menuangkan isinya pada tubuh polos di depannya.
Tergagap karena sensasi dingin sampaye, Aila menyilangkan kedua tangan didada.
"Mandi sampaye untukmu, adalah kesenangan bagiku!" bisik Leon ditelinga Aila. Dengan dorongan lembut, ia membaringkan Aila pada lantai disi kolam. Tangan Aila ia kunci diatas kepalanya, lalu menjilati setiap inci tubuh Aila yang penuh dengan sampaye tersebut.
Aila mengeliat, mengerang dan mendesah saat lidah Leon tanpa ampun mel***at dan mengisap seluruh tubuh dan area sensitive_nya. Tidak sampai disitu kegilaan Leon, ia kembali berhenti dan mengambil sampaye sekali lagi.
Merasa tidak sanggup dengan kegilaan suaminya, ia bangkit merapat pada tubuh Leon dan memeluknya erat. Tapi Leon belum puas, ia kembali menuangkan sampaye pada leher dan punggung Aila. Detik berikutnya, punggung polos itu di hujani dengan ciuman dan jilatan bertubi-tubi.
Dengan tubuh saling merapat, mereka berciuman dengan panas, saling berebut kesempatan untuk me***at dan mengisap
Saat gairah sudah tidak lagi bisa ditahan, Leon melepas rok yang di kenakan Aila, menyisakan celana dalamnya saja dan mulai melepas kemeja dan celananya sendiri. Setelah semua terlepas ia mengangkat tubuh gadisnya kedalam kolam.
Takut karena tidak bisa berenang, Aila mengalungkan tangannya erat pada leher Leon sedang kedua kaki melingkar pada pinggulnya.
Didalam kolam mereka saling membelai, saling mel**at hingga Aila merasakan sesuatu yang keras menusuk perutnya. Terdorong oleh perasaan was-was dan penasaran, ia menyentuh bagian itu dan mendengar Leon menggeram.
"Kau membangunkannya sayang," bisik Leon sensual.
Saat Aila ingin menjauhkan tangannya, Leon menahannya. Pria itu kembali mengarahkan tangan Aila untuk memegang kelelakiannya.
Aila melotot, mengetahui kejantanan suaminya lebih besar dari yang ia duga.
"Tidak apa, dia jinak sayang."
Aila menggeleng, "Dia akan menyakitiku," Aila bergidik ngeri.
Leon kembali mel**at bibir gadisnya, "Tidak, setelah kau mengenalnya." bisiknya kemudian.
Setelah membilas tubuh Aila, Leon kembali mengangkat gadisnya menuju kamar didalam ruang kaca, lalu membaringkan tubuh tersebut di atas ranjang.
__ADS_1
Dalam keremangan, mereka kembali bergulat, saling mel**at, saling membelai daerah sensitive.
"Kau basah, sayang." bisik Leon saat jemarinya menyelinap masuk kedalam **** ***** Aila. Ia tidak mampu menolak dan menikmati saat jemari itu menyentuh dan membelai kewanitaannya.
"Tu__tuan, Ah..."
Desah Aila saat jemari suaminya masuk lebih dalam.
Dengan mulut terus men**sap puncak dada, dan tangan di kewanitaannya, Aila seperti merasa sedang diajak naik roller coaster, rasanya seperti dilambungkan naik turun kedalam gairah. Pada satu titik saat gairah itu tidak lagi bisa ditahan, Aila mencakar lengan Leon kuat-kuat.
"Tuan, a__aku ah..."
Seperti tidak menanggapi rintihan Aila, Leon tidak berhenti dengan sentuhannya, pria itu mulai menurunkan kepala tepat pada daerah intim istrinya dan mulai mengecup, men**lat dan meng**apnya.
"To__long, tuan aku,"
Aila sudah tidak lagi tahan, ia ingin lebih dari dekedar sentuhan luar, namun gadis itu bingung sekaligus malu bagaimana mengungkapkannya.
"Apa maumu, hem?" tanya Leon dengan nada berat, ia tahu istrinya mulai frustrasi dan menginginkan lebih.
Aila tidak menjawab, gadis itu terlihat menggigit bibir bawahnya, karena Leon lagi-lagi mempermainkan tangannya dengan lincah di kewanitaannya.
"Ingin ini?"
Ia membawa tangan Aila menyentuh kejantanan miliknya, yang sejak tadi sudah menegang bahkan sudah mencapai puncaknya meminta pelepasan. Tapi ia menunggu istrinya meminta lebih dulu.
"Ya,"
Tanpa ragu, Aila menyatakan keinginannya.
"Kau akan kesakitan, sayang."
"Tak apa, aku siap." ucap Aila mantap.
Meskipun Akan kesakitan, namun tidak dipungkiri keinginannya untuk merasakan lebih dari sentuhan mengakar kuat dalam nalurinya. Aila ingin menyatu dengan suaminya.
Leon mengecup lama kening penuh keringat istrinya.
"Bersiaplah, kita lakukan dengan pelan." ucap Lein sembari memposisikan dirinya tepat ditengah tubuh Aila, membuka paha istrinya lebar-lebar dan mulai memasukinya.
Aila menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencengkeram sprei peraduan mereka. Dugaannya tidak salah, bagian bawah tubuhnya terasa nyeri dan panas saat kejantanan suaminya mulai masuk.
