
🌸Cinta 49 Cm🌸
Part 33
**Istana**
Aila terus berlari berusaha menghindari Leon, namun apa daya? kakinya yang pendek bukan tandingan untuk langkah Leon yang panjang.
"Kena, kau!" ucap Leon sembari menangkap Aila, kemudian menggendongnya seperti kangguru. Refleks, Aila mengalungkan tangannya pada leher pria tersebut.
"Berani meniru gayaku, hem?!" tanya Leon sembari mendekatkan wajahnya.
Aila menjauhkan wajahnya sedikit kebelakang dan mengembungkan pipinya, lucu.
Leon memiringkan kepalanya, "Mulai berani, sekarang?!" tanya Leon mulai serius.
Aila buru-buru menggeleng. "Maaf.." Aila menciut.
Leon menyeringai,"Minta maaflah dengan benar!" perintah Leon.
"Maafkan aku," ucap Aila sembari memainkan kerah kaus milik Leon.
Leon diam, selengkung senyum tercetak dibibirnya.
Tapi Aila sepertinya tidak fokus dengan permintaan maafnya, matanya menanatap intens kearah jambang tipis dibawah sekitarndagu Leon. Ia ingat jambang itulah yang selalu menimbulkan sensasi aneh saat Leon mulai mencumbunya. Aila mulai memainkan jarinya dengan mengusap jambang tipis tersebut. Menimbulkan sensasi geli pada jarinya, membuat ia ketagihan untuk terus melakukannya. Gadis itu bahkan sampai tertawa kecil karena gelinya, sepertinya dia lupa sedang berhadapan dengan siapa.
"Kau sedang Menggodaku?!"
Aila tergagap dan langsung menghentikan kegiatannya.
"Tidak!"
Leon diam, matanya menatap kearah jam dinding besar di ruang tengah, sudah saatnya ia berangkat.
Entah dapat dorongan dari mana, Aila kembali melakukannya lagi. Mengusap- usap jambang tipis milik Leon sembari tertawa kecil, ia baru tau ternyata kegiatan itu sangat menyenangkan.
"Jangan lakukan itu!" ucap Leon tajam.
Ah, punya istri kelewat polos bikin makan hati, selalu berakhir menderita sendiri.
Aila kembali diam.
"Jika kau melakukannya lagi, aku akan benar-benar menelanmu hidup hidup tanpa ampun! " ancam Leon.
Aila diam, menunduk. Namun, matanya kembali melirik pada jambang Leon. Tangannya terasa gatal ingin menyentuhnya. Aila mencuri kesempatan, dan kembali menyentuhnya.
Leon membiarkannya untuk sesaat, sebelum kesabarannya benar-benar habis.
"Aaaww!" pekik Aila kesakitan karena Leon menggigit hidungnya.
"Sakit!" ucap Aila sembari meraba hidungnya yang memerah.
"Itu hukuman, karena terus menggodaku!" ucap Leon tersenyum puas.
"Maaf tuan, semua sudah siap!" ucap Davin yang tiba- tiba sudah berada di belakang mereka.
Leon mengangguk,"Aku akan segera turun." ucap Leon.
Davin mengangguk dan membungkuk hormat sebelum melangkahkan kakinya turun menuju lantai satu.
"Kakak akan pergi?" tanya Aila setelah Davin meninggalkan mereka.
Ada gurat mendung di wajahnya.
"Ya, kenapa?!"
Aila diam, entah kenapa jika Leon tidak ada di apartemen, ia merasa kesepian
"Ingin ikut?" tawar Leon
"Apa boleh?" tanya Aila antusias.
Leon pura- pura berpikir sejenak.
"ikutlah!"
Aila tersenyum senang.
"Senang?!" tanya Leon.
Aila mengangguk cepat, " Ya" jawab Aila dengan mata berbinar bahagia.
Ah! kenapa membuat gadisnya bahagia begitu sederhana?
"Sekarang, cium!" pinta Leon.
Cup!
Aila mencium pipi Leon singkat.
"Lagi!"
Cup!
Aila melakukannya lagi.
"Lagi!"
Cup!
"Lagi!"
Cup!
"Sudah!" ucap Aila mengakhiri atau Leon akan terus menyuruhnya dan tidak akan berhenti.
Masih dengan posisi kanguru, Leon membawa tubuh Aila turun kebawah.
"Tunggu!" ucap Aila.
"Apa?!"
"Aku belum memakai sepatu," ucap Aila.
"Tidak perlu!"
"Bagaimana aku jalan?"
"Kau tidak perlu jalan, sayang! aku akan menggendongmu."
Aila diam untuk sesaat.
