Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 75


__ADS_3

🌸Cinta 49 Cm🌸


Part 75


**Serkan**


Braaak!


Terlalu terburu-buru, Lisa tidak sengaja menabrak orang yang sedang lewat didepannya. Semua tangkai bunga mawar yang baru saja ia petik terserak, berhampuran di atas tanah. Rapatnya tanaman bunga mawar di taman belakang, membuat ia tidak bisa langsung melihat dengan jelas siapa yang sedang lewat di depan matanya.


"Akh, maaf, maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja," ucap Lisa tanpa mendongakkan kepalanya. Gadis itu langsung memungguti bunga mawar yang terserak di sekitarnya.


Ya, setiap pagi buta ia akan memetik bunga mawar yang memang ditanam disekitar kastil sebagai penghias ruangan. Awal mula, Aila yang melakukan kegiatan itu. Entah kenapa gadis itu suka sekali dengan mawar, hingga ia meletakkan bunga tersebut pada setiap sudut ruangan di dalam kastil.


Namun sejak Aila pergi meninggalkan kastil. kegiatan itu dilanjutkan oleh Lisa. Meskipun tuan muda sekaligus kakak tirinya itu tidak pernah memerintahkannya, tapi ia merasa harus meneruskan kegiatan itu. Meskipun hubungan mereka terlihat rumit, namun kentalnya darah toh mengalahkan kentalnya air. Secuek apa sikap leon terhadap Lisa, pria itu tetap memperhatikan adiknya, meski hanya dari jauh. Begitu pula dengan Lisa, sejauh apa gadis itu menjaga jarak, ia tetap peduli dan mengerti dengan perasaan kakak tirinya itu.


Setelah Aila menghilang, ia sering mmelihat kakak tirinya itu memetik bunga dan mengganti sendiri mawar yang telah layu dalam vas. Karena itulah, Lisa merasa kasihan, hingga gadis itu selalu bangun jauh lebih pagi untuk mengganti semua mawar mawar itu dengan yang lebih segar setiap harinya.


"Eh!"


Lisa terkejut saat tangannya bersentuhan dengan lengan kekar penuh tato, ketika ia akan mengambil tangkai mawar terakhir yang terserak diatas tanah.


"Ini," tangan itu menyerahkan mawar tersebut pada Lisa.


Dengan gugup gadis itu menerima tangkai mawar yang diberikan padanya. Ia sama sekali tidak menyangka, jika seseorang yang ia tabrak masih berdiri di depannya.


"Terimakasi, saya permisi." ucap Lisa, lagi_lagi tanpa melihat muka siapa yang di tabraknya.


Bukan apa-apa, ia hanya selalu merasa tidak percaya diri tiap kali bertemu dengan orang asing. Perlakukan buruk yang sering ia terima sejak masih kecil, membuat gadis itu sulit untuk bersosialisasi dan cenderung menarik diri.


Tanpa banyak kata, gadis itu berbalik dan melangkah dengan tergesa meninggalkan seorang lelaki pemilik lengan bertatao yang tadi di tabraknya.


"Gadis yang aneh," gumam Serkan heran. Sikap gadis itu yang tiba-tiba menghilang dan menghindarinya, membuat Serkan mengingat sebuah pertemuan. Pertemuan pertama dirinya dengan Aila. Gadis itu juga langsung melarikan diri saat melihatnya untuk pertamakali. Sejak saat itu pula, ia mulai menaruh rasa pada wanita sahabatnya itu.


Lupa?


Ia terlalu menjadi seorang pengecut untuk bisa melupakan gadis itu. Setelah kepergiannya, ia bahkan ikut pergi tanpa pernah ada keinginan untuk kembali, meski hanya sekedar untuk berkunjung. Ya, ini kali pertama dirinya pulang setelah tiga tahun.


Tidak munafik, jika kepulangannya kali ini pun memang karena Aila. Entahlah, ia hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.


Lalu siapa gadis tadi?


Serkan merasa belum pernah melihat gadis itu dikastil sebelumnya, atau memang sudah sejak lama ada? mungkin juga. Sejak bertemu dengan Aila, matanya hanya tertuju pada gadis itu dan tidak peduli dengan sekitarnya.


Serkan meneruskan langkah menuju kastil kedua. Pria itu memang lebih memilih untuk tinggal di kastil utama, sejak kedatanggannya dari Dubai kemarin sore. Butuh keberanian sendiri untuk kembali menyaksikan sahabatnya kembali bahagia bersama wanita yang di cintainya bahagia.


