Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
95


__ADS_3

Cinta 49 Cm


Part 95


**Ekstra part**


Kabar bahagia datang dari pasangan Nita dan Davin. Pasangan itu akan segera menimang seorang bayi mungil, pasalnya Nita baru saja dipastikan sedang mengandung buah cinta mereka didalam rahimnya. Janin itu sekarang telah berusia lima minggu. Akhirnya setelah enam bulan mereka menikah, pasangan itu akan segera menjadi orang tua seutuhnya. Dan itu berarti sudah selama enam bulan pula, Leon tidak diketahui keberadaannya.


Semua orang didalam kastil mulai melakukan rutinitas seperti sebelumnya. Serkan mulai sibuk pulang pergi Dubai-Indnesia, sedang Erik sudah beberapa hari berada di jepang, dan Davin sendiri sibuk dengan perusahaan yang berada di Jakarta.


Leon memang masih belum kembali, namun perusahaan tetap harus berjalan bukan?


Tetap berfokus hanya untuk mencari Leon dan mengabaikan pekerjaan di kantor hanya akan membuat perusahaan semakin kacau. Dan hal itulah yang selalu dinantikan oleh saingan bisnis mereka. Karenanya, mereka tidak boleh lengah. Kantor harus tetap dalam kendali.


Mungkin hanya Aila yang masih tetap berlarut dalam kesedihan. Sejak dua bulan yang lalu, gadis itu lebih memilih untuk tetap berdiam diri di taman rahasia miliknya. Entah apa yang dilakukannya didalam. Tidak ada seorangpun yang mengetahui hal itu. Karena memang tidak bisa sembarang orang memasukinya. Bahkan Jimy dan mungkin terkadang Lucas saja yang terlihat berjaga didepan pintu masuk taman.


Meskipun khawatir dengan sikap Aila, para penghuni kastil yang lain hanya diam dan membiarkan gadis itu melakukan semua hal yang diinginkannya. Mereka paham dengan apa yang sedang Aila rasakan.


***


Menatap hamparan mawar yang bermekaran dari rumah kaca, mebuat Aila kembali teringat akan malam pertama dirinya yang panas dengan sang suami. Mungkin aneh, ataupun tidak pantas. Namun sebagai wanita yang pernah melakukan hubungan badan, Aila merasa sangat kesepian sekarang. Dan ia menginginkan hal itu dari suaminya saat ini.


Jika mereka pernah berpisah selama tiga tahun dulu dan tidak begitu tersiksa akan keinginan itu, mungkin saja sekarang berbeda. Dulu ketika berpisah, mereka belum melakukan hubungan badan.


"Pulanglah tuan,...aku merindukanmu..." ratapnya pilu. Gadis itu terduduk lesu dibalik dinding kaca dan menatap keluar jendela.


Dari puluhan hari, hari inilah puncak kerinduan yang ia rasakan. Rasanya begitu sulit untuk menjalani hari tanpa Leon disampingnya. Entah untuk apa kini hari dan senyumnya.


Mungkin saja, kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, namun perpisahan bukankah selalu menyisakan luka?


Perpisahan bukan hanya tentang raga yang terpisah, namun juga tentang rasa yang hanyut terbawa pergi. Tentang memori yang tidak mungkin kembali terulang.


Saat sedang menikmati luka lara dihatinya, Aila dikejutkan oleh bunyi ponsel yang berada disampingnya. Gadis itu hanya meliriknya. Tertulis nama Lucas disana. Seperti tahu akan maksud dari pria itu menghubunginya, Aila memilih untuk mengabaikan panggilan dari ponselnya.


Bukan sedang mendramatisir hidupnya yang memang sudah penuh luka, namun saat ini ia memang hanya ingin sendiri.


Percayalah, kehilangan suami itu seperti kehilangan sebuah jiwa. Kesedihan dan luka itu tidak mungkin bisa sembuh hanya dalam sekejap mata. Dirinya membutuhkan waktu untuk kembali melanjutkan hidup.


