Cinta 49 Cm

Cinta 49 Cm
Bab 93


__ADS_3

Cinta 49 Cm


Part 93


**Kejadian tidak terduga 2**


Karena terlalu fokus dan menghkawatirkan orang yang kita sayang, terkadang kita melupakan hal terpenting untuk diri sendiri. Mungkin itulah yang sedang terjadi pada Leon saat ini. Ia terlalu mengkhawatirkan istri dan keluarganya, sehingga mengabaikan keselamatannya sendiri.


Leon pikir karena hanya sebentar, ia tidak membawa bodyguard. Dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh musuh untuk menyerangnya. Ia memang tidak seharusnya lengah, tapi siapa yang bisa melawan kehendak Tuhan?


Tidak peduli seberapa banyak uang dan besarnya kekuatan yang dimiliki, jika Tuhan sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin.


Meskipun kemahirannya dalam bertarung dan menggunakan senjata sangat lihai, tetap saja empat puluh orang tidak akan sebanding dengan dua orang yang hanya membawa dua pistol saja. Satu-satunya jalan adalah mereka harus melarikan diri, atau perlawanan mereka akan sia-sia. Namun, melarikan diri dijalan perbukitan dengan diapit musuh bukanlah hal yang mudah.


Mobil yang Leon tumpangi diserang dari dua arah. Dari arah depan dan juga belakang. Sementara itu peluru didalam pistol hanya tingga tinggal sedikit. Ia harus berpikir jernih atau mereka akan mati konyol sekarang.


"Sial!" Erik mengumpat kala mobil didepannya memelan. Mereka seperti sengaja ingin menghimpit mereka agar jarak semakin dekat.


"Tetap pertahankan kecepatan kita," Perintahnya pada Erik. Leon terlihat berusaha melindngi Erik yang sedang mengemudi dari dua arah. Dari depan maupun belakang. Meskipun sebelah tangan Erik memegang senjata, namun Pria itu tidak bisa maksimal dalam menggunakan senjatanya. Ia harus tetap fokus menjaga jarak atau mereka akan tertembak.


Kaca depan dan belakang mobil, terlihat sudah retak dan berlubang karena peluru dari lawan. Leon pun mulai kehabisan peluru sekarang.


"Hitungan ketiga percepat kecepatan secepat yang kau bisa, lalu belok kanan!" ucap Leon pada Erik memberi perintah.


"What?! apa kau gila?" Erik tidak percaya dengan ucapan Leon. Pasalnya disebelah kanan jalan adalah jurang. Bukankah itu sama dengan bunuh diri?


"Memang kita punya pilihan?"


Erik berdecak, ia pikir ucapan Leon benar adanya. posisi mereka terjepit dan tanpa senjata yang memadai.


"Cepat lakukan, jika kau masih sayang dengan nyawamu," Leon melanjutkan perintahnya. "Dibawah sana ada ngarai dengan arus sungai yang kuat. Arahkan mobil kita kesana!"


"Kau yakin?" Erik memastikan ucapan Leon. Bagaimanapun mereka tidak sedang syuting film action.


"Percayalah, hanya itu jalan kita keluar," sahut Leon mantap.


Tepat saat itu, satu peluru masuk dari kaca depan dan menembus lengan bagian kiri Erik.


"Akh, sial!" Erik tertembak. Mobil yang dikemudikannya oleng seketika.


"Hei! kau tidak papa?!" tanya Leon pada Erik.


"Tak masalah,' Erik masih berusaha menyeimbangkan kemudinya karena lengannya yang terasa nyeri luar biasa saat ini.


Sedang Leon sendiri masih terus baku tembak dengan mobil depan dan belakangnya.


"Hitungan ketiga, kau siap?!" tanya Leon.


Erik mengangguk.