Lavender blue, dilly-dilly


Lavender green


if, I were king, dilly-dilly I'd a queen


Whoa-oh, who told me so? dilly-dilly


who told me so?


I told my self, dilly-dilly


I told me so


Ia mendengar seseorang sedang bersenandung kecil saat melewati air mancur di tepi taman. Meskipun suranya tidak seindah Celline Dion maupun katy perry, namun tetap indah untuk di dengar.


Serkan berjalan lebih mendekat. Ia melihat seorang gadis tengah bermain air di bawah air mancur yang berbentuk seperti mangkuk besar. Tanpa melihat wajahnya pun, Serkan sudah tau siapa gadis itu. Hanya Aila yang suka melakukan kegilaan seperti itu.


Karena tingkahnya itulah sahabatnya begitu tergila-gila pada Aila, termasuk juga dirinya.


"Turun nona, ini masih pagi. Nona bisa sakit nanti," seorang gadis terlihat sedang membujuk Aila untuk turun. Gadis yang sama dengan yang ia temui di taman mawar.


"Tidak, sebelum kakak juga ikut bermain." Aila tidak mau turun dan berhenti dari kesenangannya.


"Saya?" gadis itu terlihat menggelengkan kepalanya berulang. "Turunlah nona, sebelum kami semua terkena marah oleh tuan muda.' sahut gadis itu masih tetap membujuk sang nona.


"No,no,no. Ayolah, ini menyenangkan kakak. Sesekali kakak juga harus bermain, jangan hanya bergelut di dapur saja." ucap Aila bersikeras.

__ADS_1


Mau bagaimana lagi, sejak ia bermain air di kolam otomatis suaminya, ia jadi ketagihan. Gadis itu itu seperti menemukan hal yang baru untuk dimainkan. Karena kolam rahasia itu hanya di buka jika sang boss sedang ingin berenang saja, maka Aila mencari cara lain untuk menyalurkan hoby barunya itu. Bermain di air mancur menjadi pilihan lain baginya.


Sebenarnya ia hanya ingin mengajak adik tiri suaminya itu untuk sesekali menikmati hidup. Aila merasa hidup Lisa terlaku kaku. Gadis itu hanya menghabiskan waktu didapur dan di kamar saja setiap harinya.


"Sedang apa?"


"Bermain, uh?" Aila terperanjat kaget ketika menyadari siapa yang sedang bertanya padanya. Gadis itu langsung berdiri sembari menutup mulutnya. lucu.


Melihat hal itu sontak, Serkan terkekeh. Waktu tiga tahun, ternyata tidak mampu mengubah tingkah polos gadis itu.


"Kakak, kapan datang?" tanya Aila antusias. Gadis itu langsung berdiri dari duduknya.


Serkan tidak menjawab, pria itu malah berjalan mendekat dan mengulurkan tangan.


"Turunlah! kau bisa sakit." tanpa menunggu jawaban dari Aila, pria itu sudah lebih dulu mengangkat dan menurunkan gadis itu.


"Woah! kakak masih tetap manis," ucap aila dengan nada takjub.


Lagi-lagi, Serkan tidak menanggapi ucapan konyol Aila dan malah terkekeh.


"Sepagi ini kau sudah bermain, dimana suamimu?"


Aila mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Singa itu sedang tidur dengan sangat pulas sekarang." ucap Aila dengan nada yang lucu.


"Ehem!"


Deheman Leon mengangetkan mereka bertiga. Entah sejak kapan pria itu berdiri di belakang mereka. Tatapan matanya tajam bak seekor elang kehilangan mangsa.


Aila kembali mendekat kearah serkan dan berbisisk, "Singa itu sekarang telah bangun,"


Seakan ingin mengerjai sahabatnya, Serkan membalas bisikan Aila.


"Ya, singa itu terlihat sangat lapar. Aku kira dia akan segera menerkam dirimu!" balas Serkan dengan berbisik pula.


Mendengar ucapan Serkan, Aila mencebik. Gadis itu mengira Serkan akan mendukungnya.


"Kemari!" perintah Leon sembari menggerakkan telunjuknya.


"Anda mencariku tuan?" tanyanya manja.


"Kau pikir? mainanku pagi-pagi sekali sudah keluyuran!" ucap leon tajam. Matanya mentap marah pada wanitanya yang setengah basah itu.


Aila diam, memainkan kedua tangan di belakang punggung lalu mentap manja suaminya.


"Aku hanya ingin bermain air, tuan. Tapi kolam anda sudah tidak ada." ucapnya membuat alasan.