Rencana Aila untuk mengabaikan panggilan Lucas, sepertinya mulai tergoyahkan. Pria itu tetap tidak menyerah meskipun ia tidak menjawabnya.


Menghela napas berat, Aila mulai merasa kasihan. Bagaimanapun, pria itu hanya ingin memastikan keadaan dirinya dan mungkin menyuruhnya pulang, karena hari memang sudah mulai petang.


Aila merapikan diri dan wajahnya. Meskipun tidak ada yang sedang ingin dia sembunyikan, tapi keluar dengan wajah kusut tetap bukan pilihan. Penampilannya beberapa bulan terakhir memang sudah tidak karuan. Entahlah...


Aila merasa malas dan tidak semangat untuk melakukan apapun.


Dengan ponsel yang terus berdering, Aila menuju gerbang taman dengan pelan. Kelopak mawar yang berguguran karena tiupan angin sore seperti menahannya untuk berlama lama disana. Tapi, dirinya toh bukan lagi anak kecil yang pekerjaannya hanya membuat khawatir banyak orang. Hari mulai gelap dan ia harus segera pulang.


Aila membuka pintu gerbang taman dengan gelang yang dipakainya. Disamping kiri, Lucas memang tengah bersandar sembari menatapnya. Pria itu bahkan masih menekan tombol call pada ponselnya.


"Kenapa tidak dijawab?" Lucas menatap pada ponsel Aila yang masih berdering.


"Sengaja, supaya dia terus bernyayi," Aila menatap pada ponselnya yang masih memperdengarkan nada dering dari Craig David, Don't love you no more. Lagu kesukaan Aila.


Lucas menggelengkan kepalanya sesaat, lalu berjalan santai menuju kastil. Dan Aila mengekorinya dari belakang.


"Aku akan pulang malam ini juga," lucas memulai pembicaraan.


"Ya?" Aila masih terlihat fokus dengan nada dering ponselnya, sehingga gadis itu tidak terlalu memperhatikan ucapan Lucas.


Lucas yang posisinya berada didepan Aila kini berhenti dan menutup panggilannya. Merasa pangilan pada ponselnya terputus, Aila ikut berhenti dan menatap Lucas.


"Aku akan pulang malam ini juga," Lucas mengulang ucapannya.


"Apa? kenapa?" tanya Aila terkejut.


"Kenapa, apanya gadis kecil? kau keberatan jika aku pulang?" tanya Lucas dengan nada menggoda.


Aila memutar bola matanya, "Serius Oom, kenapa harus pulang?" Aila berpikir jika Lucas akan tinggal untuk jangka waktu yang lama di kastil.


"Aku serius sayang, sejak awal, disini bukan rumahku..." alasan kedatangannya sejak awal memang hanya ingin membantu Leon. Tapi tidak disangka, jika sahabatnnya itu memilih untuk pergi. Ia yakin, Leon masih hidup diluar sana. karena ia yakin pria itu bukan orang yang mudah dihabisi begitu saja.


'Kenapa?' Aila tidak mengerti dengan maksud Lucas.


"Apanya? kau terlihat keberatan jika aku pergi," lucas kembali menggoda Aila. Sejak kepergian Leon, mereka memang menjadi akrab. Ya, karena Lucaslah yang bertugas menjaga Aila setiap harinya. Tentu saja bergantian dengan Jimy.


"Tidak,....maksudku, jika Oom pergi siapa yang akan menjagaku?" tanya Aila polos. Sejak Leon tidak ada, Lucaslah satu satuya orang yang selalu berada disampingnya selain Oma. Gadis itu berpikir jika Lucas pergi, dirinya pasti akan merasa sangat kesepian. Akhir-akhir ini semua orang didalam kastil mulai terlihat sibuk dengn pekerjaannya masing-masing.


"Kau bukan bayi yang harus dijaga setiap saat," sahut Lucas. Pria itu kembali melanjutkan langkah. jika awalnya Aila terlihat tidak peduli, sekarang gadis itu mengejarnya.

