
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 86
**Cemburu**
"Ada apa?" tanya Leon pada Serkan setelah memasuki ruang pengendali CCTV.
"Lihat Ini," Serkan menunjukkan video CCTV yang sedang ia putar pada layar laptopnya. Sebuah video yang merekam kejadian saat Aila bertemu dengan Steven Hundson di taman belakang kastil kedua. Dalam video tersebut, terlihat jelas jika Steven mendekat dan bahkan membelai pipi Aila.
Melihat hal itu, tentu saja Leon sangat terkejut sekaligus juga marah. Tapi kenapa Aila tidak mengatakan hal apapun padanya?
"Dia..." Leon mencoba mengingat wajah pria tersebut. Wajah yang sepertinya tidak asing baginya. Tapi siapa dia? apakah relasi bisnisnya?
"Kau tau siapa pria itu?" tanya Serkan pada Leon. Serkan memang tidak membantu perusahaan Leon yang berada disini, sehinga ia tidak begitu paham dengan siapa saja sahabatnya itu menjalin kerjasama.
"Entahlah, aku tidak yakin, tapi Davin pasti paham," jawab Leon. Ia segera mengambil gawainya, lalu menghubungi Davin.
Setengah jam lagi adalah waktu pemberkatan pernikahan. Tapi ia tidak boleh mengabaikan sekecil apapun hal yang bersifat mencurigakan. Sebagai seorang sahabat sekaligus boss bagi mereka, Leon ingin proses pernikahan berjalan dengan lancar tanpa halangan sedikitpun. Ia tidak akan membiarkan para pengacau itu merusak moment bahagia kedua sahabatnya itu.
Tidak lama, Davin muncul dengan jas putih khas pakaian mempelai pengantin pria.
"Anda memanggilku, tuan?" tanya Davin.
"Ya," Leon menoleh. Sesaat pria itu terdiam melihat penampilan sahabatnya yang berbalut jas putih. Entah kenapa ada rasa haru yang menyelinap masuk didalam dadanya saat itu. Davin adalah teman, adik sekaligus bawahan terbaik yang pernah ia miliki. Melihatnya akan memulai hidup baru dan membentuk sebuah keluarga, membuat perasaannya campur aduk. Sedih tapi juga bahagia.
"Ya tuan?' Davin mengulang ucapannya karena Leon malah terlihat melamun.
"Oh, maaf Davin, tapi ini hanya sebenar," Leon merasa bersalah, karena seharusnya ia tidak menganggu Davin di hari bahagianya itu.
"Tidak masalah, tuan. Silahkan katakan apa yang anda inginkan," Davin sama sekali tidak merasa terganggu karena Leon memanggilnya. Pria itu sangat mengerti dengan keadaan yang sedang dihadapi sang boss. Ia sudah diberikan izin menikah saja itu sudah lebih dari cukup. Ditambah wanita yang dia nikahi adalah kerabat istrinya sendiri. Lalu apa pantas jika ia merasa terganggu hanya karena sang boss memerlukan bantuan darinya?
"Lihatlah," Leon menunjuk rekaman video CCtV pada layar Laptop milik Serkan.
Davin maju dan melihat dengan teliti video yang dimaksud oleh Leon. Pria itu terlihat sama terkejutnya dengan Leon. Tapi memilih diam dan menunggu pertanyaan selanjutnya dari sang boss.
"Apa kau tahu siapa dia?" tanya Leon pada Davin.
Davin mengangguk, "Dia Steven Hundson, tuan. Relasi bisnis dalam proyek terbaru kita." Davin menjawab sesuai apa yang dia ketahui.
Leon diam sembari meraba janggutnya seperti tengah berpikir.
Proyek Hunian terbaru mereka memang menjadi tanggung jawab Davin, jadi Leon tidak begitu paham. Tapi ia memang pernah melihat pria itu, mungkin ketika mereka menandatangani kontrak kerjasama.
"Tapi kenapa relasi bisnismu bersikap seperti itu pada Aila? apa mereka saling kenal sebelumnya?" tanya Serkan pada Leon.
Sekali lagi Leon hanya Diam. Jujur saja ia tidak bisa menjawab pertanyaan Serkan,.
"Saya rasa, nona muda tidak mengenal pria itu, tuan. Karena saya sempat melihat nona marah padanya," Jimy menyela pembicaraan ketiga bossnya. Karena yang melaporkan tentang Pria mencurigakan itu, juga dirinya.
"Marah? istriku marah tentang apa?" tanya Leon pada Jimy. ia benar-benar gusar sekarang.