"Satu, dua tiga!" Erik menginjak pedal gas sekuat mungkin dan membanting setirnya kearah kanan. Seketika mobil menabrak semak dan pepohonan selama beberapa saat, hingga sebuah ngarai yang sangat curam terlihat didepan mereka. Beberapa detik sebelum mobil terjun kedalam sungai, Leon mendorong Erik keluar dari pintu mobil. Mereka berdua terlempar keluar tepat sebelum mobil masuk kedalam ngarai.


"Kau gila!" umpat Erik sembari tertawa. Mereka terlentang bersisian dengan napas yang memburu.


Leon menyeringai tipis. Hampir saja mereka mati konyol jika sedetik saja terlambat keluar.


Sembari menmgatur napasnya, ia melihat kearah buket mawar yang sempat diraihnya sebelum keluar dari mobil. Meskipun terlihat sedikit rusak, namun buket tersebut masih terlihat cantik.


"Setidaknya kita bisa mengulur waktu sembari mennggu Lucas datang," sahut Leon. Leon sudah menghubungi Lucas tentang posisi mereka tadi. Sebentar Lagi Lucas mungkin akan segera tiba. Mengingat posisi mereka memang sudah dekat dengan kastil.


Ia segera bengkit dan memapah Erik untuk berjalan menjauh dari sana atau mereka dengan cepat ditemukan. Setelah berjalan sedikit lebih jauh dari titik mereka terlempar. Leon membantu Erik duduk dibawah Sebuah pohon besar disekitar tebing. Ia melepas dasi dan jasnya untuk diikatkan pada lengan Erik agar menghambat darah yang terus keluar. Setelah selesai, pria itu berdiri.


"Tetap disini, aku akan keatas dan memastikan mereka bekerja untuk siapa," ucap Leon pada Erik.


"Jangan gegabah! mereka banyak, tunggu saja Lucas dan yang lain tiba," sahut Erik.


"Hanya sebentar," Leon tetap bersikeras dengan tekadnya.


"Aku titip ini," Leon menaruh buket bunganya disamping Erik.


"Hei!" Erik merasa, keputusan Leon untuk naik sangat berbahaya.


"Tenanglah, aku sudah mengirim titik koordinat kita saat ini, Lucas akan datang menjemput tidak lama lagi, jadi tunggulah. Aku hanya sebentar!" Leon setengah berlari meninggalkan Erik.


"Leon!" panggil Erik.


Leon menoleh.


"Cepatlah kembali, Aila menunggumu!" Erik megingatkan Leon tentang janjinya pada Aila.


"Aku mengerti!" sahut Leon. Segera saja tubuh pria itu menghilang dibalik semak belukar.


Erik mendesah setelahnya. Tangn kanannya menekan kuat pada lengan kiri agar darah yang keluar sedikit lebih lambat. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada pohon enau besar dan memejam. Antara menahan rasa sakit dan mengkhawatirkan sahabatnya.

__ADS_1


Sementara itu, Leon yang sudah sampai diatas, terus mengintai dari semak kearah orang-orang yang menyerangnya. Ia tidak tahu mereka utusan siapa, dan ia akan segera mencari tahu tentang hal itu.


"Aku rasa mobil mereka terjun ke jurang bos," lapor salah seorang pria berambut pirang pada seseorang diseberang sana.


Leon merasa tidak asing dengan pria tersebut. Ia seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?


Pria berambut pirang terlihat menutup telepon. Sepertinya ia telah selesai melapor pada bos mereka.


"Ayo kita lanjutkan!" perintahnya pada anak buahnya.


"Tapi bos, kita belum memastikan apakah mereka mati atau tidak," sahut salah seorang dari mereka.


"Siapa peduli, bukan itu rencana tuan Steven," jawab sang pemimpin.


Mendengar nama Steven disebut, Leon langsung teringat pria berambut pirang yang menjadi pemimpin mereka. Pria itu adalah Malvin, tangan kanan dari Steven.


""Itu hanya sebuah pengalihan sementara, Setelah ini seluruh bodyguard Leon pasti akan langsung menuju kemari dan itu artinya kastil dalam keadaan kosong," ucap Malvin menjelaskan.