__ADS_1


"Ayolah Oom, bagaimana jika aku diculik lagi?" Aila berusaha membujuk Lucas agar tidak pergi. Sejujurnya ia hanya tidak ingin kembali kehilangan seorang teman.


"Belajarlah bela diri, jika begitu," Lucas menjawab pertanyaan Aila dengan santai.


Aila mendengus, "Baiklah, pergi saja!" ucap Aila kesal. Gadis itu kemudian meninggalkan Lucas begitu saja.


Lucas tertawa kecil melihat tingkah Aila. Ia mengerti perasaan gadis itu. Aila menganggap dirinya seperti seorang kakak yang selalu ada. Namun, Lucas sendiri merasakan hal yang berbeda seiring berjalannya waktu. Bagaimanapun, ia pria normal yang sudah lama tidak merasakan sentuhan wanita. Jika mereka terus bersama, ia tidak yakin akan bisa menahan diri.


Lucas mengejar Aila. Pria itu tidak perlu berlari, ia hanya harus jalan cepat, karena kaki Aila yang pendek tidak akan bisa jauh.


"Setelah ini, Davin yang akan menjagamu,' ucap Lucas saat langkah mereka sejajar.


Aila tidak menjawab. Sejujurnya ia sendiri bingung kenapa menahan Lucas untuk kembali ke rumahnya. Mungkin karena Lucas sudah ia anggap seperti seorang kakak yang selalu ada untuknya.


"Kau harus mulai bekerja dikantor, bagaimanapun kantor itu akan menjadi milikmu suatu hari nanti," lanjut Lucas.


Mendengar ucapan Lucas, Aila berhenti seketika, 'Kenapa aku harus bekerja dikantor?" Aila tidak pernah terpikir untuk bekerja dikantor menggantikan suaminya.


Lucas tidak bisa mengatakan alasan, yang Aila sendiri sebenarnya sudah tahu. Pria itu diam sesaat, "Davin akan mengajarimu nanti,"


"Itu benar sayang, kami akan mengajarimu nanti..' ucap Erik menimpali. Entah sejak kapan Pria itu sudah berada dibelakangnya. Bukankah ia berada di jepang?


"Kau harus mulai memahami seluk beluk perusahaan...." Erik belum selesai dengan ucapannya, namun Aila sudah lebih dulu memotongnya. "Benarkah dia tidak akan kembali?" tanya Aila pada keduanya. Gadis itu menatap lekat pada Erik dan Lucas secara bergantian.


Keduanya hanya diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Aila. Kenyataannya, mereka memang sudah melakukan yang terbaik untuk mencari Leon, tapi tidak membuahkan hasil.


Aila menggelengkan kepala, "Aku tidak akan bekerja dikantor, kalian tahu suamiku tidak menyukai hal itu. Dan aku yakin, dia pasti kembali..pasti!" Dengan mata berkaca-kaca, Aila berlari kearah kastil meninggalkan kedua sahabat suaminya. Setipis apapun harapan untuk Suaminya kembali, ia akan tetap percaya jika suatu hari nanti Leon pasti kembali. Mereka sudah melalui banyak hal, dan berhasil melewatinya. Sekarangpun, Aila yakin mereka akan tetap bisa melaluinya.


Erik dan Lucas menghela napas dan menatap punggung gadis itu menjauh.


"Aku tahu itu sulit baginya, tapi kita tidak bisa terus-terusan menyembunyikan kenyataan ini," ucap Erik. Selama ini mereka memang menutupi soal keberadaan boss Thomson tersebut. Semua itu mereka lakukan untuk menjaga perusahaan tetap stabil dan aman.


Lucas hanya diam menanggapi ucapan Erik. Sejak dua bulan yang lalu, Oma menawarinya untuk tetap bekerja disini dan mengambil alih perusahaan untuk sementara, namun dirinya menolak. Selain tidak menguasai bidang tersebut, Lucas juga perlu menjaga jarak dengan Aila sebelum perasaannya mulai sulit ia kendalikan.


"Aku dengar kau akan tetap pulang? kau yakin tidak ingin membantu kami?" tanya Erik pada Lucas.