"Saya tidak tahu pasti, nona marah tentang apa. Tapi nona sempat mengatakan jika dia kesal karena pria itu merusak mawarnya," Jimy berkata sembari mengingat-ingat tentang perkataan Aila tadi pagi.
Leon terlihat serius menyimak dan mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Jimy.
"Tapi.." jimy ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Tapi ap?" tuntut Leon semakin penasaran.
"Jika melihat pria itu menatap nona, sepertinya ia.....me_naruh rasa pada nona Aila..." Jimy sangat hati-hati ketika mengucapkan pendapatnya. Ya, siapapun akan sependapat jika cara terbaik membangunkan singa dari tidurnya adalah dengan mengusik wanitanya. Dan benar saja, sedetik kemudian, Leon mengertakkan rahangnya dan menggeplak meja, meski tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya, namun jelas terlihat, jika pria itu mulai emosi.
"Suka? memannya mereka pernah bertemu?" pertanyaan Serkan memang terdengar wajar, namun bagi Leon malah semakin menyulut rasa panas dalam dadanya. Ia memang yakin, Aila tidak mungkin menghianati dirinya, tapi kenyataan jika Aila tidak mengatakan apapun tentang pria yang sudah kurang ajar padanya, membuat pikiran Leon berasumsi tentang hal lain.
"Tetaplah pada posisimu, dan kau Jimy, lalukan tugasmu, aku akan ketaman sekarang," ucap Leon pada Serkan dan Jimy.
Jimy mengangguk paham, sedang Serkan hanya diam.
__ADS_1
Leon kemudian menepuk pundak Davin, "Bersiaplah, pemberkatan pernikahanmu akan segera dimulai," Ucap leon kemudian keluar meninggalkan ruang pengendali CCTV.
"Tetap awasi gerak pria ini, jangan alihkan pandanganmu meskipun hanya sedetik," perintah Serkan pada Jimy.
Jimy mengangguk paham, sedang Davin keluar ruangan menuju altar tempat janji sucinya akan ia ucapakan.
*****
Leon menyembunyikan perasaan campur aduknya dengan tetap tenang, sesekali pria itu terlihat tersenyum ramah menyapa tamu dan kolega bisnisnya. Namun tatapan tajam tidak bisa ia sembunyikan saat melihat kearah Steven. Entah kenapa ia mulai berpikir jika pria tersebut tidak asing baginya.
Sejak pertama kali melihat kemunculan Leon, Steven sendiri tidak bisa mengalihkan pandangannya pada musuh besarnya itu. Meskipun ia berusaha tetap tersenyum ramah saat mata mereka bertemu, namun tidak dipungkiri jika hatinya memanas kala melihat Leon mengecup puncak kepala Aila sebelum mendudukkan dirinya di samping gadis itu.
Tapi apa yang bisa ia lakukan? Mungkin sekarang memang waktu sedang berpihak pada boss besar Group Thomson itu, tapi ia akan segera membalikkan keadaan dan membuat singa konstruksi itu menangis dan menderita seperti apa yang pernah ia alami dulu.
"Kenapa anda lama sekali, tuan?" protes Aila karena suaminya itu hampir saja terlambat menyaksikan pemberkatan pernikahan kedua sahabat baiknya.
"Ada urusan," jawab Leon singkat. Saat menjawab pertanyaan Aila, entah kenapa ia tidak bisa menyembunyilkan rasa kesalnya.
Aila diam, tapi matanya jelas mengamati raut wajah suaminya. Nada bicara Leon terdengar tidak biasa. Aila sangat paham, jika suaminya sedang kesal. Tapi kesal karena apa?
Aila ingin sekali bertanya, tapi tepat saat itu Nita dan Miranda Keluar menuju altar. Nita terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnnya. Wanita itu terlihat tersenyum bahagia dengan diapit Oma dan pak Liem tentu saja. Mereka adalah wali pengganti untuk Nita. Sedang Miranda yang memang sudah cantik tampak semakin anggun dengan gaun putihnya. Miranda menuju altar diapit oleh kedua orang tuanya.
Aila terlihat sangat terharu dengan penampilan keduanya. Terutama pada Nita, kakak angkatnya. ia merasa lega karena telah berhasil mengantar wanita itu menuju kebahagiaannya.
Saat melewati Aila, Nita kembali melempar senyum. Seakan ingin membagi kebahagiaan yang sedang dirasakannya.
Aila terlihat berkaca-kaca saat itu. Tanpa sengaja ia memegang lengan suaminya dengan erat.