Anak buah Malvin terlihat menganguk sembari menyeringai tanda mengerti maksud sang bos.


"Tugas kita hanyalah menculik nona, dan membantai seluruh keluarga dan orang-orang Thomson," ucap Malvin menutup ucapannya kemudian masuk kedalam mobil. Ia melajukan mobilnya menuju kastil melewati jalan rahasia diikuti dengan yang lain.


Ya, apa yang telahi mereka lakukan terhadap Leon hanyalah sebuah pengalihan. Jika dalam rencana itu Leon mati, itu lebih baik. Namun jika pria itu tetap hidup, memang itulah tujuan mereka. Steven memang menginginkan Leon hidup penuh dengan penderitaan karena kehilangan orang-orang yang disayanginya.


"Sial!" Leon benar-benar tertipu dengan rencana Steven. Tujuan Steven bukanlah dirinya, tapi Keluarganya. Sepertinya pria itu sengaja ingin membuat hidupnya menderita. Ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi Lucas. Ia berharap pria itu belum berangkat.


Beberapa detik berlalu, Lucas maupun Serkan belum juga mengangkat teleponya. Leon mulai mengumpat tidak sabar. Satu-satunya yang ia khawatirkan sekarang adalah keadaan istri dan keluarganya di dalam kastil.


"Ada apa? kami menuju kesana sekarang," Lucas mengangkat ponselnya.


Leon segera merasa lega. "Jangan kemari! Mereka menuju kastil sekarang!" ucap Leon dengan panik.


Lucas terlihat diam sesaat, pria itu seperti sedang mencerna ucapan Leon.


"Lucas kau masih mendengarku?!"


"Ya,"


"Cepat putar balik dan jangan kemari! suruh beberapa orang untuk menjemput Erik di titik yang aku kirimkan! cepatlah karena dia tertembak," lanjut Leon.


"Dan kau, tetap disana dengan yang lain, mereka berjumlah sekitar empat puluh orang," ucap Leon memberi informasi.


Tanpa menunggu jawaban dari Lucas, Leon langsung menutup teleponnya saat ada kendaran yang terdengar mendekat dari arah atas. Ia segera berlari menuju jalan dan melambai agar mobil tersebut berhenti. Benar saja mobil tersebut berhenti. Terlihat sebuah keluarga sedang berada didalamnya. Mereka terlihat terkejut melihat keadan kemeja Leon yang terdapat bercak darah dibeberapa bagian. Pemilik mobil menyangka Leon terluka. Pria pemilik mobil itu menawarkan diri untuk membawanya kerumah sakit, namun Leon malah menodongkan senjatanya kearah mereka.


Seketika pria pemilik mobil terlihat tegang dan ketakutan. Mereka diam dan tidak berbicara lagi.


"Bagus! sekarang bergeserlah kesamping. Suruh istrimu duduk dibelakang," Perintahnya lagi.


Pria itu beserta istrinya yang terlihat ketakutan menuruti perintah Leon. Istrinya duduk dibelakang bersama kedua anak mereka. Sedang sang suami duduk disebelah kemudi. Leon memilih untuk menjadi supir agar lebih cepat sampai di apartemennya. Ya, Leon ingin mengambil semua perlengkapan dan senjatanya dan menemui Steven di mension miliknya.


Jika Steven sedang menyusun rencana licik untuk membuatnya menderita, maka ia sendiri yang akan menerima rencana busuk tersebut. Setidaknya, sekarang ini, sebagian bodyguard Steven sedang menuju kastilnya, sehingga ia akan bisa dengan mudah masuk dan membantai pria licik tersebut. Bagaimanapun juga, masalah Steven muncul karena kelalainya dimasa lalu. Ia tidak ingin ada lagi seseorang yang terluka karena itu.


Tidak berapa lama, Mobil yang dikendarainya sampai di depan apartemen. Suami istri pemilik mobil terlihat pucat dan syok. Bagaimana tidak? Leon mengendarai mobil mereka dengan kecepatan tinggi. Membuat kedua anak mereka ketakutan.