"Kakak akan capek,"
Leon menyeringai," Tubuhmu kecil, tidak akan terasa bagiku!"
Sebenarnya, alasan utama Leon tidak memperbolehkan Aila memakai sepatu adalah agar gelang kaki gadis itu terus berbunyi. Dan lagi kaki Aila pendek, gadis itu tidak akan bisa menyamai langkahnya.
__ADS_1
Leon menurunkan Aila ketika mereka sampai di lantai bawah, tepatnya di garasi mobil Leon.
Aila dibuat kaget dengan banyaknya bodyguard di sana. Jumlah mereka hampir menyentuh angka tigapuluh.
"Mobil anda sudah siap, tuan!" ucap Davin sembari mengarahkan pandangannya pada sebuah mobil di depan mereka.
"Tidak, Davin! aku ingin memakai mobil istriku." ucap Leon sembari menatap penuh arti kearah Aila yang terlihat kaget.
"Keluarkan, Davin!"
"Baik, tuan!"
Entah apa yang sedang direncanakan oleh bosnyanya itu, yang pasti hanya ingin mengerjai istrinya sendiri.
Davin mengeluarkan mobil sport Lambo seri terbaru tersebut dari garasi.
Sontak saja semua anak buah Leon terbelalak menyaksikan Aventador gagah tersebut penuh dengan gambar dan coretan dari lipstrik.
Banyak pertanyaan di dalam benak mereka, namun tidak ada yang berani bertanya. Mereka memilih diam.
"Perlu dibersihkan, tuan?" tanya Davin.
"Bersihkan saja kaca depannya, jangan yang lain!"
"Baik, tuan"
"Aku sangat menyukai lukisannya, Davin!" ucap Leon sembari menatap kearah Aila, gadis itu terlihat menutup wajah dengan kedua tangannya.
Untuk sesaat Leon menyeringai, melihat tingkah gadisnya.
"Masuklah, sayang!" ucap Leon sembari membuka pintu mobilnya kearah atas.
Aila langsung menggeleng, " Tidak, aku naik mobil kak Davin saja." tolak Aila. Ia tau jika Leon memang gila, tapi tidak dengan mempermalukan diri sendiri juga kan?
Menaiki mobil dengan penuh coretan lipstik pasti akan menarik perhatian, bisa-bisa mereka di sangka orang gila.
"Tidak sayang! kau hanya boleh satu mobil denganku!" ucap Leon tajam, kemudian pria itu melangkah mendekati Aila yang berjalan mundur untuk menghindari Leon.
"Aku baru membelinya seminggu yang lalu dan belum mencobanya, kau orang pertama yang akan menaikinya, bersamaku sayang!" ucap Leon sembari terus melangkah menuju Aila.
Aila tergagap, saat dibelangkanya sudah mentok karena ada mobil di sana.
Leon menyeringai, saat Aila terpojok.
Ia meletakkan tangannya pada body mobil untuk mengapit tubuh Aila, dengan satu tangannya meraih dagu gadis itu.
"Masuklah!" perintah Leon sembari memainkan anak rambutnya.
Aila masih menggeleng.
Hem! Leon suka saat gadis kecilnya mulai keras kepala.
"Benar, tidak mau?!" tanya Leon mulai mendekatkan wajahnya, menatap manik mata Aila lekat.
Aila diam,
"Masuklah, atau ku terkam disini!" bisik Leon sembari menggigit kecil daun telinganya.
Tanpa disuruh lagi, Aila langsung menelusup pergi dari bawah Lengan Leon dan masuk kedalam mobilnya, di iringi senyum puas dari bibir lelakinya.
"Baiklah! ayo kita berangkat!" ucap Leon.
"Baik, tuan!" ucap anak buah Leon serempak.
Di saat bersamaan, sebuah mobil sport verari berwarna gelap berjalan mendekat
"Mau kemana loe?!" ucap Niko kearah mobil Leon
"Pergi lah!" jawab Leon asal.
"Boleh ikut?" Niko penasaran juga, ingin tau kemana Leon akan pergi dengan membawa bodyguard se erte.
Leon tidak menjawab dan malah masuk kedalam mobilnya.
"Tungguin napa?" niko buru buru membuka pintu samping mobil Leon dan menemukan Aila sudah duduk manis disana.
"Sial, loe!" umpat Niko.
"Noh, diatas!" cibir Leon.
Niko segera berlari kearah mobil yang di kendarai Davin kemudian masuk begitu saja dan duduk disampingnya, ia lagi males nyetir sendiri. Capek.
Davin membiarkan, karena tuannya sepertinya tidak melarang.