Lucas mengangguk, "Kalian tahu aku tidak mahir dalam bidang itu....." jawab Lucas memberi alasan.


"Ayolah, kau cerdas. Kami tahu kau bisa cepat belajar," Erik tahu kemampuan Lucas. Hanya saja pria itu terlalu malas untuk berpikir.


Lucas membuang senyumnya menanggapi ucapan Erik.


"Atau bukan itu alasan sebenarnya?" ucap Erik dengan nada menggoda.


Erik tertawa sembari mengejar Lucas. "Jujur sajalah, kau mulai termakan pesona gadis kecil itu bukan?" mungkin Lucas tidak tahu, tapi Erik sering memperhatikan sikap pria itu ketika bersama Aila. Lucas terlihat lebih lembut saat bersama gadis itu. Yah, Erik akui, Aila memang bisa mengalihkan perhatian siapapun secara perlahan.


Lucas tidak tertarik menangapi candaan Erik. Menyadari perasaanya sendiri pada istri sahabatnya, selalu membuat dirinya tersiksa karena merasa bersalah. Tapi percayalah, perasaan itu datang tanpa pernah permisi.


Melihat sikap Lucas, Erik semakin mengeraskan tawanya. Sekeras apa Lucas membangun dinding dihatinya, lama-lama pria itu toh harus menyerah dan kalah juga.


*******


Aila memandangi foto pernikahan mereka yang terpasang diatas dinding tempat tidurnya. Ukuran foto yang cukup besar. Ketika suaminya masih bersamanya dulu, Aila selalu ingin menurunkan gambar tersebut, pasalnya foto tersebut sangat memalukan baginya. Mana ada, pernikahan dengan mempelai wanita menggenakan piyama?


Namun sekarang, keinginan itu sudah tidak ada lagi. Malahan hampir setiap menit ia memandangi foto tersebut.


Aila menghela napas yang terasa berat dirongga dadanya. Percakapannya dengan Lucas dan Erik tadi kembali tergiang ditelinganya.


"Benarkah kau tidak akan pulang, tuan?" gumam Aila. Gadis itu memejam sembari meraba wajah suaminya dalam foto. "Apapun yang terjadi, aku akan terus menunggumu tuan," Aila menjeda ucapannya demi merasakan sesak dan tirta-tirta yang berdesakan ingin keluar. "Meskipun akan menghabiskan waktu seumur hidupku, aku akan tetap menungumu..."


Aila terus mengusap gambar suaminya hingga cukup lama. Setelah puas, gadis itu duduk disudut ranjang. Menatap kosong malam melalui jendela kamarnya yang masih terbuka.


Hingga sebuah ketukan pada pintu membuyarkan lamunannya.


Seketika gadis melihat jam, tepat pukul tujuh. Itu artinya waktunya untuk makan malam. Meskipun ia tidak lagi punya selera untuk makan, namun terkadang demi menenangkan hati Oma, Aila makan dengan terpaksa.


"Ya, aku akan turun setelah mandi," teriak Aila yang hapal maksud dari ketukan pintu tersebut.


"Baik nona," terdengar sahutan suara milik pak Liem.


Mendengar Langkah kaki pak Liem menjauh, Aila segera beringsut turun dari ranjang dengan malas. Gadis itu menuju kamar mandi unntuk membersihkan diri.


Cukup lama Aila berendam. Seakan tdak peduli dengan semua orang yang telah menunggunya, Aila memilih berlama-lama berada didalam bathub. Setelah tubuhnya mulai terasa kedinginan, Aila baru bangkit menuju shower untuk membilas diri. Setelahnya gadis itu memakai handuk. Entahlah, ia tidak suka memakai kimono saat selesai mandi, Aila sudah terbiasa dengan handuk.


Saat akan keluar, tiba-tiba saja lampu dikamarnya padam. Aila memang bukan tipe gadis yang langsung histeris dengan kegelapan, hanya saja, ia mearsa kesulitan untuk keluar.


"Aneh, kenapa tiba-tiba mati lampu?" gumam Aila. Pasalnya selama ia tinggal didalam kastil, tidak pernah sekalipun listrik dikastil padam.