Mau bagaimana lagi? Leon tidak punya pilihan lain, selain membajak mobil tersebut.


"Terimakasih untuk tumpanganmu, dan..." Leon mengambil dompet dari saku belakang celananya dan mengambil kartu nama dari sana dan memberikannya pada pria pemilik mobil. "Itu kartu namaku, jika ada kerugian yang harus ku ganti, datang saja kekantorku," ucapnya.


Setelah menyerahkan kartu nama pada pemilik mobil yang masih terlihat syok dan ketakutan tersebut, Leon turun dan masuk kedalam apartemen miliknya.


*******


Didalam ruang perawatan, Aila mulai terlihat kepayahan. Perutnya terasa semakin tidak nyaman. Tapi apa yang dikatakan Miranda belum juga terjadi. Padahal ia sudah meminum obatnya sebanyak dua kali.


Saat nyeri pada perutnya kembali datang, Aila hanya bisa mengusap perutnya pelan. Entah untuk apa ia melakukan hal itu. Memberi kekuatan pada dirnya atau bayinya yang sedang ia bunuh. Terdengar kasar memang, tapi bukankah kenyataannya memang begitu? jika ia saja merasa tidak karu-karuan apalag janin mungil dan lemah yang berada didalam perutnya?


Air matanya kembali menetes. Ia merasa menjadi ibu yang sangat buruk saat ini.


Tepat saat itu, suara yang sangat gaduh terdengar dari luar kastil. Para bodyguarg yang berada diluar ruang perawatan tiba-tiba masuk kedalam. Membuat Aila, oma, lisa dan semua orang yang sedang menunggui Aila terlihat kaget. Mereka terlihat berjaga disetiap sisi dan menyuruh semua orang untuk menjauh dari jendela. Aila tidak tahu apa yang terjadi, namun ia yakin jika sedang ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi diluar sana.


Dugaannya memang tidak salah. Detik berikutnya, terdengar suara tembakan di luar kastil dan bersamaan dengan itu, sekilas ia melihat Alex mendorong ranjang pasien dengan cepat keruang perawatan disamping kamar Aila. Meskipun hanya terlihat sekilas, tapi ia yakin, jika orang yang sedang di dorong tersebut adalah Erik.


Seketika jantung Aila berdegup kencang. Perasaannya menjadi tidak karuan sekarang. Ia ingat jika Erik pergi bersama suaminya tadi.


"Apa tadi yang dibawa adalah kak Erik?" tanya Aila pada salah satu bodyguardnya yang berada didekat pintu. Ia ingin memastikan jika penglihatannya memang tidak salah.


"Saya tidak tahu, nona.." jawab Bodyguard berbohong. jelas-jelas pria itu berada di ambang pintu dan menghadap keluar.


"Jangan bohong padaku! apa yang terjadi padanya dan dimana suamiku?" tanya Aila beruntun. Ia terlihat sangat panik sekarang.


"Maaf nona, saya tidak tahu. Mohon tenangkan diri anda," pinta sang bodyguard.


Tenang? Aila tidak akan bisa melakukan itu sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Erik adalah orang terakhir yang bersama suaminya dan pria itu datang kembali dalam keadaan terluka, bagaimana ia bisa tenang? sebenarnya apa yang sedang terjadi dan dimana suaminya berada saat ini?


"Katakan dulu dimana suamiku sekarang? kak Erik terluka dan dia pergi bersamanya tadi pagi," Aila benar-benar ingin kejelasan sekarang.


Oma yang mendengar ucapan Aila menjadi khawatir dan ikut bertanya. "Apa Leon kekantor hari ini?" tanyanya pada Aila.


Aila mengangguk, "Ya, oma. Dia pergi bersama dengan kak Erik. Tapi kak Erik kembali dengan terluka. Lalu dimana dia? dimana suamiku? dia berjanji akan kembali setelah satu jam," Aila terlihat frustrasi dan menangis. Perasaannya benar-benar tidak enak sekarang.