Tiga mobil melaju lebih dulu, kemudian mobil Leon dan beberapa mobil dibelakangnya. Formasinya seperti sengaja diatur agar mobil Leon tepat berada di tengah-tengah.
"Tuan lo, mulai stres Vin?" ucap Niko sembari terbahak, ia baru menyadari jika Aventador didepannya penuh dengan coretan lipstik.
"Nona yang melakukannya," ucap Davin.
Niko semakin terbahak.
Berani juga Aila melakukannya. Jika itu orang Lain sudah dipastikan hidupnya bakal ngenes tujuh turunan.
Didalam mobil yang penuh coretan, Aila terlihat menekuk wajahnya. Bagaimana tidak? sejak mobil memasuki jalan raya banyak pengendara yang menatap heran kearah mereka, selain karena Leon membawa iring-iringan satu desa, juga karena mobil berharga delapan milyar Lebih di depan mereka penuh dengan coretan lipstik.
Aila salah mengira jika ia sudah sukses mengerjai Leon, nyatanya ia sendiri yang kena batunya.
"Lihat sayang! mereka menyukai lukisanmu!" ucap Leon sembari menahan tawa.
Aila mencebik, ia tahu jika Leon sedang mengejeknya.
Leon terbahak, melihat ekspresi wajah Aila.
"Mereka mengira, kita gila." ucap Aila, ada nada kesal disana.
Lagi- lagi Leon terbahak!
Semua ekspresi gadisnya membuat ia gila. Bagaimana tidak? itu adalah hiburan baginya.
Saat Aila kesal, saat merayu, saat memohon, saat merona, saat ia menekannya bahkan saat gadisnya itu tidur, ia juga menyukainya.
"Kenapa mengembalikan kuncinya padaku?!"
Aila diam.
"Mobil ini sudah jadi milikmu, sayang!"
"Aku tidak menyukainya!" ucap Aila asal, ia tidak pernah bermimpi punya mobil sport, dan tidak kepingin juga. Buat apa?
"Kau pasti bercanda! dia gagah, mahal dan seksi. Harga dirimu akan naik saat menaikinya." ucap Leon mulai mengoceh.
"Dia kesepian!" jawab Aila.
Leon mengerutkan keningnya tidak paham dengan maksud gadisnya.
"Kesepian?"
__ADS_1
"Ya! bagaimana bisa mobil dengan harga lebih dari 8 milyar hanya punya dua kursi? yang membelinya pasti sangat kesepian." ucap Aila menyindir.
Leon kembali terbahak,
"Dari mana kau tau harganya lebih dari 8 milyar?" tanya Leon.
"Dari internet." ucap Aila singkat yang disambut kekehan dari Leon.
"Kau bisa menjualnya," ucap Leon.
"Untuk apa? aku sudah punya semuanya." jawab Aila jujur, semua yang dia butuhkan ada didalam kamar, bahkan lebih dari yang ia bayangkan. Aila sendiri pusing bagaimana memakainya.
Leon diam mendengar jawaban Aila, nyatanya tidak ada wanita di dunia ini yang merasa puas dan cukup dengan apa yang mereka miliki.
Banyak wanita yang sudah Leon tiduri dan ia membayarnya dengan mahal untuk harga diri mereka, tapi para wanita itu tetap merasa tidak puas dan selalu meminta lebih dari untuk sekedar tidur. Mebuat Leon muak karenanya.
Leon akui, Aila begitu berbeda. Bisa saja, jika Aila ingin menguras habis hartanya. Toh, dirinya begitu tergila gila padanya, pada tubuhnya, pada sikapnya, pada cara berpikirnya, Leon menyukai semua.
Semenit saja tanpa gadisnya, moodnya akan langsung memburuk. Leon bahkan tidak bisa tidur sebelum membaui rambut ikal Aila. Itulah alasannya, kenapa ia sampai mengurungnya di dalam apartemen miliknya.
Leon tidak bisa membayangkan jika suatu saat, Aila pergi meninggalkannya.
Jujur, karena ketakutannya itulah, ia sampai memasang pelacak pada gadisnya.
Mata Aila berbinar bahagia, saat netranya mengamati pemandangan kota melalui kaca jendela mobil. Gadis itu bahkan menggoyangkan kakinya yang menggantung karena tidak sampai pada dasar pijakan dibawahnya, menimbulkan suara gemerincing dari gelang kakinya.
Membuat selengkung senyum tercipta pada bibir lelaki di sampingnya.
"Suka?" tanya Leon.
"Ya" jawab Aila jujur sembari menempelkan wajah pada kaca jendela.
Membuat Leon terkekeh melihatnya.