Meskipun sedang kesal, Leon membiarkan sikap istrinya. Hati Aila memang mudah sekali tersentuh. Sejujurnya ia sendiri bingung, kenapa ia merasa kesal pada Istrinya. Leon merasa sangat konyol dengan sikap kekanakan yang ia lakukan. Tapi ia tidak bisa mengusir amarah itu jika kembali mengingat saat pria sialan itu membelai pipi Aila.
Tidak kalah dengan para mempelai wanita, kedua mempelai pria terlihat sangat terharu dan juga bahagia melihat belahan jiwa mereka mendekat dengan begitu cantiknya. Ya, setelah hari ini, kedua wanita tersebut adalah bagian terpenting dalam kehidupannya.
Setelah para wali menyerahkan mempelai wanita pada sang pria, Bapa pun akahirnya melakukan pemberkatan pada pernikahan mereka.
Kedua pasang pengantin itu mengucapkan janji suci pernikahan dengan lantang dan tegas tanpa keraguan.
Kebahagiaan mereka seperti direstui oleh semua orang, terbukti setelahnya, gemuruh tepuk tangan menggema diseluruh altar pernikahan.
Tidak lupa, sesekali mulut usil Erik memprovokasi para tamu untuk kedua mempelai melakukan ciuman. Dan keinginannya benar-benar disetujui oleh semua orang. Meskipun mereka tidak yakin jika Davin mau melakukan itu di depan umum, mengingat lelaki satu itu memang sangat dingin. Tapi siapa yang menyangka jika Davin yang lebih dulu memulai ciuman itu pada Nita.
Semua orang melongo pada awalnya, namun detik berikutnya mereka kembali bersorak gembira. Yah, pernikahan yang sangat sempurna dan penuh kebahagiaan.
Setelah prosesi pernikahan selesai, akhirnya tiba bagi para tamu untuk menikmati hidangan dan bercengkrama dengan kedua mempelai. Dengan pesta campagne dan wine tidak lupa juga berselfie ria mengabadikan moment bahagia.
Hanya Leon yang seperti tidak menikmati pesta tersebut. Pikirannya kusut karena CCTV sialan itu.
Bukannya tidak tahu, Aila yang sedari tadi mengamati gerak-gerik suaminya pun merasa perlu untuk bertanya. Sebenarnya apa yang sedang menganggu pikiran singanya itu.
Aila mengambil tangan suaminya, membelainya lalu mencium dengan lembut telapak tangan itu.
Leon hanya diam dan menatap tajam kelakuan istrinya.
"Katakan padaku tuan, apa yang sedang menganggu pikiranmu?" tanya Aila lembut.
Leon mendesah. Sebenarnya ia merasa sangat bodoh saat ini. Ia bahkan marah pada istrinya tanpa alasan yang jelas.
Tapi, Entahlah..
"Aku merasa anda sedang marah padaku, tuan.." lanjut Aila dengan nada sedih. Gadis itu terus membelai lengan suaminya dengan lembut.
Leon kembali mendesah sembari menyugar rambutnya. Kenapa ia tetap tidak bisa mempertahankan kekesalannya saat mainannya itu mulai merayu?
Leon menyerah pada Akhirnya, "Arah jam sembilan, apa kau mengenal pria itu?' tanyanya pada Aila.
__ADS_1
Aila mengernyit sesaat, namun ia menoleh ketempat yang dimaksud oleh Leon.
"Arah jam Sembilan sayang, bukan jam tiga!" Leon memutar kepala istrinya kesal, karena Aila malah menoleh berlawanan arah dari apa yang ia maksud.
"Aku kira jam 9 disana," Aila menunjuk arah dengan polosnya. Gadis itu terlihat berpikir sejenak, sebelum akhirnya tertawa konyol, "Anda benar tuan, disana jam tiga," ucap Aila menyadari kebodohannya. "Waw! anda ternyata sangat pintar tuan," puji Aila.
Mendengar ucapan Aila. Leon tidak tahan untuk tidak terkekeh. Mainannya itu sangat pintar mengembalikan moodnya yang buruk.
"Lalu apa kau mengenal pria itu?" tanya Leon serius, setelah Aila membenarkan arah pandangannya.
"Yang mana tuan? disana banyak sekali orang.." Aila tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh suaminya.
"Yang memakai jas abu-abu sayang, pria yang sedari tadi terus menatapmu penuh cinta," Leon menekan kalimat terakhirnya. Sangat terlihat jika ia mengucapkannya dengan kesal dan penuh kecemburuan.
Aila kembali mengernyit mendengar ucapan suaminya, tapi ia tetap mencari pria yang dimaksud oleh Leon.