Oma langsung menenagkan Aila dengan memeluknya. Meskipun, tidak bisa di pungkiri jika ia pun mulai khawatir.


Aila menjalankan kursi rodanya dan berniat keluar menerobos


para penjaga.


"Nona! tenangkan diri anda!" seorang bodyguard terlihat menahan Aila yang berontak dan memaksa untuk keluar. Bersamaan dengan itu, suara tembakan beruntun terdengar diluar kastil. Seketika Aila menciut dan ketakutan.


"Tenanglah, nona...keadaan diluar sedang tidak aman," bodyguard terlihat kembali menenangkan Aila. Aila terdiam dari tangisnya, ia dan semua orang yang berada didalam ruangan itu, terlihat tegang dan ketakutan. Aila kembali didorong menuju pojok ruangan bersama dengan yang lain agar lebih aman.


Maria terlihat sibuk merapal doa, sedang Lisa terlihat menenangkan Aila. Aila merasa sangat kacau sekarang. Ia merasakan kesakitan, ditambah dengan situasi yang mencekam itu, membuatnya hanya bisa menangis.


Perlahan tapi pasti, keringat dingin mulai mengucur disekitar dahinya. Ia terlihat pucat karena menahan sakit yang luar biasa pada perutnya.


"Akh!" Aila tidak lagi tahan untuk tidak memekik sekarang. Kandungannya seperti diremas-remas dengan keras dan menyakitkan.


Oma panik dan mendekat kearah cucunya. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Aila sedang mengalami kontraksi palsu.


"Kau tidak papa?" tanya Oma khawatir.


Aila terlihat masih berusaha menahan sakitnya, hingga tiba-tiba gadis itu turun dari kursinya dan bersipuh di lantai sembari memegangi perutnya. Ia merasa ada sesuatu yang akan keluar dari jalan lahirnya.


"Aaaa! sakit Oma.." rintih Aila. Dengan satu tangannya memegang erat tangan Oma, Sesuatu keluar dari bagian bawahnya dengan sangat deras dan tidak bisa ia tahan. Seketika daster putih yang Aila kenakan berubah warna semerah darah. Tidak hanya itu, darah juga mengalir disekitar lantai tempat ia duduk.


Meskipun tahu apa yang terjadi, Oma dan smua yang berada disitu terlihat panik.


"Panggilkan Miranda!" perintah Oma pada salah satu bodyguardnya. I


Bodyguard tersebut mengangguk dan berjalan keluar untuk memanggil Miranda. Wanita itu sejak tadi memang tidak terlihat, karena ia memang sedang membantu Alex mengeluarkan peluru yang bersarang pada lengan Erik. Mau bagaimana lagi? meskipun ia bukan dokter bedah, tapi keadaan sedang darurat dan tidak memungkinkan untuk memanggil dokter lain. Sedang Erik telah kehilangan banyak darah.


Disaat yang bersamaan dengan itu, Leon juga sedang baku tembak dengan beberapa bodyguard Steven. Pria itu langsung menerobos memasuki mansion Steven tanpa takut mati. Leon sudah dipenuhi emosi tingkat tinggi pada Pria itu. Beraninya Steven berpikir untuk menyentuh dan menghancurkan keluarganya.


Dugaan Leon memang benar. didalam mansion hanya tersisa beberapa penjaga saja. Dan itu menguntungkan baginya. Ia bisa masuk dengan sangat mudah.


Dengan langkah pelan ia memasuki ruang tengah. Dari sanalah terdengar seseorang sedang bercakap-cakap. Leon yakin salah satu darinya adalah Steven. Tanpa basa-basi lagi, Leon masuk dan menembak salah seorang darinya.


Beruntung, Bukan Steven yang tertancap peluru milik Leon. Pria itu terlihat sangat terkejut karena orang yang dilaporkan masuk kejurang, kini tengah berada tepat didepan matanya tanpa terluka sedikitpun.