Entah karena pemandangan kota yang begitu indah, atau karena lamanya perjalanan, membuat Aila menguap karena kantuk yang tiba-tiba datang.
Matanya terasa berat, namun gadis itu tetap bertahan untuk terus terjaga.
Leon yang melihat, mengulas senyumnya.
"Tidurlah, kalau mengantuk!" ucap Leon.
Aila menggeleng, " Aku tidak mengantuk." ucap Aila keras kepala.
Leon diam membiarkan, ia ingin melihat gadisnya akan bertahan berapa lama.
Duk!
Kepala Aila terbentur kaca jendela karena tertidur, gadis itu buru- buru membenarkan sikapnya, mengumpulkan kesadaran.
Leon pura-pura tidak melihatnya, walau di dalam hatinya ia ingin tertawa.
Lagi, kepala Aila oleng karena tertidur dan hampir membentur jendela, tapi Leon buru-buru meraih kepala Aila dan menahan dengan satu tangannya, sedang tangan yang Lain tetap mengemudi.
Tiba- tiba saja ia menyesal karena memilih membawa mobil sendiri. Jika ia mengikuti saran Davin, mungkin sekarang ia bisa kekepin dan tidur bersama dengan Aila. Menyetir dengan satu tangan dan tangan yang lain menahan kepala itu rasanya luar biasa. Luar biasa pegal, maksudnya.
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya Leon bisa melemaskan lengannya yang terasa pegal. Mereka telah sampai pada tujuannya.
Leon menepuk pelan pipi Aila, menyuruhnya untuk bangun. Sebenarnya bisa saja ia menggendongnya tanpa membangunkannya, tapi Leon ingin Aila melihat kejutan yang diberikannya.
Aila mengeliat pelan, saat hidungnya di pencet oleh Leon.
Gadis itu terbangun dengan perasaan bingung.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Aila sembari mengucek matanya. Setelah sadar ia tertidur, Aila buru-buru membenarkan sikapnya.
"Kau tidur seperti orang mati! lihat Lenganku pegal karena menahan kepalamu." keluh Leon.
Aila kikuk, salah tingkah sendiri.
"Maaf," ucap Aila merasa bersalah.
"Ayo turun!" Leon membukakan pintu untuk Aila.
Aila menurut, kemudian turun.
Setelah turun, matanya dibuat takjub oleh bangunan didepannya.
Sebuah kastil bergaya eropa kuno yang begitu luas terpampang di depannya
"Aku pasti masih bermimpi!" ucap Aila tidak percaya.
Leon terkekeh, "Kenapa?!"
"Ini seperti istana buckingham!" ucap Aila takjub.
"Emang pernah lihat istana buckingham?"
"Pernah! di internet." ucap Aila dengan tanpa mengalihkan pandangannya.
Leon hanya menggelengkan kepalanya.
"Ini hotel?" tanya Aila. Ia berpikir tidak mungkin sebuah rumah.
"Ini rumah, kastil tepatnya"
"kastil? ada juga di indonesia? milik siapa?" tanya Aila heran. Membangun kastil sebegitu luasnya hanya untuk di huni? tidak salah lagi, orangnya pasti sudah gila karena bingung bagaimana menghabiskan uangnya.
"Milikmu, sayang! rumah mu!" ucap Leon dengan santai.
Aila menatap kearah mata Leon, ia tidak menemukan kebohongan disana.
Aila menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?!" tanya Leon.
"Aku pasti masih bermimpi" ucap Aila yang masih belum percaya melihat kegilaan didepan matanya.
Tidak mau mendengarkan ocehan Aila, Leon segera mencubit pipi gadisnya.
"Aaaw! Sakit!" pekik Aila.
"Berarti kamu gak mimpi!" ucap Leon sembari menggendong Aila masuk kedalam kastilnya.
Bersambung...
Gini ya say,,,
Untuk saat ini aku menulis cuma buat menyalurkan kehaluan aja sih, he he he. Tapi, gak tau kedepannya.
Karena menulis itu menguras waktu, tenaga dan juga pikiran. Sebagai manusia, kita pasti pengen usaha kita di hargain kan.
Tapi untuk sekarang, biar mengalir aja dulu. Syukur- Syukur bisa di kontrak, ha ha ha.
Aku masih sadar diri kok, tulisan aku masih jauh dari baik. Masih berantakan, belum sesuai dengan PUEBI dan kaedah kepenulisan yang benar juga.
Apalagi ini karya pertama, ada yang baca aja udah seneng rasanya.
__ADS_1
Terimakasih atas like, koment dan vote nya. Semoga kalian juga bahagia.