Mendengar penuturan mainannya itu, Leon menyeringai. Entah apa yang akan dimainkan manekin hidupnya kali ini. Tapi sepertinya hukumannya tadi malam masih kurang.


Tanpa banyak kata lagi, ia mengangkat tubuh istrinya itu lalu menggendongnya dengan satu tangan.


"Sepertinya kau harus diikat agar tidak nakal, sayang." Leon mengecup singkat pipi merah Aila, lalu membawanya mendekat menuju Serkan.


"Temui aku di ruang makan, ada bnyak hal yang ingin ku bicarakan," ucap Leon pada serkan.


Serkan hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.


Setelah itu, Leon pergi membawa Aila dengan celoteh berisik meminta ampun dari mulut gadis itu.


Untuk sesaat, Serkan diam sembari mengamati bayangan tubuh Leon yang tengah menggendong Aila menjauh. Meski dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang hilang, tapi ia merasa lega. Setidaknya ia tahu, jika Aila baik-baik saja dan bahagia bersama sahabatnya.


Terlalu sibuk melamun, ia tidak sadar jika ada seorang gadis yang masih berdiri disampingnya. Sebelas, dua belas dengan Serkan, Lisa pun tengah melamun. Namun entah apa yang sedang di lamunkan gadis itu, hingga tanpa sadar ia masih berdiri di tempatnya.


"Hem! siapa namamu?" tanya serkan pada Lisa.


Pertanyaan serkan membuyarkan lamunan gadis itu. Seketika kegugupan melanda.


"M__maaf, saya harus kembali." ucap lisa terbata, lalu membungkuk dengn kikuk dan memutar tubuh untuk melangkah pergi. Belum juga berbalik, lengannya sudah lebih dulu di cekal oleh Serkan.


"Aku hanya tanya namamu! kenapa kau terus menghindar? sikapmu benar- benar membuatku kesal!" ucap serkan sinis. Matnya menatap tajam kearah Lisa.


Entah kesal Karena kenyataan jika ia belum bisa melupakan Aila, atau sikap Lisa yang seperti tidak mau melihatnya, Ia tidak paham, yang pasti ia kesal sekarang.


Serkan menarik pinggang Lisa mendekat. Ia bisa merasakan tubuh gadis yang menempel pada dadanya itu bergetar, wajah pias gadis itu jelas menyiratkan ketakutan.

__ADS_1


"Sa__saya.."


Tidak membolehkan Lisa melanjutkan ucapan, Serkan menempelkan telunjukknya pada bibir pucat gadis itu. Seketika Lisa diam, tubunya semakin kaku ketika Serkan menyingkap anak rambut yang menutupi wajahnya dan membelai lembut pipinya. Wajah pucat dan tirus milik Lisa, entah kenapa mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang berharga di masa lalunya. Tiba-tiba ia menjadi iba melihat keadaan gadis itu.


"Sebutkan namamu sayang," pintanya dengan nada yang lebih lembut.


Lisa terlihat menggerakkan bibir, namun tidak satu katapun keluar dari sana. Ia terlalu merasa takut dan gugup dengan perlakuan lelaki didepannya. Lisa hanya bisa sedikit bergerak, ia berharap bisa melarikan diri dari pria didepannya secepat mungkin.


Melihat Lisa berusaha melepaskan diri, Serkan malah menyeringai dan semakin mempererat dekapannya pada punggung gadis itu, hingga membuat Lisa tersentak. Wajahnya semakin pucat, melihat hal itu, entah kenapa membuat kesenangan tersendiri bagi Serkan. Pria itu kembali membelai pipi, lalu turun pada bibir tipis gadis itu. Dalam satu tarikan, ia ******* bibir itu dengan lembut.


Seluruh tubuh Lisa terasa lemas sekarang. Ingin sekali ia menolak, namun entah kenapa tubuhnya malah menerima sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selain dengan ayahnya dan Maria, ia tidak pernah menerima sentuhan siapapun dalam tubuhnya.


"Siapa namamu?" tanya Serkan setelah melepas bibir merekah di depannya.


"Li__sa, tu__an," ucap lisa terbata.


"Nama yang indah," sahut serkan dengan tersenyum.


Ia mulai membelai pipi dan bibir gadis itu lagi, mengeratkan pelukan dan kembali menyergap bibir Lisa dengan ciuman yang lembut namun tetap panas.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Lisa. Tenaga Serkan jelas bukan tandingannya. Gadis itu pasrah menerima ciuman yang tidak seharusnya terjadi tersebut.