Aila melangkah dengan meraba-raba. Meskipun sudah hapal seluk beluk kamar mandinya, tetap saja berjalan tanpa cahanya itu sulit. Berkali-kali ia terantuk rak, dan dinding pembatas kaca.

__ADS_1


"Akh!" pekik Aila sembari meraba jidatnya yang terbentur kaca.


Jidatnya masih berdenyut saat tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menarik lengannya. Sontak Aila kaget setengah mati. Aila langsung merasa takut, ketika menyadari bukan hanya dirinya yang berada didalam kamar mandi.


"Si__siapa kau?" tanya Aila.


Tidak ada jawaban dan detik itu juga, pinggulnya sudah lebih dulu ditarik hingga ia merasakan tubuhnya menempel pada tubuh seseorang.Tangan Aila refleks menempel pada dada polos didepannya Tanpa melihatpun, Aila paham jika orang tersebut adalah seorang laki-laki. Menyadari hal itu, Aila berusaha untuk melepaskan diri. Namun, pria itu mencekal lengannya.


Aila semakin ketakutan. Ingatan tentang penculikan yang pernah terjadi padanya kembali berputar dikepala.


Tanpa berpikir panjang, Aila segera meronta dan berteriak meminta tolong. Tapi lagi-lagi pria itu tak berdiam diri begitu saja, tubuh Aila didorong hingga menempel pada dinding kaca pembatas. Kedua tangannya dikunci dibelakang punggungnya, sedang handuk yang dikenakannya sudah lepas sejak pria itu mendorongnya.


Buah dadanya terasa sedikit sakit karena tekanan pada kaca dan menempel erat disana. Aila semakin meronta dan berteriak meminta tolong. Namun sia-sia, tidak ada satupun yang mendengar teriakannya. Mungkinkah, kamar mandinya didesain kedap suara? Ah, ia menyesal karena tidak pernah menanyakan hal itu.


Aila tidak menyerah, dalam kegelapan dan ketakutan ia kembali berteriak dan meronta sekuat yang dia bisa. Meski mungkin akan sia-sia tapi hanya itu yang ia bisa lakukan.


Saat Aila akan kembali berteriak, tangan kekar pria itu lebih dulu mencengkeram dagunya dan menyambar bibirnya dari belakang. Mulutnya di bekap dengan ciuman. Aila semakin berontak, tapi bibir pria itu malah semakin menekan mulutnya.


karena mulai kesulitan bernapas, Aila mulai diam dan anehnya pria itu pun segera melonggarkan ciumannya. Seperti memberi ruang untuknya bernapas. Setelah dirasa cukup, ia mulai me**mat dan mengisap bibirnya dengan lembut. Antara syok tapi juga menikmati sensasi itu, Aila tidak lagi berontak. Entahlah, cara pria itu menciumnya seperti tidak asing. Setelah puas bermain dengan bibirnya, pria itu beralih mencium pundak lalu punggungnya. mungkin hanya perasaan Aila, namun pria itu mencumbunya dengan lembut. Diantara rasa takutnya, Aila heran, bukankah dirinya sedang diperkosa? tapi kenapa pria itu tidak kasar ketika menyentuhnya? Pria itu memperlakukannya dengan lembut.


Ini aneh, meski ia sedang dipaksa tapi Aila seperti menikmatinya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara. kecupan pria itu diseluruh punggungnya membuatnya merinding, bahkan mengalahkan rasa tidak nyaman pada buah dadanya yang tertekan dan menempel pada kaca.


Aila membuka matanya yang terpejam, saat pria itu tiba-tiba berhenti mencumbunya. Nafas yang memburu menyapu puncak kepalanya. Jejak basah dan hangat pada punggungnya masih terasa. Bodoh, mungkin itu kata yang tepat untuknya sekarang. Bagaimana tidak, ia sedang di perkosa namun malah menikmatinya.