Hingga matanya menemukan pria kurang ajar yang membuatnya kesal pagi tadi. Leon benar, pria itu tengah menatapnya dengan intens bahkan terang-terangan kearahnya.
"Dasar pria aneh!" gumam Aila tanpa sadar.
Mendengar gumaman istrinya, Leon mengeryit heran sekaligus penasaran.
"Pria aneh? apa kau pernah bertemu dengannya?" Leon pura-pura bertanya.
Aila mengangguk, "Ya, tadi pagi di taman belakang." jawab Aila jujur. "Dia memetik mawarku dengan sangat kasar..." lanjut Aila sembari menoleh kearah Steven, namun tanpa sengaja tatapan mereka malah bertemu saat itu. Dan dengan beraninya Steven mengedipkan mata padanya. "Astaga! apa dia sedang mabuk?" Aila bergumam karena sikap berani Steven padanya.
Melihat kelakuan Steven yang seperti sedang mengajaknya berperang secara terang-terangan, membuat Leon menyeringai sembari tertawa kecil. Selain terobsesi pada istrinya, Leon merasa Steven menyimpan tujuan Lain. Sorot mata pria yang kira-kira lebih muda dua tahun darinya itu menyimpan kebencian yang mendalam saat menatapnya.
"Ah, aku suka ini," gumam Leon berbicara sendiri.
Aila kembali mengernyit, "Suka dengan siapa tuan?" tanya Aila tidak mengerti maksud dari ucapan suaminya.
Leon tidak menjawab pertanyaan Aila. Pria itu malah meraih dagu istrinya dan ******* bibir mungil itu dalam. Ia sengaja melakukannya dengan pelan agar Steven melihatnya. Meskipun it kekanakan, tapi Leon merasa puas karena sudah membalas sikap kurang ajar Steven pada Aila.
Walaupun raut wajah Steven terlihat datar, tapi Leon yakin hatinya tidak baik-baik saja.
Aila yang kaget dengan sikap suaminya hanya bisa diam sembari menahan malu, karena orang-orang meliha kearah mereka.
"kau lihat Lucas?" tanyanya pada Lucas yang sedari tadi mendengarkan percakapan dirinya dengan Aila.
"Hem, bocah itu ingin mengajakmu bermain kurasa," sahut Lucas dengan santainya.
Leon menyunggingkan senyum, setuju dengan ucapan Lucas.
"Carikan aku semua data tentang bocah itu sebanyak mungkin," pintanya pada Lucas.
Lucas tidak menyahut, tapi pria itu segera mengambil gawainya dan mengetik sesutu.
"Siapa namanya?" tanya Lucas.
"Steven Hundson, tapi aku tidak yakin itu bukan nama aslinya," sahut Leon.
"Tak masalah, yang penting kita dapat rupanya," ucap Lucas. Pria itu terlihat mengetik dan mengirim pesan pada seseorang. Tidak lama setelah itu, ia kembali memasukkan gawainya pada saku jas dan kembali menyandarkan tubuhnya dengan santai.
"Dalam 30 menit sampai 1 jam, semua data akan dikirimkan padamu," lanjut Lucas.
Leon mengangguk dan kembali mengawasi Steven. Melihat tingkah laku pria itu, ia merasa tertantang. Bagaimana tidak? selama ini tidak ada yang berani terang-terangan menantangnya, meskipun yang bermain dibelakangnya mungkin saja banyak, tapi pria pendatang baru dalam dunia bisnis itu, sepertinya ingin melakukan uji nyali padanya. Jika permasalahannya hanya menyangkut tentang bisnis saja, Leon tidak akan seantusias itu menanggapinya, namun pria ini berani terang-terangan menyukai wanitanya, itulah yang membuat Leon semakin bersemangat untuk meladeninya.
"Jangan terlalu gegabah, dia tahu kartu As mu," Lucas memperingatkan. Ya, kartu As yang dimaksud oleh Lucas tentu saja Aila, siapa lagi?
Leon menyeringai menanggapi ucapan Lucas, "Tak masalah," jawab Leon santai.
"kalian membicarakan siapa?" tanya Aila tidak paham. Ia merasa menjadi obat nyamuk sekarang. Kedua pria yang duduk mengapitnya membicarakan hal yang tidak ia mengerti.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Aila. Lucas terlihat menyesap Wine ditangannya sedang Leon terlihat fokus entah menatap siapa. Aila tidak mengerti jika orang yang sedang menarik perhatian suaminya adalah pria berjas abu_abu.
Bersambung....
__ADS_1