Sialnya, ia bahkan mendesah karena permainan lidah serkan pada lehernya. Lisa merasa begitu bodoh karena malah menikmati perlakuan kurang ajar lelaki didepannya itu.


"Jangn menghindar, jika bertemu denganku lain kali." Serkan, mengusap bibir yang baru saja dinkmatinya, membelainya lembut sebelum pria itu pergi meninggalkan Lisa seorang diri.


Sepeninggal Serkan, tubuh Lisa lunglai luruh ketanah. Entah apa yang sedang dirasakan gadis itu. Mungkin syok atau mungkin juga sensasi yang ditinggalkan olah serkan padanya. Yang jelas, jantungnya terasa berdegup kencang dan tubuhnya gemetar tidak karuan.


********


Untuk pertama kalinya ruang jamuan makan di kastil kedua di pakai oleh pemiliknya. Leon sengaja memerintahkan semua orang untuk makan bersama di dalam ruangan itu. Kecuali para pelayan tentu saja. Tidak ada aturannya, para pelayan makan semeja dengan majikan.


Semua sudah terlihat berkumpul, bahkan pelayan senior kastil pun sudah berdiri tegak di belakang meja makan. Mereka memang bertugas memastikan jika sang tuan tidak kekurangan apapun selama menikmati makanan.


Hanya Leon dan Aila saja yang belum hadir. Entah di mana dua orang kasmaran itu berada. Semua orang sudah kelaparan, namun mereka belum juga hadir.


"Mulai makan saja, biarkan mereka menyusul," ucap Oma yang mulai tidak sabar dengan rasa laparnya. Lagi pula ia bisa menebak apa yang sedang dilakukan kedua cucunya itu. Mereka pasti sedang melakukan olah raga panas di pagi hari, memang apalagi?


Tanpa banyak bicara lagi, Erik dan Alex mulai mengambil makanan. Sedang Davin masih terlihat diam. Kalau serkan malah sedang terlihat sibuk dengan gawainya.


Tepat saat bunyi gaduh peralatan makan saling bersahutan, Leon datang dengan Aila mengekor dari belakang. Jika Leon terlihat santai duduk di kursinya, maka berbeda dengan Aila. Gadis itu terlihat tidak nyaman. Sesekali gadis itu merapikan rambut agar menutupi dada atas dan lehernya. Ya, dad beserta lehernya penuh dengan tanda kepemilikan sang singa.


"Tidak apa sayang, itu adalah tanda jika suamimu tergila-gila padamu," ucap oma yang paham akan keresahan Aila.


Aila tidak menjawab, gadis itu hanya mengulum senyum karena malu.


Tatapan Oma kini beralih kearah Leon yang masih tampak santai bahkan setelah ia menyindirnya. Cucunya itu benar-benar miskin malu.


"Apa?!" tanya Leon yang sadar dengan tatapan intimidasi Omanya.


"Kau mmbuatnya seperti ular derik!" desia oma.


"Salahnya sendiri, pagi buta sudah mnghilang!" ucap Leon acuh.


Mendengar jawaban Leon, oma mengerutkan kening. Wanita tua itu sepertinya tidak paham maksud cucunya. Ia kemudian menoleh kearah Aila dan melihat gadis itu hanya menggeleng cepat.


Melihat mainanya yang mulai bisa berkelit, Leon tersenyum tipis. Baru saja ia memberi istri nakalnya itu hukuman, namun sepertinya tidak membuatnya jera.


Jika bermain-main saja dengan Aila membuatnya tidak lapar, maka ia lebih memilih untuk memainkan gadis itu sepanjang hari tanpa harus makan.


"Kemari!" perintah Leon pada Aila.


Namun, istri mungilnya itu pura- pura tidak dengar. Entah apa yang dilakukannya, gadis itu malah terlihat sedang menghitung sendok dan garpu di depannya.


"Jangan pura-pura tidak dengar sayang, atau hukumanmu bertambah,' ucap Leon tanpa melihat gadisnya. Nada bicaranya memang terdengar santai tapi tidak dengan hukumannya.


Mendengar ancaman suaminya, Aila mencebik. Gadis bangun dari kursinya dengan malas, bibir mungilnya terlihat bergerak, seperti tengah menggerutu.


Melihat hal itu, Leon tersenyum lebar. Bagaimana lagi? membuat mainannya kesal sungguh kesenangan baginya.


Melihat tingkah keduanya, Oma hanya menggelengkan kepala. Sedang yang lain terlihat acuh. Tuan mereka memang gesrek jika berhadapan dengan istrinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2