Pria itu melepas pegangan pada kedua tangannya dan dengan cepat ia membalikkan tubuhnya yang polos untuk menghadapnya. Dalam kegelapan, tangan pria itu membelai pipinya lalu meraba bibirnya dan kembali menyergapnya dengan ciuman panas. Kesempatan itu Aila gunakan untuk meraba dada dan wajahnya. Bukan untuk membalas cumbuan itu, tapi ada yang sedang ingin ia pastikan. Namun, Ketika tangannya mulai meraba dada dan dagu bagian bawah pria itu, tiba-tiba tubunya diangkat dan didudukkan pada tempat disamping wastafel.


Dengan cepat tangannya kembali dikunci diatas kepalanya. Aila merasakan punggungnya dingin karena menempel pada kaca dibelakangnya. Tidak membuang kesempatan, Aila menggerakan kakinya bermaksud untuk menendang bagian vital pria didepannya, namun gerakannya dengan cepat dapat dabacanya. Dengan satu tangannya, pria tu menangkap kedua kaki Aila kemudian membuka paha gadis itu lebar dan pria itu menempatkan dirinya tepat ditengah. Setelah Aila tidak bisa bergerak, ia kembali me**mat, menyesap dan menggigit kecil bibir bawahnya. Awalnya lembut namun bersamaan hasrat yang semakin naik, ciuman itu berubah semakin panas, hingga Aila bisa merasakan asin pada mulutnya. Pertanda ada bagian dari dinding mulutnya yang robek.


Pria itu melepas ciuamannya saat napas Aila mulai tersengal. Seperti ingin memberi kesempatan gadis itu untuk berbapas, ia menurunkan bibirnya dan mulai menyusuri leher dengan kecupan kecupan kecil hingga sampai pada buah dadanya.


Dengan rakus mulutnya mengulum puncak dada Aila yang memang sudah menegang, sedang satu tangannya meremas buah dadanya yang lain. Tidak ada yang bisa Aila lakukan, dengan kedua tangannya dikunci diatas kepala. Sedang ia mulai lelah karena terus berteriak. Saat Aila mulai menyerah, ia mencium bau parfum yang sering dipakai oleh suaminya. Leon selalu menggunakan parfum itu tanpa pernah menggantinya dengan merek yang lain. Mungkin terdengar gila, namun Aila yakin jika pria yang sedang menggagahinya adalah Leon, suaminya sendiri. Meskipun belum sepenuhnya yakin, Aila mulai pasrah dengan perlakakuan pria itu pada tubuhnya.


Aila merintih saat puncak dadanya digigit dan dipermainkan dengan sedikit kasar. Ia merasa buah adanya mulai terasa nyeri karena cumbuan pria itu, namun Aila membiarkannya.


Hingga ia tersentak saat pinggulnya ditarik maju kedepan secara tiba-tiba. Aila bisa merasakan sesuatu yang menusuk pada area intimnya. Tanpa sempat terkejut, pria itu sudah lebih dulu membuka pahanya lebar-lebar dan mulai memasukinya perlahan.


Meski bukan pertama kali melakukan hal itu, tetap saja Aila merasakan perih seperti terbakar pada area intimnya. Padahal pria itu melakukannya secara perlahan dan lembut. Bisa jadi karena selama enam bulan ini ia tidak melakukan aktifitas itu.


Aila sedkit memekik karenanya, dan tanpa disangkan pria itu kembali mencumbunya, menciuminya dan bahkan mencium keningnya. Seperti menyuruhnya untuk rileks. Perlakuan yang sama persis seperti ketika suaminya melakukan itu padanya.


Dengan satu hujaman yang sedikit kuat, kejantanan pria itu bisa masuk seluruhnya. Tepat saat itu, Aila mendengar geraman maskulin dari mulut pria itu, dan itu membuatnya yakin siapa pemilik suara itu.


"Tu___tuan?' suara Aila terdengar parau.


Pria dihadapannya tidak menjawab dan malah semakin mempercepat ritme pompanya. Dengan satu tangan bertumpu pada dinding kaca dibelakang Aila dan satu tangannya lagi melingkar pada punggung Aila, menekan punggung tersebut sesuai dengan gerakan yang dia ciptakan sendiri.