"Kau terkejut bocah?!" tanya Leon sembari mendekat.


Meskipun kenyataannya, Steven memang terkejut, namun ia tetap bersikap setenang mungkin. Pria itu bahkan masih sempat menyesap wine miliknya.


"Orang bilang, kemampuanmu bertahan hidup sangat luar biasa dan aku membuktikannya sendiri," Steven tidak ingin mengakui jika kemampuan Leon jauh dari apa yang ia duga.


Leon menyeringai sesaat lalu melempar beberapa berkas dan dokumen kasus ayah Steven yang terdahulu tepat di depan wajah pria itu. Ia pikir Steven sudah dihasut oleh pemikiran licik ayahnya sendiri. Jack Hamilton hanya memanfaatkan anaknya untuk balas dendam dengan meracuni pikiran Steven.


Leon menodongkan senjatanya pada Steven, "Bacalah! supaya otakmu sedikit terbuka," Perintahnya pada Steven.


Dengan santai Steven membungkuk dan mengambil dokumen-dokumen tersebut dan membacanya. Terlihat beberapa kali mimik muka pria itu terkejut. Dan saat itulah Leon merasa sangat puas. Bukankah tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang melihat lawan kalah, bukan dengan senjata tapi dengan kesalahannya sendiri?


Namun, sepertinya Leon salah mengira tentang hal itu. Karena detik berikutrnya, bukan keterkejutan ataupun penyesalan yang ia terima, namun Steven malah tertawa dengan kerasnya.


"Kau pikir aku percaya dengan omong kosong ini?! kau pria yang sangat licik Leon, kau bisa memanipulasi data sesuai keinginanmu," Steven tidak percaya dengan semua kasus dan data tentang ayahnya. "Perkataan ayahku tentang dirimu, tidak ada satupun yang meleset!"


Leon membuang senyumnya, ia kehilangan kata-kata saat ini. Baru pertama kali dalam hidupnya ia menghadapi seorang berpikiran sempit dan percaya begitu saja dengan ucapan orang lain tanpa melihat kenyataan atau pun bukti yang ada.


"Jika jadi dirimu, aku akan bertanya tentang kebenaran ini dengan wanita yang menjadi selingkuhan papamu...aku dengar mereka juga mempunyai anak. itu berarti kau punya adik tiri, Steve!" Leon mengungkapkan jika seorang Jack Hamilton bukan seorang ayah yang baik seperti yang Steven percayai selama ini.


Steven menggeleng. Pria itu terus tertawa mendengar ocehan Leon yang menurutnya hanya tipuan dan akal-akalan saja.


Melihat Steven terus tertawa, Leon jadi semakin muak. Entah Bagaimana Jack Hamilton mencuci otak putranya itu hingga semua bukti otentik yang dia miliki tidak membuat Steven sadar.


"Aku kira dengan semua bukti ini, kau akan menyadari kesalahanmu, tapi Sepertinya aku salah. Jack sepertinya berhasil mencuci otakmu," Leon pikir jika semuanya bisa selesai tanpa harus ada pertumpahan darah. Karena sejak awal ia menduga jika Steven memang hanya salah paham dengannya. Tapi Steven sepertinya sudah tidak lagi bisa diajak berbicara dengan kepala dingin.


Leon mengangkat senjatanya dan..


Dor!


Steven tersungkur dengan peluru tepat menembus tempurung kepalanya. Bukanya ketakutan akan menghadapi kematian, namun pria itu tetap tertawa menjelang ajalnya.


Melihat Steven yang berakhir dengan mengenaskan, Leon tercenung untuk sesaat. Bagaimana bisa seseorang hidup dalam sebuah kebencian dan dendam tanpa mau tahu kebenaran yang sesungguhnya. Sungguh menyedihkan!


karena terlalu larut dalam lamunan, ia tidak menyadari jika salah seorang pelayan Steven sudah berada dibelakangnya. Pelayan tersebut mengeluarkan tembakan secara membabi buta kearah Leon.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2