"Akh!" jerit Aila.
"Baru kepalanya sayang,"
Leon merasa ada dinding kuat yang menghalanginya untuk masuk, ia tidak menyangka milik istrinya ternyata mengitu sempit dan menghimpit juniornya.
Merasa kesusahan, ia melihat wajah istrinya. Tidak disangka Aila sudah begitu pucat menahan sakitnya.
Leon berhenti, ia tahu Aila tegang, itulah kenapa mereka tidak bisa menyatu.
"Rileks, sayang." ucapnya sembari mengecup lembut bibir istrinya.
Dengan posisi yang masih sama, Leon kembali mencumbu leher, dan puncak dada istrinya. Meng**um, men**sap lembut hingga ia kembali melihat istrinya mengelinjang. Dengan sekali hentakan kuat, ia berhasil masuk meski belum seluruhnya.
"AH.." desah Aila kuat saat tubuh mereka menyatu.
"K__kau sempit dan hangat sayang," Leon mulai meracau. Seumur hidupnya ia baru merasakan juniornya benar-benar termanjakan. kewanitaan istrinya sangat ketat dan mencekik miliknya.
Hentankan yang awalnya lembut berubah menjadi cepat dan intens.
Terdengar erangan dan umpatan-umpatan kecil dari mulut Leon. Sesekali ia mengecup bibir dan kening istrinya bergantian bersamaan dengan ritme percintaan mereka yang semakin kuat.
"Oh..."
Aila kembali merintih saat suaminya mulai bergerak cepat. Rasa nyeri dan panas yang tadi ia rasakan berlahan hilang, berganti dengan rasa nikmat yang tiada tara. Perasaan yang belum pernah ia alami seumur hidupnya.
"Kau membuatku gila!" umpat Leon di telinga Aila. Ia merasa seluruh pusat kehidupannya hanya ada di kewanitaan istrinya saat itu. Tau begitu nikmat, Ia menyesal tidak melakukannya dari dulu.
Aila menegang, seperti ingin melepaskan sesuatu.
"A__aku ingin pipis tuan," ucap Aila bingung.
Leon tertawa kecil, "Bukan sayang, lepaskan saja." ucapnya sembari menghentak lebih kuat.
Dalam satu titik, Aila mencapai puncaknya. Tepat saat itu Leon merasakan service yang luar biasa pada juniornya, karena milik istrinya berkedut hebat. Rasa yang tidak pernah ia dapat sebelumnya, hingga beberapa saat miliknya masih termanjakan oleh pijatan dari kedutan itu.
Seakan ingin berlama-lama, Leon menikmati setiap ritme percintaan mereka. Ia tidak membiarkan istrinya istirahat barang semenit setelah gadis itu mencapai puncak.
Leon terus memompa juniornya dengan cepat, membuat istrinya kembali melenguh nikmat. Saat gairah sudah tidak lagi bisa ditahan, Leon meledak dalam kenikmatan, begitu pun dengan Aila. Ia mencapai puncak untuk yang kedua kalinya. Mereka terkulai dengan tubuh saling memeluk satu dengan yang lain. Untuk pertama kalinya Leon membiarkan benihnya bersarang di dalam rahim seorang wanita.
Setelah napas mereda, Leon mengecup pipi dan kening istrinya berkali-kali, membuat gadis itu meneteskan air mata.
Bukan-bukan karena sakit yang mendera, namun lebih kepada, hatinya yang sudah mulai menerima kasih sayang dan cinta dari suaminya.
Mungkin karena kelelahan, Aila mulai mengantuk dan jatuh tertidur.
Ia bermimpi tentang, hamparan bunga mawar, danau yang biru, kura-kura yang lucu serta awan yang membentang sejauh mata memandang.
Ia kembali terbangun saat sebuah pelukan kembali merengkuhnya. Dalam keremangan malam, ia kembali dicumbu dan terbakar gairah. Untuk sekali lagi mereka bercinta, menyatu dengan panas. Berbeda dari sebelumnya, kali ini lebih lambat, lebih intens. Percintaan dan penyatuan mereka berlangsung lama. Seakan tidak puas satu dengan yang lain, mereka kembali bercinta, lagi dan lagi hingga matahari terbit dari ufuk timur.
Leon mencapai puncak kepuasan lebih dari tujuh kali sedang Aila, ia tidak lagi bisa menghitungnya. Lelakinya itu bahkan tidak memberinya kesempatan untuk bergerak. Leon hanya bernapas sebentar sebelum pria itu kembali memasukinya lagi dan lagi.
Bersambung...
Reek!
Tak kandani yo, membuat adegan 21+ iku susaaaah banget!
Apalagi aku payah dalam hal diksi, ditambah aku pemula dalam menulis daaaaaaan, aku lebih suka gaya yang frontal jadi ya gitu lah, ambyarrr hahahaha.
Terserah mau ngerti maksudku apa gak, pokok sudah ku tulis.
Jangan minta lebih hot, takut gak lolos revew, tambah gak bisa ML.
Kapok! perawan teruus entar.
__ADS_1
Ekstra part ini, gak percoyo itungen berapa kata.
Awas likenya dikit, ngambek aku!