Seiring dengan gerakan yang semakin cepat, geraman dan umpatan kecil kembali terdengar dari mulut pria itu, membuat Aila semakin yakin jika pria didepannya adalah suaminya.


Tangannya yang sedari tadi berusaha menahan dada pria itu kini beralih melingkar pada lehernya. Jika awalnya, Aila menolak setiap sentuhannya, kini Aila malah mencium bibir didepannya dan menciumi wajah pria itu.


"Kau terlalu lambat mengenaliku," bisiknya dengan suara berat.


Dengan keduanya yang masih menyatu, pria itu mengangkat tubuh Aila keluar dari kamar mandi. Tepat saat itu lampu mulai menyala dan perkiraan Aila tidak salah. Pria yang sedang menggendongnya adalah suaminya sendiri. Kini perasaan Aila campur aduk menjadi satu. Untuk sesaat Aila mengamati wajah dan tubuh didepannya, tidak kurang suatu apapun, Aila segera merasa lega akan hal itu. Namun saat dirinya akan berucap sesuatu, Leon sudah lebih dulu mendudukannya diatas meja dan mulai melanjutkan permainannya.


Dengan sedikit kasar ia menarik kedua kaki Aila kedepan hingga gadis itu memekik karena terkejut. sekarang posisinya setengah berbaring diatas meja dengan kedua siku tangannya sebagai tumpuan. Tanpa banyak bicara, Leon memposisikan dirinya tepat ditengah. Pria itu membungkuk dan menurunkan wajahnya di kewanitaan istrinya.


Aila melenguh demi merasakan permainan lidah suaminya pada bagian inti tubuhnya. Punggungnya melengkung menunjukkan buah dadanya yang membusung. Tepat disatu titik, saat ia akan mencapai puncaknya, Leon menghentikan permainan lidahnya.


Pria itu menyeringai, "Terlalu cepat sayang!' sesudah berkata seperti itu, ia mulai mengarahkan kejantanan miliknya pada pusat kehangatan tubuh istrinya. Dengan satu hujaman Lembut mereka kembali menyatu.


"Ah!" Aila tidak mampu lagi menahan gelombang hasrat yang mendera tubuhnya.


Begitu pula dengan Leon, pria itu memacu ritme percintaan mereka dengan keepatan yang berubah-ubah. Saat Aila akan mencapai puncaknya ia kembali melambat, seperti itu terus secara berulang. Membuat Aila seperti dipermainkan.


"Tu__tuan..." rintih Aila frustrasi.


"Apa maumu?" Leon memperlambat tempo percintan mereka.


Aila tidak menjawab. Ia merasa malu jika harus meminta. Merasa gemas dengan sikap keras kepala istrinya, Leon kembali mempermainkan Aila. Hingga Aila merasa sudah tidak lagi tahan, Ia mencenkeram tangan suaminya. "Ja__jangan berhenti!" akhirnya permohonan itu, keluar dari bibir Aila. Dan itu membuat Leon merasa puas. Pria itu tersenyum tipis kemudian mempercepat pompanya.


Aila mendesah semakin keras karena permainan suaminya, dan itu membuat Leon semakin terbakar oleh gairah. Dalam satu tarikan napas panjang, mereka mencapai puncak secara bersamaan.


Dengan napas tersengal, Aila memeluk tubuh suaminya yang penuh dengan keringat, sedang Leon terlihat sangat kelelahan saat ini. Tidak biasanya memang, satu ronde sudah menghabiskan banyak tenaganya. mungkin karena luka tembak pada dada dan punggungnya belum pulih sempurna.


Bersambung......


Hayoooo, ngaku siapa yang salah tebak dan sudah keburu berburuk sangka? hahaha


Padahal udah ngikutin dari part satu, tapi masih gak hapal juga gaya aku gimana. hahaha

__ADS_1


Masih aja disamain dengan sinetron ikan terbang, syediih akutu.


Tinggal satu part lagi tamat gaes. Sabar ok?


__ADS_2